Chapter Five
Sketsa dari Balik Jendela
POV: Bumi
Gudang studio kami luasnya satu kali satu setengah meter. Isinya: tiga gulung kertas kalkir, dua kardus maket lama, satu kipas angin rusak, sapu, dan seorang arsitek berumur tiga puluh satu tahun yang sedang berdiri sangat diam, menahan napas, di antara sapu dan kipas angin.
Lewat celah pintu gudang yang tidak pernah bisa tertutup rapat, aku mendengar semuanya.
Suaranya. Permisi, Mas Bumi ada?
Suara Jovan yang berubah tiga oktaf. Lagi survei lokasi. Di Bekasi.
Bekasi. Dari semua tempat di dunia, Jovan memilih Bekasi.
Lalu jeda yang terlalu lama, cukup lama untuk membuatku yakin dia sedang menatap gelas tehku yang masih berembun. Lalu suara pulpen di atas kertas. Lalu suara langkahnya menuruni tangga.
Aku menunggu sampai tidak ada suara apa pun. Lalu menunggu tiga puluh detik lagi. Lalu aku keluar.
Jovan sedang berdiri di depan mejaku dengan kedua tangan di pinggang. Wajahnya seperti ibu-ibu yang anaknya ketahuan bolos sekolah buat main layangan.
“Kamu,” katanya, “sembunyi. Di gudang. Di studiomu sendiri.”
“Aku lagi nyari sapu.”
“Sapunya di tanganmu dari tadi, Bum. Kamu megang sapu kayak megang tongkat Musa.”
Aku menaruh sapu itu di samping meja. Lalu aku melihat apa yang dia tinggalkan.
Laptopku. Kotak nastar dengan pita merah muda. Dan sebuah sticky note kuning di atasnya, dengan tulisan tangan yang miring ke kanan dan huruf-huruf bulat seperti orang yang menulis sambil tersenyum.
Aku membacanya. Lalu membacanya lagi.
Ini bukan kebetulan, kan?
Aku duduk. Pelan-pelan, karena lututku mendadak lupa cara bekerja.
“Disetujui,” kata Jovan, mengintip dari balik bahuku. “Presentasinya disetujui, Bum. Kamu dengar? Perpustakaan anak-anak nelayan. Dan yayasannya mau kamu jadi arsiteknya.”
“Aku dengar.”
“Ini proyek bagus. Ini proyek yang kita mimpiin waktu kita masih ngerjain renovasi kamar mandi orang di Depok. Ini proyek yang bisa masuk portofolio, majalah, mungkin penghargaan.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu harus kerja sama dia. Rapat. Diskusi. Survei bareng. Duduk satu meja. Selama berbulan-bulan.”
Aku diam.
Jovan menarik kursinya, duduk di depanku, lalu menatapku dengan mata menyipit.
“Jangan bilang,” katanya pelan, “kamu mau nyuruh aku yang jadi PIC.”
“Kamu partner.”
“BUMI.”
“Kamu pinter ngomong sama klien.”
“Kamu yang gambar denahnya! Jam tiga pagi! Di kantornya! Sambil dia nonton!” Jovan menunjukku dengan kerupuk kulit yang entah dari mana sudah ada di tangannya lagi. “Aku nggak mau. Aku menolak. Aku bakal ngomong ke dia, ‘Maaf, Mbak, PIC-nya lagi survei di Bekasi. Selamanya.’”
Aku membuka kotak nastar itu. Isinya dua puluh butir, tersusun rapi di kertas roti, masing-masing dengan cengkih kecil di atasnya seperti topi. Wanginya mentega dan nanas.
Aku tidak mengambil satu pun. Aku cuma memandanginya.
Jovan mengikuti arah pandangku. Lalu dia mengulurkan tangan, mengambil satu, dan memakannya utuh.
“Enak,” katanya dengan mulut penuh. “Nastar mahal. Toko yang di Menteng itu. Satu toples harganya setara cicilan motorku.”
“Jo, itu buat...”
“Buat kamu. Aku tahu. Tapi kamu nggak akan makan, kan? Kamu bakal simpan ini sampai berjamur, terus kamu bakal pandangi sambil ngerasa nggak pantas makan nastar mahal dari perempuan cantik. Iya, kan? Aku kenal kamu.” Dia mengambil satu lagi. “Jadi aku menyelamatkan nastar ini dari nasib tragis.”
Aku menutup kotaknya, menariknya ke arahku, dan menjauhkannya dari jangkauan Jovan.
Jovan berhenti mengunyah. Dia menatap kotak itu, lalu menatapku. Pelan-pelan, sebuah senyum muncul di wajahnya, senyum yang jarang sekali dia tunjukkan dan tidak ada hubungannya dengan mengejek.
“Oke,” katanya. “Itu kemajuan.”
Studio sepi setelah jam sembilan malam.
Jovan sudah pulang. Pak Udin sudah pulang. Kopi Sudut sudah menumpuk kursi-kursinya. Di ujung jalan, lampu kecil di lantai atas Rumah Pelangi menyala lagi, lampu yang selalu dibiarkan menyala. Sekarang aku tahu kenapa: itu lampu ruang baca, dan dia selalu meninggalkannya menyala untuk anak-anak penjaga malam yang suka membaca komik sambil menunggu giliran ronda.
Pak Udin yang cerita, dua tahun lalu, tanpa kutanya.
Aku membuka laci meja dan mengeluarkan buku sketsa.
Sampulnya kulit cokelat tua, sudah melembut di bagian tepi karena terlalu sering dipegang. Dulu buku ini milik Eyang. Eyang memakainya untuk menggambar pola ukiran kursi dan lemari, dan sebagian halaman belakangnya masih berisi gambar daun, sulur, dan kepala burung yang dulu dia pahat di sandaran kursi jati pesanan orang kaya di Bogor. Sampulnya bisa dibuka seperti map, dengan cincin besi di dalam, sehingga halaman baru bisa terus ditambahkan.
Selama lima tahun, aku terus menambahkan halaman.
Aku membuka buku itu, bukan dari depan, karena halaman pertama tidak pernah kubuka lagi sejak hari aku menggambarnya. Aku membukanya dari tengah, dari mana saja, dan membiarkan halaman-halaman itu jatuh sendiri di bawah lampu meja.
Dia, sedang tertawa dengan kepala sedikit ke belakang. Tanggal: 14 Maret, tiga tahun lalu. Catatan kecil di pojok: Tasya jatuh dari kursi.
Dia, menyeberang jalan dengan payung kuning dan es kopi di tangan kiri. Tanggal: 2 Januari. Catatan: Hujan. Tetap beli dua.
Dia, menyelipkan rambut ke belakang telinga, matanya ke bawah, membaca sesuatu di ponsel. Catatan: Lesungnya tidak muncul. Pesannya dari siapa?
Dia, berjongkok di trotoar menyuapi kucing belang dengan sobekan roti. Catatan: Kucingnya dikasih nama Pak Bos.
Dia, berdiri di depan Rumah Pelangi dikerubungi anak-anak, memegang buku besar bergambar paus. Catatan: Hari Sabtu. Dia menirukan suara paus. Pak Udin ketawa sampai batuk.
Ratusan halaman. Ratusan pagi.
Tidak semua sketsa itu bagus. Beberapa terburu-buru, garisnya patah-patah, karena dia pergi lebih cepat dari biasanya. Beberapa terlalu hati-hati, sampai wajahnya kelihatan kaku, karena aku takut salah. Dan ada beberapa yang tidak kuselesaikan sama sekali, cuma separuh wajah, setengah senyum, karena pagi itu aku tidak sanggup melihatnya lebih lama.
Aku membalik halaman sampai ke satu sketsa yang kertasnya bergelombang di bagian tengah.
Kertasnya bergelombang karena dulu basah, lalu kering lagi. Tintanya luntur sedikit di sekitar matanya, membuat garis-garis halus itu menyebar seperti akar.
Tanggal: 9 Oktober, tiga tahun lalu.
Pagi itu hujan.
Dia datang jam tujuh lewat dua belas, dua menit lebih lambat dari biasanya. Aku menyadarinya karena aku sudah berdiri di jendela sejak jam tujuh lewat lima, dengan teh manis yang tidak tersentuh.
Dia memarkir mobil dengan miring, tidak lurus seperti biasa. Dia keluar tanpa payung. Dia berjalan ke kafe dengan kepala menunduk, dan hujan membasahi rambutnya sampai menempel di pipi.
Dia duduk di meja nomor tiga. Dia tidak memesan apa-apa.
Lalu dia menatap ponselnya, lama sekali. Dari atas, lewat kaca yang dialiri air hujan, aku melihat bahunya mulai bergetar.
Dia menangis.
Bukan tangisan keras. Dia menutup mulut dengan punggung tangan dan menunduk serendah mungkin ke meja, seperti orang yang berusaha agar tidak ada yang melihat. Tapi meja nomor tiga ada di pojok dekat kaca, dan aku ada tepat di atasnya, dan aku melihat semuanya.
Aku melihat bahunya. Aku melihat tangannya yang menggenggam ponsel terlalu erat. Aku melihat Mas Dodi di balik bar ragu-ragu, lalu memutuskan tidak mendekat. Aku melihat orang-orang di meja lain melirik, lalu kembali ke urusan masing-masing.
Dan dia sendirian di sana, di tengah kafe yang penuh orang.
Aku mencengkeram tepi meja gambar.
Turun. Turun sekarang. Duduk di meja sebelah. Tidak usah bilang apa-apa. Cuma duduk, supaya dia tahu dia tidak sendirian.
Tapi kakiku tidak bergerak.
Karena siapa aku? Laki-laki asing dari lantai dua, yang tidak pernah bicara dengannya, yang dia bahkan tidak tahu ada. Kalau aku tiba-tiba duduk di sebelahnya saat dia menangis, apa yang akan dia pikirkan? Bahwa aku aneh. Bahwa aku memanfaatkan momen. Bahwa aku salah satu dari sekian banyak laki-laki yang mendekat karena tahu siapa ayahnya.
Aku tidak berhak.
Aku tidak berhak ada di sana.
Jadi aku berdiri di jendela, memandanginya menangis, dan tidak melakukan apa-apa.
Aku tidak tahu kapan tepatnya air mataku jatuh. Aku baru sadar ketika ada sesuatu yang menetes ke kertas di bawah tanganku. Saat itu aku sedang menggambarnya tanpa sadar, garis bahu yang bergetar dan kepala yang menunduk, dan tetesan itu jatuh tepat di matanya. Tintanya menyebar.
Aku menangis, sendirian, di lantai dua, untuk seseorang yang tidak tahu namaku.
Aku tidak tahu apa yang membuatnya sedih. Aku tidak perlu tahu. Cukup melihat dia menangis, rasanya seperti ada yang meremas sesuatu di belakang tulang dadaku, sesuatu yang selama ini kukira sudah mati bersama Eyang.
Setelah beberapa menit, aku turun. Bukan untuk mendekatinya, aku tidak seberani itu. Aku turun sampai ke pos Pak Udin di bawah emperan, basah, dan menitipkan dua hal: sebungkus tisu dari laci studio dan segelas teh manis panas yang kupesan dari pintu samping dapur Kopi Sudut.
“Buat Mbak yang di meja tiga, Pak,” kataku. “Jangan bilang dari siapa.”
Pak Udin menatapku lama, dengan air hujan menetes dari ujung topinya. Dia tidak bertanya. Dia cuma mengangguk, mengambil tisu dan teh itu, lalu masuk ke kafe.
Dari bawah tangga, aku melihatnya meletakkan teh dan tisu di meja nomor tiga. Aku melihatnya berkata sesuatu. Aku melihatnya mengangkat kepala, matanya merah, dan menatap teh itu dengan bingung.
Lalu dia memeluk gelas teh itu dengan kedua tangan, seperti orang yang kedinginan.
Belakangan, Pak Udin cerita. Pagi itu anjingnya mati. Anjing kampung berbulu putih bernama Mochi, yang dia pungut dari pinggir tol waktu masih SMA dan yang menemaninya sepanjang kuliah di London lewat panggilan video setiap malam. Mochi mati di rumah dalam tidur, dan dia baru tahu lewat pesan dari mamanya ketika sedang menyetir ke sini.
Dia tetap datang ke Kopi Sudut pagi itu. Dia tetap membeli dua gelas kopi, sambil menangis, setelah teh manisnya habis. Satu untuknya, dan satu, es kopi dengan gula aren dua sendok, untuk Pak Udin.
Aku menggambar bagian itu juga. Di halaman berikutnya.
Aku menutup buku sketsa dan menyandarkan punggung ke kursi.
Di meja, di samping lampu, ada sebuah pahat kayu tua dengan gagang yang sudah licin dan mengilap karena tangan. Gagang itu sedikit melengkung mengikuti genggaman pemiliknya. Pahat Eyang. Satu-satunya barang Eyang yang kubawa dari rumah kayu kecil di Bogor setelah pemakaman. Barang lainnya kubiarkan di sana, terkunci, karena aku belum sanggup membereskannya.
Aku memakai pahat itu untuk meraut pensil. Eyang pasti akan protes kalau tahu. Dia akan bilang, pahat itu buat kayu jati, Le, bukan buat pensil murahan. Tapi Eyang juga yang dulu mengajariku meraut pensil pertamaku dengan pahat itu, waktu umurku sembilan tahun. Itu malam pertama aku tinggal di rumahnya, setelah polisi datang ke sekolah dan guruku memelukku terlalu lama.
Waktu itu aku tidak menangis. Aku cuma duduk di bangku kayu di bengkel Eyang dan memandangi serutan kayu di lantai. Eyang tidak menyuruhku bicara. Dia memberiku pensil dan selembar kertas, meraut pensil itu dengan pahatnya di depanku, lalu berkata, Gambar apa saja yang kamu lihat. Kalau tanganmu sibuk, hatimu nggak akan terlalu ribut.
Dua puluh dua tahun kemudian, tanganku masih sibuk. Hatiku masih ribut.
Aku mengambil sticky note kuning darinya dan menempelkannya di halaman kosong di bagian belakang buku sketsa. Ini bukan kebetulan, kan?
Aku tahu jawaban yang benar. Jawaban yang benar adalah: tidak. Tidak ada satu pun yang kebetulan. Tidak ban bocor itu, tidak laptop itu, tidak terpal biru di atas genteng, tidak sepatu Pak Udin, tidak teh manis di hari hujan tiga tahun lalu. Aku melihatnya setiap hari selama empat tahun, dan setiap kali dunianya sedikit retak, tanganku bergerak sendiri untuk menambalnya.
Tapi jawaban yang benar bukan jawaban yang bisa kuberikan.
Karena kalau aku bilang tidak, ini bukan kebetulan, kalimat berikutnya harus menjelaskan kenapa. Dan penjelasan itu terlalu besar untuk diletakkan di depan perempuan seperti dia: perempuan yang lulus dari London, yang namanya ada di portal berita, yang membangun perpustakaan untuk anak-anak nelayan dengan tangannya sendiri, yang ayahnya punya separuh gedung di Sudirman. Perempuan yang pantas mendapatkan seseorang dengan nama besar, rumah besar, dan masa depan yang tidak dibangun dari bata ekspos karena tidak sanggup bayar plester.
Bukan cucu tukang kayu yang menangis diam-diam di lantai dua.
Cukup. Cukup aku memastikan dia baik-baik saja. Cukup aku tahu dia tertawa, membeli dua gelas kopi, dan pulang dengan selamat. Itu sudah lebih dari yang pantas kudapatkan.
Aku mengambil sticky note baru dari meja Jovan dan menulis dengan huruf cetak kecil-kecil:
Bilang saja arsiteknya Wiranata Atelier.
Biayanya: nastar. Sudah lunas.
— B.
Aku menatap catatan itu lama. Lalu aku menambahkan satu baris di bawahnya, menghapusnya, dan menulisnya lagi.
Selamat, Mbak Celine. Anak-anak itu beruntung.
Besok paginya, jam setengah tujuh, aku menitipkan sticky note itu pada Pak Udin, bersama pesanan teh manisku seperti biasa.
“Buat Mbak Celine, Pak. Kasih pas dia datang.”
Pak Udin menerima kertas itu, membacanya karena Pak Udin selalu membaca semuanya, lalu memandangku dari bawah topinya.
“Mas Bumi,” katanya. “Empat tahun, lho.”
“Saya tahu, Pak.”
“Saya udah tua. Saya nggak bisa nyimpen rahasia selamanya.”
“Pak Udin bisa. Sudah empat tahun.”
Pak Udin menghela napas dan memasukkan sticky note itu ke saku kemejanya. “Mas ini kayak almarhum bapak saya. Ngasih terus, nggak pernah minta. Tahu nggak gimana akhirnya?”
“Gimana, Pak?”
“Ibu saya yang ngejar.” Pak Udin terkekeh, giginya yang ompong satu kelihatan. “Nunggu lima tahun, terus akhirnya Ibu yang datang ke rumah sambil bawa rantang. Katanya, ‘Kalau nunggu kamu, saya keburu jadi nenek-nenek.’”
Aku tidak tahu harus bilang apa, jadi aku naik ke studio.
Jam tujuh lewat sepuluh, dia datang.
Dari jendela, aku melihat Pak Udin menyerahkan sticky note itu. Aku melihatnya membaca, berdiri di trotoar dengan dua gelas kopi di tangan kiri. Aku melihatnya diam sangat lama.
Lalu aku melihatnya mengangkat kepala, dan memandang langsung ke jendela lantai dua.
Ke arahku.
Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa. Dari bawah, dengan cahaya pagi yang memantul di kaca, dia seharusnya tidak bisa melihat ke dalam. Aku tahu itu. Aku arsitek. Aku tahu soal pantulan, sudut, dan cahaya.
Tapi dia tersenyum, lebar, ke arah jendela. Lesung pipitnya muncul.
Aku mundur satu langkah dari kaca, dengan jantung berdetak seperti palu Eyang di atas papan jati.
Lalu, dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil, aku membuka buku sketsa ke halaman kosong dan mulai menggambar senyum itu.
Tanggal hari ini. Catatan di pojok:
Dia melihat ke atas.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela reading
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi