Chapter Twenty Three
Halaman Pertama
POV: Celine
Selotip itu terkelupas dengan bunyi yang sangat kecil.
Bunyinya krrrt pelan, seperti kertas tua yang dibangunkan setelah tidur lama. Lem di bawahnya sudah kering dan rapuh. Sebagian menempel di jari Mas Bumi, sebagian tertinggal di kertas sebagai garis kekuningan.
Tangannya gemetar. Aku melihatnya. Tangan yang bisa menggambar tangga anak-anak dengan presisi milimeter, yang bisa memahat paus dari sepotong kayu sisa, yang bisa mengganti ban dalam gelap, sekarang gemetar seperti tangan orang tua.
Dia tidak langsung membuka lipatannya. Dia cuma memegang tepinya, lama, dengan mata terpejam.
“Mas,” bisikku. “Kalau belum siap...”
“Aku nggak akan pernah siap,” katanya pelan, mata masih terpejam. “Lima tahun aku nggak siap. Kalau nunggu siap, aku nggak akan buka.”
Dia membuka matanya.
Lalu dia membuka lipatan itu.
Kertasnya lebih tua dari semua halaman lain. Warnanya krem kekuningan, dan pinggirnya sedikit robek di satu sudut. Garis lipatan di tengahnya dalam dan tajam, seperti lipatan yang sudah lima tahun tidak dibuka.
Sketsanya digambar dengan pensil, bukan tinta. Garisnya cepat, kasar di beberapa tempat, terlalu ditekan di tempat lain, seperti digambar oleh seseorang yang sedang terburu-buru mengingat sesuatu sebelum sesuatu itu hilang.
Sebuah warung kecil. Atap seng, tiang kayu, gerobak kaca berisi gorengan, toples-toples kerupuk di rak. Sebuah bangku kayu panjang di depan warung.
Di bangku itu duduk dua orang.
Seorang kakek tua bersarung kotak-kotak dan berpeci, kurus, dengan tangan kasar yang memegang gelas teh. Dia sedang tertawa. Kepalanya sedikit ke belakang, mulutnya terbuka lebar, gigi yang tinggal separuh kelihatan. Matanya menyipit karena tertawa.
Dan di sampingnya, duduk sangat dekat, memegang tangan kakek itu yang tidak memegang gelas, ada seorang perempuan muda.
Rambut panjang, lebih panjang dari sekarang, diikat ekor kuda. Kaus kebesaran dengan tulisan yang terpotong di dada, ...ONDON. Ransel di punggung. Sandal jepit. Dia sedang memandang kakek itu dari samping, tersenyum.
Ada lesung pipit di pipi kirinya.
Di pojok kanan bawah, tulisan tangan yang lebih berantakan dari semua halaman lain di buku itu:
14 Juli.
Eyang ketawa. Pertama kali dalam tiga bulan.
Aku nggak tahu namanya.
Dia pergi sebelum aku sempat bilang makasih.
Aku tidak bergerak.
Aku memandangi sketsa itu, dan sketsa itu memandangiku balik, dan sesuatu di dalam kepalaku bergeser. Rasanya seperti laci tua yang tidak pernah dibuka bertahun-tahun, macet, berkarat, dan tiba-tiba ditarik keluar dengan paksa.
Kaus itu. LONDON. Kaus dari toko suvenir di dekat Covent Garden, yang kubeli di minggu pertama kuliah S2, yang sudah lama kubuang karena warnanya pudar.
Ekor kuda. Aku selalu mengikat rambut ekor kuda waktu kuliah. Waktu itu rambutku panjang sampai pinggang.
Musim panas. Libur semester. Aku pulang ke Jakarta enam minggu.
Hujan.
Ya Tuhan. Hujan.
Lima tahun lalu. Bulan Juli. Hari terakhir libur.
Pesawatku ke London jam sembilan malam. Mama sudah menyiapkan koper, Pak Darto sudah diberi tahu jam lima sore harus menjemput. Tapi aku punya satu misi terakhir: mencari toko buku bekas di dekat Pasar Santa yang katanya punya koleksi buku cerita anak Indonesia tahun tujuh puluhan. Untuk tesisku.
Aku naik ojek. Aku menemukan tokonya. Tutup. Hari Selasa, katanya, pemiliknya ke Bandung.
Lalu hujan turun. Deras dan tiba-tiba, seperti hujan Jakarta di bulan Juli yang tidak tahu musim.
Aku berlari ke warung kecil di pinggir jalan untuk berteduh. Warung dengan atap seng dan bangku kayu panjang dan gerobak kaca berisi gorengan.
Di bangku itu ada seorang kakek.
Dia memakai sarung kotak-kotak dan peci. Kakinya cuma pakai satu sandal. Sandal yang satu lagi entah di mana. Dia memegangi peci di kepalanya dengan dua tangan dan menatap jalanan yang banjir dengan wajah yang membuatku berhenti di tempat.
Wajahnya bingung. Bukan bingung biasa, bukan seperti orang yang lupa naruh kunci. Dia kelihatan seperti orang yang tidak tahu dia ada di mana, tidak tahu bagaimana dia sampai di sana, dan tidak tahu bagaimana pulang.
“Bu,” katanya ke ibu pemilik warung, dengan suara sopan dan gemetar. “Ini Bogor, ya?”
Ibu pemilik warung menghela napas, kesal. “Bukan, Pak. Ini Jakarta. Udah saya bilang tiga kali, Pak.”
“Oh.” Kakek itu mengangguk pelan. “Maaf, Bu. Maaf.” Lalu, beberapa detik kemudian: “Bu, ini Bogor, ya?”
Ibu pemilik warung memutar mata dan kembali menggoreng tempe.
Aku duduk di sebelah kakek itu.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena dia cuma pakai satu sandal. Mungkin karena caranya memegangi peci dengan dua tangan, seperti memegangi satu-satunya benda yang dia yakin miliknya. Mungkin karena suaranya, yang sopan dan gemetar dan minta maaf terus.
“Kek,” kataku. “Kakek mau minum?”
Dia menoleh padaku. Matanya keruh dan berair, tapi lembut.
“Teh manis,” katanya. “Kalau boleh.”
Aku memesan dua teh manis dan sepiring nasi dengan sayur dan tempe. Ibu pemilik warung meletakkan gelas teh di depan kami dan mulai mengaduknya, dan kakek itu tiba-tiba memegang tangannya.
“Jangan diaduk dulu, Bu,” katanya, dengan nada yang tiba-tiba jernih, seperti orang yang mengingat sesuatu yang sangat penting. “Gulanya ditaruh duluan. Tehnya dituang panas-panas. Tunggu gulanya larut sendiri. Baru diaduk. Tiga kali.”
Ibu pemilik warung memandanginya. Aku memandanginya.
“Kenapa tiga kali, Kek?” tanyaku.
Kakek itu tersenyum. Itu senyum pertama yang kulihat di wajahnya.
“Satu buat yang bikin,” katanya. “Satu buat yang minum. Satu buat yang nunggu di rumah.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Di sampingku, Mas Bumi tidak bergerak. Napasnya tertahan.
“Gula duluan,” bisikku. “Tunggu larut sendiri. Aduk tiga kali.”
Dia tidak menjawab.
Resep Eyang. Resep yang diajarkan Mas Bumi ke Pak Udin. Resep yang diajarkan Pak Udin padaku. Resep yang kubuat setiap pagi sekarang, di termos, untuk laki-laki yang duduk di meja nomor tiga.
Aku pertama kali mendengarnya lima tahun lalu, dari mulut seorang kakek bersandal sebelah di warung pinggir jalan saat hujan.
Kami duduk di warung itu dua jam.
Hujan tidak berhenti. Kakek itu makan nasi dengan pelan, sangat pelan, seperti orang yang lupa caranya makan cepat. Aku membantu memotong tempenya. Dia berterima kasih setiap suapan.
Dia bercerita. Ceritanya melompat-lompat, berulang, kadang tidak nyambung. Tapi aku mendengarkan semuanya.
Dia bercerita tentang kayu jati. Kayu jati yang bagus itu yang seratnya rapat, warnanya cokelat madu, wanginya manis kalau diserut. Kayu jati harus dikeringkan pelan-pelan, jangan dijemur langsung, nanti retak. “Kayak orang,” katanya. “Kalau dipaksa cepat-cepat, retak.”
Dia bercerita tentang bengkel kayunya di Bogor. Tentang lemari yang dia buat untuk pejabat, kursi yang dia ukir untuk pengantin. Tentang pahat kesayangannya yang gagangnya sudah melengkung mengikuti tangannya.
Lalu dia bercerita tentang cucunya.
“Cucuku pintar gambar,” katanya, matanya tiba-tiba bersinar. “Pintar banget. Dari kecil. Dia gambar rumah. Rumah-rumahan. Di kertas. Di tembok. Di tanah pakai ranting. Sekarang dia sekolah tinggi. Di Jakarta. Nanti jadi tukang bikin rumah beneran. Rumah gede. Rumah bagus.”
“Arsitek, Kek?”
“Iya, itu. Arsi... arsi...” Dia tertawa. “Susah. Pokoknya tukang bikin rumah.”
“Pasti bangga banget, ya, Kek.”
“Bangga.” Dia mengangguk-angguk. Lalu wajahnya berubah. Bingung lagi. “Dia di mana, ya? Cucuku. Tadi dia di mana?”
Aku memegang tangannya. Tangannya kasar dan dingin.
“Nanti kita cari, Kek. Kakek tahu rumah cucunya?”
Dia menggeleng. Lalu mengangguk. Lalu menggeleng lagi.
Aku bertanya apa dia bawa dompet. Dia tidak tahu. Aku bertanya apa dia ingat nomor telepon. Dia tidak ingat. Lalu, ketika dia mengangkat peci untuk menggaruk kepala, sesuatu jatuh dari dalam peci itu ke pangkuannya.
Selembar kertas kecil, dilipat empat, dilaminasi plastik bening seperti kartu nama.
Di dalamnya, tulisan tangan dengan huruf cetak kecil-kecil, rapi seperti denah:
NAMA: WIRANATA. ALAMAT: Bogor (sedang tinggal sementara di Jakarta Selatan). KALAU BAPAK INI TERSESAT, MOHON HUBUNGI CUCUNYA: BUMI. 0812-XXXX-XXXX. TERIMA KASIH BANYAK.
“Bumi,” bisikku.
Aku tidak sadar aku mengucapkannya keras-keras sampai aku mendengar suaraku sendiri, pecah, di studio yang sunyi.
“Bumi. Kertasnya bilang Bumi.”
Aku menoleh padanya. Dia memandangi sketsa di pangkuanku, bukan aku. Rahangnya mengatup sangat kencang sampai ototnya kelihatan bergerak di bawah kulit.
“Aku telepon nomor itu,” kataku. Ingatanku keluar seperti air dari bendungan yang jebol. “Aku telepon. Yang angkat cowok. Suaranya panik. Napasnya kayak habis lari. Dia bilang...”
“Halo? Halo? Eyang? Ini siapa? Eyang saya di mana?”
Aku menjelaskan. Warung di dekat Pasar Santa. Hujan. Kakek bersarung kotak-kotak. Satu sandal.
Di seberang, hening sebentar. Lalu napas yang bergetar.
“Saya ke sana sekarang. Sekarang. Saya cari Eyang dari tiga jam lalu. Polisi juga lagi cari.” Suaranya pecah. “Mbak, tolong. Tolong jangan tinggalin Eyang saya. Saya mohon. Saya ke sana secepatnya.”
“Saya tunggu, Mas,” kataku. “Saya nggak ke mana-mana.”
Aku menunggu. Satu jam. Hujan membuat Jakarta macet total. Dia bilang di telepon kedua, dia terjebak di Mampang, motornya tidak bisa bergerak, dia akan lari.
Aku menunggu, dan ponselku berdering. Mama. Lin, kamu di mana? Pesawatmu tiga jam lagi. Pak Darto udah di depan rumah. Kamu belum packing ulang.
Aku bilang sebentar lagi, Ma. Sebentar lagi.
Aku menunggu lagi. Kakek itu tertidur sebentar dengan kepala di bahuku. Lalu bangun dan bertanya apa ini Bogor. Lalu bercerita tentang kayu jati lagi.
Aku bercerita padanya tentang mimpiku. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena dia tidak akan ingat. Mungkin karena dia satu-satunya orang yang mau mendengar tanpa menyela. Aku bercerita tentang perpustakaan untuk anak-anak yang tidak punya buku. Tentang ruang baca yang terang, dengan kursi-kursi yang pas untuk kaki anak kecil. Tentang lampu yang selalu menyala di malam hari, supaya anak-anak yang takut gelap tahu ada yang menjaga.
Dia mendengarkan dengan mata bersinar.
“Cucuku bisa bikinin,” katanya, sambil menepuk tanganku. “Rumah buat buku. Nanti aku bilangin dia. Dia pintar. Dia pasti bisa.”
“Makasih, Kek.”
“Kamu anak baik,” katanya. “Cantik. Baik. Nanti aku bilangin cucuku.”
Lalu Pak Darto menelepon. Dia sudah di ujung jalan, menjemputku atas perintah Mama. Pesawatku dua jam lagi. Jalan ke bandara macet. Kalau tidak berangkat sekarang, aku akan ketinggalan.
Aku panik. Aku tidak mau meninggalkan kakek itu sendirian. Aku menoleh ke ibu pemilik warung, memohon, dan dia, dengan wajah yang sedikit melunak setelah dua jam, berkata, “Udah, Mbak, saya yang jagain. Cucunya kan udah mau sampai.”
Dan tepat saat itu, dari ujung jalan, aku melihat seseorang berlari.
Seorang laki-laki tinggi, basah kuyup, kemeja menempel di badan, berlari menembus hujan di trotoar yang banjir. Dia berlari seperti orang yang tidak peduli apa pun lagi di dunia selain satu hal.
Pak Darto membunyikan klakson dari mobil di seberang jalan.
Aku berdiri. Aku memegang tangan kakek itu sekali lagi.
“Kek, cucunya dateng. Itu, lihat. Aku pergi dulu, ya.”
Kakek itu memandangiku, bingung, lalu tersenyum.
“Teh manis,” katanya. “Makasih teh manisnya, Nak.”
Aku berlari ke mobil. Dari jendela mobil yang mulai bergerak, aku menoleh sekali.
Laki-laki basah kuyup itu sudah sampai di warung. Dia berlutut di depan kakek itu, di lantai tanah warung yang becek. Dia memeluknya. Bahunya bergetar.
Aku tidak melihat wajahnya. Aku cuma melihat punggungnya yang basah, dan tangannya, yang memegang bahu kakek itu erat-erat.
Tangannya.
Ada noda gelap di tangannya. Di sisi telapak, di ujung jari.
Waktu itu kupikir itu lumpur.
Aku memandangi tanganku sendiri yang memegang buku sketsa. Lalu aku memandangi tangan di sebelahku. Tangan yang bernoda tinta biru kehitaman di sisi telapak, di ujung jari, di pergelangan. Noda yang tidak pernah bisa hilang.
Itu bukan lumpur.
Lima tahun lalu, di warung di dekat Pasar Santa, di tengah hujan bulan Juli, aku melihat tangan ini. Tangan ini memegang bahu seorang kakek bersarung kotak-kotak, dan aku pergi tanpa melihat wajah pemiliknya.
Lima tahun aku tidak ingat. Hari itu tenggelam di antara ribuan hari lain. Pesawat, London, tesis, wisuda, pulang, Rumah Pelangi, Mochi, Kopi Sudut. Seorang kakek tersesat di warung saat hujan. Satu cerita kecil yang kuceritakan ke Tasya sekali, dua minggu kemudian, lewat video call, lalu kulupakan.
Dia tidak pernah lupa.
Aku mengangkat kepala dan memandangnya.
Dia sudah memandangiku. Sejak tadi, mungkin. Matanya merah dan basah, dan dia tidak berusaha menyembunyikannya. Tangannya yang bernoda tinta terletak di lututnya, gemetar.
“Kakek itu...” bisikku.
Suaraku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Aku tidak perlu. Aku sudah tahu. Aku sudah tahu sejak sarung kotak-kotak di foto dompet batik. Sejak kotak perkakas bertuliskan WIRANATA — BOGOR. Sejak gula duluan, tunggu larut, aduk tiga kali. Sejak cuma ada satu cerita yang nggak pernah Eyang lupa.
Aku cuma tidak tahu bahwa aku tahu.
Dia menarik napas. Napasnya bergetar, panjang, seperti orang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang sangat berat setelah memikulnya terlalu lama.
“Eyangku,” katanya.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama reading
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi