Chapter Four
Laptop Jam Tiga Pagi
POV: Celine
Pukul satu lewat lima puluh dua pagi, laptopku meninggal dunia.
Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Tidak ada batuk, tidak ada kejang, tidak ada pesan terakhir. Satu detik aku sedang menggeser grafik jumlah anak penerima manfaat di slide nomor empat belas. Detik berikutnya layarnya hitam.
Hitam pekat, seperti masa depanku.
“Nggak,” bisikku. “Nggak, nggak, nggak. Jangan sekarang. Jangan malam ini.”
Aku menekan tombol daya. Tidak ada respons. Aku menekannya lagi, lebih lama. Tidak ada respons. Aku mencabut charger, memasangnya lagi, memastikan colokan di dinding menyala, lalu menekan tombol daya sambil berdoa dalam tiga bahasa. Tidak ada respons.
Di pojok ruangan, di atas beanbag oranye yang sudah kempes sebelah, Tasya tidur dengan mulut terbuka dan kacamata miring. Dia berjanji menemaniku lembur sampai presentasi selesai. Dia menepati janjinya selama empat puluh menit.
“Sya,” panggilku.
Tasya mendengkur.
“Sya. Laptopku mati.”
“Hmm... matiin aja lampunya...”
“SYA.”
Tasya melompat dari beanbag seperti ada kecoak terbang. Kacamatanya jatuh. Dia meraba-raba lantai. “Apa? Kenapa? Kebakaran? Ada maling? Ada Mas Kebetulan?”
“Laptopku mati. Total. Nggak mau nyala.”
Tasya menemukan kacamatanya, memakainya terbalik, lalu membetulkannya. Wajahnya berubah dari bingung menjadi pucat dalam tiga detik.
“File presentasinya...”
“Di laptop.”
“Backup?”
Aku menunjuk ke layar ponsel, ke ikon cloud yang sejak tadi siang menampilkan tanda seru kuning kecil dengan tulisan Sinkronisasi dijeda: penyimpanan penuh. Tanda yang terus kuabaikan, karena aku pikir nanti saja.
Tasya memandang tanda seru itu. Lalu memandangku. Lalu duduk lagi di beanbag pelan-pelan, seperti orang yang baru dengar kabar duka.
“Jam sembilan,” bisiknya.
“Jam sembilan.”
Jam sembilan pagi nanti aku harus berdiri di depan dewan pengurus Yayasan Cahaya Nusantara dan mempresentasikan proposal perpustakaan anak di Cilincing: gedung dua lantai untuk anak-anak nelayan yang selama ini belajar membaca di teras musala. Proposal itu sudah kukerjakan tiga bulan, dengan dua puluh tujuh slide, empat grafik, satu video testimoni, dan satu denah kasar ruang baca yang kugambar sendiri pakai aplikasi gratisan.
Aku bisa saja menelepon Papa. Aku tahu itu. Satu telepon, dan pagi ini akan ada orang IT kantor Florentina Group yang mengetuk pintu Rumah Pelangi dengan tiga laptop cadangan. Atau lebih mudah lagi, satu telepon, dan perpustakaan di Cilincing itu bisa dibangun dari anggaran CSR perusahaan Papa tanpa perlu presentasi sama sekali.
Tapi itulah masalahnya. Rumah Pelangi kudirikan dengan satu janji pada diriku sendiri: aku tidak akan menjadikan nama Florentina sebagai jalan pintas. Kalau perpustakaan itu dibangun, aku ingin dibangun karena idenya bagus, bukan karena aku anak siapa.
Malam ini rasanya janji itu sedang menertawakanku.
“Aku butuh udara,” kataku.
Jalanan di depan deretan ruko sepi. Lampu jalan kuning berkedip-kedip seperti sedang bosan. Kopi Sudut sudah tutup, kursi-kursinya ditumpuk terbalik di atas meja. Pos Pak Udin kosong.
Aku berjalan bolak-balik di trotoar sambil memeluk laptop mati seperti memeluk anak yang demam. Aku mengetik pesan ke sepupuku yang kuliah teknik informatika, lalu menghapusnya karena dia sedang di Melbourne dan di sana sudah hampir pagi. Aku menelusuri “servis laptop 24 jam Jakarta Selatan” di ponsel. Hasil teratas tutup jam sepuluh malam. Hasil kedua ternyata toko bunga.
Aku duduk di tangga depan Kopi Sudut. Aku tidak menangis. Aku tidak mau menangis. Menangis tidak menghidupkan laptop. Tapi mataku panas, dan ada sesuatu yang naik di tenggorokan, dan aku harus menekan bibir rapat-rapat supaya sesuatu itu tidak keluar.
“Laptopnya kenapa?”
Aku hampir menjatuhkan laptop itu.
Dia berdiri di trotoar, dua langkah dariku, persis di bawah lampu jalan yang berkedip. Kemejanya hitam malam ini, lengan digulung seperti biasa. Rambutnya lebih berantakan dari terakhir kali. Ada pensil terselip di belakang telinga kirinya, seolah dia datang langsung dari tengah pekerjaan dan lupa melepasnya.
“Mas Bumi?”
“Laptopnya kenapa?” ulangnya, pelan.
“Mati. Total.” Suaraku goyang. Aku berdeham. “Mas ngapain di sini jam dua pagi?”
Dia diam sebentar.
“Kebetulan lewat.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah yang benar-benar datar, wajah orang yang sangat yakin kalimatnya masuk akal.
“Lewat dari mana?” tanyaku.
Lama. Lama sekali. Lampu jalan berkedip tiga kali.
“Dari atas,” katanya akhirnya, sambil menunjuk ke lantai dua ruko di atas Kopi Sudut. Di sana, untuk pertama kalinya aku perhatikan, ada jendela besar yang lampunya masih menyala, dan papan nama kecil dari kayu yang tidak pernah kubaca: Wiranata Atelier — Arsitektur & Interior.
Aku menatap papan itu. Lalu menatapnya.
“Mas kerja di situ?”
“Iya.”
“Di atas kafe yang aku datangi tiap pagi? Selama...” Aku menghitung. “Selama empat tahun?”
“Kurang lebih.”
“Kok aku nggak pernah lihat Mas?”
Dia menggaruk tengkuk. Ternyata itu kebiasaannya kalau tidak tahu harus bilang apa, karena semalam di jalan gelap dia juga melakukannya. “Saya datang lebih pagi.”
“Dan pulangnya?”
“Lebih malam.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Jadi aku melakukan dua-duanya sedikit. Suara yang keluar dariku terdengar seperti ayam kecil tersedak.
Dia mengulurkan tangan. Tangannya bernoda tinta, seperti biasa. “Boleh saya lihat?”
Lima menit kemudian, laptopku terbaring telentang di meja kerja Tasya dengan perut terbuka.
Mas Bumi mengeluarkan obeng kecil seukuran pulpen dari saku kemejanya, dari saku kemejanya, seolah itu barang yang wajar dibawa ke mana-mana seperti kunci rumah. Dengan gerakan hati-hati dia membuka dua belas sekrup mungil di bagian bawah laptop, mengangkat tutupnya, lalu mengintip ke dalam dengan senter ponsel.
Tasya berdiri di belakangku, memegang lenganku begitu erat sampai kukunya meninggalkan bekas. Dia mendekatkan bibir ke telingaku.
“Itu dia?” bisiknya.
“Iya.”
“Yang tukang?”
“Iya.”
“Lin.” Cengkeramannya makin kencang. “Dia bawa obeng di saku kemeja.”
“Aku tahu.”
“Laki-laki yang bawa obeng di saku kemeja, Lin. Itu red flag atau green flag?”
“Sya, diam.”
“Aku rasa itu green flag. Aku rasa itu green flag yang dikasih lampu LED.”
Mas Bumi tidak menoleh. Tapi aku melihat telinganya memerah sedikit.
“Mainboard-nya kemungkinan kena,” katanya. “Bisa diservis, tapi butuh beberapa hari. Tapi SSD-nya kelihatan baik. Filenya kemungkinan aman.”
“Tapi gimana ngeluarinnya?”
Dia sudah mencabut sesuatu sebesar permen karet dari dalam laptop. “Tunggu sebentar.”
Dia keluar dari kantor. Lewat jendela, aku melihatnya berjalan cepat ke pintu kecil di samping Kopi Sudut dan naik tangga. Tiga menit kemudian dia kembali dengan tas laptop hitam yang sudah usang dan sebuah benda kecil berkabel yang kelihatannya seperti casing.
Dia memasukkan SSD-ku ke casing itu, menyambungkannya ke laptopnya sendiri, laptop tua dengan stiker logo kampus negeri yang sudah setengah terkelupas, lalu menunggu.
Satu detik. Dua detik. Tiga.
Sebuah jendela muncul di layar. Folder-folder. Dokumen. Rumah Pelangi. Proposal Cilincing FINAL. Proposal Cilincing FINAL BENERAN. Proposal Cilincing FINAL BENERAN REVISI TASYA.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan.
Tasya memeluk punggungku dari belakang dan mengeluarkan suara seperti balon yang dikempiskan perlahan.
“Mau dipakai yang mana?” tanya Mas Bumi, menatap nama-nama file itu dengan wajah sangat serius.
“Yang... FINAL BENERAN REVISI TASYA,” jawabku, malu setengah mati.
Dia membuka file itu. Dua puluh tujuh slide muncul dengan selamat, lengkap dengan grafik, video, dan denahku.
Aku duduk di kursi di sampingnya, karena lututku tiba-tiba tidak bisa dipercaya.
“Makasih,” kataku. Suaraku pecah di tengah. “Makasih, Mas. Ya Tuhan. Makasih banget.”
Dia tidak menjawab. Dia sedang menatap slide nomor dua puluh, denah ruang baca yang kugambar sendiri. Sekarang kalau kulihat ulang, denah itu memalukan. Garis-garisnya miring, tangganya menempel ke jendela, dan ada rak buku yang menghalangi pintu darurat.
“Ini Mbak yang gambar?” tanyanya.
Aku meringis. “Jelek, ya?”
“Nggak jelek.” Dia mengetuk layar pelan di bagian rak buku. “Cuma, kalau rak ini di sini, anak-anak nggak bisa keluar kalau ada kebakaran. Dan tangganya terlalu curam buat anak kecil.”
“Tangga lagi,” kataku, setengah tertawa.
Dia menoleh. Untuk pertama kalinya malam ini, matanya benar-benar bertemu mataku, lurus dan lama, dua detik penuh. Lalu dia cepat-cepat melihat layar lagi.
“Boleh saya perbaiki?” tanyanya. “Sebentar saja.”
“Sebentar saja” ternyata satu setengah jam.
Aku tidak tahu kapan aku berhenti menonton layar dan mulai menonton tangannya. Tangannya bergerak di atas tablet gambar kecil yang dia ambil dari tasnya. Garis demi garis muncul, rapi, presisi, tanpa ragu. Ruang baca yang tadinya kotak berantakan berubah menjadi sesuatu yang membuatku ingin menangis lagi, kali ini karena alasan yang berbeda.
Ada tangga landai di pinggir, dengan anak tangga rendah dan pegangan di dua sisi, satu tinggi dan satu rendah, untuk tangan anak-anak. Ada sudut membaca berbentuk perahu, perahu, karena anak-anak di Cilincing tumbuh di antara perahu. Ada jendela-jendela rendah supaya anak yang duduk di lantai tetap bisa melihat langit. Ada pintu darurat yang terbuka ke halaman, dengan rak-rak buku yang mengalir di sepanjang dinding seperti ombak, bukan menghalangi.
“Mas,” bisikku. “Ini...”
“Kasar,” katanya. “Belum ada ukuran detail. Tapi cukup buat menjelaskan ide.”
“Ini bukan kasar. Ini indah.”
Dia tidak bilang apa-apa. Tapi sudut bibirnya naik, dan kali ini dia lupa menyembunyikannya.
Di belakang kami, Tasya kembali tidur di beanbag. Tapi sebelum tidur, dia sempat mengirimiku pesan WhatsApp walaupun jarak kami cuma tiga meter.
Tasya: TUKANG HATIKU
Tasya: VERSI ARSITEK
Tasya: AKU MAU NANGIS
Tasya: jangan lupa kunci pintu ya beb aku ngantuk 😴
Pukul tiga lewat empat puluh, slide nomor dua puluh sudah diganti. Pukul empat, Mas Bumi memindahkan semua file ke flashdisk cadangan, lalu ke laptopnya sendiri yang dia letakkan di depanku.
“Pakai ini buat presentasi,” katanya. “Baterainya kuat sampai siang. Kalau proyektornya rewel, kabel HDMI-nya ada di kantong depan tas.”
“Mas, aku nggak bisa...”
“Bisa.” Dia menutup tas laptopnya dan menggesernya ke arahku. “Mbak tidur sebentar. Masih ada waktu tiga jam.”
“Terus Mas?”
“Saya juga.”
Dia berdiri dan berjalan ke pintu.
“Mas Bumi.”
Dia berhenti, tapi tidak menoleh. Lagi-lagi begitu: berhenti di ambang, punggungnya menghadapku, seolah melihat wajahku terlalu lama adalah sesuatu yang harus dia jatah.
“Kenapa Mas nolongin aku?” tanyaku. “Dua kali. Dalam seminggu.”
Diam.
“Kebetulan lewat,” katanya akhirnya.
Lalu dia keluar, dan pintu kaca Rumah Pelangi menutup pelan di belakangnya.
Aku duduk lama memandangi pintu itu.
Lalu aku menoleh ke laptop tua di depanku. Di bagian bawah layarnya, ada sticky note kuning yang sejak tadi tidak kusadari. Tulisannya rapi, huruf cetak kecil-kecil, seperti tulisan di denah arsitek:
Laptopnya dipinjam saja. Semoga lancar. — B.
Dia menulis catatan itu sebelum aku bertanya. Sebelum aku bilang terima kasih. Mungkin sebelum dia turun tangga jam dua pagi tadi.
Pukul sembilan lewat empat puluh, aku keluar dari ruang rapat Yayasan Cahaya Nusantara dengan kaki gemetar dan tangan dingin.
Pukul sembilan lewat empat puluh dua, aku menelepon Tasya dan berteriak begitu keras sampai seorang satpam menoleh.
“DISETUJUI!”
Di seberang telepon, Tasya juga berteriak. Lalu ada suara benda jatuh. Lalu suara Rio, anak magang, bertanya “Mbak Tasya nggak apa-apa?” Lalu Tasya berteriak lagi.
Ketua dewan pengurus, seorang ibu berambut perak dengan kacamata berantai mutiara, menahanku di pintu sebelum aku pulang. Dia menunjuk slide nomor dua puluh yang masih terpampang di layar.
“Denah ini,” katanya. “Siapa arsiteknya? Kami ingin bekerja sama dengan beliau untuk pembangunan.”
Aku membuka mulut dan tidak tahu harus menjawab apa.
Siang itu aku naik tangga sempit di samping Kopi Sudut untuk pertama kalinya, membawa laptop pinjaman di satu tangan dan sekotak kue nastar dari toko kue langganan Mama di tangan lain.
Pintu studio terbuka. Di dalamnya ada ruangan memanjang, penuh rak berisi gulungan kertas, maket-maket kecil dari karton, dan dua meja gambar besar yang menghadap ke jendela. Di salah satu meja duduk seorang laki-laki berkemeja motif bunga yang sedang makan kerupuk kulit langsung dari plastiknya.
Dia mengangkat kepala. Melihatku. Kerupuk di tangannya jatuh.
“Oh,” katanya. “Oh, ya Tuhan. Oh, ini terjadi.”
“Permisi,” kataku. “Mas Bumi ada?”
“Bumi...” Laki-laki itu berdiri, mengusap tangan yang berminyak ke celana, lalu mengulurkan tangan dan menariknya kembali, lalu mengulurkannya lagi. “Saya Jovan. Partner. Rekan kerja. Saudara tidak sedarah. Bumi lagi... ehm. Lagi survei lokasi. Di Bekasi.”
“Oh.” Hatiku turun sedikit. “Kapan baliknya?”
Jovan melirik ke arah meja yang satu lagi. Di sana ada gelas teh yang masih setengah penuh dan sedikit berembun, jelas belum lama ditinggalkan.
“Dia...” Jovan berdeham. “Dia berangkat mendadak. Barusan. Kebetulan.”
Aku menatap gelas teh itu. Lalu menatap Jovan.
Jovan menatap langit-langit.
Aku meletakkan laptop dan kotak nastar di meja yang ada gelas tehnya. Di sebelah gelas itu, menghadap ke jendela, ada sebuah buku sketsa bersampul kulit cokelat tua yang tertutup rapat dengan karet. Aku tidak menyentuhnya. Aku menulis di sticky note yang kuambil dari meja Jovan:
Laptopnya kukembalikan. Presentasinya disetujui. Yayasannya nanyain arsiteknya, jadi aku harus bilang apa?
Makasih, Mas Bumi. Ini bukan kebetulan, kan?
— C.
Aku menempelkannya di atas kotak nastar.
“Titip, ya, Mas Jovan.”
“Siap,” kata Jovan dengan suara aneh, seperti orang yang sedang menahan bersin dan tangis sekaligus. “Pasti. Aman. Saya jaga dengan nyawa.”
Saat aku menuruni tangga, aku menoleh sekali lagi ke jendela besar studio itu. Dari luar, kacanya memantulkan langit siang yang terang, jadi aku tidak bisa melihat ke dalam.
Tapi entah kenapa, aku merasa seseorang sedang melihat ke luar.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi reading
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi