Chapter Thirteen
Lantai Dua
POV: Celine
Bu Hartini, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Nusantara, datang ke rapat koordinasi dengan kacamata berantai mutiara, tas tangan kulit warna krem, dan sekotak bolu pandan yang dia sodorkan langsung ke Mas Bumi sebelum mengucapkan selamat pagi.
“Buat Mas Arsitek,” katanya. “Bikinan saya sendiri. Kemarin saya lihat Mas kurusan.”
“Terima kasih, Bu,” kata Mas Bumi, menerima kotak itu dengan dua tangan dan wajah yang merah sampai ke leher.
Jovan, yang duduk di sebelahnya, berbisik ke arahku tanpa menggerakkan bibir, seperti ventriloquis: “Tiap rapat. Tiap rapat dia bawa kue. Minggu lalu lemper.”
Aku menunduk ke map supaya tidak tertawa.
Studio Wiranata Atelier pagi itu sudah dirapikan sedemikian rupa sampai aku hampir tidak mengenalinya. Meja Jovan bersih. Tidak ada kemasan kerupuk kulit, tidak ada cangkir kopi berlapis-lapis. Di pojok mejanya, dua pot kaktus kecil yang kuberikan hari Jumat berdiri rapi, masing-masing dengan label kecil bertulisan tangan Jovan: Kaktus 2.0 dan Kaktus 3.0 (jangan dibuang).
Rak arsip di dinding belakang sudah tersusun ulang. Label-label lucuku masih di sana. Yang ungu, GAMBAR-GAMBAR CAKEP BANGET (JANGAN DIBUANG), ditempel di rak paling depan, persis seperti kata Jovan.
Rapatnya berjalan dua jam. Mas Bumi mempresentasikan gambar kerja tahap pertama: fondasi, struktur, dan sistem drainase karena lahan di Cilincing rawan rob. Dia bicara dengan tenang, jelas, tidak terburu-buru. Setiap pertanyaan dijawab dengan sabar, bahkan pertanyaan Pak Gunawan, bendahara yayasan, yang menanyakan hal sama tiga kali dengan kalimat berbeda.
Aku memperhatikannya. Aku tidak bisa berhenti memperhatikannya.
Laki-laki yang di meja nomor tiga tidak sanggup menatapku lebih dari dua detik, di sini, di depan maket dan gambar kerjanya, adalah orang yang berbeda. Bahunya tegak. Suaranya mantap. Tangannya yang bernoda tinta bergerak di atas kertas dengan yakin, menunjuk, menjelaskan, menggambar sketsa kecil di pinggir untuk memperjelas maksudnya.
Di sini, dia tidak minta maaf karena ada.
“Mas Bumi,” kata Bu Hartini, di tengah pembahasan sistem ventilasi. “Mas sudah punya calon?”
Pensil di tangan Mas Bumi berhenti.
Jovan tersedak bolu pandan.
“Saya punya keponakan,” lanjut Bu Hartini dengan wajah sangat serius, seolah ini masih bagian dari agenda rapat. “Dokter gigi. Cantik. Baru selesai spesialis.”
“Bumi takut dokter gigi, Bu,” kata Jovan cepat, sambil batuk-batuk.
“Lho, kok takut?”
“Trauma masa kecil, Bu. Dulu giginya dicabut pakai benang sama kakeknya. Diiket ke gagang pintu.”
Mas Bumi menoleh ke Jovan dengan wajah orang yang sedang merencanakan pembunuhan dengan penggaris segitiga.
“Oh, kasihan,” kata Bu Hartini, lalu menoleh padaku. “Kalau Mbak Celine? Sudah punya calon?”
Seluruh ruangan, yang terdiri dari lima orang, menjadi sunyi. Mas Bumi menunduk ke gambar kerjanya dan memandangi pipa drainase dengan sangat serius, seakan pipa itu menyimpan rahasia alam semesta.
“Belum, Bu,” jawabku. Lalu, entah kenapa, aku menambahkan, “Tapi saya lagi nunggu seseorang turun dari lantai dua.”
Pensil di tangan Mas Bumi patah.
Bunyinya tak kecil, nyaring di ruangan yang sunyi.
Bu Hartini memandangi pensil yang patah itu, lalu Mas Bumi, lalu aku. Di balik kacamata berantai mutiara, matanya pelan-pelan membesar, dan sebuah senyum, senyum ibu-ibu yang baru menemukan sinetron baru, merekah di wajahnya.
“Oh,” kata Bu Hartini. “Oh, oh, oh.”
“Ventilasi silang,” kata Jovan keras-keras. “Kita lanjut ke ventilasi silang, ya, Bu.”
Rapat selesai jam sebelas lewat lima.
Seperti kata Jovan, Mas Bumi harus mengantar Bu Hartini turun sampai ke mobil. Protokol, katanya, padahal menurutku itu karena Bu Hartini selalu menggandeng lengannya di tangga dengan alasan lututnya “sudah tidak muda”.
“Saya antar Ibu dulu,” kata Mas Bumi padaku di ambang pintu. Matanya tidak sepenuhnya menatapku. Lebih ke arah telingaku. “Kamu... mau langsung pulang?”
“Aku tunggu di sini. Mau bahas jadwal survei sama Mas Jovan.”
Dia mengangguk dan turun, dengan Bu Hartini menggandeng lengannya sambil bertanya, “Mas, yang lantai dua itu Mas, kan? Iya, kan? Ibu nggak salah, kan?”
Pintu tertutup.
Jovan memandangiku. Lalu memandang jam di dinding. Lalu mengambil helmnya.
“Saya mau beli kerupuk kulit di warung belakang,” katanya. “Sepuluh menit. Mungkin lima belas kalau antre.” Dia berhenti di ambang pintu. “Laci kanan atas, jangan dibuka. Bukan karena saya larang. Tapi karena itu bukan punya saya buat dikasih lihat, dan bukan punya Mbak buat dibuka diam-diam. Nanti dia sendiri yang kasih.”
“Aku nggak akan buka, Mas.”
“Saya tahu.” Dia tersenyum, senyum yang jarang. “Makanya saya kasih Mbak sepuluh menit.”
Pintu tertutup lagi.
Aku sendirian di studio.
Aku berjalan ke meja dekat jendela.
Meja itu tidak terlalu besar. Meja gambar kayu dengan permukaan miring yang bisa diatur, sudah tua dan penuh goresan halus. Di atasnya ada lampu berleher panjang, gelas teh kosong dengan bekas lingkaran cokelat di dasarnya, beberapa pensil yang diraut dengan pisau, bukan rautan, dan sebuah pahat kayu bergagang licin yang mengilap, gagangnya sedikit melengkung.
Aku mengenali pahat itu. Bentuknya sama dengan pahat-pahat di kotak perkakas hijau tua bertulisan WIRANATA — BOGOR.
Aku tidak menyentuh apa-apa di meja itu. Laci kanan atas, tempat Jovan bilang jangan dibuka, tertutup rapat dan ada bekas jari di pegangannya, seperti laci yang sering sekali dibuka.
Kursinya kursi kayu sederhana dengan bantalan tipis yang sudah kempes. Aku tidak duduk. Aku berdiri di samping kursi itu, di tempat dia pasti berdiri setiap pagi, dan menghadap ke jendela.
Jendela itu besar. Kacanya bening, sedikit berdebu di pojok bawah. Kusennya kayu jati tua, dicat putih tapi catnya sudah mengelupas di beberapa tempat. Tirainya digulung ke atas, dan aku melihat salah satu kaitnya patah, diganti dengan kawat yang dililit seadanya.
Kait yang patah di hari aku melambai.
Aku menunduk ke bawah.
Dan aku melihatnya.
Meja nomor tiga.
Persis di bawah. Lewat kaca depan Kopi Sudut yang lebar, meja bundar kecil di pojok itu terlihat seperti lukisan dalam bingkai. Permukaan marmer imitasinya, dua kursi besi putihnya, bahkan pot kecil berisi bunga plastik di tengahnya. Terang, jelas, tidak terhalang apa pun.
Siapa pun yang duduk di sana akan terlihat sempurna dari sini. Cara dia menunduk ke ponsel. Cara dia menyelipkan rambut ke belakang telinga. Cara dia tertawa. Cara dia menangis.
Aku memegang ambang jendela supaya tidak jatuh.
Di bawah, di samping posnya, Pak Udin sedang duduk di bangku kecil dengan es kopi siang. Kopi itu Tasya yang belikan, atas permintaanku. Pak Udin mendongak, melihatku di jendela, dan matanya membesar. Lalu dia mengangkat gelas es kopinya ke arahku, seperti bersulang.
Aku melambai kecil padanya.
Lalu aku menoleh ke kanan, sepanjang deretan ruko, sampai ke ujung. Ke Rumah Pelangi.
Dari sini, aku bisa melihat jendela lantai atas Rumah Pelangi. Jendela ruang baca, jendela dengan lampu kecil yang selalu kubiarkan menyala setiap malam untuk anak-anak penjaga ronda yang suka membaca komik.
Kalau lampu itu menyala, pasti kelihatan dari sini. Satu-satunya titik terang di ujung jalan yang gelap.
Aku memikirkan semua malam ketika lampu studio ini menyala sampai larut. Semua malam ketika aku pulang dan melihat satu jendela lantai dua yang masih terang, dan berpikir, rajin banget arsitek di atas kafe itu.
Dia tidak sedang rajin.
Dia sedang memastikan lampu di ujung jalan itu tetap menyala. Dia sedang menjaga sesuatu.
Aku menurunkan pandangan ke ambang jendela, ke kayu jati tua yang dicat putih itu. Di bagian tengahnya, catnya sudah aus dan menipis, membentuk dua cekungan kecil yang halus, berjarak kira-kira selebar bahu.
Bekas siku.
Dua bekas siku yang terbentuk dari bersandar di tempat yang sama, setiap hari, selama bertahun-tahun, memandang ke bawah.
Aku meletakkan kedua sikuku di cekungan itu. Pas. Hampir pas. Jaraknya sedikit lebih lebar dari bahuku. Bahunya lebih lebar.
Aku bersandar di sana dan memandang ke meja nomor tiga yang kosong.
Lalu aku menangis. Bukan tangis yang besar. Air mataku cuma jatuh, pelan-pelan, satu-satu, ke ambang jendela, ke cekungan bekas siku itu.
Empat tahun.
Setiap pagi, jam tujuh lewat sepuluh, dia berdiri di sini dan melihatku. Melihatku tertawa dengan Tasya. Melihatku menyuapi Pak Bos. Melihatku membelikan Pak Udin kopi. Melihatku menangis karena Mochi.
Dan dia tidak pernah turun. Bukan karena dia tidak mau. Aku tahu sekarang. Dia tidak pernah turun karena dia pikir dia tidak boleh.
Kamu pantas dapat yang lebih.
Aku berdiri di tempatnya dan melihat dunianya. Dunianya cuma satu jendela, satu meja, satu lampu kecil di ujung jalan. Dunianya kecil. Dan semuanya, setiap sudut, setiap bekas siku, setiap kait tirai yang patah, adalah tentang aku.
Bagaimana mungkin seseorang mencintai sebesar ini dan tetap berpikir dirinya terlalu kecil?
Pintu studio terbuka.
Aku tidak menoleh. Aku tahu langkah kakinya. Aku sudah hafal sekarang: berat tapi pelan, seperti orang yang tidak mau mengganggu lantai.
Langkah itu berhenti di ambang pintu.
Lama. Hening. Aku mendengar napasnya, sedikit memburu karena baru naik tangga.
“Celine.”
Suaranya sangat pelan, seperti orang yang menemukan sesuatu yang paling dia takutkan, dan sekaligus paling dia harapkan.
Aku masih bersandar di ambang jendela, dengan siku di cekungan itu. Aku tidak menyeka air mata.
“Ini yang Mas lihat?” tanyaku tanpa menoleh.
Diam.
“Tiap pagi?”
“Hampir,” katanya akhirnya. “Kecuali kalau sakit. Atau survei ke luar kota.”
“Berapa lama?”
Langkah kakinya bergerak. Pelan sekali. Dia berhenti di sampingku. Tidak dekat. Satu langkah, seperti di halte. Cukup dekat untuk ikut melihat ke bawah, cukup jauh supaya tidak menyentuh.
“Empat tahun,” katanya. “Di jendela ini, empat tahun.”
Di jendela ini. Aku mencatat kalimat itu, menyimpannya di suatu tempat. Kenapa di jendela ini? Apakah ada tempat lain?
Aku menoleh dan menatapnya.
Dia tidak melihat ke bawah. Dia melihat ke ambang jendela, ke dua cekungan bekas siku itu, ke tempat air mataku jatuh dan membuat noda kecil gelap di kayu putih. Wajahnya, dari samping, kelihatan seperti dinding yang retak pelan-pelan.
“Mas,” kataku. “Aku boleh bilang sesuatu?”
Dia tidak menjawab, tapi dia juga tidak lari.
“Mas bilang aku pantas dapat yang lebih.” Aku menghapus air mata dengan punggung tangan. “Aku udah lihat ‘yang lebih’ itu. Barusan. Dari sini.”
Dia menoleh. Untuk pertama kalinya hari ini, matanya benar-benar menatap mataku.
“Nggak ada yang lebih dari ini, Mas,” bisikku. “Nggak ada. Aku udah keliling dunia. London, Paris, Tokyo, New York. Aku udah ketemu ratusan orang. Nggak ada satu pun yang pernah berdiri di jendela selama empat tahun cuma buat mastiin aku baik-baik aja.”
Rahangnya mengatup. Aku melihat jakunnya bergerak naik dan turun.
“Kamu nggak tahu semuanya,” katanya, sangat pelan.
“Kalau gitu kasih tahu aku.”
“Celine...”
“Kasih tahu aku, Mas. Semuanya.” Aku menatapnya, tidak berkedip. “Aku nggak akan lari. Aku nggak akan mikir Mas mau sesuatu. Aku udah berdiri di jendela ini. Aku tahu Mas nggak mau apa-apa. Itu justru masalahnya.”
Hening. Di bawah, Pak Udin meniup peluit ke arah sebuah motor. Seseorang tertawa di Kopi Sudut. Angin siang masuk dari celah jendela dan menggerakkan ujung tirai yang kaitnya patah.
Lalu, untuk pertama kalinya, dia melangkah.
Bukan menjauh. Mendekat.
Setengah langkah saja. Jarak di antara kami yang tadinya satu langkah sekarang cuma tinggal setengah. Bahunya hampir menyentuh bahuku. Aku bisa mencium wangi kayu dari kemejanya, wangi kayu yang sama dengan jaket abu-abu itu.
Dia meletakkan sikunya di ambang jendela, tepat di cekungan yang satu. Aku masih di cekungan yang lain.
Kami berdua bersandar di sana, berdampingan, memandang ke bawah, ke meja nomor tiga yang kosong.
“Besok malam,” katanya. Suaranya serak. “Kopi Sudut tutup jam sembilan. Aku sudah minta kunci ke Mas Dodi.”
Aku menoleh cepat. “Mas udah minta? Kapan?”
“Tadi. Waktu antar Bu Hartini.” Dia menggaruk tengkuk dengan tangan yang bebas. “Bu Hartini nanya terus soal ‘yang lantai dua’. Aku nggak bisa jawab. Aku cuma bisa jawab ke kamu.”
Jantungku berdebar seperti palu.
“Meja nomor tiga,” katanya pelan. “Aku mau duduk di sana. Sekali. Di tempatmu. Dan aku jawab pertanyaanmu.”
“Semuanya?”
Dia diam lama, memandang ke bawah.
“Sebanyak yang aku sanggup,” katanya akhirnya.
Itu bukan semuanya. Aku tahu itu. Ada sesuatu yang masih dia simpan, sesuatu di laci kanan atas, sesuatu di balik di jendela ini. Tapi untuk pertama kalinya, dia yang mengajak. Untuk pertama kalinya, dia yang memilih untuk turun.
Itu sudah lebih dari cukup.
“Oke,” bisikku.
Jovan kembali lima menit kemudian dengan tiga bungkus kerupuk kulit, dan menemukan kami berdua masih bersandar di jendela, berdampingan, tidak bicara.
Dia berdiri di ambang pintu, memandang kami, lalu pelan-pelan, sangat pelan, melangkah mundur dan menutup pintu lagi dari luar.
Kami mendengar suaranya di tangga, bicara di telepon dengan suara yang dia kira berbisik:
“Sya. Sya. Iya, ini Jovan. Mereka nyender di jendela. Berdua. Iya. Nggak ngomong apa-apa. Iya, aku tahu. Aku juga mau nangis. Nggak, aku nggak nangis. Ini debu. Ini debu, Sya.”
Mas Bumi menutup wajahnya dengan satu tangan.
Aku tertawa. Aku tertawa sampai air mata yang tadi belum kering jatuh lagi, kali ini karena alasan yang berbeda. Lesung pipitku muncul. Aku tahu, karena aku melihat dia melirik dari balik jarinya, lalu langsung memalingkan muka seperti orang yang tidak sengaja menatap matahari.
Tapi kali ini dia tidak mundur. Sikunya tetap di cekungan itu. Bahunya tetap setengah langkah dariku.
Dan aku menyadari sesuatu, berdiri di lantai dua itu, dengan siku di bekas yang dia buat selama empat tahun, di jendela tempat dia mencintaiku dalam diam.
Aku jatuh cinta padanya.
Tidak pelan-pelan, tidak sedikit-sedikit. Aku sudah jatuh. Mungkin sejak jalan gelap dan boneka jerapah. Mungkin sejak paus kayu untuk Nayla. Mungkin sejak teh manis tiga sendok gula di rumah sakit.
Tapi aku baru tahu sekarang, di sini, di tempatnya.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua reading
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi