← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Eighteen

Kebetulan Lewat, Katanya

POV: Celine

Mas Bumi sembuh dalam sembilan hari.

Sembilan hari itu, dia tinggal di rumahnya. Jovan yang mengantar dan menjemput, menyuruhnya tidur, memastikan antibiotiknya diminum. Aku tidak datang ke rumahnya. Dia bilang rumahnya belum siap kulihat, dan aku memutuskan untuk percaya bahwa belum artinya nanti.

Tapi aku tidak tinggal diam.

Setiap pagi jam enam, Pak Rahmat berangkat dari Menteng membawa rantang. Bukan rantang porselen. Rantang seng motif bunga dua puluh lima ribu. Isinya sup ayam, bubur, nasi tim, sayur bening, semuanya masakan Mama atau Mbak Sri atau, kadang-kadang, aku. Pak Rahmat menyerahkannya ke Jovan di depan gang rumah Mas Bumi. Jovan membawanya masuk.

Setiap sore, rantang itu kembali. Dicuci bersih, dikeringkan, disusun rapi.

Dan di dalam susunan paling atas, setiap hari, ada selembar kertas kecil yang dilipat dua. Huruf cetak kecil-kecil, rapi seperti denah.

Hari pertama: Terima kasih.

Hari kedua: Terima kasih. Supnya enak. Bilang ke Bu Ratna.

Hari ketiga: Terima kasih. Nasi timnya kamu yang masak, ya? Ada kulit bawang ketinggalan. Aku makan juga.

Hari kelima: Terima kasih. Aku latihan bilang ini tiap hari, kata kamu pelajaran pertama. Masih aneh. Tapi nggak seaneh kemarin.

Hari ketujuh: Terima kasih. Aku kangen meja nomor tiga.

Hari kesembilan, ada dua kertas. Yang pertama: Terima kasih. Besok aku turun. Yang kedua, lebih kecil, ditulis seperti terburu-buru:

Aku juga kangen kamu.

Aku menyimpan sembilan kertas itu di sampul belakang agendaku, di sebelah dua sticky note kuning yang pertama. Sebelas kertas sekarang. Tasya bilang aku sedang membangun museum.

“Museum apa?” tanyaku.

“Museum Mas Kebetulan Belajar Jadi Manusia,” kata Tasya.


Pelajaran kedua dimulai minggu berikutnya.

Peletakan batu pertama perpustakaan Cilincing dijadwalkan hari Sabtu, tiga minggu lagi. Mas Bumi kembali ke studio dengan semangat orang yang baru keluar dari penjara. Dia lembur. Tidak sampai jam dua pagi lagi, karena Jovan mengancam akan mencabut sekring listrik studio kalau lewat jam sebelas. Tapi tetap lembur.

Rabu malam, jam sepuluh lewat lima belas, lampu studio masih menyala.

Aku tahu, karena aku melihatnya dari mobil.

Aku tidak lewat. Aku sengaja datang dari Menteng, empat puluh menit perjalanan, membawa termos teh manis tiga sendok gula yang kubuat sendiri dengan resep yang kuminta dari Pak Udin. Pak Udin bilang, resepnya dari almarhum Eyangnya Mas Bumi, Mbak. Mas Bumi yang ajarin saya. Gulanya ditaruh duluan di gelas, baru tehnya dituang panas-panas, jangan diaduk dulu, tunggu gulanya larut sendiri, baru diaduk tiga kali.

Aku tidak tahu kenapa harus begitu. Tapi aku melakukannya persis seperti itu.

Aku naik tangga sempit itu, mengetuk pintu studio, dan membukanya tanpa menunggu jawaban.

Dia duduk di meja dekat jendela, menunduk ke gambar, pensil di tangan. Dia mengangkat kepala, melihatku, dan membeku dengan pensil di udara.

“Celine?”

“Malam, Mas.”

“Kamu ngapain di sini? Jam sepuluh malam?”

Aku meletakkan termos di mejanya, di atas gambar detail jendela rendah. Lalu aku menatapnya dengan wajah yang sangat serius dan datar, wajah orang yang sangat yakin kalimatnya masuk akal.

“Kebetulan lewat.”

Diam.

Dia memandangiku. Aku memandanginya balik dengan wajah datar.

Lalu dia tertawa. Tawanya keras dan tiba-tiba, seperti meledak dari dadanya. Dia menjatuhkan pensil, bersandar ke kursi, menutup wajah dengan kedua tangan, dan tertawa sampai bahunya berguncang.

“Lewat,” katanya terengah-engah di balik telapak tangan. “Dari Menteng. Ke sini. Jam sepuluh malam. Bawa termos.”

“Iya.”

“Kamu...” Dia menurunkan tangannya. Matanya basah karena tertawa. “Kamu pembohong paling jelek yang pernah aku temuin.”

“Itu kalimatku, Mas,” kataku, dan aku duduk di kursi Jovan dengan senyum paling puas yang pernah kurasakan seumur hidup. “Dari halte.”

Dia memandangiku lama, masih tersenyum. Lalu dia membuka termos itu, menuang teh ke tutupnya yang sekalian jadi gelas, dan menyeruputnya.

Dia berhenti.

Dia memandangi teh di tangannya. Lalu memandangiku.

“Ini...” katanya pelan. “Gulanya duluan? Nggak diaduk dulu?”

“Diaduk tiga kali, setelah larut sendiri.”

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma memandangi gelas itu lama, lama sekali, dan jakunnya naik turun.

“Pak Udin yang kasih tahu resepnya,” kataku pelan. “Katanya resep Eyang Mas.”

Dia mengangguk, pelan. Dia menyeruput teh itu lagi, menunduk, dan aku melihat matanya berkaca-kaca. Tapi dia tidak menangis. Dia cuma tersenyum ke gelas teh itu, senyum yang kecil dan rapuh, seperti orang yang mencium bau rumah lama setelah bertahun-tahun.

“Rasanya sama,” bisiknya. “Persis sama.”


Pelajaran ketiga, dan yang paling sulit, datang di Jumat malam, delapan hari sebelum peletakan batu pertama.

Jam setengah sembilan, ponselku bergetar.

Bumi 🌏: Celine, aku telat pulang. Kijang mogok di Cilincing.
Bumi 🌏: Bannya juga bocor. Dua-duanya sekalian. Kayaknya kena paku di jalan proyek.
Bumi 🌏: Aku udah telepon derek. Katanya dua jam lagi, lagi hujan, antre.
Bumi 🌏: Kamu nggak usah khawatir. Pulang aja. Istirahat.
Bumi 🌏: HP-ku tinggal 8%.

Aku membaca pesan itu, lalu membacanya lagi.

Kamu nggak usah khawatir. Pulang aja.

Dia masih belum belajar.

Aku berdiri dari meja kerjaku di Rumah Pelangi, mengambil kunci mobil, mengambil tas, dan mengambil satu benda lagi dari laci meja: sebuah kantong kain besar yang sudah seminggu kusimpan di sana, menunggu.

“Lin?” Tasya mengangkat kepala dari laptopnya. “Mau ke mana?”

“Cilincing.”

“Sekarang? Hujan, Lin. Satu setengah jam.”

“Iya.”

Tasya memandangiku, memandangi kantong kain di tanganku, lalu matanya membesar perlahan.

“Lin,” bisiknya. “Itu yang kamu latihan seminggu sama Pak Rahmat?”

Aku tersenyum.


Jalan ke Cilincing malam itu adalah jalan terpanjang dalam hidupku.

Hujan turun deras sepanjang tol. Wiper bekerja dengan kecepatan penuh dan tetap tidak cukup. Lampu-lampu truk kontainer di jalur sebelah membentuk dinding cahaya kuning yang bergerak. Di ujung tol, jalan berubah jadi aspal yang berlubang-lubang, lalu jalan beton yang retak, lalu jalan tanah yang becek, menuju lahan proyek di pinggir kampung nelayan.

Ponselnya mati jam sembilan lewat sepuluh. Pesan terakhir: Aku di pinggir lahan, dekat warung kopi Bu Siti. Kamu udah pulang?

Aku tidak menjawab. Aku tidak mau dia menyuruhku pulang lagi.

Jam sepuluh lewat dua puluh, lampu mobilku menyapu sesuatu di pinggir jalan becek.

Sebuah Kijang hijau tua. Lampu hazard-nya berkedip pelan di tengah hujan. Ban belakang kanannya gepeng sampai ke pelek, dan ban depan kanannya juga setengah kempis.

Dan di bawah atap seng sebuah warung kopi kecil yang sudah tutup, berdiri seorang laki-laki tinggi dengan kemeja basah kuyup, memegang ponsel mati di satu tangan, dan memandangi langit seperti sedang bernegosiasi dengan Tuhan.

Aku tersenyum di balik kemudi. Aku tidak bisa menahannya.

Aku menepikan mobil di belakang Kijang itu. Aku mematikan mesin. Lampu depan tetap menyala.

Dia menoleh, menyipitkan mata ke arah lampu yang menyilaukan, tidak bisa melihat siapa di balik kaca.

Aku turun. Aku memakai jas hujan kuning terang yang kubeli di minimarket di ujung tol, sepatu bot karet, dan rambut diikat tinggi dengan karet hitam polos dari minimarket juga. Karet yang dia berikan di lampu merah.

Dia memandangiku menembus hujan.

Dia tidak bergerak. Mulutnya sedikit terbuka. Air hujan menetes dari ujung rambutnya ke hidungnya, dan dia tidak menyekanya.

Aku berhenti tiga meter darinya, di tempat yang cukup terang supaya dia bisa melihat wajahku, lalu mengangkat kedua tanganku sedikit, telapak menghadap ke depan, seperti orang yang sedang menenangkan kucing liar.

“Bannya bocor, ya?” kataku.

Dia tidak menjawab. Dia cuma memandangiku.

“Ada ban serep?”

“Celine...” Suaranya hampir tidak terdengar di tengah hujan.

“Mas lagi ngapain di sini jam segini?”

Dia diam lama. Hujan berisik di atap seng warung Bu Siti.

“Kijangku mogok,” katanya akhirnya. Suaranya aneh, pecah. “Kamu... ngapain di sini?”

Aku tersenyum lebar. Lesungku pasti muncul dalam-dalam.

“Kebetulan lewat.”


Aku mengganti ban Kijang itu sendiri.

Aku sudah berlatih seminggu. Setiap malam jam sembilan, di garasi rumah Menteng, dengan Pak Rahmat sebagai pelatih dan mobil Papa sebagai korban. Pak Rahmat awalnya menolak. Non, nanti Bapak marah, Non, tangan Non lecet. Tapi aku memohon dengan mata berkaca-kaca, dan Pak Rahmat luluh di malam kedua. Malam ketiga aku berhasil mengendurkan baut tanpa terpeleset. Malam kelima aku berhasil memasang dongkrak di titik yang benar. Malam ketujuh aku berhasil mengganti ban dalam dua puluh menit, dengan dua kuku patah dan satu memar di lutut.

Di dalam kantong kain besar itu ada kunci roda, dongkrak hidrolik kecil, senter kepala, sarung tangan kerja, kabel jumper untuk aki, dan dua ban serep. Satu kuminta dari bengkel langganan Pak Rahmat, ukurannya pas Kijang tahun sembilan puluh delapan, sudah kucek tiga kali.

“Kamu...” Dia berdiri di sampingku di bawah hujan, memegang payung di atas kepalaku sementara aku berjongkok di samping ban belakang. “Kamu bawa ban serep? Buat Kijangku?”

“Iya.”

“Ukurannya pas?”

“Aku foto ban Mas waktu Mas tidur di studio. Pas tipes.”

Dia diam.

Aku memasang senter kepala, menyalakannya, dan mulai bekerja. Kunci roda di baut pertama. Putar ke kiri. Baut itu keras, berkarat. Aku menekan dengan seluruh berat badanku. Tidak bergerak. Aku menekan lagi. Tanganku licin karena hujan.

“Biar aku...” katanya.

“Jangan.”

“Celine, tanganmu...”

“Mas.” Aku menoleh dan memandangnya dari bawah, dengan senter di kepala yang mungkin membuatku kelihatan seperti penambang batu bara. “Biarin aku.”

Dia memandangiku. Lalu, pelan-pelan, dia mundur setengah langkah. Payungnya tetap di atas kepalaku.

Aku menekan kunci roda itu lagi, dengan seluruh tenagaku, sambil mengingat suara Pak Rahmat: Pakai kaki, Non. Injak kuncinya. Kaki lebih kuat dari tangan.

Aku berdiri, menginjak gagang kunci roda dengan sepatu bot karet.

Baut itu berderit dan bergerak.

Aku bersorak kecil. Dia mengeluarkan suara aneh, setengah tertawa setengah terengah.

Baut kedua lebih mudah. Ketiga. Keempat. Kelima.

“Bisa tolong pegangi ini?” Aku menyodorkan baut-baut itu ke arahnya.

Dia menadahkan tangannya yang bebas, tangan yang tidak memegang payung. Baut itu jatuh satu per satu ke telapaknya, hitam oleh karat dan berminyak.

“Maaf,” kataku. “Tangannya jadi kotor.”

Dia memandangi baut-baut di tangannya. Lalu memandangiku. Lalu, pelan sekali, dia mengucapkan sesuatu yang membuat dadaku hangat di tengah hujan dingin Cilincing:

“Nggak apa-apa. Tanganku juga emang selalu kotor. Kena tinta.” Suaranya pecah sedikit. “Kita impas.”

Aku tertawa, dan hampir menjatuhkan dongkrak.


Dua ban terpasang. Empat puluh menit. Lebih lama dari rekor latihanku, karena hujan, karena becek, karena tanganku gemetar setiap kali aku sadar dia sedang memandangiku dari balik payung.

Kijang itu tetap tidak mau menyala.

“Akinya,” katanya. “Dari tadi sore udah lemah.”

Aku mengeluarkan kabel jumper dari kantong kain.

Dia memandangi kabel merah dan hitam itu seperti memandangi keajaiban.

“Kamu juga belajar itu?”

“Malam keenam. Pak Rahmat bilang, kalau mobil tua mogok, sembilan puluh persen akinya.” Aku membuka kap mesin mobilku. “Merah ke plus, hitam ke minus. Mobil yang hidup dulu. Bener, kan?”

“Bener,” bisiknya.

Aku menyambungkan kabel. Aku masuk ke mobilku dan menyalakan mesin. Dia masuk ke Kijang dan memutar kunci.

Mesin Kijang itu terbatuk sekali. Dua kali.

Lalu menyala.

Suaranya kasar, berisik, seperti kakek tua yang batuk. Tapi menyala. Lampu dasbornya berkedip, lalu terang. Wiper-nya bergerak.

Aku turun dari mobilku dan berdiri di samping jendela Kijang yang terbuka, basah kuyup di balik jas hujan kuning, senter kepala masih menyala, dua kuku patah, tangan hitam oleh karat dan oli.

“Udah,” kataku. “Besok bannya ditambal, ya. Ban serep itu bekas, dari bengkel. Jangan dipakai ngebut.”

Dia tidak menjawab.

“Jangan dipakai lewat jalan proyek penuh paku jam sepuluh malam juga.”

Dia masih tidak menjawab. Dia duduk di balik kemudi Kijang yang bergetar, memandangiku lewat jendela yang terbuka, dengan wajah yang tidak bisa kubaca dalam gelap.

Lalu dia keluar dari mobil.

Dia berdiri di depanku di tengah hujan. Payungnya tertinggal di kursi penumpang, dan dia tidak peduli. Hujan membasahi rambutnya, kemejanya, wajahnya. Dia mengulurkan tangan, tangan yang hitam oleh karat dari baut-baut Kijangnya, dan mengambil tanganku yang juga hitam.

Dia memandangi tanganku, membaliknya pelan di telapaknya. Dia melihat dua kuku yang patah. Dia melihat memar kecil di pangkal ibu jari, bekas kunci roda yang tergelincir di malam ketiga latihan.

“Kamu latihan,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Seminggu.”

“Kenapa?”

Aku memandangnya dari bawah, dengan senter kepala yang menyorot ke dadanya dan hujan yang menetes dari ujung tudung jas hujan kuningku.

“Karena Mas selalu dateng duluan,” kataku. “Mas selalu lewat. Mas selalu bawa kotak perkakas, bawa payung, bawa jaket. Dan aku cuma bisa berdiri di pinggir jalan pegang sepatu.” Suaraku bergetar. “Aku nggak mau jadi yang cuma bisa pegang sepatu lagi, Mas. Aku mau sekali-sekali jadi yang bawa kunci roda.”

Dia tidak bilang apa-apa.

“Mas bilang Mas nggak tahu caranya ditolong,” lanjutku pelan. “Ini pelajarannya. Kalau Kijang Mas mogok di Cilincing jam sepuluh malam, Mas nggak usah bilang ‘pulang aja’. Mas bilang ‘tolong’. Terus Mas tunggu. Dan Mas biarin aku dateng.”

Hujan. Mesin Kijang yang batuk-batuk. Lampu hazard yang berkedip, kuning, gelap, kuning, gelap.

Dia mengangkat tanganku yang hitam itu. Pelan. Sangat pelan.

Dan menempelkan bibirnya di punggung jari-jariku. Di atas karat, di atas oli, di dekat kuku yang patah.

Aku tidak bisa bernapas.

Dia menahannya di sana lama, matanya terpejam, bibirnya di jari-jariku, hujan mengalir di wajahnya. Aku tidak tahu yang mengalir di pipinya cuma hujan atau ada yang lain juga.

Ketika dia mengangkat kepala, dia menatapku dengan mata yang merah.

“Aku nggak tahu harus ngomong apa,” bisiknya.

Aku tersenyum. Lembut.

“Bilang makasih, Mas.”

Dia memandangiku lama, lama sekali, seperti orang yang belajar mengucapkan kata dalam bahasa asing untuk pertama kalinya, dan takut salah ucap.

“Makasih,” katanya.

Pelan dan serak. Tapi jelas.

Dia tidak menulisnya di kertas kecil di rantang, atau di sticky note, dan tidak dengan menggaruk tengkuk. Dia mengucapkannya langsung ke wajahku, di tengah hujan, di pinggir jalan becek di Cilincing, setelah seseorang datang duluan untuknya.

“Sama-sama,” bisikku.

Di belakang kami, di bawah atap seng warung kopi Bu Siti yang sudah tutup, lampu kecil di dalam warung tiba-tiba menyala. Pintu kayunya terbuka sedikit. Seorang perempuan tua berdaster mengintip keluar, memandangi kami berdua di tengah hujan, dua mobil, satu jas hujan kuning, dan tangan yang saling menggenggam.

“Mas Arsitek,” panggil Bu Siti dengan suara serak. “Itu pacarnya?”

Dia menoleh ke Bu Siti. Lalu menoleh padaku.

Dan untuk pertama kalinya, dia tidak bilang teman.

“Iya, Bu,” katanya. “Pacar saya.”

Bu Siti memandang kami lama. Lalu dia mengangguk-angguk, tersenyum dengan gigi yang tinggal separuh, dan membuka pintu warungnya lebih lebar.

“Masuk, masuk. Basah semua. Ibu bikinin teh manis.”