Chapter Seven
Halte Jam Delapan
POV: Bumi
Aku tidak sedang memandangi jendela.
Aku sedang memandangi gambar potongan tangga lantai dua perpustakaan Cilincing, yang sudah kuperbaiki enam kali dan tidak perlu diperbaiki lagi. Hujan mulai turun jam setengah delapan, deras dan miring, sehingga kaca jendela studio berubah jadi layar buram berisi lampu-lampu jalan yang meleleh. Tidak ada yang bisa dilihat dari sana. Jadi aku tidak sedang memandangi jendela.
Aku hanya melirik sesekali.
Jam delapan lewat tiga, ketika aku melirik untuk kesekian kalinya, aku melihat seseorang di halte bus di seberang jalan, lima puluh meter ke arah perempatan.
Halte itu kecil. Atapnya seng setengah bocor, bangkunya besi berkarat, dan lampunya tinggal satu yang berkedip-kedip seperti sedang berpikir mau mati atau tidak. Bus yang lewat di sana hanya satu trayek, dan trayek itu sudah berhenti beroperasi sejak jam tujuh.
Seorang perempuan berdiri di bawah atap seng itu, memeluk tas kanvas besar ke dadanya. Rambut panjangnya diikat tinggi. Bahu blus putihnya sudah basah di satu sisi karena air yang menetes dari lubang atap.
Dia sedang menatap ponselnya dengan ekspresi orang yang sedang dikhianati teknologi.
Aku meletakkan pensil.
Tiga hari terakhir sudah cukup memalukan. Hari Selasa aku menjatuhkan diri ke lantai studio karena dia mendongak ke jendela, dan sikuku memar karena membentur kaki meja. Hari Rabu aku membayar roti bakar cokelat keju untuknya, karena Mas Dodi pernah bilang itu kesukaannya, lalu aku bersembunyi di toilet studio selama dua puluh menit karena takut dia naik ke atas. Hari Kamis aku tidak datang ke rapat proyek yang denahnya kugambar sendiri, dan Jovan menceritakan semuanya padaku dengan nada seperti jaksa membacakan tuntutan. Sore itu dia melambai ke jendela, dan aku menurunkan tirai begitu keras sampai salah satu kaitnya patah.
Aku sudah memutuskan untuk berhenti. Jarak. Dia sudah tahu namaku, dan itu sudah lebih dari cukup. Aku akan menggambar denah perpustakaannya sebaik mungkin, dan aku akan tetap di lantai dua, di tempatku.
Di halte, dia menggigil. Aku melihatnya dari sini. Bahunya naik, lalu turun.
Mobilnya tidak ada di parkiran depan Kopi Sudut. Pak Udin bilang tadi siang, mobilnya masuk bengkel untuk servis rutin dan ganti ban yang benar, bukan ban serep tipis yang kupasang. Seharusnya dia pulang naik taksi daring, tapi hujan seperti ini di Jakarta Selatan pada Jumat malam jam delapan berarti satu hal: semua pengemudi sedang terjebak di tempat lain, dan aplikasinya cuma akan berputar-putar mencari.
Dia menggigil lagi.
Aku mengambil payung dari balik pintu dan jaket abu-abu dari sandaran kursi.
Aku tidak berpikir. Kalau berpikir, aku tidak akan turun.
Air hujan masuk ke sepatuku di langkah ketiga.
Aku berjalan cepat menyusuri trotoar dengan payung hitam besar milik Jovan. Payungku sendiri sudah rusak sejak Juni dan tidak pernah kuganti. Genangan air memantulkan lampu kuning. Sebuah angkot lewat dan menyiram celanaku sampai lutut.
Ketika aku sampai di halte, dia sedang menempelkan ponsel ke telinga.
“...iya, Ma. Nggak, nggak usah suruh Pak Darto. Kasihan, dia baru pulang. Aku pesen taksi aja. Iya. Iya, Ma, aku tahu. Iya, aku pakai jaket.” Dia memeluk tubuhnya sendiri dengan tangan yang bebas. Dia tidak memakai jaket. “Oke. Dadah, Ma.”
Dia menurunkan ponsel, menghela napas panjang ke arah hujan, lalu menoleh.
Dan melihatku.
Aku berdiri di tepi halte dengan payung di tangan kanan, jaket di tangan kiri, dan celana basah sampai lutut. Hujan berisik di atap seng. Lampu halte berkedip.
“Mas Bumi?”
“Malam,” kataku.
Dia menatapku. Lalu menatap payungku. Lalu menatap jalan di belakangku, ke arah Kopi Sudut, ke jendela lantai dua yang lampunya masih menyala terang di tengah hujan.
“Mas ngapain di sini?” tanyanya.
Aku membuka mulut. Kalimatnya sudah ada di ujung lidah, otomatis, seperti refleks lutut yang dipukul palu dokter.
“Kebetulan lewat.”
Diam.
Lalu dia tertawa.
Bukan tawa kecil. Dia tertawa sampai harus memegangi tiang halte, sampai tas kanvasnya hampir jatuh, sampai lesung pipitnya muncul dalam-dalam dan matanya basah. Suaranya memantul di atap seng dan bercampur dengan suara hujan.
“Lewat,” katanya terengah-engah. “Dari mana? Dari lantai dua ke halte? Lima puluh meter? Pakai payung? Bawa jaket? Ya Tuhan, Mas Bumi.”
Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan wajahku. Jadi aku menatap genangan air di bawah bangku halte.
“Mas tahu nggak?” Dia menyeka mata dengan punggung tangan, masih tertawa. “Mas itu pembohong paling jelek yang pernah aku temuin.”
“Saya nggak bohong.”
“Oke. Mas kebetulan lewat. Di depan halte. Di tengah hujan. Jam delapan malam. Bawa jaket cadangan.” Dia menunjuk jaket di tanganku. “Itu jaket siapa?”
“Saya.”
“Mas pakai kemeja lengan pendek, Mas kedinginan, dan jaketnya nggak Mas pakai. Jaketnya Mas pegangin.” Dia mengangkat alis. “Buat siapa?”
Aku diam.
Dia berhenti tertawa. Pelan-pelan senyumnya berubah, tidak hilang, tapi menjadi sesuatu yang lebih tenang dan hangat. Dia memandangiku seperti sedang membaca catatan kecil di pinggir denah.
“Makasih,” katanya lembut. “Buat jaketnya. Yang belum Mas kasih.”
Aku menyodorkan jaket itu tanpa bicara.
Dia menerimanya dan memakainya. Jaketnya kebesaran. Lengannya menutupi tangannya sampai ujung jari, dan bagian bawahnya jatuh hampir ke pertengahan paha. Jaket abu-abu tua itu, yang sudah kupakai sejak semester tiga kuliah, yang kerahnya sudah tipis dan salah satu kancingnya kuganti sendiri dengan kancing yang warnanya tidak sama, sekarang membungkus perempuan yang paling...
Aku memalingkan muka ke jalan.
“Hangat,” katanya. Dia menarik kerah jaket sampai ke dagu. “Wangi kayu.”
“Maaf.”
“Kenapa minta maaf? Aku suka.” Dia menghirup kerah jaket itu sedikit, seperti tidak sadar sedang melakukannya. “Kayak bau lemari nenekku di Solo.”
Aku tidak tahu kenapa kalimat itu membuat dadaku sesak.
Aplikasi taksinya masih berputar. Mencari pengemudi terdekat. Lingkaran kecil berputar, berputar, berputar.
Aku berdiri di tepi halte, di bagian yang tidak tertutup atap, dan memegang payung di atas kepalanya karena tepat di atas tempatnya berdiri, atap seng itu bocor. Air jatuh ke payungku dan menetes ke bahuku.
“Mas,” katanya. “Bahu Mas basah.”
“Nggak apa-apa.”
“Sini, masuk ke bawah atap.”
“Di sini saja.”
“Mas Bumi.” Dia bergeser sedikit ke kiri, memberi ruang di bawah bagian atap yang tidak bocor. “Ini cukup buat dua orang.”
Aku melihat ruang itu. Kalau aku masuk, bahuku akan menyentuh bahunya. Kalau aku masuk, siapa pun yang lewat akan melihat dua orang berdiri berdempetan di halte, laki-laki dengan celana basah dan kemeja murah, dan perempuan yang... yang wajahnya pernah ada di halaman depan portal berita dengan judul “Putri Florentina Pulang ke Tanah Air, Siap Terjun ke Dunia Literasi Anak.”
Orang akan salah paham. Atau lebih buruk lagi: orang akan paham dengan sangat tepat, lalu tertawa.
“Di sini saja,” ulangku.
Dia menatapku lama. Aku merasakan tatapannya walaupun aku tidak menoleh. Lalu dia menghela napas dan tidak memaksa lagi. Tapi dia juga tidak bergeser kembali ke tempatnya semula. Dia tetap berdiri di pinggir bagian atap yang kering, satu langkah dariku, sehingga sebagian kecil payungku masih menaunginya, dan sebagian kecil atap halte menaungiku.
Satu langkah. Cukup dekat untuk memayungi. Cukup jauh supaya tidak ada yang salah paham.
“Mas,” katanya setelah beberapa saat. “Roti bakarnya enak.”
Aku berhenti bernapas sebentar. “Roti?”
“Jangan pura-pura. Mas Dodi udah ngaku. Dia ngelirik ke langit-langit kayak orang lagi doa.”
Aku harus bicara dengan Mas Dodi.
“Gimana Mas tahu aku suka roti bakar cokelat keju?”
“Semua orang suka cokelat keju.”
“Tasya nggak suka. Mas Jovan juga nggak, katanya dia tim srikaya.” Dia mencondongkan badan sedikit, mencoba melihat wajahku. “Gimana Mas tahu?”
Karena hampir setiap Senin kamu pesan roti itu, karena Senin pagi kamu selalu kelihatan lebih capek, karena kamu makan pinggirannya dulu dan tengahnya paling akhir, karena kamu menyisakan satu potong kecil untuk kucing belang yang kamu kasih nama Pak Bos.
“Kebetulan,” kataku.
Dia tertawa lagi. Tawanya lebih pelan sekarang, lebih seperti napas yang lepas.
“Mas tahu nggak,” katanya, “aku udah ngitung.”
“Ngitung apa?”
“Mas bilang ‘kebetulan’ ke aku. Tiga kali. Waktu ban bocor, waktu laptop mati, sama barusan.” Dia mengacungkan tiga jari yang tenggelam di lengan jaketku, jadi yang kelihatan cuma ujung kuku berwarna merah muda pucat. “Dan aku bukan orang yang paling pinter di dunia, Mas. Tapi aku lulusan S2. Aku bisa ngitung sampai tiga.”
Aku tidak menjawab.
“Kenapa sembunyi di gudang?”
Aku hampir menjatuhkan payung.
“Mas Jovan cerita ke Tasya,” katanya. “Pegang sapu. Kayak tongkat Musa.”
Aku akan membunuh Jovan. Pelan-pelan. Dengan penggaris segitiga.
“Saya...” Aku mencari kata-kata di genangan air, di lampu halte yang berkedip, di suara hujan di atap seng. “Saya nggak terbiasa.”
“Nggak terbiasa apa?”
“Dibilangin terima kasih.”
Kalimat itu keluar sebelum sempat kusaring. Terlalu jujur. Terlalu telanjang. Aku langsung ingin menariknya kembali, tapi kata-kata tidak bisa dimasukkan lagi ke mulut seperti baut dimasukkan ke lubangnya.
Dia diam lama. Hujan masih turun. Sebuah motor lewat, dengan pengendara yang memakai jas hujan plastik kuning yang sobek di punggung.
“Kok bisa?” tanyanya pelan. “Orang sebaik Mas nggak terbiasa dibilangin terima kasih?”
Karena aku tidak pernah menunggu cukup lama untuk mendengarnya. Karena kalau aku menunggu, aku harus melihat wajah orang yang kutolong, dan kadang wajah itu bertanya “kenapa”, dan aku tidak punya jawaban yang tidak memalukan.
“Saya biasanya buru-buru,” kataku.
“Buru-buru ke mana?”
Aku tidak menjawab. Dia tidak bertanya lagi.
Lalu, pelan sekali, dia menoleh dan menatapku. Benar-benar menatap, bukan melirik dan bukan sekilas. Matanya besar dan gelap, dan di dalamnya lampu halte yang berkedip itu memantul seperti bintang kecil yang tidak bisa memutuskan mau menyala atau tidak.
Aku tidak bisa memalingkan muka. Ini pertama kalinya dalam empat tahun.
Satu detik. Dua. Tiga.
Hujan, atap seng, genangan air, lampu kuning, dan jarak satu langkah yang tiba-tiba terasa terlalu jauh dan terlalu dekat sekaligus.
“Mas,” bisiknya. “Mata Mas kenapa merah?”
Aku berkedip. “Kena air hujan.”
“Oh.” Dia tersenyum kecil. “Kebetulan.”
Ponselnya berbunyi. Kami berdua melompat sedikit, seperti dua orang yang ketahuan.
Pengemudi ditemukan. Pak Sutarno, Avanza Hitam, 4 menit.
Dia menatap layar itu. Aku tidak tahu kenapa, tapi dia kelihatan sedikit kecewa.
Pak Sutarno datang dalam tujuh menit, bukan empat. Aku memayunginya sampai ke pintu mobil, lalu membukakan pintu sementara dia masuk.
“Jaketnya,” katanya, mulai melepas lengan jaket itu.
“Bawa saja.”
“Tapi Mas...”
“Mobilnya ber-AC. Nanti dingin.”
Dia berhenti dengan satu lengan setengah lepas. Lalu, pelan-pelan, dia memakai jaket itu lagi dan menarik kerahnya sampai ke dagu.
“Aku kembaliin,” katanya. “Pasti. Dicuci, disetrika, diwangiin.”
“Jangan diwangiin.”
“Kenapa?”
“Nanti nggak wangi kayu lagi.”
Dia menatapku dari dalam mobil. Hujan menetes dari ujung payungku ke atap mobil Pak Sutarno, tik, tik, tik. Lalu dia tersenyum, senyum yang tidak lebar dan tidak membuat lesung pipitnya muncul, tapi entah kenapa lebih sulit kutatap daripada tawanya tadi.
“Oke,” katanya. “Nggak diwangiin.”
Pintu tertutup. Mobil itu pergi, lampu belakangnya merah dan mengabur di tengah hujan, lalu belok di perempatan dan hilang.
Aku berdiri sendirian di depan halte dengan payung pinjaman, celana basah, dan bahu kanan yang dingin sampai ke tulang.
Lalu aku menyadari sesuatu yang membuatku ingin duduk di genangan air.
Aku menatap matanya. Tiga detik. Mungkin lebih.
Dan dia melihat mataku merah.
Studio gelap ketika aku kembali. Aku tidak menyalakan lampu utama, cuma lampu meja. Aku melepas sepatu yang basah, menggantung kemeja di sandaran kursi, dan duduk dengan kaus dalam yang lembap, memandangi buku sketsa yang terbuka di halaman kosong.
Aku menggambar halte itu. Atap seng, bangku besi berkarat, lampu yang berkedip.
Lalu aku menggambar dia di bawahnya. Dia memakai jaket abu-abu yang kebesaran, lengannya menutupi tangan, kerahnya ditarik sampai ke dagu, dan dia sedang tertawa sambil berpegangan pada tiang halte.
Aku berhenti di bagian matanya. Aku tidak bisa menggambar mata itu. Setiap kali pensilku menyentuh kertas, aku teringat cara mata itu menatapku tiga detik tadi, tidak menghitung, tidak menimbang, tidak bertanya “siapa kamu dan apa yang kamu punya”. Mata itu cuma menatap, seolah aku orang yang pantas ditatap selama itu.
Aku meletakkan pensil dan mengusap wajah dengan kedua tangan.
Ponselku bergetar di meja.
Jovan: Bum
Jovan: BUM
Jovan: Ada DM masuk ke IG studio
Jovan: Aku screenshot ya. Aku nggak tanggung jawab sama keadaan jantungmu.
Gambar masuk. Pesan langsung ke akun Instagram Wiranata Atelier, dari akun dengan foto profil seorang perempuan yang sedang membaca buku bergambar paus untuk sekelompok anak.
Halo, Wiranata Atelier.
Tolong sampaikan ke arsitek kalian yang suka kebetulan lewat: jaketnya aku kembaliin hari Sabtu. Di Rumah Pelangi. Jam 9 pagi, pas jam dongeng anak-anak.
Nggak diwangiin, sesuai permintaan.
Dan tolong bilangin juga: jangan sakit gigi. Jangan survei ke Bekasi. Jangan sembunyi di gudang.
— C.
Aku membaca pesan itu sampai layar ponselku mati sendiri.
Di luar, hujan mulai reda. Lampu-lampu jalan berhenti meleleh dan kembali jadi bulatan kuning yang jelas. Di ujung deretan ruko, lampu kecil di lantai atas Rumah Pelangi menyala seperti biasa, menyala untuk anak-anak yang membaca komik sambil menunggu giliran ronda.
Aku mengambil pensil lagi. Aku membuka halaman halte itu, dan akhirnya menggambar matanya.
Di pojok halaman, aku menulis:
Dia menatapku. Tiga detik. Aku tidak lari.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan reading
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi