Chapter Seventeen
Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
POV: Bumi
Aku bangun kedua kalinya jam enam pagi, dan dia masih ada.
Dia tertidur di lantai, duduk bersandar ke sofa, kepalanya miring di tepi bantalan dekat pinggangku. Rambutnya tergerai menutupi separuh wajah. Satu tangannya masih menggenggam tanganku, satunya lagi memegang ponsel yang layarnya sudah mati. Kaus putihnya kusut. Di pipinya ada garis merah samar, bekas jahitan sofa.
Cahaya pagi masuk dari celah tirai yang tidak tertutup rapat, garis tipis keemasan yang jatuh tepat di pergelangan tangan kami.
Aku tidak bergerak. Aku takut kalau aku bergerak, dia akan bangun dan semuanya akan selesai, dan aku akan sadar ini cuma mimpi karena demam.
Jadi aku cuma memandanginya.
Empat tahun aku menggambar wajah ini dari jendela. Dari atas, dari jauh, lewat kaca yang kadang berembun, kadang dialiri hujan. Aku tahu lekuk pipinya, garis rahangnya, cara alisnya naik sedikit kalau dia sedang membaca sesuatu yang lucu. Aku tahu semuanya. Aku pikir aku tahu semuanya.
Ternyata aku tidak tahu kalau dia tidur, bulu matanya jatuh di pipi seperti kipas kecil. Aku tidak tahu ada tahi lalat sangat kecil di bawah telinga kirinya, terlalu kecil untuk terlihat dari jendela. Aku tidak tahu kalau dia tidur, bibirnya sedikit terbuka dan dia bernapas pelan sekali, seperti anak kecil yang takut membangunkan orang lain.
Aku tidak tahu wajahnya akan kelihatan seperti ini dari jarak setengah lengan, di lantai studioku, setelah dia menjagaku semalaman.
Dadaku sakit. Bukan karena tipes.
Dia bangun jam setengah tujuh karena alarm ponselnya, nada dering suara Tasya yang berteriak TANTE, MINUM OBAT! Dia tersentak, ponselnya jatuh, dan dia meraba-raba lantai dengan panik sambil berbisik “Mama, Mama, obat Mama”, sampai dia sadar dia tidak di rumah.
Dia mengangkat kepala dan melihatku.
“Oh,” katanya serak. “Pagi.”
“Pagi.”
“Aku harus telepon Mama, ingetin minum obat.”
“Telepon aja.”
Dia menelepon. Dari tempatku berbaring, aku bisa mendengar suara Bu Ratna di seberang, lembut tapi tegas: Mama udah minum, Sayang. Jam tujuh pas. Kamu di mana? Mbak Sri bilang kamu nggak pulang.
“Di studio Mas Bumi, Ma. Dia sakit. Tipes.”
Hening sebentar di seberang. Lalu Bu Ratna berkata sesuatu yang membuat Celine menoleh padaku dengan mata membulat.
“Mama mau ngomong sama Mas,” katanya, menyodorkan ponselnya.
Aku menerimanya seperti menerima bom yang sedang menghitung mundur.
“Selamat pagi, Bu.”
“Nak Bumi.” Suara Bu Ratna hangat dan pelan. “Tipes, ya? Sudah ke dokter?”
“Sudah, Bu. Semalam. Celine yang antar.”
“Bagus. Makan apa pagi ini?”
“Belum, Bu.”
“Ibu kirim sup, ya. Pak Rahmat yang antar. Sup ayam kampung, nggak pedas, nggak berminyak. Ibu masak sendiri.” Jeda. “Jangan nolak. Ibu ini sudah tua. Kalau ditolak, tekanan darah Ibu naik.”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
Di lantai, Celine menutup wajah dengan kedua tangan dan bahunya bergetar karena tertawa.
“Iya, Bu,” kataku. “Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama, Nak.” Lalu, lebih pelan: “Kamu sudah jagain Celine sama Ibu malam itu. Sekarang gantian.”
Sambungan terputus.
Aku memandangi ponsel itu lama. Gantian. Kata yang sederhana, tapi aku tidak tahu harus meletakkannya di mana.
Celine menyuapiku bubur ayam dari Jovan semalam yang sudah dihangatkan di dispenser air panas studio. Dia menyuapiku sendok demi sendok, meniupnya dulu sebelum disodorkan ke mulutku, persis seperti menyuapi anak kecil.
“Aku bisa makan sendiri,” kataku.
“Tanganmu gemetar, Mas.”
“Sedikit.”
“Kemarin Mas ngegambar detail tangga anak-anak pakai tangan gemetar itu sampai jam dua pagi. Sekarang biarin aku nyuapin.” Dia menyodorkan sendok lagi. “Buka.”
Aku membuka mulut.
Dia tersenyum puas dan menyuapkan bubur itu. Aku mengunyah. Rasanya hambar dan dingin di pinggiran, tapi itu bubur terenak yang pernah kumakan, karena tangan yang menyuapkannya.
“Mas,” katanya, sambil meniup sendok berikutnya. “Boleh aku nanya sesuatu?”
“Boleh.”
“Semalam Dokter bilang Mas baru datang di hari kelima. Kenapa Mas nggak ke dokter dari awal?”
“Kupikir cuma kecapekan.”
“Mas tahu itu bukan kecapekan. Mas yang ngecek tangan kiri-kanan Mama malam itu. Mas tahu tanda-tanda sakit.” Dia menyodorkan sendok. “Kenapa?”
Aku memandangi sendok itu. Aku tidak membuka mulut.
“Karena nggak ada yang nyuruh,” kataku akhirnya.
Dia menurunkan sendok.
“Waktu kecil, kalau sakit, Eyang yang nyuruh ke mantri. Eyang yang bikinin bubur. Eyang yang ngompres.” Aku memandangi langit-langit, noda air berbentuk Sulawesi. “Habis Eyang sakit, aku yang nyuruh Eyang ke dokter. Aku yang bikin bubur. Aku yang ngompres. Terus Eyang meninggal, dan...”
Aku berhenti. Aku tidak tahu kenapa aku menceritakan ini. Mungkin sisa demam. Mungkin cahaya pagi. Mungkin karena dia duduk di lantai studioku dengan garis bekas jahitan sofa di pipinya dan semangkuk bubur dingin di tangannya, dan aku tidak punya tenaga lagi untuk menyimpan apa pun.
“Dan nggak ada lagi yang nyuruh,” kataku. “Jadi aku lupa caranya.”
Dia meletakkan mangkuk bubur di lantai. Pelan-pelan, dia naik ke sofa dan duduk di tepi, di samping pinggangku.
“Ceritain, Mas,” katanya. “Kalau Mas mau.”
Aku belum pernah menceritakan ini pada siapa pun. Bahkan Jovan cuma tahu potongannya, yang dia kumpulkan dari sepuluh tahun persahabatan seperti orang memungut serpihan kaca.
Tapi pagi itu, dengan kepala masih berat dan badan masih lemas, aku menceritakannya.
Aku menceritakan Bapak, montir di bengkel kecil di Depok, yang tangannya selalu hitam oleh oli dan selalu bau bensin. Ibu, guru SD yang suka menyanyi waktu memasak, suaranya sumbang tapi dia tidak peduli. Aku menceritakan rumah kontrakan dua petak dengan atap seng yang berisik kalau hujan, dan Ibu bilang bunyinya seperti tepuk tangan.
Aku menceritakan pagi ketika aku sembilan tahun. Bapak memboncengkan Ibu ke pasar dengan motor tua, dan mereka tidak pernah sampai.
Aku menceritakan polisi yang datang ke sekolah. Wali kelasku yang memelukku terlalu lama di depan kelas, sementara teman-temanku menonton dan tidak mengerti. Aku menceritakan dua hari di rumah tetangga, duduk di pojok ruang tamu yang bukan rumahku, menunggu sesuatu yang aku tidak tahu apa.
Lalu Eyang datang. Bapaknya Bapak, dari Bogor, naik kereta dan angkot tiga kali. Laki-laki tua bersarung kotak-kotak dan berpeci, dengan tangan yang kasar dan bau serutan kayu. Eyang tidak bilang apa-apa. Dia cuma berlutut di depanku, memandangiku lama, lalu bilang, Ayo pulang, Le.
Aku menceritakan bengkel kayu Eyang di Bogor. Pahat. Pensil pertama yang diraut di depanku. Gambar apa saja yang kamu lihat. Kalau tanganmu sibuk, hatimu nggak akan terlalu ribut.
Aku menceritakan beasiswa, kuliah di Jakarta, kos sempit bersama Jovan, makan mi instan seminggu tiga kali. Eyang yang mengirim rambutan dari pohon di belakang rumah setiap musim, dibungkus kardus bekas mi instan, diikat tali rafia, dengan tulisan tangan miring di atasnya: Buat cucuku yang pintar gambar.
Lalu aku menceritakan Eyang mulai lupa.
Pertama lupa menaruh kacamata. Lalu lupa hari. Lalu lupa jalan pulang dari masjid. Lalu, suatu hari, ketika aku pulang ke Bogor membawa martabak kesukaannya, Eyang memandangiku di ambang pintu dan bertanya dengan sopan, Mas ini siapa, ya?
Celine menutup mulut dengan tangan.
“Dokter bilang demensia,” kataku. Suaraku datar, karena kalau aku membiarkannya tidak datar, suaraku akan hancur. “Aku bolak-balik Jakarta–Bogor tiap Jumat sampai Senin. Aku bawa Eyang ke rumah sakit sendiri. Kontrol, ambil obat, cek darah. Aku tidur di kursi plastik di ruang tunggu. Aku yang nyuapin. Aku yang mandiin. Aku yang...”
Aku berhenti. Aku menarik napas.
“Kadang Eyang ingat aku. Kadang nggak. Kadang dia manggil aku pakai nama Bapak. Kadang dia nanya kapan cucunya pulang dari Jakarta, padahal aku duduk di sebelahnya.”
“Mas...” Suaranya pecah.
“Di bulan-bulan terakhir, Eyang hampir lupa semuanya. Namaku. Rumahnya. Bengkelnya.” Aku menatap langit-langit. “Cuma ada satu cerita yang nggak pernah dia lupa. Sampai hari terakhir.”
“Cerita apa?”
Aku diam lama.
Halaman pertama buku sketsa. Warung kecil. Teh manis.
“Itu bagian dari cerita yang belum,” kataku pelan. “Yang aku janjiin nanti.”
Dia tidak memaksa. Dia cuma mengangguk, matanya basah, dan menggenggam tanganku lebih erat.
“Eyang meninggal lima tahun lalu,” kataku. “Di rumah sakit di Bogor. Jam tiga pagi. Aku sendirian.”
Dia tidak bilang apa-apa.
“Jovan lagi di Surabaya. Aku nggak punya saudara lain. Bapak anak tunggal, keluarga Ibu di Kalimantan dan udah lama nggak kontak.” Aku menelan ludah. “Aku duduk di kursi plastik di koridor rumah sakit itu sampai subuh. Nunggu. Aku nggak tahu nunggu apa. Nunggu ada yang dateng, mungkin. Nunggu ada yang bilang ayo pulang, Le.”
“Mas...”
“Nggak ada yang dateng.” Aku memejamkan mata. “Aku urus semuanya sendiri. Jenazah, ambulans, makam, tahlilan. Tetangga bantu, tapi mereka tetangga Eyang, bukan tetanggaku. Mereka baik, tapi mereka pulang ke rumah masing-masing habis itu.”
Aku membuka mata. Cahaya pagi di langit-langit sudah lebih terang sekarang.
“Waktu aku wisuda, Eyang udah sakit, nggak bisa dateng. Aku foto sendirian di depan gedung rektorat. Minta tolong orang asing motoin. Ulang tahun, nggak ada yang inget. Bukan salah siapa-siapa. Jovan inget, tapi dia biasanya inget seminggu kemudian.” Aku tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke mata. “Kalau sakit, aku ke apotek sendiri. Kalau Kijang mogok, aku dorong sendiri. Kalau sedih, aku gambar.”
Aku menoleh dan menatapnya.
Dia menangis. Diam-diam, seperti aku. Air matanya jatuh satu-satu ke punggung tanganku yang dia genggam.
“Selama ini aku selalu yang dateng duluan,” kataku pelan. “Buat Eyang. Buat Jovan. Buat Pak Udin. Buat kamu. Aku tahu caranya. Aku jago. Aku tahu kapan harus turun, kapan bawa payung, kapan bawa kotak perkakas.”
Suaraku goyah.
“Tapi nggak pernah ada yang dateng duluan buat aku.”
Kalimat itu keluar, dan begitu keluar, sesuatu di dadaku yang sudah dua puluh dua tahun terkunci, sejak polisi datang ke sekolah, sejak dua hari di pojok ruang tamu tetangga, sejak kursi plastik di koridor rumah sakit jam tiga pagi, retak.
“Nggak pernah,” bisikku. “Sampai semalam.”
Dia tidak bilang apa-apa.
Dia cuma melepaskan tanganku, lalu memelukku.
Dia memelukku di sofa butut di studio sewaan dengan noda air berbentuk Sulawesi di langit-langit. Lengannya melingkari bahuku, dagunya di atas kepalaku, dan tubuhnya yang lebih kecil dariku entah bagaimana terasa seperti dinding yang bisa menahan apa pun.
Aku tidak tahu siapa yang mulai menangis duluan. Mungkin aku.
Aku menangis di bahunya. Bukan tangis yang sunyi seperti di tangga darurat atau di Kijang. Tangis yang keluar dari tempat yang lebih dalam, tempat yang tidak pernah kubuka. Bahuku bergetar. Napasku tersengal. Air mataku membasahi kaus putihnya yang sudah kusut. Aku mencengkeram punggung kausnya seperti anak sembilan tahun yang mencengkeram sarung kotak-kotak Eyang di stasiun kereta.
Dia tidak menyuruhku berhenti. Dia tidak bilang sudah, sudah. Dia cuma memelukku lebih erat, mengusap punggungku pelan-pelan, naik dan turun, seperti Ibu dulu mengusap punggungku waktu aku demam. Ibu yang suaranya sumbang tapi tidak peduli.
“Aku di sini,” bisiknya di rambutku. “Aku di sini, Mas. Aku dateng.”
Aku menangis lebih keras.
Lama sekali. Aku tidak tahu berapa lama. Cahaya pagi bergerak dari pergelangan tangan kami ke lantai, ke kaki meja gambar, ke tumpukan gambar kerja yang sudah distempel. Di bawah, Pak Udin meniup peluit untuk mobil pertama yang parkir. Kopi Sudut membuka pintunya, kling. Dunia mulai bergerak seperti biasa.
Dan aku menangis di bahunya, dan dia tidak melepaskanku.
Ketika akhirnya tangisku reda, aku tidak mengangkat kepala. Aku malu. Mataku pasti bengkak, hidungku pasti merah, dan kausnya basah di bahu kiri sampai ke dada.
“Maaf,” gumamku ke bahunya. “Kausmu.”
“Kausku bisa dicuci.”
“Aku...” Aku berhenti. Aku mencoba lagi. “Aku nggak tahu caranya ditolong.”
Dia diam, mendengarkan.
“Aku nggak tahu harus ngapain kalau ada yang nolong. Tanganku nggak tahu harus ditaruh di mana.” Suaraku teredam di kausnya. “Waktu kamu bawa rantang, aku bingung. Waktu kamu beresin rak arsip, aku bingung. Waktu Bu Rina telepon, aku panik. Semalam kamu dateng, dan aku...”
Aku mengangkat kepala sedikit, cukup untuk melihat wajahnya.
“Apalagi sama kamu,” bisikku. “Aku nggak tahu caranya ditolong. Apalagi sama kamu.”
Dia memandangiku. Matanya merah dan basah, pipinya ada bekas jahitan sofa yang mulai pudar, rambutnya berantakan. Dia kelihatan berantakan dan lelah dan dia cantik sekali, lebih cantik dari semua sketsa yang pernah kubuat.
Lalu dia tersenyum. Pelan. Lembut. Lesungnya muncul sedikit.
“Nggak apa-apa,” katanya. “Nanti aku ajarin.”
“Ajarin?”
“Pelan-pelan.” Dia mengusap pipiku dengan ibu jarinya, menghapus bekas air mata. “Kayak Mas ngajarin Nayla. Duduk di tempat yang cukup terang supaya Mas bisa lihat, tapi cukup jauh supaya Mas nggak ngerasa dikejar. Terus aku taruh sesuatu di tengah-tengah. Mas boleh ambil kapan aja Mas siap.”
Aku memandanginya.
“Kamu lihat itu?” tanyaku. “Waktu Nayla?”
“Aku lihat semuanya, Mas.” Dia tersenyum lebih lebar. “Aku juga bisa lihat dari jauh, ternyata.”
Pintu studio terbuka dengan bunyi keras.
“SUP AYAM KAMPUNG, DARI TANTE RATNA,” teriak Tasya, menerobos masuk dengan panci besar berlapis handuk di kedua tangannya. “MASIH PANAS. PAK RAHMAT NGEBUT. DIA BILANG INI MISI NEGARA.”
Di belakangnya Jovan, dengan dua kantong plastik berisi buah-buahan dan sebotol besar air kelapa. Di belakang Jovan, Pak Udin, dengan termos teh manis dan topi di tangan. Di belakang Pak Udin, Mas Dodi, dengan nampan berisi roti bakar. Roti bakar srikaya, bukan cokelat keju.
“Roti srikaya, Mas,” kata Mas Dodi sambil meletakkan nampan. “Kata Mas Jovan, orang tipes nggak boleh cokelat. Srikaya lebih lembut.”
“Itu bohong,” kata Jovan. “Aku cuma suka srikaya.”
Studio yang sempit itu tiba-tiba penuh. Tasya menuang sup ke mangkuk. Jovan mengupas jeruk. Pak Udin menuang teh dari termos ke gelas, gula tiga sendok, katanya, biar cepet sembuh. Mas Dodi membuka tirai sampai cahaya pagi masuk penuh, dan jendela besar itu menunjukkan langit Jakarta yang biru pucat.
Aku duduk di sofa dengan jaket abu-abu masih di pangkuan, memandangi mereka semua.
Lima orang. Lima orang di studio sempit ini, jam tujuh pagi, membawa sup dan jeruk dan teh dan roti srikaya. Untukku.
“Ini...” Suaraku serak lagi. “Kenapa semua orang...”
Jovan berhenti mengupas jeruk. Dia memandangiku dari seberang ruangan, dengan kulit jeruk di tangan dan wajah yang tidak bercanda sama sekali.
“Karena kamu sakit, Bum,” katanya. “Orang sakit dijenguk. Itu normal.”
“Aku nggak...”
“Selamat datang di dunia,” kata Jovan, lalu melempar sepotong jeruk ke arahku.
Aku menangkapnya, refleks. Jeruk itu dingin dan basah di telapak tanganku.
Di sebelahku, Celine tertawa pelan. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku, pertama kalinya dia melakukan itu, dan berbisik, cukup pelan supaya cuma aku yang mendengar:
“Pelajaran pertama, Mas. Kalau ada yang ngasih jeruk, dimakan. Bukan dipandangi.”
Aku memandangi jeruk di tanganku.
Lalu aku memakannya.
Rasanya asam dan manis dan dingin. Lima orang di ruangan itu menonton aku mengunyah sepotong jeruk seperti menonton pertandingan final piala dunia. Ketika aku menelannya, Tasya bertepuk tangan. Pak Udin mengusap mata dan bilang debu. Mas Dodi tersenyum. Jovan memalingkan muka ke jendela, rahangnya bergerak-gerak seperti menahan sesuatu.
Celine, di bahuku, tidak bilang apa-apa. Dia cuma menggenggam tanganku yang lengket kena air jeruk, dan tidak melepaskannya.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan reading
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi