← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Twenty Four

Teh Manis untuk Eyang

POV: Bumi

Lima tahun aku menyimpan cerita ini di balik selotip kertas cokelat. Ternyata cuma butuh dua kata untuk membukanya.

Eyangku.

Dia memandangiku dengan mata yang sangat besar, sangat basah, dan sangat diam. Buku sketsa itu terbuka di pangkuannya, di halaman pertama. Eyang tertawa di bangku warung. Perempuan muda berkaus ...ONDON memegang tangannya.

Dia tidak bertanya. Dia menunggu.

Jadi aku bercerita.


Lima tahun lalu, bulan Juni, dokter di Bogor bilang demensia Eyang memburuk dan menyarankan kontrol ke dokter saraf di Jakarta. Ada satu dokter yang bagus, katanya, di rumah sakit di Jakarta Selatan. Antreannya panjang, tapi kalau sudah dapat jadwal, harus datang seminggu penuh untuk serangkaian tes.

Aku membawa Eyang ke Jakarta. Waktu itu aku masih tinggal di rumah kontrakan kecil di dekat Pasar Santa, rumah dua petak dengan dapur sempit dan kamar mandi di luar. Jovan sedang di Surabaya mengerjakan proyek pertamanya sendiri. Studioku waktu itu cuma meja lipat di pojok kamar.

Eyang tidak suka Jakarta. Terlalu bising, katanya. Terlalu panas. Tidak ada pohon rambutan. Setiap pagi dia bertanya kapan pulang ke Bogor, dan setiap pagi aku bilang, Minggu depan, Yang. Habis tes.

Hari kelima, aku mandi. Sepuluh menit. Mungkin dua belas.

Ketika aku keluar, pintu depan terbuka dan Eyang tidak ada.

“Aku cari tiga jam,” kataku. Suaraku datar, karena kalau tidak datar, aku tidak akan bisa menyelesaikan ceritanya. “Ke masjid. Ke pasar. Ke warung-warung. Ke halte. Aku lapor polisi. Aku tempel foto Eyang di tiang listrik. Hujan turun. Aku nggak tahu Eyang pakai baju apa. Aku nggak tahu Eyang bawa apa. Aku cuma tahu Eyang nggak bawa payung, nggak bawa dompet, dan nggak tahu jalan.”

Dia menutup mulut dengan tangan.

“Aku pikir Eyang udah...” Aku berhenti. “Jakarta itu besar. Ada sungai. Ada jalan raya. Ada truk. Eyang jalan pelan. Eyang nggak lihat kanan-kiri kalau nyeberang. Aku pikir, kalau Eyang kenapa-kenapa, itu salahku. Aku yang bawa Eyang ke kota yang dia benci. Aku yang mandi sepuluh menit. Aku...”

Tanganku gemetar di lutut. Aku mengepalnya.

“Terus ponselku bunyi.”


Nomor tidak dikenal. Aku hampir tidak mengangkatnya, karena kupikir penipu, atau klien. Tapi sesuatu menyuruhku mengangkat.

“Halo? Halo? Eyang? Ini siapa? Eyang saya di mana?”

Suara perempuan. Muda. Tenang dan jernih, dan entah bagaimana suara itu memotong semua kepanikan di kepalaku seperti pisau memotong kertas.

“Mas, kakeknya sama saya. Di warung dekat Pasar Santa, yang atapnya seng, di depan toko buku bekas yang tutup. Kakeknya nggak apa-apa. Lagi minum teh manis.”

Aku berhenti berlari. Aku berdiri di tengah trotoar yang banjir, di Mampang, dengan hujan menetes dari rambut ke mata, dan aku tidak bisa bicara.

“Mas?”

“Saya ke sana sekarang. Sekarang. Saya cari Eyang dari tiga jam lalu. Polisi juga lagi cari.” Suaraku pecah. Aku tidak peduli. “Mbak, tolong. Tolong jangan tinggalin Eyang saya. Saya mohon. Saya ke sana secepatnya.”

“Saya tunggu, Mas. Saya nggak ke mana-mana.”

Dan dia benar-benar tidak ke mana-mana. Dua jam. Aku terjebak di macet Mampang, lalu meninggalkan motor di pinggir jalan dan berlari. Dua kali aku menelepon, dua kali dia mengangkat, dua kali dia bilang, “Kakeknya lagi cerita soal kayu jati, Mas. Nggak apa-apa. Pelan-pelan aja, jangan sampai jatuh.”

Jangan sampai jatuh. Dia bilang itu ke orang asing yang sedang berlari menembus hujan.


“Aku lari,” kataku. “Empat kilo. Hujan. Banjir sebetis. Sepatuku lepas satu di jalan dan aku nggak balik ngambil.”

Dia tertawa sambil menangis, pelan sekali. “Kayak Eyang. Sandal sebelah.”

“Iya.” Aku hampir tersenyum. “Kayak Eyang.”

“Terus?”

“Terus aku sampai di ujung jalan.” Aku memandang sketsa di pangkuannya. “Aku lihat warungnya dari jauh. Atap seng. Bangku kayu. Dan aku dengar sesuatu.”

“Apa?”

“Eyang ketawa.”

Suaraku goyah di kata terakhir. Aku berhenti. Aku menarik napas. Aku mencoba lagi.

“Tiga bulan, Celine. Tiga bulan Eyang nggak ketawa. Eyang bingung, Eyang takut, Eyang nangis malam-malam karena nggak tahu dia di mana. Eyang nanya aku siapa. Tiga bulan aku nggak dengar Eyang ketawa.” Air mataku mulai jatuh. Aku tidak menghapusnya. “Dan di warung itu, di tengah hujan, setelah tiga jam hilang di kota yang dia benci, Eyang ketawa. Keras. Kepalanya ke belakang. Kayak dulu, waktu aku kecil, waktu aku salah pegang pahat dan serutan kayunya nempel di rambutku.”

Dia menunduk ke sketsa itu. Ke Eyang yang tertawa. Air matanya jatuh ke kertas krem kekuningan itu, di samping garis pensil yang lima tahun lalu kugambar dengan tangan gemetar.

“Aku lihat kamu dari jauh,” kataku. “Duduk di sebelah Eyang. Megang tangannya. Aku lihat kamu motongin tempe buat Eyang. Aku lihat kamu dengerin Eyang cerita, kayak cerita Eyang itu cerita paling penting di dunia.”

“Mas...”

“Terus kamu berdiri. Ada mobil klakson di seberang. Kamu pegang tangan Eyang sekali lagi, bilang sesuatu, terus lari ke mobil itu.” Aku memejamkan mata. “Aku sampai di warung waktu mobilmu mulai jalan. Aku berlutut di depan Eyang. Aku peluk Eyang. Dan aku noleh.”

Aku membuka mata.

“Kamu noleh juga. Dari jendela mobil. Dua detik, mungkin kurang.” Suaraku pelan sekali. “Aku lihat mukamu. Cuma dua detik. Lewat kaca mobil yang basah kena hujan.”

Dia menatapku, tidak bergerak.

“Dua detik itu,” kataku, “aku inget sampai sekarang. Setiap garisnya.”


“Malam itu,” lanjutku, “Eyang nggak bisa berhenti cerita.”

Aku memandang langit-langit studio, ke noda Sulawesi yang sudah dicat belang olehnya dan Jovan.

“Eyang lupa dia hilang tiga jam. Eyang lupa hujan. Eyang lupa namaku lagi, manggil aku pakai nama Bapak. Tapi dia inget kamu.” Aku menelan ludah. “’Le, tadi ada anak perempuan cantik kasih aku teh manis. Gulanya ditaruh duluan, kayak bikinanmu. Dia pegang tanganku. Dia dengerin aku cerita kayu jati.’”

Dia terisak.

“’Dia mau bikin rumah buat buku, Le. Buat anak-anak yang nggak punya buku. Kursi-kursinya pas buat kaki anak kecil. Lampunya nyala terus biar anak-anak nggak takut gelap.’” Aku menatapnya. “’Aku bilang ke dia, cucuku bisa bikinin. Kamu bikinin, ya, Le. Janji.’”

“Mas...” Suaranya hancur.

“Aku bilang iya. Aku pikir Eyang besok lupa. Besoknya Eyang lupa banyak hal. Lupa sarapan. Lupa rumah sakit. Tapi Eyang nggak lupa itu.” Aku mengusap mata dengan punggung tangan. “Besoknya Eyang nanya, Le, sudah kamu bikinin rumah bukunya? Besoknya lagi. Besoknya lagi. Tiap hari. Selama tiga bulan.”

“Tiga bulan...”

“Waktu Eyang udah lupa semuanya, waktu Eyang udah nggak tahu aku siapa, waktu Eyang udah nggak bisa makan sendiri...” Aku berhenti. Napasku tersengal. “Eyang masih inget anak teh manis. Itu satu-satunya cerita yang Eyang nggak pernah lupa. Satu-satunya yang bikin Eyang senyum di bulan-bulan terakhir.”

Aku tidak bisa melanjutkan untuk sementara. Aku menunduk dan membiarkan air mataku jatuh ke lantai studio, ke celah di antara papan kayu.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma meletakkan tangannya di punggungku, pelan, dan mengusapnya naik-turun. Seperti yang dia lakukan di sofa ini waktu aku tipes.

“Malam terakhir,” kataku akhirnya, ke lantai. “Jam tiga pagi. Di rumah sakit di Bogor. Eyang udah dua hari nggak ngomong. Tiba-tiba matanya buka. Jernih. Dia lihat aku. Dia panggil aku, Le, kayak dulu.”

Dia berhenti mengusap.

“Eyang bilang, Rumah buat buku. Jangan lupa, Le. Anak baik itu.” Aku mengangkat kepala dan menatapnya. “Itu kata-kata terakhir Eyang.”


Dia menangis tanpa suara. Bahunya bergetar. Tangannya mencengkeram buku sketsa di pangkuannya seperti mencengkeram pegangan di tengah gempa.

Aku juga menangis. Aku tidak berhenti. Aku tidak mau berhenti. Lima tahun aku menangis sendirian untuk ini, di kamar kontrakan, di kursi plastik rumah sakit, di jendela studio, di Kijang. Malam ini, untuk pertama kalinya, ada yang menangis bersamaku.

Aku menangis untuk Eyang. Untuk laki-laki tua bersarung kotak-kotak yang menjemputku di rumah tetangga waktu aku sembilan tahun. Untuk tangan kasar yang mengajariku meraut pensil dengan pahat. Untuk kardus mi instan berisi rambutan. Untuk Mas ini siapa, ya? Untuk tiga bulan terakhir yang cuma diterangi satu ingatan.

Dan aku menangis untuk dia.

Untuk perempuan dua puluh dua tahun dengan ekor kuda dan kaus LONDON. Dia berteduh di warung saat hujan karena toko bukunya tutup. Dia melihat kakek tua bersandal sebelah yang kebingungan, yang dicuekin pemilik warung, yang bertanya ini Bogor, ya? tiga kali. Dia duduk di sebelahnya. Dia memesan teh manis dan membiarkan kakek itu mengajarinya cara membuatnya. Dia memotong tempe. Dia mendengarkan cerita kayu jati yang berulang-ulang. Dia menemukan kertas di peci, menelepon orang asing, dan menunggu dua jam sementara pesawatnya ke London tinggal tiga jam lagi.

Dia tidak kenal Eyang. Dia tidak kenal aku. Dia tidak dapat apa-apa. Dia bahkan tidak menunggu ucapan terima kasih.

Dia cuma memberi, lalu pergi, dan lupa.

“Kamu tahu nggak,” bisikku, “kenapa aku pesan teh manis tiap pagi?”

Dia menggeleng pelan.

“Karena itu yang Eyang minum terakhir kali dia bahagia.” Suaraku pecah. “Dan karena itu yang kamu kasih.”

Dia memejamkan mata dan air matanya jatuh lagi.


“Setahun kemudian,” kataku setelah lama sekali, “aku udah pindah ke studio ini. Sewa. Bareng Jovan. Aku sengaja cari yang dekat Pasar Santa, aku nggak tahu kenapa. Mungkin biar deket sama warung itu.”

“Tiga Agustus,” bisiknya.

“Tiga Agustus.” Aku mengangguk. “Jam tujuh lewat sepuluh. Aku lagi gambar di meja yang dulu nempel di dinding. Aku dengar Pak Udin niup peluit. Aku noleh ke jendela, nggak tahu kenapa.”

Aku memandang ke jendela besar itu. Gelap sekarang. Lampu jalan kuning di luarnya.

“Dan kamu di sana. Turun dari mobil putih. Rambutmu udah lebih pendek. Kausmu udah bukan kaus LONDON.” Aku tersenyum tipis. “Tapi aku tahu itu kamu. Aku tahu dalam setengah detik. Dua detik di jendela mobil yang basah itu, aku udah gambar ulang ratusan kali di kepalaku.”

“Mas pindahin meja ke jendela.”

“Hari itu juga. Jovan pikir aku gila.” Aku menggaruk tengkuk. “Terus aku cari tahu siapa kamu. Rumah Pelangi. Penerbit buku anak. Perpustakaan anak. Rumah buat buku.” Aku diam sebentar. “Kamu bikin sendiri. Rumah buat buku yang kamu ceritain ke Eyang di warung. Kamu nggak butuh aku buat bikinin. Kamu bikin sendiri.”

“Mas...”

“Terus aku tahu kamu siapa. Florentina.” Aku memandang tanganku yang bernoda tinta. “Putri tunggal. Lulusan London. Kaya. Dan aku...”

Aku tidak melanjutkan. Dia tahu sisanya.

“Kenapa Mas nggak bilang?” bisiknya. “Dari awal. Waktu ban bocor. Waktu laptop. Waktu meja nomor tiga. Kenapa Mas nggak bilang, ‘Kamu yang dulu nolongin Eyangku’?”

Ini pertanyaan yang paling kutakuti. Pertanyaan yang lima tahun kujawab sendiri di kepala, di kamar kontrakan, di jendela, di Kijang, dengan jawaban yang selalu sama.

“Karena aku takut,” kataku.

“Takut apa?”

“Takut kamu mikir aku cinta kamu karena utang budi.” Aku memaksa diriku menatapnya. “Takut kamu mikir aku cuma lagi bales jasa ke orang yang nolong Eyang. Takut kamu mikir aku cuma nepatin janji ke Eyang, bukan karena aku... karena aku beneran...”

Suaraku hilang. Aku mencoba lagi.

“Kamu cerita soal orang-orang yang deketin kamu karena mau sesuatu,” kataku pelan. “Dan aku pikir, kalau kamu tahu soal Eyang, kamu bakal mikir aku juga mau sesuatu. Bukan uang. Bukan papamu. Tapi... penebusan. Utang yang dibayar. Kayak daftar kebaikanmu di spreadsheet Rio. Aku takut buat kamu, cintaku cuma jadi baris di daftar.”

Dia diam.

“Dan aku juga takut sama diriku sendiri,” bisikku. “Aku takut aku nggak bisa bedain. Apa aku cinta kamu karena kamu. Atau karena kamu yang bikin Eyang ketawa terakhir kali. Lima tahun aku tanya ke diriku sendiri. Dan aku nggak pernah dapat jawabannya, karena kamu selalu di bawah, dan aku selalu di atas, dan aku nggak pernah kenal kamu.”

Aku menatapnya. Wajahnya basah, matanya merah, dan dia cantik sekali dalam cahaya lampu meja yang redup. Lebih cantik dari dua detik di jendela mobil. Lebih cantik dari ratusan halaman di buku itu.

“Makanya aku nunggu,” kataku. “Aku nggak cerita soal Eyang di meja nomor tiga. Aku nggak cerita waktu tipes. Aku nggak cerita di rumah. Aku butuh tahu satu hal dulu, sebelum kamu tahu soal Eyang.”

“Apa?”

“Aku butuh tahu kamu milih aku.” Suaraku nyaris tidak terdengar. “Aku. Bukan cucu kakek di warung. Bukan orang yang bales budi. Aku butuh tahu, sekali seumur hidup, ada yang milih aku, bukan bales aku.”


Lama sekali tidak ada yang bicara.

Lalu dia menutup buku sketsa itu. Pelan. Dia meletakkannya di sofa di sampingnya, hati-hati, seperti meletakkan bayi.

Dia berbalik menghadapku. Dia mengangkat kedua tangannya dan memegang wajahku.

“Mas tahu nggak,” bisiknya, “waktu aku pertama kali jatuh cinta sama Mas, di jendela ini, aku nggak tahu soal Eyang.”

Aku diam.

“Waktu aku bilang ‘aku juga’ di meja nomor tiga, aku nggak tahu soal Eyang. Waktu aku cium Mas jam empat pagi di sofa ini, aku nggak tahu soal Eyang. Waktu aku ganti ban Kijang di Cilincing, waktu aku duduk di kursi hijau sage, waktu aku bacain Mas buku paus sampai ketiduran, waktu aku cium Mas di jendela barusan...” Air matanya jatuh, tapi suaranya tidak goyah. “Aku nggak tahu soal Eyang, Mas. Nggak tahu sama sekali. Aku udah lupa warung itu.”

Ibu jarinya mengusap air mata di pipiku.

“Aku milih Mas,” bisiknya. “Bukan cucu kakek di warung. Aku milih laki-laki yang naik genteng waktu hujan dan jatuh ke talang. Yang mahat paus buat Nayla. Yang nangisin aku umur lima tahun yang takut gelap. Yang bilang ‘makasih’ pertama kali di tengah hujan di Cilincing.” Dia menempelkan dahinya ke dahiku. “Aku milih Mas jauh sebelum aku tahu. Mas udah dapat jawabannya. Dari dulu.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Dan Mas,” bisiknya, lebih pelan, “Mas juga udah nepatin janji ke Eyang.”

Aku menarik diri sedikit dan menatapnya.

“Rumah buat buku,” katanya. “Mas bikinin. Di Cilincing. Tangga lima belas senti buat kaki anak kecil. Jendela rendah biar bisa lihat langit. Sudut gelap buat yang malu.” Dia tersenyum di tengah tangisnya. “Dan di rumah Mas sendiri. Sudut baca hijau sage. Kursi yang kakinya pas. Lampu kuningan yang nunduk. Mas bikinin, Mas. Dua kali. Buat anak baik yang Eyang ceritain.”

Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis lagi. Mungkin aku tidak pernah berhenti.

“Eyang pasti bangga,” bisiknya. “Cucunya pintar gambar. Jadi tukang bikin rumah. Bikin rumah buat buku.”

Aku menangis di tangannya. Wajahku di telapak tangannya, air mataku di jari-jarinya, bahuku bergetar. Dia menarikku ke pelukannya, dan aku membiarkannya. Aku membiarkan diriku dipeluk, ditolong, dijaga, oleh perempuan yang lima tahun lalu memberi Eyang teh manis dan pergi tanpa menunggu terima kasih.

Perempuan yang sekarang tidak pergi.


Lama sekali kemudian, ketika napas kami berdua sudah tenang, ketika lampu jalan di luar sudah berkedip ratusan kali, dia berbicara lagi. Pelan, di dekat telingaku.

“Mas.”

“Hm.”

“Makam Eyang di mana?”

Aku menegakkan badan dan memandangnya.

“Bogor,” kataku. “Pemakaman kampung di belakang rumah Eyang. Di bawah pohon kamboja.”

Dia mengangguk pelan. Matanya masih basah, tapi ada sesuatu yang lain sekarang di sana, sesuatu yang tegas, sesuatu yang sudah memutuskan.

“Aku mau ke sana,” katanya. “Aku mau kenalan sama Eyang. Yang bener. Bukan kayak waktu di warung.”

Aku membuka mulut. Tidak ada suara.

“Aku mau bawa teh manis,” lanjutnya. “Gula duluan. Tunggu larut. Aduk tiga kali.” Dia tersenyum, lesungnya muncul sedikit di antara air mata. “Satu buat yang bikin. Satu buat yang minum.”

Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Satu buat yang nunggu di rumah,” bisiknya.

Lima tahun lalu, di warung di dekat Pasar Santa, Eyang mengatakan kalimat itu padanya. Aku tidak pernah mendengarnya. Eyang tidak pernah mengatakannya padaku. Itu kalimat Eyang untuk Nenek, yang meninggal sebelum aku lahir, yang menunggu di rumah kayu di Bogor setiap sore dengan teh manis di meja.

Dan sekarang kalimat itu kembali padaku, dari mulut perempuan yang Eyang ceritakan sampai hari terakhir.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku cuma mengangguk, dan menggenggam tangannya kembali, dan tidak melepaskannya.