← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Sixteen

Orang yang Nggak Mau Ditolong

POV: Celine

Dua minggu pertama jadi pacar Mas Kebetulan adalah dua minggu paling bahagia yang pernah kujalani, dan sekaligus dua minggu paling membingungkan.

Bahagia, karena setiap pagi jam tujuh lewat sepuluh dia duduk di meja nomor tiga dengan teh manis dan kopi susu gula aren yang sudah dipesankan. Karena setiap Senin ada roti bakar cokelat keju di piring kecil, dan dia memotongnya jadi empat supaya aku bisa makan pinggirannya dulu. Karena dia mulai mengirim pesan duluan. Pesannya pendek dan kaku, seperti telegram zaman perang, tapi duluan. Sudah sampai kantor? Hujan. Bawa payung. Pak Bos nungguin di trotoar, kayaknya lapar.

Membingungkan, karena dia masih belum tahu harus melakukan apa dengan tangannya kalau aku menggenggamnya di depan umum. Dia membiarkanku menggenggam, tapi tangannya kaku seperti gagang pintu, dan dia terus melirik ke kiri dan kanan seperti takut ada wartawan.

“Mas,” kataku suatu sore, di trotoar depan Rumah Pelangi. “Nggak ada paparazzi.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa tolah-toleh?”

“Kebiasaan.”

“Kebiasaan apa?”

Dia diam sebentar. “Kebiasaan ngecek kamu aman.”

Aku tidak bisa marah pada jawaban seperti itu. Tidak ada yang bisa.


Minggu ketiga, pesannya mulai berkurang.

Pertama, maaf, lagi sibuk. Lalu survei Cilincing, sinyal jelek. Lalu, hari Kamis, dia tidak datang ke meja nomor tiga.

Aku menunggu jam tujuh lewat sepuluh, jam tujuh lewat lima belas, jam tujuh lewat dua puluh. Kursi yang kakinya diganjal itu kosong. Teh manis tidak dipesan.

Celine: Mas? Nggak turun?
Bumi 🌏: Maaf. Deadline gambar kerja Cilincing besok. Aku lembur. Ketiduran di studio.
Celine: Udah makan?
Bumi 🌏: Sudah.
Celine: Makan apa?
Bumi 🌏: Roti.

Aku memandangi kata roti itu. Aku teringat kata Jovan dulu: Mas cuma makan roti tawar sobek dua lembar. Tadi pagi. Tanpa selai.

Celine: Aku naik, ya. Bawain bubur.
Bumi 🌏: Jangan.
Bumi 🌏: Maksudku, nggak usah. Aku lagi fokus. Nanti sore aja kita ketemu.

Sorenya dia tidak muncul. Malamnya dia mengirim pesan: Maaf, masih belum selesai. Besok, ya.

Jumat pagi, kursinya kosong lagi.

Aku memandangi jendela lantai dua dari meja nomor tiga. Tirainya tertutup. Selama empat tahun, sejauh yang kuingat, tirai itu tidak pernah tertutup di pagi hari.

“Pak Udin,” kataku sambil menyerahkan es kopi. “Mas Bumi turun nggak kemarin?”

Pak Udin menerima gelas itu dan tidak langsung menyedotnya. Dia memandangi gelas itu lama.

“Nggak, Mbak,” katanya. “Dari Selasa nggak turun.”

“Selasa? Ini Jumat, Pak.”

“Saya anter teh manis ke atas tiap pagi.” Pak Udin meletakkan es kopinya di bangku. “Selasa dia ambil di pintu. Rabu dia ambil di pintu, mukanya pucat. Kamis dia nggak buka pintu, bilang ‘taruh aja, Pak’. Tadi pagi...” Pak Udin berhenti. “Tadi pagi teh kemarin masih di depan pintu. Nggak diambil.”

Darahku dingin.


Aku menelepon Jovan. Jovan mengangkat di dering pertama, seolah sudah memegang ponselnya sejak lama dan menunggu.

“Mbak Celine.” Suaranya tidak seperti biasa. Tidak ada lelucon, tidak ada kerupuk kulit. “Saya mau nelepon Mbak dari kemarin. Tapi dia larang. Dia bilang kalau saya bilang ke Mbak, dia bakal...” Jovan berhenti. “Udahlah. Saya nggak peduli lagi dia mau ngapain saya.”

“Mas Jovan, dia kenapa?”

“Demam. Dari Senin malam. Tinggi. Kemarin saya ukur, tiga sembilan koma dua.” Jovan menghela napas. “Saya suruh ke dokter, nggak mau. Katanya cuma kecapekan habis survei di Cilincing. Dia kehujanan tiga hari berturut-turut di sana, Mbak. Makan sembarangan di warung pinggir laut. Tidur dua jam semalam selama dua minggu.”

“Kenapa dia nggak...”

“Karena gambar kerjanya harus masuk hari Senin. Dan dia bilang, aku kutip, ‘Kalau telat, peletakan batu pertama mundur, dan Celine udah janji ke anak-anak Cilincing kalau perpustakaannya mulai dibangun sebelum musim hujan.’”

Aku duduk di bangku Pak Udin karena lututku tiba-tiba hilang.

“Dan dia nggak mau Mbak tahu,” lanjut Jovan pelan, “karena katanya, aku kutip lagi, ‘Dia baru selesai ngurus mamanya di rumah sakit. Jangan bikin dia repot lagi.’”

Jangan bikin dia repot lagi.

“Dia di mana sekarang, Mas?”

“Studio. Dia tidur di sofa dari Selasa. Nggak pulang. Katanya biar dekat sama gambarnya.” Jovan diam sebentar. “Saya lagi di Cilincing sekarang, gantiin dia ketemu kontraktor. Baru bisa balik malam. Mbak...”

“Aku naik sekarang.”

“Kuncinya di bawah keset.”


Pintu studio tidak dikunci. Kunci di bawah keset ternyata tidak dibutuhkan.

Ruangan itu gelap. Tirainya tertutup, semua lampu mati kecuali lampu meja berleher panjang yang menyorot ke tumpukan kertas gambar. Udaranya pengap dan panas. AC tua yang biasanya berdengung seperti lebah ngantuk sekarang diam.

Di meja gambar dekat jendela, tumpukan gambar kerja tersusun rapi. Puluhan lembar. Denah, potongan, detail tangga, detail jendela rendah, detail sudut perahu. Semuanya selesai. Semuanya diberi stempel WIRANATA ATELIER dan ditandatangani.

Dia menyelesaikannya. Dalam keadaan demam tiga sembilan, dia menyelesaikan semuanya.

Di sofa panjang di pojok ruangan, sofa yang biasanya dipakai Jovan untuk meletakkan helm, ada sesuatu yang meringkuk di bawah selimut tipis bermotif kotak-kotak.

Aku mendekat.

Dia tidur dalam posisi meringkuk, lututnya ditarik ke dada, seperti anak kecil. Wajahnya pucat, tapi pipinya merah tidak sehat. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Rambutnya lepek karena keringat. Dia menggigil walaupun ruangan itu panas, dan selimut tipis itu jelas tidak cukup.

Aku berlutut di samping sofa dan menyentuh keningnya.

Panas. Panas sekali, seperti menyentuh gelas teh yang baru diseduh.

“Mas,” bisikku.

Matanya terbuka sedikit. Tidak fokus. Dia memandangiku lama, seperti tidak yakin aku nyata.

“Celine?” Suaranya serak dan pelan. “Kamu ngapain di sini?”

“Kebetulan lewat,” kataku.

Dia mengerjap. Lalu, walaupun sakit, walaupun menggigil, sudut bibirnya bergerak sedikit.

“Itu kalimatku,” gumamnya.

“Sekarang punyaku juga.”

Dia mencoba duduk. Aku menahan bahunya, pelan tapi tegas.

“Jangan bangun.”

“Aku nggak apa-apa. Cuma capek...”

“Mas Bumi.” Aku memandangnya. “Mas bohong. Demam Mas tiga sembilan. Mas nggak makan. Mas nggak pulang empat hari. Teh Pak Udin nggak Mas ambil.”

Dia memalingkan muka ke sandaran sofa. “Jovan.”

“Bukan cuma Jovan. Pak Udin juga. Seluruh deretan ruko ini kayaknya udah tahu, kecuali aku. Lagi.” Suaraku bergetar. Aku menahannya. “Kenapa Mas nggak bilang?”

“Kamu baru ngurus mamamu,” katanya ke sandaran sofa. “Kamu capek. Aku nggak mau nambahin.”

“Mas bukan tambahan.”

Dia tidak menjawab.


Aku mengambil keputusan dalam tiga detik.

Klinik dua puluh empat jam terdekat ada di belakang pasar, kurang dari satu kilometer. Klinik biasa, dengan bangku plastik di ruang tunggu dan kipas angin di langit-langit. Aku tahu kalau aku membawanya ke rumah sakit swasta tempat Mama dirawat, dia akan memaksa bangun dan menolak, karena dia tidak akan mau aku membayar apa pun. Jadi aku tidak menawarkan itu.

“Kita ke klinik,” kataku. “Yang di belakang pasar. Pakai BPJS Mas.”

Dia memandangiku. Matanya yang tidak fokus itu pelan-pelan mengerti.

“Kamu tahu aku bakal nolak rumah sakit mahal,” gumamnya.

“Aku tahu.”

“Dari mana?”

“Dari rantang seng motif bunga dua puluh lima ribu.”

Dia memejamkan mata. Lalu dia tertawa, sangat pelan, lebih seperti napas yang keluar dari hidung. “Oke,” katanya. “Klinik.”

Aku membantunya duduk. Dia berat. Badannya panas dan basah oleh keringat, dan dia goyah begitu berdiri. Aku melingkarkan lengannya di bahuku dan memeluk pinggangnya, menahannya supaya tidak jatuh. Dia lebih tinggi dariku satu kepala, dan aku harus menegakkan punggung dan mengunci lutut supaya tidak ikut roboh.

“Kamu kuat,” gumamnya di dekat telingaku.

“Aku angkat kardus buku tiap minggu, Mas.”

Kami menuruni tangga sempit itu pelan-pelan, satu anak tangga satu kali. Di anak tangga terakhir, Pak Udin sudah menunggu dengan wajah pucat. Tanpa bicara, dia mengambil lengan Mas Bumi yang satu lagi dan ikut memapah sampai ke mobilku.


Tipes.

Dokter klinik, laki-laki muda berkacamata dengan jas putih yang kebesaran, membaca hasil tes darah dan menggeleng. “Mas ini kok baru datang sekarang? Ini sudah hari kelima, lho. Untung belum komplikasi.” Dia menulis resep. “Tirah baring minimal seminggu. Makan yang lunak. Bubur, sup. Jangan pedas, jangan berminyak. Minum obatnya teratur, antibiotiknya harus habis. Jangan kerja dulu.”

“Saya ada deadline, Dok...”

“Gambarnya udah selesai, Mas,” kataku. “Aku lihat di meja. Semuanya udah distempel.”

Dia menoleh padaku, terkejut.

“Mas pikir aku nggak lihat?” Aku menggenggam tangannya yang panas. “Aku lihat semuanya. Tangga anak-anak. Jendela rendah. Sudut perahu. Mas nyelesaiin semua itu sambil demam tiga sembilan.”

Dokter muda itu memandang kami bergantian, lalu menunduk ke resepnya dengan senyum kecil.

Di jalan pulang, dia setengah tertidur di kursi penumpang. Lalu dia membuka mata sedikit.

“Celine.”

“Hm?”

“Jangan antar ke rumahku.”

Aku menoleh. “Kenapa?”

Diam lama. Lampu-lampu jalan lewat di wajahnya, kuning, gelap, kuning, gelap.

“Rumahku...” katanya akhirnya. Pelan. “Belum siap kamu lihat.”

Aku tidak mengerti. Rumah yang berantakan? Rumah yang kecil? Dia sudah bilang soal bata ekspos dan tidak diplester. Aku tidak peduli soal itu.

Tapi cara dia mengucapkannya bukan seperti orang yang malu. Lebih seperti orang yang menyimpan sesuatu. Seperti di jendela ini. Seperti ada satu cerita lagi.

“Oke,” kataku. “Studio aja. Aku temenin sampai Mas Jovan balik.”


Aku menyelimutinya di sofa studio.

Selimut kotak-kotak tipis itu tidak cukup. Dia masih menggigil. Aku mencari-cari di studio, di rak, di lemari kecil, di gudang satu kali satu setengah meter tempat dia pernah bersembunyi dengan sapu.

Lalu aku melihatnya. Tergantung di balik pintu, di gantungan kayu. Jaket abu-abu itu. Jaket yang dia pinjamkan di halte, yang dia sampirkan di bahuku di rumah sakit, yang dia letakkan di depanku di meja nomor tiga dengan kalimat ini buat kamu, kalau hujan. Jaket itu kukembalikan padanya minggu lalu, dengan janji dia akan memakainya sendiri. Ternyata tidak pernah dipakai. Cuma digantung di sana.

Aku mengambilnya.

Aku kembali ke sofa dan menyelimutkan jaket itu di atas selimut kotak-kotak, di bahu dan dadanya. Pelan sekali, seperti yang Mama ceritakan dia lakukan padaku di rumah sakit. Seperti takut jaketnya terlalu berat.

Dia membuka mata sedikit. Melihat jaket itu.

“Itu...” gumamnya.

“Iya. Jaket Mas. Dipakai sama yang punya, sekarang.”

Dia memandangiku lama, dengan mata merah karena demam. Lalu tangannya keluar dari bawah selimut, panas dan sedikit gemetar, dan mencari tanganku. Menemukannya. Menggenggamnya.

Bukan seperti gagang pintu kali ini. Dia menggenggam seperti orang yang tenggelam menggenggam tepi perahu.

“Wangi kayu?” tanyaku pelan.

“Wangi kamu,” gumamnya, matanya sudah setengah tertutup lagi. “Dari kemarin-kemarin. Sejak kamu kembaliin. Aku nggak mau pakai. Takut wanginya hilang.”

Aku tidak bisa bicara.

Dia tertidur dengan tangan masih menggenggam tanganku.


Aku menemaninya sepanjang malam.

Jovan pulang jam sepuluh dan menemukanku duduk di lantai di samping sofa, punggung bersandar ke sandaran, tangan kanan masih digenggam, tangan kiri memegang ponsel yang membaca artikel tentang tipes dan makanan yang boleh dimakan. Dia berdiri di ambang pintu lama, lalu meletakkan dua bungkus bubur ayam dan satu termos teh manis di meja.

“Pak Udin yang bikin,” katanya pelan. “Tehnya. Dia masih di bawah. Nggak mau pulang.”

Aku melihat ke luar jendela. Di trotoar gelap, di samping pos, Pak Udin duduk di bangku kecilnya dengan topi di pangkuan, memandang ke atas.

Aku melambai. Dia melambai balik. Lalu, setelah beberapa saat, dia berdiri, memakai topinya, dan berjalan pulang.

Jovan pulang jam dua belas, setelah aku berjanji akan meneleponnya kalau ada apa-apa. Di ambang pintu, dia berbalik.

“Mbak Celine.”

“Ya?”

“Sepuluh tahun saya kenal dia.” Suaranya pelan. “Ini pertama kalinya saya lihat ada orang yang nemenin dia waktu sakit.”

Pintu tertutup sebelum aku sempat menjawab.


Demamnya turun jam empat pagi.

Aku tahu karena aku terbangun dari tidur ayam di lantai, kepala bersandar di tepi sofa. Tangannya, yang masih menggenggam tanganku, tidak lagi panas seperti gelas teh baru diseduh. Hangat saja, hangat yang normal. Keringat dingin membasahi keningnya, dan napasnya, yang tadi malam berat dan cepat, sekarang pelan dan teratur.

Aku mengambil handuk kecil dan mengelap keningnya. Pelan-pelan.

Matanya terbuka.

Kali ini fokus. Jernih. Dia memandangiku dalam cahaya lampu meja yang redup, aku dengan rambut berantakan, mata sembap karena kurang tidur, kaus kusut, di lantai studionya jam empat pagi.

“Kamu masih di sini,” bisiknya.

“Masih.”

“Dari tadi?”

“Dari tadi.”

Dia memandangiku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat. Bukan kaget, bukan malu. Dia kelihatan seperti orang yang terbangun di tempat yang tidak dia kenal, dan pelan-pelan menyadari tempat itu ternyata aman.

“Kenapa?” tanyanya.

“Kenapa apa?”

“Kenapa kamu nggak pulang?”

Aku meletakkan handuk itu. Aku menatapnya, wajah pucat yang mulai berwarna lagi, rambut lepek, bibir pecah-pecah, mata yang memandangiku seperti aku adalah sesuatu yang dia tidak mengerti.

“Karena Mas sakit,” kataku sederhana. “Dan Mas nggak boleh sakit sendirian lagi.”

Dia tidak bergerak. Napasnya tertahan.

Lalu aku melakukan sesuatu yang sudah ingin kulakukan sejak di depan gerbang rumahku dua minggu lalu. Sejak meja nomor tiga. Sejak halte.

Aku mencondongkan badan, dan mencium bibirnya.

Pelan. Sebentar. Sangat ringan, hampir cuma menyentuh. Bibirnya kering dan hangat, sedikit rasa obat dan teh manis Pak Udin.

Ketika aku menarik diri, dia memandangiku dengan mata membulat. Seluruh wajahnya, yang tadinya pucat, sekarang merah sampai ke telinga dan leher.

“Itu,” kataku, pipiku sendiri panas, “hukuman. Karena bohong soal sibuk.”

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma memandangiku, napasnya tidak teratur.

“Dan karena nggak ngambil teh Pak Udin. Pak Udin sedih, tahu.”

Masih diam.

“Mas?”

“Kamu...” Suaranya serak. “Kamu nggak takut ketularan?”

Aku tertawa. Aku tertawa sampai harus menutup mulut supaya tidak terlalu keras di studio yang sunyi jam empat pagi. “Tipes nggak nular lewat ciuman, Mas. Aku udah baca. Tiga artikel.”

Dia memandangiku tertawa. Dan pelan-pelan, sudut bibirnya naik. Lalu naik lagi. Lalu dia tersenyum, senyum yang lebar, yang sungguhan, dengan kerutan kecil di sudut mata. Senyum orang demam di sofa butut dengan jaket abu-abu di dada, jam empat pagi.

“Kalau gitu,” katanya pelan, “aku boleh bohong lagi?”

“Mas Bumi!”

Dia tertawa. Pelan, serak, lemah. Tapi dia tertawa, dan tangannya menggenggam tanganku lebih erat.

Di luar, langit mulai berubah dari hitam menjadi biru tua. Di ujung jalan, lampu kecil di lantai atas Rumah Pelangi masih menyala.

Malam ini, untuk pertama kalinya, ada orang lain yang menjaganya, dan dia tidak sendirian.