← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter One

Dua Gelas Kopi

POV: Bumi

Jam tujuh lewat sepuluh, dia datang.

Aku tidak perlu melihat jam untuk tahu. Ada sesuatu di dadaku yang sudah hafal jadwalnya lebih baik daripada alarm ponselku sendiri. Sekitar jam tujuh lewat delapan, tanganku berhenti menggambar. Jam tujuh lewat sembilan, aku pura-pura merapikan kertas kalkir di meja dekat jendela. Lalu jam tujuh lewat sepuluh, sebuah hatchback putih masuk ke deretan parkir di depan Kopi Sudut, dan Pak Udin mengangkat peluitnya sambil tersenyum lebar seperti menyambut keponakan.

Dia turun dari mobil.

Sudah empat tahun aku melihat adegan ini hampir setiap hari kerja, dan sampai sekarang aku masih belum terbiasa.

Dia cantik. Bukan cantik yang bisa dijelaskan dengan sopan, bukan cantik yang cukup disebut “manis” atau “lumayan”. Dia cantik dengan cara yang membuat tukang ojek di pangkalan sebelah berhenti bicara di tengah kalimat. Rambutnya panjang, bergelombang di ujung, dan pagi ini diikat setengah dengan jepit berwarna krem. Kulitnya cerah dan bersih, wajahnya kecil, matanya besar dan selalu kelihatan seperti baru saja mendengar kabar baik. Ada lesung pipit di pipi kirinya yang hanya muncul kalau dia tertawa sungguhan. Aku tahu itu karena aku sudah menggambarnya, entah berapa ratus kali, dan lesung itu tidak pernah muncul di senyum basa-basi.

Dia melambai pada Pak Udin. Pak Udin melambai balik dengan peluit masih di mulut, lalu tersedak sendiri.

Aku tersenyum ke kaca jendela.

Celine Florentina masuk ke Kopi Sudut. Dari lantai dua, lewat jendela studio yang menghadap langsung ke kafe di bawahnya, aku bisa melihat sebagian meja di dekat kaca depan, termasuk meja nomor tiga, meja bundar kecil di pojok yang selalu dia pilih. Dia akan duduk lima belas menit di sana. Dia akan memesan dua kopi susu, satu panas dan satu dingin. Yang panas untuk dirinya, dan yang dingin, dengan es batu ekstra dan gula aren dua sendok, untuk Pak Udin.

Empat tahun, dan dia tidak pernah lupa. Bahkan di hari dia datang dengan mata sembap. Bahkan di hari dia menelepon sambil menangis. Bahkan di hari hujan, ketika Pak Udin berteduh di emperan toko dan dia harus menyeberang sambil memegang payung di satu tangan dan es kopi di tangan lainnya.

Dua gelas kopi. Setiap pagi.

Kadang aku berpikir, kalau seseorang bisa mencintai dengan cara sesederhana itu, setia memberi tanpa pernah absen kepada orang yang bukan siapa-siapanya, apa yang akan terjadi pada orang yang benar-benar dia cintai?

Lalu aku berhenti memikirkannya, karena itu bukan urusanku.

Aku mengambil buku sketsa dari laci, membukanya ke halaman kosong, dan mulai menggambar.


“Siaran langsung sudah mulai, ya?”

Aku tidak menoleh. Jovan selalu datang jam tujuh lewat lima belas, dan dia selalu membuka pintu studio dengan bahu karena tangannya penuh: tas laptop, helm, dan sebungkus nasi uduk yang tidak pernah dia bagi.

“Pagi,” kataku.

“Pagi juga, Pak Pengamat Satwa Liar.” Jovan menjatuhkan helmnya ke sofa. “Hari ini spesiesnya lagi apa? Minum? Makan? Bertelur?”

“Jovan.”

“Oke, oke. Maaf. Lanjutkan pengamatanmu.” Dia membuka bungkus nasi uduk di mejanya, lalu berhenti dan menatapku. “Tapi serius, Bum. Empat tahun. Kamu sadar nggak, kalau dihitung-hitung, kamu sudah lebih lama ngelihatin dia dari jendela daripada orang pacaran rata-rata di Jakarta?”

“Aku nggak ngelihatin.”

“Kamu lagi ngegambar dia.”

Aku melihat ke bawah. Pensilku sudah membentuk garis rahang, setengah rambut yang jatuh ke bahu, dan tangan yang memegang gelas. Aku menutup buku sketsa itu pelan-pelan.

“Itu latihan proporsi.”

“Latihan proporsi,” Jovan mengulang dengan nada seperti sedang membaca kalimat terbodoh di dunia. “Kamu arsitek. Proporsimu sudah dipakai buat bikin perpustakaan dua lantai di Cibubur. Kamu nggak perlu latihan proporsi tiap pagi jam tujuh lewat sepuluh.”

Aku tidak menjawab. Jovan menghela napas, menyendok nasi uduknya, dan mengunyah dengan wajah sedih seperti orang yang menonton film yang endingnya sudah dia tahu.

“Turun, Bum,” katanya dengan mulut penuh. “Satu kali aja. Beli kopi. Duduk di meja sebelah. Bilang ‘pagi’. Itu doang.”

“Buat apa?”

“Buat apa?” Jovan hampir tersedak. “Buat, ya Tuhan, buat hidup, Bumi! Buat jadi manusia normal!”

Aku memandang ke bawah lagi. Celine sedang tertawa sambil menunduk ke ponselnya. Lesung pipitnya muncul. Pasti pesan dari Tasya, sahabatnya, perempuan berkacamata bulat yang sering ikut datang pagi-pagi dan bicara dengan tangan.

“Kamu tahu siapa dia, Jo,” kataku pelan.

Jovan berhenti mengunyah.

“Putri tunggal Hendra Florentina. Lulusan London. Yang mendirikan Rumah Pelangi pakai keputusannya sendiri, dan yang kalau datang ke acara amal, fotonya muncul di tiga portal berita.” Aku membuka buku sketsa lagi, menatap garis rahang yang belum selesai. “Aku cucu tukang kayu dari Bogor. Studioku sewa. Mobilku Kijang tahun sembilan puluh delapan yang AC-nya kadang dingin, kadang cuma niat.”

“Itu bukan alasan.”

“Itu bukan alasan,” aku setuju. “Itu kenyataan.”

Jovan meletakkan sendoknya. Untuk beberapa detik dia tidak bilang apa-apa, dan Jovan yang tidak bilang apa-apa adalah kejadian langka, seperti gerhana.

“Kamu tahu masalahmu apa?” katanya akhirnya.

“Banyak.”

“Masalahmu, kamu udah mutusin jawabannya buat dia. Kamu nggak pernah nanya. Kamu udah jawab sendiri, atas nama dia, empat tahun berturut-turut.”

Aku tidak membalas, karena dia benar, dan karena aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa aku tidak sedang menunggu jawaban apa pun.

Yang aku inginkan cuma satu: dia baik-baik saja. Dia datang jam tujuh lewat sepuluh, dia tertawa, dia membeli dua gelas kopi, lalu dia menyeberang ke Rumah Pelangi di ujung deretan ruko ini dan membacakan cerita untuk anak-anak yang orang tuanya tidak sanggup membeli buku. Kalau itu terus terjadi, dunia sedang berjalan dengan benar.

Aku tidak perlu ada di dalam gambar itu. Aku cukup menggambarnya.


Pukul tujuh lewat dua puluh lima, dia keluar.

Dia memberikan es kopi pada Pak Udin, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Pak Udin terbahak sampai topinya miring. Dia merapikan topi itu dengan satu tangan, seperti cucu yang merapikan kerah kakeknya.

Lalu dia berjalan menyusuri trotoar, dan menghilang dari bingkai jendelaku.

Aku menghela napas. Baru saat itu aku sadar sejak tadi napasku tertahan.

Di meja, teh manisku sudah dingin. Aku tidak minum kopi. Aku selalu memesan teh manis dari Kopi Sudut lewat Pak Udin, yang mengantarnya ke atas setiap jam setengah tujuh, sebelum dia datang. Alasannya tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk Jovan. Jovan pernah bertanya, dan aku bilang aku tidak suka pahit. Itu bohong. Aku tidak keberatan pahit.

Aku cuma tidak bisa berhenti memesan teh manis, sama seperti aku tidak bisa berhenti menggambar wajah yang sama.

Aku menyeruput teh yang sudah dingin itu, lalu kembali bekerja.


Hari itu panjang.

Ada revisi denah untuk klien di Bintaro yang ingin dapurnya “seperti di Pinterest tapi lebih Indonesia”. Ada rapat daring dengan kontraktor yang sinyalnya putus setiap kali dia mau menjelaskan kenapa anggarannya naik. Ada Jovan yang menghabiskan dua jam memilih font untuk papan nama klinik gigi dan akhirnya memilih font yang sama seperti tiga jam sebelumnya.

Jam sembilan malam Jovan pulang. Jam sepuluh aku masih di meja, menggambar ulang potongan tangga yang terlalu curam. Jam sebelas aku mematikan lampu studio, mengunci pintu, dan turun ke jalan.

Kopi Sudut sudah tutup. Lampu-lampu di deretan ruko mati satu-satu. Rumah Pelangi di ujung juga sudah gelap, kecuali satu lampu kecil di lantai atas yang kadang dibiarkan menyala sampai pagi. Tidak pernah kutanyakan kenapa, karena aku tidak punya hak untuk bertanya apa pun.

Kijangku menyala di percobaan kedua. AC-nya memutuskan malam ini dia cuma niat.

Aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku memutar lewat jalan belakang, jalan kecil di antara kompleks perumahan lama dan lahan kosong yang dipagari seng. Jalannya lebih jauh dua kilometer, tapi lebih sepi, dan aku suka menyetir di jalan sepi kalau kepala sedang penuh. Kata Eyang dulu, kepala yang penuh harus dibawa jalan supaya isinya tumpah sedikit-sedikit di belakang.

Di tikungan dekat pohon trembesi besar, lampu mobilku menyapu sesuatu.

Sebuah hatchback putih. Lampu hazard-nya berkedip pelan di sisi jalan yang gelap. Ban belakang kirinya sudah gepeng sampai ke pelek.

Dan di sampingnya, berdiri seorang perempuan dengan gaun panjang warna biru tua, memegang sepatu hak di satu tangan dan ponsel mati di tangan lainnya. Dia sedang menatap langit seperti sedang bernegosiasi dengan Tuhan.

Aku mengenali punggung itu sebelum otakku sempat menyusun kata-kata.

Tanganku di setir mendadak dingin, lebih dingin dari AC Kijang ini sepanjang hidupnya.

Di dalam kepalaku, suara Eyang terdengar sejelas dulu. Itu suara yang dulu sering muncul ketika aku masih kecil dan ragu-ragu di depan pintu, ingin menolong teman yang jatuh dari sepeda tapi takut dibilang ikut campur.

Kalau kamu lihat orang kesusahan, Le, jangan mikir dulu kamu siapa. Turun saja.

Aku menepikan mobil di belakang hatchback putih itu.

Aku menarik napas sekali, lalu sekali lagi.

Lalu aku turun.