Chapter Two
Kebetulan Lewat
POV: Celine
Ada tiga hal yang aku pelajari malam itu.
Satu: gaun malam berbahan satin tidak dirancang untuk dipakai berjongkok di samping ban bocor.
Dua: merekam penampilan paduan suara anak-anak panti selama empat puluh menit penuh tanpa henti adalah cara paling efektif untuk membunuh baterai ponsel.
Tiga: jalan pintas yang direkomendasikan aplikasi peta jam setengah dua belas malam bukan jalan pintas. Itu jebakan.
“Oke,” kataku pada langit. “Oke. Aku ngerti. Ini pelajaran soal kesombongan, kan? Karena tadi aku bilang ke Papa aku nggak butuh sopir?”
Langit tidak menjawab. Langit Jakarta tidak pernah menjawab. Langit Jakarta cuma jingga kotor dan diam.
Aku memandangi ban belakang mobilku. Ban itu duduk lemas di atas aspal seperti orang yang sudah menyerah pada hidup. Aku tahu, secara teori, cara mengganti ban. Aku pernah menonton video tutorialnya. Sekali. Dua tahun lalu. Sambil makan martabak.
Masalahnya, video itu tidak menjelaskan apa yang harus dilakukan kalau dongkrak di bagasi ternyata masih terbungkus plastik pabrik dan kunci rodanya entah di mana.
Aku sudah membongkar seluruh bagasi. Kunci roda itu tidak ada di sana. Yang ada justru tiga kardus buku cerita bergambar, satu boneka jerapah yang harusnya kuberikan ke Rumah Singgah minggu lalu, dan sebungkus keripik pisang yang sudah melempem.
Aku memakan keripik pisang itu. Situasi darurat butuh energi.
Lalu, dari tikungan di belakang, lampu mobil menyapu tubuhku.
Aku membeku.
Mobil itu melambat, lalu berhenti di belakang mobilku. Mesin dimatikan. Lampu depannya tetap menyala, membuatku tidak bisa melihat siapa pun di balik kaca.
Seluruh ceramah keselamatan dari Mama, dari satpam rumah, dan dari Tasya, yang hobinya mengirim berita kriminal jam dua pagi dengan keterangan “hati-hati ya beb 🥺”, berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Aku mencengkeram sepatu hak di tanganku. Hak sepatunya runcing dan tingginya sembilan senti. Kalau terpaksa, ini bisa jadi senjata.
Pintu mobil terbuka.
Seorang laki-laki turun.
Dia tinggi, mungkin lebih dari seratus delapan puluh. Bahunya lebar tapi tidak berlebihan, dan dia memakai kemeja abu-abu dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya hitam, sedikit berantakan, seperti orang yang seharian lupa bercermin. Dia tidak langsung mendekat. Dia berhenti sekitar tiga meter dariku, di tempat yang cukup terang supaya aku bisa melihat wajahnya, lalu mengangkat kedua tangannya sedikit, telapak menghadap ke depan, seperti orang yang sedang menenangkan kucing liar.
“Bannya bocor, ya?” katanya.
Suaranya pelan dan rendah. Tidak ada nada genit, dan tidak ada nada “wah, sendirian nih, Mbak”.
Aku masih mencengkeram sepatu. “Iya.”
“Ada ban serep?”
“Ada. Tapi kunci rodanya nggak ada.”
Dia mengangguk, seperti itu masalah yang sangat wajar dan sudah ribuan kali dia temui. “Saya ada. Boleh saya lihat?”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik. Lalu aku melihat tangannya. Ada noda-noda hitam kebiruan di jari-jarinya, di sisi telapak tangan kanan, bahkan sedikit di pergelangan. Itu bukan oli. Warnanya terlalu rapi, terlalu seperti...
“Itu tinta?” tanyaku sebelum sempat menahan diri.
Dia melihat tangannya sendiri, seperti baru sadar tangannya ada di sana. “Oh. Iya. Maaf. Nggak bisa hilang.”
Entah kenapa, itu yang membuatku menurunkan sepatu.
Dia bekerja cepat.
Dia mengambil kunci roda dari mobilnya, mobil tua berwarna hijau tua yang kelihatannya sudah lebih dulu ada di dunia daripada aku, dan sebuah senter kecil yang dia jepitkan di kerah kemejanya. Dia membuka plastik pembungkus dongkrakku tanpa komentar. Aku menghargai itu. Seandainya dia bilang “kok dongkraknya masih dibungkus, Mbak”, aku mungkin akan menangis.
“Bisa tolong pegangi ini?” Dia menyodorkan baut-baut roda yang sudah dia lepas.
Aku menadahkan kedua tangan. Baut itu jatuh satu per satu ke telapakku, hangat dan berminyak.
“Maaf, tangannya jadi kotor,” katanya.
“Nggak apa-apa. Tanganku juga habis megang keripik pisang melempem. Kita impas.”
Dia berhenti sebentar. Untuk sepersekian detik, sudut bibirnya naik, tapi dia langsung menunduk lagi ke ban, jadi aku tidak yakin apakah itu senyum atau cuma bayangan dari lampu senter.
Aku memperhatikannya bekerja. Dia tidak bicara kecuali perlu. Gerakannya hemat, setiap putaran kunci roda dan setiap dorongan dongkrak dilakukan seperlunya, seperti dia sudah melakukannya ratusan kali, atau seperti seseorang pernah mengajarinya dengan sangat sabar. Kemejanya mulai basah di punggung. Malam ini panas dan lembap, dan aku berdiri di sini dengan gaun satin sementara laki-laki asing berkeringat di jalan gelap demi menolongku.
“Mas,” kataku.
“Ya?”
“Mas tinggal di sekitar sini?”
Dia diam sebentar. “Nggak terlalu.”
“Terus ngapain lewat jalan ini jam segini?”
Kunci roda di tangannya berhenti berputar, lalu bergerak lagi.
“Kebetulan lewat,” katanya.
Aku tertawa kecil. “Jalan ini? Kebetulan?”
“Saya suka jalan sepi.” Dia memasang ban serep, mengencangkan baut satu demi satu dengan pola menyilang. “Kepala lagi penuh.”
“Oh.” Aku memeluk lenganku sendiri. “Penuh kenapa?”
“Tangga.”
“Tangga?”
“Tangga yang terlalu curam.” Dia menurunkan dongkrak. “Kalau curam, orang tua susah naik. Kalau dilandaikan, makan tempat. Klien saya mau dua-duanya.”
Aku berkedip. “Mas tukang?”
Untuk kedua kalinya, sudut bibirnya bergerak. Kali ini aku yakin itu senyum, kecil, cepat, dan langsung disembunyikan.
“Kurang lebih,” katanya.
Dia berdiri, mengusap tangannya ke celana, lalu memasukkan ban bocor ke bagasiku dan merapikan kardus-kardus buku dengan hati-hati seperti barang berharga. Boneka jerapah dia dudukkan di atas kardus paling tinggi, menghadap ke luar.
Aku tidak tahu kenapa itu membuat dadaku hangat.
“Sudah,” katanya. “Besok bannya ditambal atau diganti, ya. Ban serep ini tipis. Jangan dipakai ngebut.”
“Aku nggak pernah ngebut.”
“Jangan dipakai lewat jalan pintas jam dua belas malam juga.”
Kali ini aku yang tertawa sungguhan. Aku merasakan lesung pipitku muncul, lesung yang kata Tasya “terlalu tidak adil untuk dimiliki satu manusia”.
Dia memalingkan muka. Cepat, seperti orang yang tidak sengaja menatap matahari.
“Mas,” kataku sambil mengaduk tas tangan kecilku. “Aku harus bayar berapa? Aku nggak bawa banyak cash, tapi...”
“Nggak usah.”
“Tapi Mas udah...”
“Nggak usah.” Suaranya tetap pelan, tapi kali ini tegas. “Hati-hati di jalan.”
Dia berbalik dan berjalan ke mobilnya.
“Tunggu!” Aku melangkah dengan kaki telanjang di aspal yang masih hangat. “Setidaknya kasih tahu nama Mas. Biar aku bisa...”
Dia berhenti di samping pintu mobil, tapi tidak berbalik sepenuhnya. Aku hanya bisa melihat sebagian wajahnya yang diterangi lampu hazard mobilku, kuning, gelap, kuning, gelap.
“Biar Mbak bisa apa?” tanyanya.
“Berterima kasih. Dengan benar.”
Dia diam lama sekali. Jangkrik di lahan kosong di seberang jalan bernyanyi seperti sedang lomba.
“Sudah,” katanya akhirnya. “Barusan Mbak sudah bilang.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Mbak tertawa,” katanya. “Itu cukup.”
Lalu dia masuk ke mobil, menyalakan mesin di percobaan kedua, dan pergi.
Aku berdiri di pinggir jalan dengan sepatu di tangan, kaki telanjang, dan gaun satin yang ujungnya kotor, menatap lampu belakang mobil hijau tua itu sampai menghilang di tikungan.
Dia tidak menanyakan namaku.
Dia tidak melihat mobilku, lalu gaunku, lalu wajahku, dengan tatapan menghitung yang biasa aku dapat dari laki-laki yang tahu siapa ayahku. Dia tidak bilang “wah, Mbak yang di berita itu, ya?” Dia tidak minta nomor telepon.
Dia cuma mengganti banku, mendudukkan boneka jerapahku dengan rapi, menyuruhku jangan ngebut, lalu pergi.
Seperti aku cuma orang biasa yang kesusahan.
Aku tidak sadar sudah berapa lama tidak diperlakukan seperti itu.
“MAS KEBETULAN.”
Tasya membanting kedua telapak tangannya ke meja kerjaku begitu keras sampai kaktus kecil di pojok ikut melompat.
“Sya, ini kantor. Ada anak magang.”
“Biarin! Anak magang harus belajar soal cinta juga!” Tasya menarik kursi dan duduk mengangkang di depanku, kacamata bulatnya melorot ke ujung hidung. “Ulang. Dari awal. Pelan-pelan. Pakai detail.”
“Aku udah cerita dua kali.”
“Cerita ketiga selalu ada detail baru. Itu hukum alam. Tinggi?”
Aku menghela napas. “Tinggi.”
“Seberapa tinggi?”
“Aku harus ndongak dikit.”
“Kamu pakai sepatu?”
“Nggak. Nyeker.”
“Berarti tingginya kurang lebih...” Tasya menghitung dengan jari, bibirnya bergerak-gerak seperti dukun. “Seratus delapan puluh dua. Oke. Bagus. Ganteng?”
Aku diam.
Tasya menatapku. Lalu matanya membesar perlahan, seperti layar proyektor yang baru menyala.
“Celine Florentina,” bisiknya. “Kamu diem.”
“Aku nggak diem. Aku lagi mikir.”
“Kamu nggak pernah mikir kalau ditanya ganteng apa nggak. Kamu selalu langsung jawab ‘biasa aja, Sya’ dengan muka bosan kayak lagi dengerin presentasi asuransi.” Tasya mencondongkan badan. “Kamu diem. Ini darurat nasional.”
“Wajahnya...” Aku memutar pulpen di jari. “Tenang. Kayak... kayak orang yang nggak pernah buru-buru. Matanya agak sayu, tapi bukan ngantuk. Lebih kayak, kayak orang yang sering ngelihat sesuatu lama-lama.”
“Ya Tuhan.”
“Dan tangannya penuh tinta.”
“YA TUHAN.”
“Sya!”
“Seniman! Penyair! Pelukis jalanan yang ternyata pewaris tahta kerajaan kecil di Eropa Timur!”
“Dia bilang dia tukang.”
“Tukang hatiku,” kata Tasya, lalu menjatuhkan dahi ke mejaku dengan dramatis.
Anak magang di meja sebelah, Rio, mahasiswa semester lima yang pendiam, pelan-pelan memakai earphone-nya.
Aku tertawa, tapi tawaku tidak berlangsung lama. Pikiranku kembali ke jalan gelap itu, ke lampu hazard yang berkedip, dan ke cara dia berhenti tiga meter dariku dengan tangan terangkat supaya aku tidak takut.
Mbak tertawa. Itu cukup.
Siapa yang bilang begitu ke orang asing?
“Aku bahkan nggak tahu namanya,” kataku pelan.
Tasya mengangkat kepala. Untuk sesaat, ekspresi dramatisnya hilang, berganti dengan sesuatu yang lebih lembut. Dia sahabatku sejak SMA. Dia tahu berapa banyak orang yang datang padaku sambil membawa nama ayahku di saku belakang.
“Dia nggak tanya namamu?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Dia nggak minta nomor? Nggak minta foto bareng? Nggak nanya ‘kerja di mana, Mbak’?”
“Nggak.”
“Dan dia nggak mau dibayar.”
“Nggak.”
Tasya bersandar ke kursi dan bersedekap. Dia diam lama, dan Tasya yang diam lama sama langkanya dengan hujan di bulan Agustus.
“Oke,” katanya akhirnya. “Aku tarik semua lelucon tadi.”
“Semua?”
“Kecuali yang ‘tukang hatiku’. Itu bagus. Aku simpan.” Dia menunjukku. “Tapi Lin, orang kayak gitu nggak muncul sekali terus hilang. Orang kayak gitu biasanya muncul lagi.”
“Jakarta itu gede, Sya.”
“Jakarta itu kecil buat orang yang memang ditakdirkan ketemu.”
Aku memutar mata, tapi senyumku tidak mau pergi.
Jam di dinding kantor menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh. Kopi panasku di meja tinggal setengah. Pagi tadi aku sempat duduk di meja nomor tiga Kopi Sudut seperti biasa, membeli dua gelas, dan memberikan satu pada Pak Udin. Tapi entah kenapa, sepanjang lima belas menit itu, aku terus melirik ke jalan, ke setiap mobil tua yang lewat.
Tidak ada yang berwarna hijau tua.
Aku menggeleng, mengusir pikiran itu, lalu membuka laptop dan mulai bekerja.
Tapi sepanjang hari itu, setiap kali aku melihat ujung pulpenku, aku teringat jari-jari bernoda tinta, dan suara pelan yang bilang kebetulan lewat, seperti itu jawaban paling wajar di dunia.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat reading
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi