Chapter Eight
Dongeng Hari Sabtu
POV: Celine
Rak itu roboh jam delapan lewat dua puluh, empat puluh menit sebelum dongeng dimulai.
Aku sedang di dapur kecil Rumah Pelangi, menuang sirup jeruk ke tiga puluh gelas plastik, ketika bunyinya terdengar. Pertama ada derit panjang, seperti pintu tua yang dibuka pelan. Lalu ada krak. Lalu ada suara seperti hujan batu, ratusan buku jatuh bersamaan ke lantai kayu.
Lalu ada jeritan Tasya.
Aku berlari ke ruang baca dengan botol sirup masih di tangan.
Rak buku terbesar kami, rak setinggi dua meter yang menempel di dinding timur, berisi semua buku cerita bergambar yang kami kumpulkan selama tiga tahun, sekarang miring ke depan dengan sudut yang tidak masuk akal. Bagian atasnya tertahan di sandaran sofa panjang. Bagian bawahnya sudah lepas dari dinding. Buku-buku berserakan di lantai seperti daun setelah badai: buku paus, buku dinosaurus, buku tentang kancil yang selalu menang, buku tentang anak perempuan yang ingin terbang ke bulan.
Tasya berdiri di pojok dengan kedua tangan menutup mulut.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku.
“Aku nggak apa-apa,” katanya dari balik telapak tangan. “Tapi Lin, aku baru berdiri di situ. Lima detik sebelumnya. Lagi ngambil buku Si Kancil.”
Kami berdua memandangi rak itu, lalu sofa di bawahnya. Sofa tempat anak-anak biasanya duduk berdesakan setiap Sabtu pagi, berebut tempat di depan supaya bisa melihat gambar di buku yang kubacakan.
Seandainya ini terjadi empat puluh menit lagi...
Lututku tiba-tiba terasa lemas. Aku duduk di lantai, di antara buku-buku, dengan botol sirup jeruk di pangkuan.
“Lin.” Tasya berjongkok di sebelahku. “Lin, nggak ada yang kena. Nggak ada yang kena, oke?”
“Aku tahu.”
“Kita tunda aja dongengnya. Aku telepon orang tua...”
“Jangan.” Aku menggeleng. “Ada yang udah jalan dari Kampung Rawa, Sya. Jalan kaki. Satu jam. Bu Wati sama tiga anaknya. Mereka nggak punya ponsel.”
Tasya terdiam. Kami berdua tahu Bu Wati. Kami berdua tahu Nayla, anak bungsunya yang enam tahun, yang belum bisa membaca dan selalu duduk paling belakang dengan wajah ditutupi lengan setiap kali aku bertanya “siapa yang mau baca?” Dia tetap datang setiap Sabtu. Tidak pernah absen.
“Oke,” kata Tasya pelan. “Oke, kita pikirin. Kita pindahin ke ruang depan. Kita...”
Bel pintu depan berbunyi.
Aku melihat jam di dinding. Delapan lewat dua puluh lima.
Jam 9 pagi, pas jam dongeng anak-anak. Itu yang kutulis di DM. Jam sembilan.
Aku berdiri, menepuk-nepuk rok yang kena debu, dan berjalan ke pintu depan dengan perasaan aneh, seperti tahu sesuatu sebelum melihatnya.
Pintu kaca terbuka. Mas Bumi berdiri di sana dengan kemeja biru tua, lengan tergulung seperti biasa, dan sebuah kotak perkakas besi berwarna hijau tua di tangan kiri. Kotak itu tua. Catnya mengelupas di banyak tempat, dan ada tulisan tangan di tutupnya yang sudah pudar: WIRANATA — BOGOR.
“Pagi,” katanya.
Aku menatapnya. Lalu menatap kotak perkakas di tangannya.
“Mas datang setengah jam lebih awal,” kataku.
“Iya.”
“Bawa kotak perkakas.”
“Iya.”
“Ke acara dongeng anak-anak.”
Dia menggaruk tengkuk. “Saya selalu bawa. Di Kijang.”
“Mas dengar suaranya dari atas, ya?”
Diam. Lalu, sangat pelan: “Kedengeran sampai studio.”
Aku tidak tahu kenapa, tapi mataku tiba-tiba panas.
Mas Bumi tidak bertanya apa-apa. Dia masuk ke ruang baca, berdiri di depan rak yang miring itu selama sepuluh detik penuh, memandanginya seperti dokter memandangi hasil rontgen. Lalu dia berjongkok dan menyentuh bagian bawah rak, tempat rak itu dulu terpasang ke dinding.
“Sekrupnya cuma fischer plastik,” katanya. “Kecil. Dinding ini bata ringan, nggak kuat nahan beban segini. Lama-lama lubangnya melebar.” Dia mengusap serbuk dinding yang rontok di jarinya. “Siapa yang pasang?”
“Tukang dari toko mebel,” jawab Tasya. “Gratis pasang, katanya.”
“Pantas.”
Dia berdiri. “Saya butuh dua orang buat tahan raknya. Sebentar saja.”
Tasya dan aku memegang dua sisi rak. Mas Bumi mengangkat bagian tengahnya, sendirian. Aku melihat otot di lengannya menegang di bawah kulit yang kecokelatan, melihat urat di lehernya, dan melihat rahangnya mengatup. Rak dua meter itu, yang tadi kelihatan seperti monster yang mau menelan sofa, pelan-pelan diangkat dan diletakkan rata di lantai.
“Wah,” kata Tasya dengan suara aneh.
Aku menyikut rusuknya.
“Apa? Aku cuma bilang ‘wah’. ‘Wah’ itu netral.”
Mas Bumi tidak mendengar, atau pura-pura tidak mendengar. Dia sudah membuka kotak perkakas. Di dalamnya, tersusun rapi di nampan-nampan kecil, ada obeng, palu kecil, bor tangan model lama dengan engkol, beberapa pahat dengan gagang kayu yang sudah licin, meteran kain, pensil tukang yang pipih, dan sekotak sekrup berbagai ukuran. Semuanya bersih, semuanya kelihatan dirawat dengan sangat sabar.
“Ini punya Mas?” tanyaku.
“Punya Eyang.” Dia mengambil meteran dan mulai mengukur dinding. “Kakek saya. Tukang kayu.”
Itu pertama kalinya dia menceritakan sesuatu tentang dirinya tanpa kupaksa.
“Eyang Mas di Bogor?” tanyaku, menunjuk tulisan di tutup kotak.
Tangannya berhenti sebentar di dinding. “Dulu.”
Dia tidak melanjutkan. Aku juga tidak bertanya lagi. Ada sesuatu dalam cara dia mengucapkan dulu yang membuatku ingin memeluk kotak perkakas itu.
Jam sembilan kurang sepuluh, anak-anak mulai datang.
Mereka datang seperti biasa: berlarian, berteriak, bertabrakan di pintu, saling dorong supaya dapat tempat di depan. Lalu mereka berhenti. Semuanya berhenti, karena ada laki-laki tinggi asing di ruang baca mereka yang sedang mengebor dinding dengan bor engkol.
“Kakak itu siapa?” tanya Dimas, sepuluh tahun, pemimpin tidak resmi geng anak-anak Kampung Rawa.
“Itu Om Bumi,” kataku. “Dia lagi benerin rak.”
“Om?” Dimas memandangi Mas Bumi dari ujung kaki sampai kepala. “Om-om kok ganteng?”
Tasya tersedak sirup jeruk.
Mas Bumi tidak menoleh, tapi aku melihat tangannya meleset dan mata bornya masuk dua senti lebih dalam dari yang seharusnya.
Kami tidak memindahkan acara dongeng ke ruang depan. Anak-anak tidak mau. Mereka mau di sini, dekat Om yang sedang bekerja, karena menurut mereka bor engkol itu “kayak mesin waktu”. Jadi aku duduk di kursi kecil di tengah ruangan, membuka buku cerita bergambar tentang paus biru kecil yang takut berenang ke laut dalam, dan mulai membaca.
Aku membaca dengan suara-suara. Suara paus kecil yang gemetar. Suara ibu paus yang sabar. Suara gurita tua yang bijak dan agak pilek. Anak-anak tertawa di bagian gurita bersin. Dimas pura-pura bersin juga, lebih keras. Lalu semua anak ikut pura-pura bersin, dan ruangan itu penuh bunyi haaa-ciim yang membuat Bu Wati, yang duduk di pojok bersama ibu-ibu lain, menutup mulut menahan tawa.
Di tengah semua itu, aku melirik ke dinding timur.
Mas Bumi sudah berhenti mengebor. Dia berdiri dengan bor di tangan, bersandar sedikit ke dinding, dan memperhatikanku.
Bukan memperhatikan buku, dan bukan anak-anak. Dia memperhatikanku.
Wajahnya tenang, seperti biasa. Tapi ada sesuatu di sudut bibirnya, senyum yang dia lupa sembunyikan, dan ada sesuatu di matanya yang membuatku kehilangan baris di halaman. Aku harus membaca ulang kalimat yang sama dua kali.
“Kak Celine, kok diulang?” protes Dimas.
“Biar kalian hafal,” jawabku cepat.
Ketika aku melirik lagi, Mas Bumi sudah kembali mengebor dengan sangat serius, dan telinganya merah.
Raknya selesai jam sepuluh lewat dua puluh.
Mas Bumi tidak memasangnya kembali dengan sekrup plastik. Dia memasang dua balok kayu panjang yang dia ambil dari Kijang. Kayu sisa proyek, katanya, padahal kayunya kelihatan baru. Balok itu dipasang horizontal di dinding dengan baut besi panjang, lalu raknya dikaitkan ke balok itu dengan sesuatu yang dia sebut “sambungan tukang lama”, yang tidak kumengerti tapi kelihatan sangat kuat. Dia juga menambahkan dua kaki kecil di bagian bawah rak, supaya beratnya tidak cuma bertumpu ke dinding.
“Sekarang kalau anak-anak manjat pun nggak roboh,” katanya.
“Anak-anak nggak boleh manjat rak,” kataku.
Dia melirik Dimas, yang saat itu sedang mencoba memanjat kusen pintu.
“Iya,” katanya. “Makanya.”
Lalu anak-anak menyerbunya.
Aku tidak tahu siapa yang mulai. Mungkin Dimas, yang ingin mencoba bor engkol. Mungkin Rafa, yang ingin tahu kenapa kotak perkakas itu ada tulisannya. Yang aku tahu, dalam dua menit Mas Bumi sudah duduk bersila di lantai ruang baca, dikerubungi sebelas anak, dengan Dimas di pangkuan kirinya memutar engkol bor ke udara dan Rafa memeluk lengan kanannya sambil bertanya “Om, Om, palu ini bisa buat mukul paus nggak?”
“Nggak bisa,” jawab Mas Bumi serius. “Paus terlalu besar. Dan pausnya nggak salah apa-apa.”
Rafa mengangguk-angguk, puas dengan jawaban itu.
Aku berdiri di ambang pintu dapur dengan nampan berisi gelas sirup, dan tidak bisa bergerak.
Laki-laki yang sembunyi di gudang dari aku, yang menurunkan tirai sampai kaitnya patah karena aku melambai, sekarang duduk di lantai dengan sebelas anak di sekelilingnya. Dia tidak sembunyi dan tidak lari. Dia sabar sekali, menjawab setiap pertanyaan seperti setiap pertanyaan itu penting.
Lalu aku melihatnya memperhatikan sesuatu di pojok.
Nayla. Anak bungsu Bu Wati. Dia duduk paling belakang, seperti biasa, dengan lengan menutupi separuh wajah. Dia ingin mendekat, aku bisa melihatnya. Matanya terus melirik ke kotak perkakas, ke bor engkol, ke lingkaran anak-anak itu. Tapi dia tidak bergerak. Nayla tidak pernah bergerak duluan.
Mas Bumi memindahkan Dimas dari pangkuannya pelan-pelan. Dia mengambil sesuatu dari kotak perkakas: sepotong kecil sisa kayu dan satu pahat bergagang licin. Lalu dia tidak mendekati Nayla. Dia malah bergeser sedikit, sedikit sekali, ke arah pojok, ke tempat yang cukup terang supaya Nayla bisa melihat tangannya, tapi cukup jauh supaya Nayla tidak merasa dikejar.
Dia mulai memahat.
Serutan kayu jatuh ke lantai, tipis dan melingkar seperti pita. Tangannya bergerak pelan dan hati-hati, sangat sabar. Sepotong kayu itu pelan-pelan berubah bentuk: badan yang membulat, ekor yang melengkung, sirip kecil di samping.
Seekor paus.
Nayla menurunkan lengannya sedikit.
Mas Bumi terus memahat, tidak menoleh. Dia menambahkan dua lekuk kecil di kepala paus itu: mata yang tersenyum.
Nayla bergeser sejengkal ke depan.
Lalu satu jengkal lagi.
Lalu, ketika paus kayu itu selesai, Mas Bumi meniup serutan terakhir dari punggungnya, meletakkannya di lantai di antara dia dan Nayla, tepat di tengah-tengah, lalu kembali menoleh ke Dimas seolah tidak terjadi apa-apa.
Nayla memandangi paus kayu itu selama satu menit penuh.
Lalu tangannya terulur, kecil dan ragu-ragu, dan mengambilnya.
Aku tidak sadar nampan di tanganku miring sampai sirup jeruk tumpah ke sepatuku.
Malu itu butuh tempat sembunyi sedikit.
Dia tidak cuma menulis kalimat itu di pinggir denah. Dia tahu rasanya. Dia hidup di dalamnya.
“Mas,” kataku ketika anak-anak sudah pulang dan ruang baca kembali sepi. “Aku bayar.”
Mas Bumi sedang membereskan kotak perkakas. Setiap alat dikembalikan ke tempatnya, dibersihkan dulu dengan kain lap kecil yang dia lipat rapi. “Nggak usah.”
“Mas, itu kayunya baru. Bautnya. Waktu Mas. Tiga jam.”
“Kayu sisa.”
“Masih ada label harga tokonya di ujung balok.”
Dia berhenti mengelap pahat.
“Mas Bumi.” Aku duduk di lantai di depannya, di antara serutan kayu yang belum disapu. “Tolong biarin aku bayar sesuatu. Satu kali aja. Ban, laptop, roti, jaket, rak. Aku udah nggak tahu harus ngitung dari mana.”
Dia menatap pahat di tangannya. Gagangnya licin dan mengilap, sedikit melengkung mengikuti genggaman.
“Nanti aja,” katanya akhirnya.
“Nanti kapan?”
“Kalau saya butuh.”
“Mas pernah butuh?”
Dia tidak menjawab. Dia menutup kotak perkakas dan mengunci kaitnya. Klik.
Aku menghela napas. Lalu aku mengulurkan tangan, telapak menghadap ke atas.
Dia menatap tanganku, bingung.
“Ponsel Mas,” kataku.
“Buat apa?”
“Buat nyimpen nomorku, terus Mas simpan nomor Mas di ponselku.” Aku menggoyangkan tangan. “Aku nggak mau lagi titip pesan lewat Pak Udin, Mas Dodi, Mas Jovan, sticky note, atau DM Instagram studio. Aku udah kayak main pos-posan.”
Dia memandangi tanganku cukup lama, sampai aku mulai merasa konyol. Lalu dia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok, dan meletakkannya di telapakku, hati-hati sekali, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
Aku mengetik nomorku, lalu menyimpannya dengan nama Celine. Lalu aku berpikir sebentar, menghapusnya, dan menggantinya dengan Celine (yang nggak bisa ganti ban).
Ketika kukembalikan, dia membaca nama itu dan sudut bibirnya bergerak.
Aku menyodorkan ponselku. Dia mengetik nomornya dengan satu jari, pelan dan hati-hati, lalu mengembalikannya. Nama kontaknya: Bumi.
Cuma itu. Bumi. Tanpa embel-embel, tanpa lelucon.
Begitu dia keluar dari pintu, aku menggantinya jadi Mas Kebetulan.
“Jaketnya!”
Aku berlari ke trotoar dengan jaket abu-abu di tangan. Dia sudah setengah jalan menuju Kijang yang diparkir di gang samping.
Dia berbalik. Aku menyodorkan jaket itu, terlipat rapi, dicuci tapi tidak disetrika terlalu panas, dan tidak diwangiin. Aku bahkan bertengkar dengan Mbak Sri di rumah supaya tidak menyemprotkan pewangi pakaian.
Dia menerimanya. Lalu, sesuatu yang tidak kuduga: dia menempelkan jaket itu ke dadanya sebentar, satu detik saja, seperti orang yang memeluk sesuatu tanpa sadar sedang memeluk.
“Masih wangi kayu?” tanyaku.
Dia menunduk ke jaket itu. Diam.
“Wangi...” Dia berhenti. Lalu berdeham. “Iya. Masih.”
Tapi telinganya merah lagi. Lebih merah dari tadi pagi.
Malam itu aku tidak bisa berhenti memandangi layar ponsel.
Aku sudah menulis pesan tujuh kali dan menghapusnya enam kali. Pesan yang ketujuh akhirnya kukirim jam sembilan malam:
Celine: Makasih buat raknya, Mas. Dan buat paus kayunya. Nayla nggak mau lepasin, sampai tidur pun dipeluk, kata Bu Wati.
Pesan itu terkirim. Centang dua. Abu-abu.
Aku meletakkan ponsel di kasur, menelungkup, lalu langsung mengambilnya lagi.
Masih abu-abu.
Lima menit. Sepuluh menit. Aku mandi, keramas, memakai masker wajah, membaca tiga halaman novel tanpa mengerti satu kalimat pun.
Empat puluh menit kemudian, ponselku bergetar.
Mas Kebetulan: Sama-sama.
Mas Kebetulan: Nayla tadi senyum waktu pulang. Saya lihat dari jendela.
Mas Kebetulan: Tidur. Sudah malam.
Aku membaca pesan itu sampai masker di wajahku kering dan retak.
Saya lihat dari jendela.
Empat puluh menit untuk tiga kalimat pendek. Aku bisa membayangkannya: dia duduk di depan meja gambar, mengetik, menghapus, mengetik lagi, mungkin menggaruk tengkuk, mungkin menyuruh Jovan diam. Dan akhirnya yang dia kirim cuma tiga kalimat, yang paling hati-hati dan paling sedikit.
Tapi kalimat kedua itu, kalimat tentang Nayla, membuat dadaku sakit dengan cara yang tidak kumengerti.
Dia melihat anak kecil yang pemalu itu tersenyum, dan dia ingin aku tahu.
Aku memeluk ponsel itu ke dada, menatap langit-langit kamar yang terlalu tinggi, dan merasakan sesuatu di dalamku bergeser pelan-pelan. Rasanya seperti rak buku yang dulu terpasang dengan sekrup plastik, dan sekarang dipasang ulang dengan sambungan tukang lama.
Kokoh. Tidak bisa roboh lagi.
Aku mengetik balasan.
Celine: Iya, Om Bumi. 😊
Lalu aku tidur, dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidur sambil tersenyum.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu reading
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi