← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Twenty Two

Buku Gambar Jendela

POV: Celine

Jovan pulang jam empat lewat lima puluh.

Aku tahu karena aku berpapasan dengannya di tangga sempit di samping Kopi Sudut. Dia turun dengan helm di tangan, tas laptop di bahu, dan wajah yang tidak bisa kubaca. Wajahnya serius dan lembut sekaligus, seperti orang yang mengantar sahabatnya ke ruang operasi.

Dia berhenti dua anak tangga di atasku.

“Mbak,” katanya.

“Mas Jovan.”

Dia diam sebentar. Lalu dia meletakkan tangannya di bahuku, sebentar saja, dan menepuknya dua kali.

“Sepuluh tahun saya kenal dia,” katanya pelan. “Saya belum pernah lihat isi buku itu. Dia nggak pernah ngasih lihat ke siapa pun.” Dia menarik tangannya. “Jaga dia, ya, Mbak. Habis ini.”

Lalu dia turun, dan aku mendengar suaranya di trotoar, bicara dengan Pak Udin. Suaranya terlalu keras, terlalu ceria, seperti orang yang berusaha keras tidak menangis.

Aku naik.


Pintu studio terbuka.

Dia berdiri di dekat jendela, membelakangi pintu, memandang ke bawah. Lampu studio belum dinyalakan. Cahaya sore yang keemasan masuk dari jendela besar dan membuat siluetnya hitam di depan kaca.

Di meja gambar di sampingnya, di tengah, di atas permukaan kayu yang penuh goresan halus, ada sebuah buku.

Sampulnya kulit cokelat tua. Tepinya sudah melembut dan mengilap karena terlalu sering dipegang. Ada tali karet hitam yang melingkarinya. Buku itu tebal, jauh lebih tebal dari buku sketsa biasa. Sampulnya menggembung di tengah, seperti map yang diisi terlalu banyak, dan dari sisinya mencuat ujung-ujung kertas dengan warna yang sedikit berbeda: putih, krem, kekuningan, seperti lapisan tanah.

“Mas,” kataku.

Dia tidak menoleh. “Itu bukunya.”

Aku berjalan ke meja dan berdiri di depan buku itu. Aku tidak menyentuhnya.

“Itu dulu punya Eyang,” katanya, masih menghadap jendela. “Buat gambar pola ukiran. Halaman belakangnya masih ada gambar Eyang. Daun, sulur, kepala burung. Sampulnya bisa dibuka kayak map, ada cincin besinya. Jadi bisa ditambahin halaman terus.”

“Mas tambahin berapa halaman?”

Dia diam lama.

“Aku nggak pernah hitung,” katanya. “Takut.”

Aku menarik kursi dan duduk. Kursi kayu sederhana dengan bantalan tipis yang sudah kempes. Kursinya.

“Mas nggak mau duduk di sini?” tanyaku. “Di sebelahku?”

Dia akhirnya menoleh. Wajahnya, dalam cahaya sore dari samping, kelihatan seperti orang yang belum tidur semalaman. Dan memang dia belum tidur. Pesannya terakhir jam dua pagi.

“Aku nggak sanggup lihat mukamu waktu kamu lihat,” katanya jujur. “Aku di sini aja. Boleh?”

Aku mengangguk.

Dia kembali menghadap jendela.

Aku melepas tali karet hitam itu.


Halaman pertama tertutup.

Bukan cuma tertutup. Halaman itu dilipat dua ke dalam, lalu tepinya direkatkan dengan selotip kertas cokelat. Selotipnya sudah tua, sudah menguning, ujungnya sedikit terkelupas. Selotip itu sudah ditempel di sana sejak lama sekali.

Aku tidak menyentuhnya. Aku melewatinya.

Halaman kedua.

Aku.

Aku, berdiri di trotoar di depan Kopi Sudut, menoleh ke samping, rambut diikat setengah. Garisnya kaku, sedikit ragu, seperti orang yang menggambar dengan tangan gemetar. Di pojok kanan bawah, dengan huruf cetak kecil-kecil:

3 Agustus. Dia di sini. Di bawah jendelaku. Dia beli dua kopi.

Aku menahan napas. Tiga Agustus. Hari pertama aku datang ke Kopi Sudut. Seminggu setelah aku menandatangani kontrak sewa ruko untuk Rumah Pelangi. Empat tahun lalu.

Aku membalik halaman.

Aku, duduk di meja nomor tiga, menunduk ke laptop. 5 Agustus. Kopi susu panas. Gula aren. Bukan gula pasir. Dia bilang ke Mas Dodi, “Gula aren, ya, Mas. Gula pasir bikin aku sedih.”

Aku tidak ingat pernah bilang itu. Tapi itu terdengar seperti sesuatu yang akan kukatakan.

Aku membalik halaman lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Aku, melambai ke Pak Udin. Dia hafal nama tukang parkir di hari ketiga.

Aku, tertawa dengan kepala ke belakang. 14 Maret. Tasya jatuh dari kursi.

Aku, menyeberang jalan dengan payung kuning dan es kopi di tangan kiri. 2 Januari. Hujan. Tetap beli dua.

Aku, berjongkok di trotoar menyuapi kucing belang dengan sobekan roti. Kucingnya dikasih nama Pak Bos.

Aku, memegang buku besar bergambar paus, dikerubungi anak-anak. Hari Sabtu. Dia nirukan suara paus. Pak Udin ketawa sampai batuk.

Halaman demi halaman. Pagi demi pagi.

Tidak semuanya bagus. Beberapa terburu-buru, garisnya patah-patah, dengan catatan seperti Dia buru-buru. Ada telepon. Mukanya tegang. Beberapa terlalu hati-hati sampai wajahku kelihatan kaku, dengan catatan Hari ini dia cantik banget. Tanganku nggak bisa. Beberapa tidak selesai sama sekali, cuma separuh wajah, setengah senyum, dengan catatan Nggak sanggup lihat lama-lama.

Aku menutup mulut dengan tangan dan terus membalik.


Satu halaman membuatku berhenti.

Aku, duduk sendirian di meja nomor tiga, dengan sepotong kue kecil di depanku. Kue cokelat dengan satu lilin. Wajahku dalam sketsa itu tersenyum, tapi matanya menunduk.

18 Mei. Ulang tahunnya. Dua puluh lima.
Dia duduk sendirian dari jam tujuh. Tasya telat. Mamanya di Singapura, katanya di telepon.
Nggak ada yang dateng sampai jam delapan. Dia tetap senyum ke Mas Dodi.

Halaman berikutnya, sketsa yang sama tapi dari sudut sedikit berbeda, dan kali ini aku sedang meniup lilin.

Aku pesan kue kecil lewat Mas Dodi. Bilang ke Mas Dodi, bilang aja dari kafe. Promo ulang tahun pelanggan setia.
Dia nangis sedikit waktu tiup lilin. Terus ketawa.
Kafe ini nggak punya promo ulang tahun pelanggan setia. Mas Dodi bikin sertifikat palsu pakai printer.

Aku ingat. Ya Tuhan, aku ingat. Ulang tahunku yang kedua puluh lima. Mama dan Papa di Singapura, Tasya terjebak macet. Aku duduk di meja nomor tiga, merasa sedikit konyol, sedikit sedih. Lalu Mas Dodi datang membawa kue cokelat kecil dengan satu lilin dan selembar sertifikat yang dicetak di kertas HVS biasa: SELAMAT ULANG TAHUN, PELANGGAN SETIA KOPI SUDUT. Aku menangis waktu meniup lilinnya. Aku masih menyimpan sertifikat itu di laci meja kerjaku.

Aku pikir itu dari kafe.

Aku menoleh ke jendela. Dia masih berdiri membelakangiku. Bahunya kaku. Dia tidak bergerak sama sekali, seperti patung.

Aku membalik halaman lagi.

Tiga halaman berturut-turut yang hampir kosong. Tidak ada sketsa. Cuma tanggal, dan satu kalimat di masing-masing halaman.

11 Februari. Dia nggak dateng.

12 Februari. Dia nggak dateng.

13 Februari. Dia nggak dateng. Pak Udin juga nggak tahu. Aku turun nanya. Nggak boleh nanya lagi.

Halaman keempat ada sketsa sop buntut di dalam mangkuk, dengan catatan kecil: Semoga cepat sembuh. Dari penggemar rahasia. (Tasya yang tulis, katanya. Bukan aku. Aku nggak berani nulis apa-apa.)

Aku tertawa sambil menangis.

Aku terus membalik. Halaman-halaman dengan jeda panjang, waktu aku pergi ke London untuk konferensi dua minggu, waktu aku ke Bali untuk pernikahan sepupu, waktu aku ke Jogja untuk pameran buku anak. Semuanya ditandai dengan halaman-halaman yang hampir kosong.

Hari ke-4. Jendela kosong.

Hari ke-9. Jendela kosong. Pak Bos nyariin. Aku kasih makan.

Hari ke-14. Dia pulang. Rambutnya dipotong. Lebih pendek. Cantik. Aku hampir jatuh dari kursi.

Dia mencatat setiap hari aku tidak ada. Bahkan hari-hari kosong pun dia catat, seperti orang yang menghitung hari sampai seseorang pulang.


Lalu aku sampai di halaman yang bergelombang.

Kertasnya bergelombang di bagian tengah, seperti pernah basah lalu kering lagi. Ukurannya sedikit menyusut di satu sisi, membuat halaman itu tidak rata dengan halaman lain.

Aku, duduk di meja nomor tiga. Menunduk. Menutup mulut dengan punggung tangan. Bahu yang bergetar, digambar dengan garis-garis cepat yang patah-patah, seperti tangan yang menggambarnya juga bergetar.

Dan di bagian mata, di wajahku dalam sketsa itu, tintanya luntur.

Garis-garis halus di sekitar mataku menyebar keluar seperti akar, seperti kapiler, seperti sungai kecil yang mengalir dari satu titik. Ada lingkaran samar di sana, bekas tetesan. Satu. Lalu satu lagi di dekat bahu. Lalu satu lagi di pojok bawah, di dekat tanggal.

9 Oktober. Hujan.
Dia nangis. Aku nggak tahu kenapa.
Aku mau turun. Aku nggak berani.
Aku bukan siapa-siapa.

Tulisannya miring dan bergetar. Huruf-hurufnya tidak rapi seperti biasa.

Aku menyentuh noda itu. Lingkaran samar di dekat mataku dalam sketsa. Kertas di bawah ujung jariku sedikit kasar, sedikit lebih tipis dari bagian lain, seperti kertas yang pernah menyerap sesuatu.

Air mata.

Air matanya. Tiga tahun lalu. Jatuh di sketsa wajahku yang sedang menangis, di hari Mochi mati, ketika dia berdiri di jendela ini dengan wajah menempel di kaca dan tangan mencengkeram kusen, maju, mundur, maju lagi.

Aku tidak bisa bernapas.

Aku tidak bisa melihat halaman itu lagi karena mataku sudah penuh. Aku menunduk ke buku itu dan menangis. Tangis yang besar, yang tidak bisa ditahan, yang keluar dari tempat yang sangat dalam. Tangisku bersuara. Bahuku bergetar seperti bahu dalam sketsa itu. Air mataku jatuh ke halaman yang bergelombang, dan aku panik karena takut merusaknya, dan aku menutup mulut dengan punggung tangan persis seperti dalam sketsa.

Lalu ada tangan di bahuku.

Dia sudah tidak di jendela. Dia berlutut di samping kursiku, di lantai studio, dan tangannya ada di bahuku. Hangat, berat, sedikit gemetar.

“Maaf,” bisiknya. “Maaf. Harusnya aku nggak...”

Aku berbalik dan memeluknya.

Aku memeluknya dari kursi, membungkuk, lenganku melingkari lehernya, wajahku di bahunya. Aku memeluknya begitu erat sampai dia kehilangan keseimbangan dan harus menahan diri dengan satu tangan di lantai.

“Kenapa Mas nggak turun,” kataku terisak di bahunya. Itu bukan pertanyaan. Itu tangisan. “Kenapa Mas nggak turun. Kenapa Mas nangis sendirian di atas sini. Kenapa Mas biarin aku nggak tahu. Tiga tahun, Mas. Tiga tahun aku nggak tahu ada orang yang nangisin aku.”

“Aku bukan siapa-siapa,” bisiknya.

“Mas siapa-siapa!” Aku menarik diri dan memegang wajahnya dengan kedua tangan. “Mas siapa-siapa buat aku. Mas segalanya!”

Dia memandangiku. Matanya merah. Basah. Dan di pipinya ada jejak air mata yang baru, yang belum dia hapus.

Dia juga menangis. Dari tadi. Di jendela, membelakangiku, ketika aku membalik halaman demi halaman. Bahunya kaku bukan karena dia patung. Bahunya kaku karena dia menahan tangis supaya aku tidak dengar.


Kami duduk di lantai studio lama sekali.

Buku itu terbuka di pangkuanku, dan dia duduk di sampingku, bahu menempel ke bahuku, dan kami membalik sisa halamannya bersama. Pelan. Dia menjelaskan beberapa catatan yang tidak kumengerti. Aku tertawa di beberapa sketsa. Aku menangis lagi di beberapa yang lain.

Halaman-halaman terakhir, aku mengenalinya. Halte di tengah hujan, aku memakai jaket abu-abu yang kebesaran dan tertawa sambil berpegangan pada tiang. Dia menatapku. Tiga detik. Aku tidak lari.

Aku di trotoar, mendongak ke jendela dengan sticky note di tangan. Dia melihat ke atas.

Lalu satu halaman yang kertasnya berbeda, kertas biasa, bukan dari buku ini, disisipkan di cincin besinya. Aku tertidur di kursi hijau sage, buku kancil di pangkuan, jaket abu-abu di bahu, kaki tidak gantung.

Dia tertidur di kursi yang kubuat untuknya. Kakinya nyampe lantai.
Dari sini, jaraknya satu meter.

Garisnya berbeda dari semua sketsa lain. Lebih lembut. Lebih yakin.

Dan di halaman paling belakang, di balik sampul kulit, menempel di karton tebal, ada tiga kertas kecil.

Yang pertama: Laptopnya kukembalikan. Presentasinya disetujui. Yayasannya nanyain arsiteknya, jadi aku harus bilang apa? Makasih, Mas Bumi. Ini bukan kebetulan, kan? — C.

Yang kedua: potongan kertas kecil dari DM Instagram yang dicetak. Jaketnya aku kembaliin hari Sabtu... jangan sakit gigi. Jangan survei ke Bekasi. Jangan sembunyi di gudang. — C.

Yang ketiga, sobekan kertas kecil bergaris yang dilipat dua, dengan tulisanku yang miring-miring. Aku hampir lupa pernah menulisnya. Kertas itu kuselipkan di bawah tutup rantang seng motif bunga, hari pertama aku membawakannya makan siang: Dimakan ya, Mas. Jangan cuma dipandangi. Sambelnya hati-hati. — C.

Dia menyimpan semuanya.

Aku memandangi tiga kertas kecil itu. Lalu aku memandangi seluruh buku itu, ratusan halaman, empat tahun, setiap pagi, setiap hari kosong, setiap tetes tinta yang luntur.

Kebetulan lewat.

Empat tahun dia bilang kebetulan lewat, dan aku memegang buktinya sekarang. Buku ini tidak dibuat oleh orang yang kebetulan lewat. Buku ini dibuat oleh orang yang berhenti, setiap pagi, di tempat yang sama, untuk orang yang sama.

Empat tahun itu nyata. Setiap harinya nyata. Dan semuanya tentang aku.


Matahari sudah turun ketika aku berdiri.

Aku meletakkan buku itu di meja gambar dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan bayi. Lalu aku berjalan ke jendela.

Di luar, langit Jakarta berwarna jingga dan ungu. Lampu jalan mulai menyala satu-satu. Kopi Sudut menyalakan lampu gantungnya, dan meja nomor tiga kelihatan di bawah sana, terang, jelas, kosong. Di ujung jalan, lampu di lantai atas Rumah Pelangi sudah menyala.

Aku meletakkan kedua sikuku di ambang jendela. Di cekungan bekas siku itu.

Dia berdiri di belakangku. Aku tidak mendengarnya bergerak, tapi aku tahu dia di sana. Aku bisa merasakan hangatnya di punggungku.

“Celine,” katanya pelan.

Aku berbalik.

Dia berdiri sangat dekat. Lebih dekat dari setengah langkah. Lebih dekat dari halte, dari meja nomor tiga, dari warung tenda. Aku bisa mencium wangi kayu dari kemejanya, dan wangi tinta, dan wangi teh manis.

Matanya masih merah. Tapi dia tidak memalingkan muka. Dia memandangiku, dari jarak yang sangat dekat, dengan cara yang sama seperti di setiap sketsa di buku itu. Hati-hati, sabar, penuh perhatian, dan sangat, sangat sayang.

“Empat tahun aku gambar kamu dari sini,” bisiknya. “Aku nggak pernah sekali pun bayangin kamu bakal berdiri di sini. Di depanku. Di jendelaku.”

“Sekarang aku di sini,” bisikku.

“Iya.”

“Dan aku nggak akan pergi.”

Dia mengangkat tangan. Pelan. Ragu-ragu. Tangannya yang bernoda tinta berhenti di udara, dekat pipiku, tidak menyentuh.

“Boleh?” bisiknya.

Pertanyaan yang sama seperti di gerbang rumahku. Tapi kali ini aku tahu dia minta izin untuk apa.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata.

Aku meraih kerah kemejanya, menariknya turun, dan menciumnya.

Kali ini bukan ciuman ringan. Bukan hukuman, bukan sentuhan sebentar di studio jam empat pagi. Aku menciumnya dengan semua yang kurasakan sejak halaman pertama yang bergelombang. Empat tahun yang tidak kuketahui. Air mata di kertas. Tiga sticky note di sampul belakang. Aku bukan siapa-siapa.

Dia membeku sedetik.

Lalu tangannya, yang tadi berhenti di udara, menemukan pipiku. Tangan satunya menemukan punggungku dan menarikku lebih dekat. Dan dia membalas ciumanku, pelan, dalam, seperti orang yang selama empat tahun memandang dari jauh dan akhirnya diizinkan mendekat. Seperti orang yang takut ini cuma mimpi, dan memutuskan kalau ini mimpi, dia tidak mau bangun.

Bibirnya hangat dan rasanya sedikit asin, karena air mata, punyaku atau punyanya, aku tidak tahu lagi. Napasnya bergetar. Jari-jarinya gemetar di pipiku, lalu berhenti gemetar, lalu menyusup ke rambutku, pelan, hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang sudah ratusan kali dia gambar tapi baru pertama kali dia pegang.

Aku tidak tahu berapa lama. Lampu-lampu jalan menyala di bawah. Pak Udin meniup peluit untuk mobil terakhir. Kopi Sudut menumpuk kursinya. Dunia bergerak, dan kami berdiri di jendela lantai dua dengan siku yang tadi di cekungan kayu sekarang melingkari leher seseorang, dan semuanya terasa diam.

Ketika akhirnya kami berhenti, dahinya menempel di dahiku. Napas kami berdua tidak teratur.

“Celine,” bisiknya. Suaranya hancur dan penuh.

“Hm.”

“Aku sayang kamu.”

Dia mengucapkannya dengan pelan dan jelas. Bukan kamu pantas dapat yang lebih, bukan kamu nggak usah jawab, bukan kebetulan lewat.

Aku sayang kamu.

Itu pertama kalinya dia mengucapkannya.

Aku menangis lagi. Aku sudah tidak tahu ini tangis yang keberapa hari ini.

“Aku juga,” bisikku. “Aku juga sayang Mas. Banget. Lebih dari semua halaman di buku itu.”

Dia tertawa kecil. Basah. Napasnya hangat di wajahku.

“Itu banyak banget,” katanya.

“Aku tahu. Aku udah hitung.”

“Berapa?”

“Nggak tahu. Aku berhenti di tiga ratus. Takut.”

Dia tertawa lagi, dan memelukku. Memelukku dengan seluruh tubuhnya, di jendela, di depan kaca, di depan seluruh deretan ruko, di depan meja nomor tiga yang kosong dan lampu Rumah Pelangi yang menyala dan Pak Udin yang aku yakin sedang mendongak dari trotoar dan bilang debu ke siapa pun yang mau mendengar.


Kami duduk di sofa studio setelahnya. Buku itu di pangkuanku lagi, tertutup.

Aku membukanya pelan, ke halaman pertama.

Halaman yang dilipat dan direkatkan selotip kertas cokelat yang sudah menguning.

Aku tidak membukanya. Aku cuma menyentuh selotip itu dengan ujung jari.

“Yang ini,” kataku pelan. “Kapan?”

Dia diam. Aku merasakan seluruh tubuhnya menegang di sampingku.

Aku tidak memaksa. Aku menunggu, seperti dia menunggu di jendela selama empat tahun.

Lama sekali. Lampu jalan di luar berkedip.

Lalu dia mengulurkan tangan. Tangan yang bernoda tinta, yang tadi menyusup ke rambutku, yang sekarang gemetar lagi.

Dia meletakkan jarinya di tepi selotip cokelat itu.

“Sekarang,” bisiknya.