Chapter Nine
Telepon Jam Dua
POV: Celine
“Non. Non Celine. Bangun, Non. Ibu, Non.”
Suara Mbak Sri. Tangannya di bahuku, mengguncang terlalu keras. Lampu kamar menyala, dan cahayanya menusuk mataku yang belum siap.
“Kenapa, Mbak?”
“Ibu jatuh di kamar mandi, Non. Nggak bangun-bangun.”
Aku tidak ingat turun dari kasur. Aku tidak ingat berlari menyusuri koridor panjang lantai dua dengan kaki telanjang. Yang kuingat cuma lantai marmer kamar mandi Mama yang dingin dan basah, dan Mama tergeletak di sana dengan daster batik ungu kesayangannya, matanya setengah terbuka, napasnya berat dan aneh.
“Ma.” Aku berlutut. “Ma. Mama. Ini Celine.”
Mama mengerang pelan. Matanya bergerak ke arahku, tapi tidak benar-benar melihat.
“Ma, Mama dengar aku?”
“Pu... pusing...” Suaranya seperti dari dalam air. “Lin... kepala Mama...”
Lalu dia muntah.
Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku lulusan S2. Aku pernah mengikuti pelatihan pertolongan pertama di London, dua hari, sertifikatnya dibingkai di kantor Rumah Pelangi. Tapi semua yang kupelajari di sana menguap begitu saja, seperti air di lantai panas. Yang tersisa di kepalaku cuma satu suara, keras dan berulang: jangan Mama, jangan Mama, jangan Mama.
“Mbak Sri, ambulans...”
“Udah ditelepon, Non. Katanya tiga puluh menit, paling cepat. Jalannya ditutup, ada perbaikan pipa di Sudirman.”
Tiga puluh menit.
“Pak Darto?”
“Pulang kampung, Non. Istrinya lahiran.”
Papa di Tokyo. Rapat dengan investor, pulang Kamis. Kakak Mama satu-satunya tinggal di Medan.
Aku meraih ponsel dari saku piyama. Tanganku gemetar sampai layarnya tidak bisa membaca sidik jariku. Tiga kali. Aku memasukkan kode dengan jari yang salah tekan dua kali.
Tasya. Aku menelepon Tasya.
Nada sambung. Nada sambung. Nada sambung. Nomor yang Anda tuju tidak menjawab.
Tentu saja. Jam dua pagi. Tasya tidur seperti orang pingsan, dan ponselnya selalu dalam mode jangan ganggu sejak dia membaca artikel tentang radiasi.
Aku bisa menyetir sendiri. Mobilku sudah pulang dari bengkel. Tapi aku melihat tanganku, dan tanganku gemetar begitu hebat sampai ponsel itu hampir jatuh. Aku tidak bisa memegang kemudi dengan tangan seperti ini. Aku tidak bisa menyetir dengan Mama di kursi belakang, dan dengan kepala yang cuma berisi satu kalimat berulang-ulang.
Mama mengerang lagi.
Dan jempolku, tanpa kuputuskan, tanpa kupikirkan, menggulir daftar kontak dan berhenti di satu nama.
Mas Kebetulan.
Aku menekannya.
Satu nada sambung.
Dua.
“Celine?”
Suaranya serak, berat, jelas baru bangun. Tapi dia mengangkat di nada kedua. Dan dia menyebut namaku tanpa “Mbak”, untuk pertama kalinya.
Aku membuka mulut. Yang keluar bukan kalimat, cuma suara kecil yang pecah. “Mas... Mama...”
Hening sepersekian detik. Lalu suara di seberang berubah. Tidak serak lagi, tidak ngantuk lagi. Jernih, tenang, dan sangat fokus.
“Kamu di mana?”
“Rumah. Menteng. Mama jatuh, Mas, nggak bisa bangun, muntah, ambulansnya tiga puluh menit, Papa di Jepang, aku nggak bisa nyetir, tanganku...”
“Kirim lokasimu. Sekarang.”
Aku mendengar suara kunci. Suara pintu. Suara langkah kaki cepat di lantai.
“Jangan pindahin kepala mamamu. Miringkan badannya sedikit ke kiri, supaya kalau muntah lagi nggak tersedak. Selimuti, jangan sampai kedinginan. Catat jam berapa dia jatuh, kalau ada yang tahu.”
“Mas...”
“Aku ke sana.”
Aku. Bukan saya.
Sambungan terputus.
Empat belas menit.
Aku tahu persis karena aku memandangi jam di dinding kamar Mama setiap tiga puluh detik sambil memegang tangannya. Mama sudah dimiringkan ke kiri. Selimut tebal dari ranjang membungkus tubuhnya. Mbak Sri mencatat jam di kertas bon belanja: Ibu jatuh kira-kira jam 1.45.
Empat belas menit. Rumahnya entah di mana di Jakarta Selatan. Rumahku di Menteng. Di siang hari, perjalanan itu bisa makan waktu satu jam. Di jam dua pagi, dengan Sudirman ditutup...
Bel gerbang berbunyi. Lalu suara satpam rumah, Pak Rahmat, yang bertanya “Cari siapa, Mas?” Lalu suara langkah kaki berlari di jalan berbatu taman depan.
Dia masuk ke kamar Mama dengan napas memburu. Kaus hitam polos, celana training abu-abu, sandal jepit yang sebelah talinya hampir putus. Rambutnya berantakan seperti baru bangun, dan memang dia baru bangun. Kunci mobil masih di tangannya.
Dia tidak melihatku dulu. Dia langsung berlutut di samping Mama.
“Bu,” katanya pelan. “Bu Ratna. Saya Bumi, temannya Celine. Ibu bisa dengar saya?”
Mata Mama bergerak ke arahnya. Mengerjap.
“Ibu bisa angkat tangan kanan?”
Tangan kanan Mama terangkat. Lemah, tapi terangkat.
“Tangan kiri?”
Terangkat juga.
“Ibu bisa senyum?”
Mama mencoba. Senyumnya miring sedikit, tapi lebih karena lelah, bukan karena wajahnya turun sebelah. Mas Bumi memperhatikan wajah itu dengan sangat teliti, seperti memeriksa garis di denah, lalu mengangguk pelan pada dirinya sendiri.
“Bagus, Bu. Bagus sekali.” Dia menoleh padaku untuk pertama kalinya. “Kita bawa sekarang. Nggak usah tunggu ambulans. Mobilmu di mana?”
“Garasi.”
“Kuncinya?”
Aku menyerahkan kunci mobilku. Dia menerimanya. Ujung jarinya menyentuh telapak tanganku sebentar, hangat dan kering, sementara tanganku dingin dan basah.
“Tanganmu dingin,” katanya pelan.
“Aku takut, Mas.”
Dia menatapku. Matanya gelap dan sangat tenang, seperti air sumur yang dalam.
“Aku tahu,” katanya. “Aku di sini.”
Dia menggendong Mama.
Bersama Pak Rahmat, mereka mengangkat Mama dengan selimutnya, hati-hati sekali, menuruni tangga melingkar, melewati ruang tamu dengan lampu kristal, sampai ke garasi. Aku duduk di kursi belakang dengan kepala Mama di pangkuanku. Mas Bumi menyetir mobilku.
Dia menyetir dengan cepat tapi sangat halus. Tidak ada rem mendadak, tidak ada belokan tajam. Dia tahu jalan-jalan kecil yang tidak kuketahui: gang di belakang pasar, jalan tembus di samping kantor kelurahan, putaran balik yang memotong kemacetan perbaikan pipa. Dia tidak bicara kecuali untuk bertanya, “Gimana mamamu?” setiap dua menit, dan aku menjawab “napasnya masih, Mas,” setiap dua menit.
Di satu lampu merah yang kosong, dia tidak berhenti. Dia memperlambat, menoleh ke kiri dan kanan, lalu melaju lagi.
“Mas,” bisikku. “Itu lampu merah.”
“Nanti aku bayar tilangnya.”
Aku tidak tahu kenapa, di tengah semua ketakutan itu, aku tertawa sedikit. Tawanya basah dan pecah, tapi tawa.
Di kaca spion, aku melihat sudut matanya melembut.
Rumah sakit itu terang dan dingin seperti semua rumah sakit di jam tiga pagi.
Dia mendorong kursi roda Mama ke IGD sambil berteriak tenang pada perawat, “Perempuan lima puluh lima tahun, jatuh di kamar mandi sekitar jam satu empat lima, pusing berat, muntah dua kali, motorik kiri-kanan masih ada, wajah simetris, riwayat hipertensi.” Dia menoleh padaku. “Mamamu ada riwayat darah tinggi?”
“Ada. Minum obat. Kadang lupa.”
“Riwayat hipertensi, kadang lupa minum obat,” dia mengulang ke perawat.
Perawat itu mencatat cepat dan membawa Mama masuk. Dia mencatat, entah bagaimana, semua yang Mas Bumi katakan. Pintu ganda menutup di depanku.
Aku berdiri di koridor, di depan pintu itu, tidak bisa bergerak.
Lalu sesuatu yang hangat menyentuh punggungku. Telapak tangan, besar dan ragu-ragu, menempel di antara tulang belikatku. Tangan itu tidak memeluk dan tidak menarik. Cuma menempel di sana, seperti tiang yang menahan dinding yang mau roboh.
“Duduk dulu,” kata Mas Bumi. “Biar aku yang urus administrasi.”
“Dompetku...” Aku meraba saku piyama. Kosong. Aku keluar rumah tanpa dompet, tanpa sandal, dengan piyama bermotif awan dan rambut yang mungkin seperti sarang burung. “Dompetku ketinggalan, Mas.”
“Nanti saja.”
“Tapi deposit...”
“Nanti saja, Celine. Duduk.”
Aku duduk. Dia pergi ke meja pendaftaran.
Dari kursi plastik biru di ruang tunggu, aku melihatnya bicara dengan petugas, mengisi formulir dengan huruf cetak kecil-kecil yang rapi, mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, menandatangani sesuatu. Seorang perawat yang lewat bertanya sesuatu padanya, dan dia menggeleng cepat, wajahnya merah, lalu menjawab sesuatu sambil menggaruk tengkuk.
Belakangan aku tahu perawat itu bertanya, “Bapak suaminya?” Dan dia menjawab, “Bukan, Sus. Teman.” Lalu perawat itu bertanya lagi, “Oh, calon?” Dan dia menjawab, “Teman, Sus. Teman,” dua kali, dengan suara yang terlalu keras.
Tapi saat itu aku tidak tahu apa-apa. Aku cuma melihatnya berdiri di sana dengan sandal jepit yang talinya hampir putus, mengurus semua hal yang tidak sanggup kuurus.
Dokter keluar jam empat kurang sepuluh.
Krisis hipertensi. Tekanan darah Mama naik sangat tinggi, mungkin karena lupa minum obat tiga hari berturut-turut dan stres. Jatuhnya karena pusing berat. Untungnya tidak ada tanda stroke, tapi Mama harus diobservasi dan dirawat di ruang perawatan intensif sampai tekanan darahnya stabil. Mungkin dua sampai tiga hari.
“Untung dibawa cepat,” kata dokter itu, perempuan paruh baya dengan mata lelah dan suara ramah. “Satu jam lagi bisa lain ceritanya. Siapa yang ngecek tangan kiri-kanannya tadi? Itu bagus sekali. Itu yang bikin kami bisa langsung singkirkan kemungkinan stroke.”
Aku menoleh ke samping. Mas Bumi sedang menunduk ke lantai, menggaruk tengkuk.
“Bapak dokter?” tanya dokter itu padanya.
“Bukan, Dok. Arsitek.”
“Oh.” Dokter itu mengerjap. “Kok tahu?”
“Kakek saya dulu,” katanya pelan. “Saya sering bawa ke rumah sakit.”
Dokter itu mengangguk, seolah jawaban itu menjelaskan semuanya. Aku tidak mengerti, tapi aku menyimpan kalimat itu di suatu tempat di kepalaku, di samping kotak perkakas bertuliskan WIRANATA — BOGOR dan kata dulu yang diucapkan dengan cara itu.
Mama tidur di ranjang ruang perawatan dengan selang infus di tangan kiri dan alat pemantau tekanan darah yang berbunyi bip pelan setiap beberapa menit. Wajahnya pucat, tapi napasnya sudah teratur. Kerutan di keningnya, yang selalu ada bahkan saat tidur, sekarang sedikit melunak.
Aku duduk di kursi di samping ranjang dan memegang tangan kanannya. Jari-jarinya dingin. Aku menggosoknya pelan-pelan, satu per satu, seperti yang dulu Mama lakukan padaku setiap kali aku demam waktu kecil.
Lalu aku menangis.
Aku tidak berniat menangis. Aku sudah menahannya sejak kamar mandi, sejak mobil, sejak koridor IGD. Tapi sekarang, di ruangan yang sunyi itu, dengan Mama yang selamat dan bunyi bip yang teratur, semua yang kutahan tumpah begitu saja. Aku menangis dengan suara kecil, menunduk ke tangan Mama, bahuku bergetar.
Pintu kamar terbuka pelan, lalu menutup lagi.
Langkah kaki mendekat. Sesuatu diletakkan di meja kecil di samping ranjang. Lalu langkah kaki itu menjauh dan berhenti di dekat jendela.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia tidak menepuk punggungku, tidak menyuruhku berhenti menangis, tidak bilang “sudah, sudah”. Dia cuma ada di sana, berdiri di dekat jendela, menghadap ke luar, memberiku ruang untuk menangis sambil memastikan aku tidak sendirian.
Ketika akhirnya aku bisa mengangkat kepala, aku melihat apa yang dia letakkan di meja.
Segelas teh manis panas dalam gelas kertas dari kantin rumah sakit. Uapnya masih naik. Di sebelahnya ada sebungkus tisu, roti sobek cokelat, dan sebuah charger ponsel dengan kabel yang panjangnya pas untuk ponselku.
Aku menatap teh manis itu dan teringat pagi hujan tiga tahun lalu. Mochi. Meja nomor tiga. Tisu dan teh manis panas yang dibawakan Pak Udin.
Saya cuma yang nganter, Mbak.
Aku memeluk gelas teh itu dengan kedua tangan, seperti dulu.
“Mas,” kataku pelan, tanpa menoleh ke jendela.
“Hm.”
“Makasih.”
Diam lama. Bunyi bip dari alat pemantau. Suara troli perawat di koridor.
“Minum dulu,” katanya. “Selagi panas.”
Aku meminumnya. Terlalu manis. Gulanya mungkin tiga sendok. Tapi panasnya merambat dari tenggorokan ke dada ke ujung jari, dan untuk pertama kalinya sejak Mbak Sri membangunkanku, tanganku berhenti gemetar.
Setengah jam kemudian dia keluar. “Ke toilet,” katanya.
Dia tidak kembali sampai dua puluh menit kemudian.
Ketika kembali, wajahnya basah, seperti baru dibasuh air. Rambut di dahinya meneteskan air sedikit-sedikit. Dan matanya, dalam cahaya lampu kamar yang redup, kelihatan merah di pinggir.
“Mas kenapa?” tanyaku.
“Ngantuk.” Dia mengusap wajah dengan lengan kaus. “Cuci muka biar melek.”
Aku mengangguk. Dia memang pasti ngantuk. Dia dibangunkan jam dua pagi, menyetir empat belas menit melewati lampu merah, menggendong mamaku, mengurus rumah sakit sampai jam empat. Tentu saja matanya merah.
Aku tidak berpikir lebih jauh. Saat itu aku terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh.
Aku tidak tahu kapan aku tertidur. Yang kuingat terakhir adalah kepalaku jatuh ke tepi ranjang Mama, tanganku masih memegang tangannya, dan seseorang menyampirkan sesuatu yang hangat di bahuku. Sesuatu yang berat dan lembut, dan baunya seperti kayu.
Aku bangun jam setengah tujuh karena cahaya matahari masuk dari celah tirai.
Mama sudah bangun. Dia setengah duduk di ranjang dan memandangiku dengan mata yang jernih, jauh lebih jernih dari tadi malam.
“Pagi, Sayang,” katanya. Suaranya masih lemah, tapi itu suara Mama. Suara Mama yang biasa.
“Ma.” Aku langsung berdiri dan memeluknya, hati-hati dengan selang infus. “Ma. Mama bikin aku takut setengah mati.”
“Maaf, Sayang. Mama bandel. Lupa minum obat.”
Aku menangis lagi, sedikit, di bahunya. Mama mengusap punggungku pelan-pelan.
Ketika aku menegakkan badan, sesuatu jatuh dari bahuku ke lantai.
Jaket abu-abu.
Aku memungutnya. Kerahnya tipis, salah satu kancingnya beda warna. Wangi kayu.
Aku menoleh ke seluruh ruangan. Kursi di dekat jendela kosong. Kursi di pojok kosong. Kamar mandi kosong.
Dia sudah pergi.
Di meja kecil di samping ranjang, ada semangkuk bubur ayam dari kantin rumah sakit yang ditutup piring kecil supaya tetap hangat. Ada sebotol air mineral. Ada dompet kecil berisi uang tunai yang bukan dompetku, dompet kain murah bermotif batik dengan resleting yang sudah agak macet. Dan ada selembar kertas yang dilipat dua, ditindih ponselku yang sudah terisi penuh.
Huruf cetak kecil-kecil, rapi seperti denah.
Mamamu stabil semalam. Dokter visit jam 8.
Aku harus ke Cilincing jam 7, survei tanah sama kontraktor. Dompet itu buat jaga-jaga, kamu nggak bawa apa-apa.
Kalau butuh apa pun, telepon. Jam berapa pun.
— B.
Aku. Lagi-lagi aku, bukan saya.
Dan jam berapa pun.
Aku duduk pelan di kursi, dengan jaket abu-abu di pangkuan dan kertas itu di tangan, dan memandangi tulisan itu lama sekali.
“Siapa itu, Lin?” tanya Mama lembut.
Aku tidak langsung menjawab. Aku memikirkan kaus hitam polos, sandal jepit yang talinya hampir putus, lampu merah yang dia lewati, dan “Bu, saya Bumi, temannya Celine.” Aku memikirkan tangan besar yang menempel di punggungku di koridor IGD. Aku memikirkan teh manis tiga sendok gula.
Aku memikirkan dua puluh menit di toilet, dan mata merah yang katanya karena ngantuk.
“Itu Mas Bumi, Ma,” kataku akhirnya. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. “Yang selalu kebetulan lewat.”
Mama memandangiku. Lalu memandangi jaket di pangkuanku. Lalu, entah kenapa, Mama tersenyum, senyum kecil yang sama seperti senyum Pak Udin setiap kali dia bilang “debu”.
“Kebetulan,” ulang Mama pelan. “Hm.”
Dia tidak bilang apa-apa lagi. Tapi tangannya, yang masih tersambung ke infus, terulur dan menyentuh jaket abu-abu itu sebentar, seperti menyentuh sesuatu yang dia tahu ceritanya, padahal aku belum tahu.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua reading
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi