Chapter Twenty Four
Mundur
POV: Rey
Bu Renata Siregar menawariku posisi Delivery Lead untuk pertama kalinya empat belas bulan lalu.
Aku menolaknya dalam waktu sebelas detik.
Kedua kalinya delapan bulan lalu, dan aku menolaknya lebih sopan tapi sama cepatnya, dan Bu Renata menutup foldernya dan berkata “Ya sudah” dengan nada yang membuatku merasa seperti anak kecil selama sekitar dua hari.
Aku tidak pernah menceritakan itu kepada siapa pun, termasuk kepada ibuku, terutama kepada ibuku.
Alasannya sederhana dan memalukan.
Delivery Lead itu praktik operasi. Bandnya sama dengan Engagement Manager. Tunjangannya sama — termasuk tunjangan kesehatan keluarga inti, yang adalah satu-satunya baris yang benar-benar kupedulikan dari seluruh dokumen itu.
Yang tidak sama adalah jalurnya.
Engagement Manager naik ke Principal, lalu Partner. Delivery Lead naik ke Senior Delivery Lead, lalu berhenti. Itu jalur untuk orang yang mengeksekusi, bukan untuk orang yang memutuskan. Tidak ada namamu di sampul deck. Tidak ada yang menyebutmu di lobi.
Empat belas bulan lalu aku menolaknya karena aku dua puluh tujuh tahun dan aku masuk Meridian lewat seleksi terbuka melawan seratus delapan puluh orang, dan menerima jalur yang berhenti terasa seperti mengakui sesuatu.
Delapan bulan lalu aku menolaknya karena alasan yang sama, hanya saja saat itu aku sudah berlatih mengatakannya lebih halus.
Aku menghabiskan seluruh hari Minggu di kursi plastik di ruang tamu rumah Bekasi, mendengarkan Bapak bercerita tentang seorang lelaki di ruang cuci darah yang menurutnya sombong karena selalu membawa bantal sendiri, dan menyadari bahwa aku sudah dua kali menolak uang yang persis kubutuhkan demi sesuatu yang tidak pernah kusebut namanya dengan jujur.
Namanya gengsi.
Lisa sudah mengatakannya di dapur selebar satu koma dua meter, dengan gelas air yang tidak dia minum di tangannya, dan aku membantahnya saat itu.
Dia benar. Aku cuma benar juga, dan itu yang membuat semuanya jadi sulit.
Senin, jam delapan pagi, lima belas menit.
Ruang Bu Renata di sudut, kacanya menghadap arah yang salah untuk pemandangan. Dia tidak menutup pintunya kecuali kalau ada yang perlu ditutup.
Dia menutup pintunya sebelum aku sempat duduk.
“Sebelum kamu ngomong,” katanya, “saya mau tanya satu hal.”
“Bu.”
“Bagian empat dan enam Lisa hari Jumat itu.”
Aku tidak menjawab.
“Saya sudah baca lampirannya dua kali,” lanjutnya. “Bagian empatnya berhenti sebelum sensitivitas. Bagian enamnya urutan tanpa argumen. Dua-duanya benar, dua-duanya nggak lengkap, dan dua-duanya adalah hal yang orang itu bisa kerjakan sambil tidur.”
Dia menyandarkan punggungnya.
“Jadi saya cuma mau tahu apakah saya sedang melihat orang yang kelelahan, atau orang yang mengalah.”
Ada tiga jawaban.
Yang pertama melindunginya. Yang kedua jujur. Yang ketiga melindungiku.
“Bu,” kataku, “saya mau menarik kandidasi saya.”
Bu Renata tidak bergerak sama sekali selama kira-kira empat detik.
“Itu bukan jawaban dari pertanyaan saya.”
“Saya tahu.”
“Rey.”
“Saya mau ambil Delivery Lead,” kataku. “Kalau posisinya masih ada.”
Dia mengambil pulpennya. Tidak menulis apa-apa. Meletakkannya lagi.
“Empat belas bulan lalu kamu bilang tidak,” katanya. “Delapan bulan lalu kamu bilang tidak dengan tiga kalimat tambahan yang, terus terang, agak sombong.”
“Saya tahu, Bu.”
“Sekarang bulan Oktober. Keputusan promosinya empat minggu lagi. Dan kamu ada di halaman satu rekomendasi Helios.” Dia memiringkan kepala. “Kamu sadar posisi kamu sedang sangat bagus?”
“Sadar.”
“Kamu sadar bahwa kalau kamu menarik diri sekarang, kursi itu jatuh ke kandidat satu-satunya tanpa panel pembanding?”
“Sadar.”
“Dan kamu sadar bahwa saya akan bertanya kenapa, dan bahwa jawaban ‘saya lebih cocok di operasi’ tidak akan saya terima, karena saya yang menulis penilaian kamu selama empat tahun dan saya tahu kamu tidak lebih cocok di operasi.”
Aku duduk di kursi di depan meja Bu Renata Siregar dan menyadari, dengan jenis kejelasan yang datang terlambat, bahwa aku sudah menyiapkan seluruh percakapan ini kecuali bagian ini.
Aku sudah menyiapkan angkanya. Aku sudah menyiapkan alasan struktural, alasan operasional, tiga versi kalimat yang semuanya benar dan semuanya pendek.
Aku tidak menyiapkan apa pun untuk kenapa.
Bu Renata menunggu.
Dia menunggu dengan cara yang sama seperti seseorang menungguku di balkon di malam pertama: tanpa membantu sama sekali.
“Bapak saya cuci darah,” kataku.
Kalimat itu keluar ke ruangan dan menetap di sana.
Aku belum pernah mengucapkannya di gedung ini. Empat tahun. Ada di berkas tunjangan, ada di formulir, ada di sistem — tapi aku belum pernah mengucapkannya keras-keras kepada satu orang pun di lantai dua puluh satu, dan mendengarnya keluar dari mulutku sendiri terasa seperti menaruh sesuatu di atas meja yang tidak bisa kuangkat lagi.
“Tiga kali seminggu,” lanjutku. “Bulan depan empat. Selisih di luar tanggungan tidak tertutup band saya sekarang. Tertutup di band berikutnya, dan ada dua posisi di band itu, dan saya cuma butuh salah satu.”
Bu Renata tidak mengatakan apa-apa.
“Delivery Lead menutup angkanya,” kataku. “Engagement Manager juga. Bedanya cuma satu.”
“Apa?”
“Yang satu tidak diperebutkan siapa pun.”
Ada hening yang sangat panjang di ruangan itu.
Bu Renata Siregar sudah dua puluh dua tahun di firma ini. Dia sudah melihat orang menangis di kursi yang kududuki. Dia tidak pernah, sekali pun dalam empat tahun, memberikan satu ekspresi yang bisa kubaca.
“Kamu tahu apa yang saya lihat?” katanya akhirnya.
“Bu.”
“Saya lihat dua orang yang sama-sama sedang mengatur supaya yang satu lagi menang.” Dia melipat tangannya. “Dan saya sudah dua puluh dua tahun di sini, Rey, dan saya bisa hitung dengan jari satu tangan berapa kali saya lihat itu terjadi. Dan setiap kali, hasilnya sama.”
“Apa?”
“Dua-duanya jadi lebih kecil.”
Aku memandangi meja.
“Saya nggak minta dia ngalah, Bu.”
“Saya tahu. Itu justru masalahnya.” Bu Renata mengambil folder di sisi kanan mejanya, membukanya, menutupnya lagi. “Kalau kamu minta, saya bisa larang. Ini nggak ada yang bisa saya larang.”
Dia menulis sesuatu. Kali ini betulan menulis.
“Delivery Lead-nya masih ada,” katanya. “Efektif satu November. Saya butuh penarikan kandidasi kamu tertulis sebelum Jumat.”
“Baik, Bu.”
“Satu syarat.”
Aku mengangkat kepala.
“Saya nggak akan bilang ke siapa-siapa,” katanya. “Termasuk ke dia. Itu bukan urusan saya dan saya nggak akan jadi kurir untuk dua orang dewasa.”
“Terima kasih, Bu.”
“Saya belum selesai.” Bu Renata menaruh pulpennya. “Tapi saya juga nggak akan sembunyikan. Penarikan kandidasi masuk ke sistem, Rey. Statusnya berubah di dashboard panel promosi. Delapan orang punya akses ke dashboard itu, dan salah satunya duduk di meja yang menempel dengan meja kamu.”
“Saya tahu.”
“Kamu tahu, atau kamu berharap?”
Aku tidak menjawab itu.
Bu Renata memandangiku selama tiga detik lagi.
“Keluar,” katanya. “Dan Rey.”
“Bu.”
“Bapak kamu — kalau butuh surat keterangan apa pun dari firma untuk rumah sakitnya, lewat saya. Jangan lewat HR. Lebih cepat.”
Aku berhenti di ambang pintu.
Ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokanku dan aku tidak punya perangkat untuk itu, jadi yang keluar adalah dua kata, seperti biasa, di tempat yang untuk pertama kalinya terasa cukup.
“Terima kasih.”
Aku menulis surat penarikannya hari Selasa malam, di unit 14B, dengan lampu yang menyala dan balkon yang tidak kubuka.
Panjangnya empat kalimat.
Aku menghabiskan satu jam lima puluh menit untuk empat kalimat itu, yang adalah rekor pribadi yang memalukan, dan sebagian besar waktu itu kupakai untuk satu keputusan: apakah menuliskan alasannya.
Kolom “alasan” adalah kolom bebas. Boleh diisi, boleh tidak.
Aku mengetik alasan pribadi, menghapusnya.
Aku mengetik pertimbangan keluarga, menghapusnya.
Aku mengetik satu kalimat yang panjangnya dua puluh tiga kata, membacanya empat kali, dan menghapusnya juga — karena kalimat itu benar, dan karena dashboard panel promosi bisa diakses delapan orang, dan karena salah satu dari delapan orang itu duduk di meja yang menempel dengan mejaku dan akan membacanya dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam.
Kolom alasan kukosongkan.
Aku mengirimnya jam sebelas lewat empat puluh, hari Selasa.
Lalu aku duduk di kursi lipat rendah itu, di dalam ruangan, di tempat yang salah, dan melihat ke arah pintu kaca yang tidak kubuka.
Di baliknya ada balkon.
Di balik balkon ada tiga meter kanvas abu-abu yang dipasang hari Sabtu sore oleh seseorang yang menghabiskan empat puluh menit untuk memasangnya dan mengulang simpul di sisi kanan tiga kali sampai rapi. Aku mendengar seluruh prosesnya lewat dinding. Aku mendengar dia turun ke minimarket dan naik lagi. Aku mendengar dia berhenti sekali di tengah, cukup lama, dan aku tidak tahu apa yang terjadi selama jeda itu dan aku memikirkannya setiap malam sejak itu.
Dan di balik kanvas itu, malam Sabtu jam sebelas, ada suara yang mengucapkan lima kata dengan volume yang cukup untuk menyeberangi satu setengah meter dan tidak lebih.
Aku ada di sana.
Aku berdiri di sisi balkonku sendiri, tiga puluh sentimeter dari kain itu, dengan tangan sudah terangkat, dan tidak menjawab.
Empat menit.
Lalu pintu kacanya tertutup, dan aku mendengar tirainya ditarik untuk pertama kalinya sejak bulan Mei.
Aku duduk di kegelapan unit 14B pada malam Selasa itu, dengan surat penarikan yang sudah terkirim dan kolom alasan yang kosong, dan menghitung untuk terakhir kalinya.
Empat puluh delapan jam.
Delapan orang punya akses.
Dan salah satunya adalah orang yang membuka dashboard itu setiap pagi jam tujuh kurang tiga, karena dia tidak bisa berhenti memeriksa apa pun yang bisa diperiksa, karena itu yang dia lakukan, karena itu sebabnya aku tidak menuliskan alasannya.
Kalau dia membacanya dariku, itu penjelasan.
Kalau dia menemukannya sendiri, itu bukti.
Dan orang seperti dia hanya percaya pada yang kedua.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur reading
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya