Chapter Three
Mas Kebetulan
POV: Bumi
“Duduk.”
Jovan menunjuk kursi di depan mejanya dengan pulpen, seperti kepala sekolah yang baru menangkap murid merokok di toilet.
“Aku lagi kerja, Jo.”
“Duduk, Bumi Wiranata.”
Kalau Jovan sudah memakai nama lengkapku, berarti urusannya serius, atau setidaknya serius menurut ukuran Jovan. Ukuran Jovan itu luas. Kemarin dia memakai nama lengkapku untuk menegur karena aku menghabiskan kerupuk kulit miliknya.
Aku duduk.
Jovan membuka laci paling bawah mejanya, laci yang selama ini kukira berisi kabel-kabel rusak, dan mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul batik cokelat. Dia meletakkannya di meja dengan gerakan lambat dan penuh hormat, seperti pengacara menyerahkan barang bukti di persidangan.
Di sampulnya, dengan huruf kapital spidol hitam:
BUKU KEBETULAN BUMI — JILID 3
Aku menatap buku itu. Lalu menatap Jovan.
“Jilid tiga,” kataku.
“Jilid satu dan dua ada di rumah. Disimpan di kotak sepatu. Dikasih kapur barus.”
“Jo.”
“Diam. Dengarkan.” Dia membuka buku itu ke halaman yang ditandai dengan bungkus permen. Dia berdeham. “Entri nomor empat puluh tujuh. Tanggal dua belas Februari. Hujan deras. Genteng Rumah Pelangi bocor di atas ruang baca anak. Esok paginya, ada terpal biru terpasang rapi di atas genteng, diikat dengan simpul tukang kayu. Tidak ada yang tahu siapa yang memasang. Pelaku diketahui pulang jam dua pagi dengan baju basah kuyup dan alasan ‘kebetulan lewat’.”
Aku tidak bilang apa-apa.
“Entri nomor lima puluh dua,” lanjut Jovan. “Tanggal sembilan April. Satpam Rumah Pelangi sakit, gerbang tidak terkunci semalaman. Pelaku duduk di Kijang yang diparkir di depan gerbang sampai jam lima pagi. Alasan: ‘kebetulan lewat, terus ngantuk’.”
“Aku memang ngantuk.”
“Entri nomor lima puluh delapan.” Jovan membalik halaman dengan jari yang dijilat dulu, sesuatu yang membuatku ingin membakar buku itu. “Juli. Pak Udin dapat kiriman sepatu baru tanpa nama pengirim, ukurannya pas, persis seminggu setelah Mbak Celine bilang ke Pak Udin di depan kafe, dan aku kutip, ‘sepatu Bapak udah mangap kayak buaya’.”
“Itu karena sepatu Pak Udin memang...”
“Dan entri nomor enam puluh satu.” Jovan mengangkat satu jari. “Kemarin malam. Jalan belakang dekat pohon trembesi. Ban bocor. Gaun biru. Sepatu hak dipegang kayak pisau.” Dia menutup buku itu perlahan. “Kebetulan lewat.”
“Dari mana kamu tahu soal sepatu hak?”
“Kamu ngomong sendiri tadi pagi waktu ngelamun sambil ngaduk teh. Kamu bilang, dan aku kutip lagi, ‘dia megang sepatunya kayak mau nyerang’. Terus kamu senyum. Sendiri. Ke gelas teh.” Jovan bergidik. “Itu adegan paling menakutkan yang aku lihat tahun ini, dan aku pernah lihat tagihan listrik studio ini.”
Aku bersandar ke kursi, memandang ke langit-langit. Ada noda air berbentuk pulau Sulawesi di sana yang belum diperbaiki pemilik ruko.
“Kamu bikin catatan tentang aku,” kataku. “Tiga jilid.”
“Seseorang harus.” Jovan menyelipkan buku itu kembali ke laci. “Kalau suatu hari kamu meninggal karena kebanyakan nolong orang diam-diam, aku butuh bahan buat pidato pemakaman. Rencananya mau aku kasih judul ‘Kebetulan Terakhir’.”
“Aku nggak akan mati karena nolong orang.”
“Kamu hampir mati waktu masang terpal itu. Gentengnya licin, Bum. Kamu jatuh ke talang air.”
“Talangnya kuat.”
“Itu bukan poinnya!” Jovan mengusap wajah dengan kedua tangan. “Poinnya, kamu udah nolongin dia, entah berapa puluh kali, dan dia nggak tahu sama sekali. Dan semalam, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, dia akhirnya lihat mukamu. Terus kamu ngapain?”
“Ganti ban.”
“Terus?”
“Pulang.”
“TERUS?”
“Tidur. Kurang lebih.”
Jovan menatapku dengan ekspresi orang yang menonton anjingnya makan sandal untuk ketiga kalinya dalam seminggu.
“Kamu nggak kasih nama.”
“Dia nggak butuh namaku.”
“Kamu nggak minta nomor.”
“Buat apa?”
“Buat...” Jovan mengangkat kedua tangannya ke udara. “Buat apa? Buat kalau dia ban bocor lagi! Buat kalau dia butuh tangga yang nggak curam! Buat hidup, Bumi!”
Aku berdiri, kembali ke mejaku, dan duduk menghadap jendela. Di bawah, Pak Udin sedang merapikan barisan motor dengan peluit di mulut, memakai sepatu kets hitam yang masih kelihatan baru.
“Jo,” kataku tanpa menoleh. “Dia ketawa semalam.”
Jovan diam.
“Di pinggir jalan gelap, ban bocor, nyeker, gaunnya kotor, dan dia masih bisa ketawa. Gara-gara keripik pisang.” Aku mengambil pensil. “Aku cuma mau dia terus bisa begitu. Itu aja.”
Lama sekali, yang terdengar hanya suara AC tua studio yang berdengung seperti lebah ngantuk.
Lalu Jovan berkata, sangat pelan, nyaris lembut, “Kamu bego banget, Bum.”
“Aku tahu.”
“Dan aku sayang kamu sebagai saudara, makanya aku bakal ngelakuin sesuatu yang kamu nggak akan suka.”
Aku menoleh. “Jo, jangan.”
Tapi Jovan sudah tersenyum. Itu senyum yang sama seperti waktu dia mendaftarkan namaku di lomba karaoke kantor kontraktor tanpa izin.
Rencananya sederhana, dan aku jatuh ke dalamnya seperti orang buta jatuh ke selokan.
Kamis pagi, Jovan bilang Pak Harso, klien renovasi rumah di Pondok Labu, ingin bertemu “sebentar saja” di Kopi Sudut jam tujuh pagi, sebelum beliau berangkat ke kantor. Membahas warna kusen, katanya. Lima belas menit.
Pak Harso memang klien yang suka bertemu mendadak. Pak Harso juga memang suka membahas warna kusen. Aku tidak curiga.
Aku turun jam tujuh kurang lima, memesan teh manis, dan duduk di meja dekat tembok, yang paling jauh dari kaca depan. Aku membuka map berisi contoh warna kusen. Aku menunggu.
Jam tujuh lewat lima, ponselku bergetar. Pesan dari Jovan.
Jovan: Pak Harso cancel, katanya ban mobilnya bocor 🙏
Jovan: Kebetulan.
Jovan: 😇
Aku menatap pesan itu. Lalu menatap jam di dinding kafe.
Jam tujuh lewat delapan.
Aku membereskan map secepat yang bisa dilakukan manusia normal tanpa terlihat seperti buronan. Aku berdiri. Aku melangkah ke arah pintu...
...dan lewat kaca depan, aku melihat hatchback putih masuk ke parkiran.
Jam tujuh lewat sepuluh.
Pak Udin meniup peluitnya. Aku bersumpah peluit itu terdengar lebih keras dari biasanya, seperti terompet di film perang.
Aku berbalik dan duduk lagi. Tidak ada jalan keluar lain. Pintu belakang Kopi Sudut menuju dapur, dan aku tidak bisa menerobos dapur orang di pagi hari tanpa terlihat seperti maling sambal. Aku menunduk ke map warna kusen dan berharap, untuk pertama kalinya dalam hidupku, bahwa aku bisa berubah jadi tembok.
Pintu kafe berbunyi kling.
Aku tidak mengangkat kepala, tapi aku tahu itu dia. Aku tahu dari cara udara di kafe berubah sedikit. Dari cara Mas Dodi, barista yang biasanya cemberut sampai jam sembilan, tiba-tiba bilang “Pagi, Mbak Celine!” dengan nada seperti anak paduan suara.
“Pagi, Mas Dodi. Yang biasa, ya. Dua.”
Suaranya. Aku belum pernah mendengar suaranya dari jarak sedekat ini dalam terang. Semalam terlalu gelap, terlalu banyak jangkrik, dan terlalu banyak darah berdesir di telingaku. Pagi ini suaranya jernih, sedikit serak karena baru bangun, dan ujung kalimatnya naik sedikit seperti selalu ada tawa yang menunggu.
Aku membalik halaman contoh warna. Cokelat walnut. Cokelat jati. Cokelat jati muda. Kenapa ada begitu banyak warna cokelat di dunia ini?
“Lho.”
Aku membeku.
“Mas?”
Langkah kaki mendekat. Sepatu flat, bukan hak. Aku melihat ujungnya berhenti di samping kaki mejaku.
Aku mengangkat kepala.
Celine Florentina berdiri di depanku, memegang tas di satu tangan dan ponsel di tangan lain, dengan mata membulat dan mulut sedikit terbuka. Dari jarak sedekat ini, dalam cahaya pagi yang masuk miring dari kaca depan, dia bahkan lebih... aku tidak punya kata. Aku arsitek. Aku tahu bahasa garis, sudut, dan proporsi. Tapi tidak ada satu pun istilah di kepalaku yang cukup untuk menjelaskan bagaimana cahaya jatuh di pipinya dan berhenti tepat di lekuk lesung yang belum muncul.
“Mas yang semalam,” katanya. “Yang ganti ban. Iya, kan?”
Aku membuka mulut. Yang keluar cuma: “Pagi.”
Dia tertawa. Lesungnya muncul.
Aku langsung memalingkan muka ke map, ke contoh warna cokelat jati muda.
“Ya ampun, ternyata Mas di sini!” Dia menarik kursi di depanku tanpa bertanya, dan duduk seperti kami sudah kenal sepuluh tahun. “Aku cariin, lho. Aku sampai nanya Pak Udin, ‘Pak, kenal nggak cowok tinggi yang tangannya ada tinta, mobilnya hijau tua?’ Terus Pak Udin pura-pura nggak tahu, tapi matanya ke mana-mana.”
Di luar, lewat kaca, Pak Udin sedang meniup peluit ke arah yang tidak ada motornya sama sekali.
“Mas kerja di sekitar sini?” tanyanya.
“Kurang lebih.”
“Kurang lebih lagi.” Dia menyipitkan mata, pura-pura curiga. “Mas tuh hobinya jawab ‘kurang lebih’, ya?”
“Kurang...” Aku berhenti.
Dia tertawa lagi. Kali ini lebih keras, sampai Mas Dodi di balik meja bar ikut tersenyum, dan seorang bapak di meja sebelah menurunkan korannya untuk melihat siapa yang tertawa begitu.
Dadaku terasa seperti ada orang yang memasang terpal di dalamnya, terpal yang terlalu kecil untuk hujan yang terlalu deras.
“Oke, aku nggak mau ganggu lama,” katanya. “Aku cuma mau bilang makasih dengan benar, karena semalam Mas kabur. Dan aku mau traktir Mas kopi. Atau sarapan. Atau apa pun. Mas pesan apa?”
“Saya sudah pesan.”
“Teh manis?” Dia melihat gelasku. “Mas nggak minum kopi?”
“Nggak.”
“Oke, teh manis. Aku bayarin, ya. Sama roti. Mas Dodi, roti...”
“Nggak usah.”
Kalimat itu keluar dari mulutku lebih keras dari yang aku maksud. Dia berhenti. Mas Dodi juga berhenti, dengan tangan di atas mesin kopi.
Aku menarik napas. “Maaf. Maksud saya, nggak usah. Saya sudah bayar.”
“Ya udah, aku bayarin besok.”
“Nggak perlu.”
“Lusa.”
“Mbak...”
“Celine,” katanya. “Namaku Celine.”
Aku tahu. Aku sudah tahu sejak empat tahun lalu. Aku tahu nama lengkapnya, tanggal lahirnya karena fotonya pernah muncul di portal berita dengan judul “Putri Florentina Rayakan Ultah ke-25 dengan Membacakan Dongeng di Panti”, dan aku tahu dia lebih suka gula aren daripada gula pasir, karena dia selalu mengingatkan Mas Dodi soal itu.
Tapi aku tidak pernah mendengar dia mengucapkan namanya sendiri ke arahku. Itu berbeda. Rasanya seperti seseorang mengetuk pintu rumah yang selama ini kupandangi dari seberang jalan.
“Mas?”
“Bumi,” kataku.
“Bumi.” Dia mengulang namaku pelan, seperti sedang mencicipinya. “Bumi. Bagus. Kayak... kayak tempat orang berdiri.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Mbak Celine, kopinya!” seru Mas Dodi.
Dia menoleh ke meja bar, lalu kembali padaku. “Sebentar, ya, Mas Bumi. Jangan kabur!”
Dia berdiri dan berjalan ke kasir.
Aku langsung berdiri juga. Aku mendekati kasir dari sisi lain, menyodorkan uang ke Mas Dodi lebih dulu sebelum dia sempat mengeluarkan dompet, dan berkata pelan, “Punya Mbaknya saya yang bayar. Dua-duanya.”
“Lho, Mas...”
“Kembaliannya ambil saja.”
Lalu aku melakukan hal paling memalukan yang pernah aku lakukan sejak umur sembilan tahun: aku kabur.
Bukan lewat tangga ke studio, karena dia akan tahu aku di atas. Aku keluar lewat pintu depan, belok kiri, berjalan cepat menyusuri trotoar, belok kanan di gang sebelah apotek, dan terus berjalan sampai aku tiba di warung lontong sayur di belakang pasar, dua ratus meter dari studioku. Di sana aku duduk, memesan lontong yang tidak kuinginkan, dan memandangi kuahnya sambil menunggu jantungku turun dari langit-langit.
Ponselku bergetar.
Jovan: Dia nyariin kamu di trotoar. Tolah-toleh kayak anak ilang 🥲
Jovan: Terus dia ngasih kopi ke Pak Udin dan bilang, aku kutip: “Pak, kalau ketemu Mas Bumi, bilangin AKU BELUM SELESAI.”
Jovan: HURUF KAPITAL, Bum. Dia ngomong pakai huruf kapital.
Jovan: Btw kamu di mana
Bumi: Lontong sayur.
Jovan: ...
Jovan: Dia nawarin kopi, bukan saham!
Jovan: BUKAN SAHAM, BUMI!!!
Aku mematikan layar ponsel. Lontong sayur di depanku sudah dingin.
Malamnya Jovan ikut ke rumahku. Katanya untuk mengembalikan bor milikku, padahal sebenarnya untuk memarahiku dalam suasana yang lebih privat.
Rumahku kecil. Satu lantai, dua kamar, dengan ruang tengah yang lebih banyak berisi rak buku dan meja gambar daripada sofa. Aku membangunnya sendiri selama tiga tahun, sedikit demi sedikit, setiap kali ada uang lebih dari proyek. Dindingnya bata ekspos karena aku tidak sanggup membayar plester. Dari luar kelihatannya seperti pilihan desain, padahal sebenarnya pilihan dompet.
Jovan berdiri di ruang tengah dengan bor di tangan, memandangi satu sudut di dekat jendela besar yang menghadap halaman belakang.
Di sana ada kursi baca berbantalan lebar, warnanya hijau sage. Ada lampu baca kuningan berleher panjang. Ada rak kecil setinggi lutut berisi buku-buku anak bergambar, buku yang tidak pernah aku baca, karena aku tidak punya anak dan tidak punya keponakan. Ada meja samping mungil dari kayu jati, dengan tatakan gelas berbentuk awan.
Sudut itu bersih, terawat, sempurna, dan tidak pernah diduduki siapa pun.
“Bum,” kata Jovan pelan.
“Taruh bornya di meja aja.”
“Empat tahun aku main ke rumahmu,” kata Jovan, tidak bergerak. “Dan kamu nggak pernah duduk di kursi itu. Sekali pun.”
“Kursinya buat tamu.”
“Tamu siapa? Tamumu cuma aku, sama tukang galon.”
Aku mengambil bor dari tangannya, menaruhnya di meja, lalu pergi ke dapur untuk merebus air. Aku mendengar Jovan mendesah panjang di ruang tengah. Desahan itu terdengar seperti sudah dia tahan selama empat tahun.
Air mendidih. Aku menuang teh. Aku memasukkan gula dua sendok, lalu berdiri lama di dapur, menatap uap yang naik dari gelas.
Pagi tadi, dia mengucapkan namaku. Bumi. Kayak tempat orang berdiri.
Aku tidak pernah memikirkan namaku seperti itu. Kata Eyang, nama itu pilihan Ibu, karena Ibu bilang aku lahir di hari hujan pertama setelah kemarau panjang, ketika tanah akhirnya basah dan wangi. Aku tidak ingat wajah Ibu dengan jelas. Tapi aku ingat Eyang selalu mengucapkan namaku seperti sedang mengucapkan sesuatu yang dia jaga.
Dan pagi tadi, perempuan yang empat tahun kugambar dari jendela mengucapkannya dengan cara yang sama.
Aku membawa dua gelas teh ke ruang tengah. Jovan sudah duduk di sofa, kakinya di atas meja, memandangi kursi hijau sage itu dengan wajah murung.
“Jo,” kataku sambil menyodorkan gelas.
“Hm.”
“Makasih.”
Dia menoleh, curiga. “Buat apa?”
“Buat Pak Harso palsu.”
Jovan menatapku lama. Lalu dia mengambil gelas teh, menyeruputnya, dan langsung meringis. “Ini manis banget, Bum. Ini bukan teh. Ini sirup diabetes.”
“Itu cara Eyang bikin.”
Jovan tidak protes lagi. Dia menghabiskan teh itu sampai tetes terakhir, meringis di setiap tegukan, tapi tidak berhenti.
Itu cara Jovan bilang dia mengerti, meskipun dia tidak mengerti semuanya.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan reading
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi