← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Ten

Dia Selalu Datang Duluan

POV: Celine

Tasya datang jam tujuh lewat lima, dengan rambut belum disisir, sandal beda warna, dan wajah orang yang baru membaca sebelas panggilan tak terjawab.

“Lin.” Dia berdiri di ambang pintu kamar perawatan, napasnya putus-putus, kacamatanya berembun. “Lin, maaf. Ya Tuhan, maaf. Aku tidur. HP-ku silent. Aku nggak tahu. Aku baru buka jam enam dan ada sebelas missed call dan aku langsung...”

“Sya, nggak apa-apa.”

“APA-APA.” Tasya menjatuhkan tasnya di lantai dan memelukku begitu keras sampai tulangku berbunyi. “Aku sahabatmu sejak SMA. Aku janji, waktu kamu putus sama si Rizky brengsek kelas dua belas itu, aku janji bakal selalu angkat telepon jam berapa pun. Aku janji sambil makan cilok, Lin. Cilok itu sakral.”

Aku tertawa di bahunya. Tawa lelah tapi jujur.

“Ibu nggak apa-apa?” Tasya melepas pelukan dan menoleh ke ranjang. “Tante Ratna. Ya Tuhan, Tante. Tante nggak apa-apa?”

“Tante sehat, Tasya Sayang,” kata Mama dari ranjang, setengah duduk dengan bantal di punggung, sedang menyendok bubur ayam yang sudah dingin. “Cuma bandel. Lupa minum obat.”

“Tante jangan bandel lagi. Tante bikin Celine nangis. Kalau Celine nangis, aku nangis. Kalau aku nangis, Rio nangis, dan Rio itu nangisnya lama.”

Mama tertawa kecil. Lalu matanya bergeser ke jaket abu-abu yang terlipat di pangkuanku.

Tasya mengikuti arah pandang Mama. Matanya membesar.

“Itu...”

“Iya.”

“Dia...”

“Iya.”

“Jam dua pagi?”

“Empat belas menit,” kataku pelan. “Dia sampai empat belas menit setelah kutelepon. Pakai sandal jepit yang talinya mau putus.”

Tasya duduk perlahan di kursi di pojok, seperti orang yang lututnya baru diberi kabar mengejutkan. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada “tukang hatiku”, tidak ada “pangeran Eropa Timur”. Dia cuma duduk, memandangi jaket itu, dan matanya berkaca-kaca di balik kacamata yang masih berembun.


Papa mendarat jam dua siang dan langsung ke rumah sakit dari bandara, masih memakai jas abu-abu yang kusut di bagian siku setelah tujuh jam penerbangan.

Papa bukan orang yang banyak bicara. Waktu aku kecil, teman-temanku takut padanya karena wajahnya selalu serius dan kalimatnya selalu pendek. Tapi aku tahu cara membaca Papa. Papa bicara lewat hal-hal kecil: cara dia selalu menyisakan potongan martabak terakhir untukku, cara dia diam-diam mengganti ban sepedaku sebelum aku sadar bannya kempes, cara dia berdiri di belakang panggung waktu aku presentasi tesis di London, tidak bilang apa-apa, cuma mengangguk sekali ketika aku selesai.

Siang itu Papa masuk ke kamar perawatan, berjalan langsung ke ranjang Mama, dan memegang tangannya lama sekali tanpa bicara. Mama tersenyum dan bilang, “Aku nggak apa-apa, Pa. Maaf bikin kamu pulang cepat.”

Papa cuma mengangguk. Sekali. Matanya merah.

Lalu dia menoleh padaku dan bertanya, “Siapa yang bayar deposit?”

Aku mengerjap. “Deposit?”

“Administrasi bilang deposit sudah dibayar.” Papa mengeluarkan selembar kertas dari saku jas. Kuitansi. “Lima belas juta. Jam dua lewat lima puluh pagi. Atas nama...” Dia membaca dengan kacamata yang diturunkan ke ujung hidung. “Bumi Wiranata.”

Kamar itu hening.

Aku mengambil kuitansi itu dari tangan Papa. Huruf-huruf di sana kabur sebentar sebelum jelas lagi. Pembayaran deposit rawat inap. Penanggung jawab: Bumi Wiranata. Hubungan dengan pasien: teman keluarga. Metode pembayaran: kartu debit.

Kartu debit. Bukan kartu kredit. Uang yang benar-benar ada di rekeningnya.

Nanti saja, Celine. Duduk.

Aku teringat dia berdiri di meja pendaftaran dengan sandal jepit yang talinya hampir putus, mengeluarkan sesuatu dari dompet, menandatangani sesuatu. Aku melihatnya dan tidak bertanya. Aku tidak berpikir. Aku terlalu sibuk dengan ketakutanku sendiri.

“Siapa dia?” tanya Papa.

“Arsitek, Pa,” jawabku. Suaraku aneh. “Yang gambar perpustakaan Cilincing. Studionya di atas kafe dekat Rumah Pelangi.”

Papa diam. Aku tahu Papa sedang mencocokkan informasi. Papa selalu begitu. Papa ingat semua nama, semua angka, semua detail.

“Yang mobilnya Kijang tua,” kata Papa akhirnya. Bukan pertanyaan.

“Papa tahu?”

“Pak Rahmat cerita tadi waktu jemput di bandara. Katanya jam dua pagi ada laki-laki datang lari-lari, Kijang diparkir sembarangan di depan gerbang, pakai sandal jepit, terus gendong Mama bareng dia.” Papa melipat kacamatanya. “Pak Rahmat bilang, aku kutip, ‘Pak, saya kira dia anak Bapak yang nggak pernah dikenalin.’”

Mama tertawa di ranjang. Tawanya lemah, tapi tulus.

Papa tidak tertawa. Papa cuma memandangi kuitansi di tanganku, lalu memandangiku, lalu memandangi jaket abu-abu yang sejak pagi tidak pernah lepas dari pangkuanku.

“Kembalikan uangnya,” kata Papa. “Dengan benar. Langsung ke orangnya, jangan lewat transfer.”

“Iya, Pa.”

“Dan bilang terima kasih dari Papa.”

Papa tidak pernah titip terima kasih. Papa biasanya mengirim parsel, atau surat resmi dengan kop perusahaan, atau menyuruh sekretarisnya menelepon. Papa tidak pernah bilang bilang terima kasih dari Papa.

“Iya, Pa,” kataku lagi, lebih pelan.


Sore itu Papa turun ke kantin bersama Tasya. Kata Papa, Tasya harus makan karena “dari tadi kelihatan kayak mau pingsan”. Kata Tasya, Papa harus makan karena “Om habis tujuh jam di pesawat dan pasti cuma makan kacang”. Mereka bertengkar halus soal siapa yang lebih butuh makan sampai di ujung koridor.

Aku tinggal berdua dengan Mama.

Aku duduk di kursi yang sama seperti tadi malam, memegang kuitansi itu, dan memandanginya.

Lima belas juta. Buatku, untuk keluargaku, itu bukan angka yang besar. Itu angka yang bisa Papa keluarkan tanpa berpikir. Tapi aku ingat Kijang tua dengan AC yang kadang dingin kadang tidak, sandal jepit yang talinya mau putus, ponsel dengan layar retak di pojok, dompet kain batik dengan resleting macet yang dia tinggalkan di meja.

Aku membuka dompet batik itu. Isinya tiga lembar uang seratus ribu dan dua lembar lima puluh ribu. Lima ratus ribu rupiah. Dia meninggalkannya untukku, buat jaga-jaga, kamu nggak bawa apa-apa.

Di saku kecil di bagian dalam dompet itu, ada selembar foto ukuran dompet yang sudah pudar dan lecek di ujungnya. Foto seorang kakek tua bersarung dan berpeci, tersenyum lebar dengan gigi yang tinggal separuh, merangkul seorang anak laki-laki kurus berseragam SD yang memegang selembar kertas bergambar rumah.

Aku cepat-cepat menutup dompet itu, karena rasanya seperti mengintip sesuatu yang bukan milikku.

Ponselku bergetar. Pesan dari Tasya, dari kantin.

Tasya: Lin aku nanya Mas Jovan soal deposit
Tasya: Maaf aku kepo
Tasya: Dia diem lama terus bilang ini
Tasya: [Screenshot]

Aku membuka gambarnya. Pesan dari Jovan ke Tasya.

Mbak Tasya, jangan bilang Celine saya yang cerita, ya.
Itu tabungan Bumi buat ganti AC Kijang sama bayar sewa studio bulan depan.
Dia nggak bilang apa-apa ke saya. Saya tahu karena tadi pagi dia nelepon pemilik ruko, minta izin bayar sewanya telat dua minggu.
Dia bilang ke pemilik ruko, katanya ada keperluan mendadak.
Keperluan mendadak. Itu doang.

Aku meletakkan ponsel di pangkuan, di atas jaket abu-abu, dan menutup mata.


“Lin,” kata Mama lembut.

Aku membuka mata. Mama memandangiku dari ranjang dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Ekspresi itu lembut dan sedih, tapi juga ada sesuatu yang lain, seperti ibu yang tahu anaknya akan menemukan sesuatu dan memutuskan untuk membantu.

“Sini, Sayang. Duduk dekat Mama.”

Aku memindahkan kursi lebih dekat ke ranjang. Mama mengulurkan tangan dan merapikan rambutku yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telinga.

“Semalam,” kata Mama, “Mama sempat bangun.”

“Jam berapa, Ma?”

“Nggak tahu. Masih gelap. Mungkin jam tiga, jam setengah empat.” Mama memandangi langit-langit. “Mama bangun karena haus. Mau minta tolong, tapi kamu tidur. Kepalamu di sini.” Dia mengetuk tepi ranjang di samping tangannya. “Tanganmu masih pegang tangan Mama. Matamu bengkak. Kelihatannya kamu habis nangis lama.”

Aku menunduk.

“Terus Mama lihat dia.”

Napasku berhenti sedikit.

“Dia berdiri di situ.” Mama menunjuk ke kaki ranjang, ke tempat di antara ranjang dan jendela. “Lagi nyelimutin kamu pakai jaket itu. Pelan banget, Lin. Pelan banget. Kayak takut kamu kebangun, kayak takut jaketnya terlalu berat buat bahumu.” Mama tersenyum kecil. “Habis itu dia nggak langsung pergi. Dia berdiri di situ. Lihatin kamu tidur. Lama.”

“Berapa lama, Ma?”

“Mama nggak tahu. Lama. Mama pura-pura tidur, soalnya Mama kepo.” Mama terkekeh pelan. “Dan Mama lihat mukanya, Lin. Mukanya waktu lihatin kamu.”

“Kayak gimana?”

Mama diam sebentar, mencari kata.

“Kayak orang yang lihat sesuatu yang dia sayang banget,” kata Mama pelan, “tapi dia pikir dia nggak boleh pegang.”

Aku menekan bibir rapat-rapat.

“Habis itu dia keluar. Pintunya nggak ditutup rapat. Kamar Mama ini,” Mama menunjuk ke kaca kecil di pintu kamar, “kalau dari ranjang, bisa lihat ke koridor. Ke pintu tangga darurat di seberang. Pintunya kaca juga.”

Aku menoleh ke pintu. Lewat kaca kecil itu, memang kelihatan koridor rumah sakit, dan di seberangnya pintu besi bercat abu-abu dengan jendela kaca kecil dan tulisan TANGGA DARURAT.

“Dia duduk di tangga itu, Lin,” kata Mama. “Di anak tangga paling atas. Mama lihat punggungnya.”

“Ngapain, Ma?”

Mama menatapku. Matanya yang lembut berkaca-kaca.

“Nangis, Nak.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Dia nutup muka pakai dua tangan. Bahunya gemetar. Lama. Nggak ada suara, Mama nggak dengar apa-apa, tapi Mama lihat bahunya.” Mama mengusap sudut matanya sendiri dengan ujung jari. “Mama kira awalnya dia nangis karena Mama. Karena takut Mama kenapa-kenapa. Tapi Mama baru kenal dia semalam, Lin. Dia nggak kenal Mama. Orang nggak nangis kayak gitu buat orang yang baru dia kenal empat jam.”

“Terus kenapa, Ma?”

“Karena kamu nangis.”

Mama mengatakannya dengan sangat sederhana, seperti mengatakan hari ini hujan atau bubur ini sudah dingin.

“Mas yang semalam itu nggak tidur, Nak,” kata Mama. “Sama sekali. Mama lihat dia balik ke kamar, cuci muka, duduk di kursi pojok itu, dan lihatin kamu sama Mama sampai subuh. Begitu langit terang, dia siapin bubur, isi baterai HP-mu, tinggalin dompetnya, terus pergi. Kayak orang yang takut ketahuan.” Mama menggenggam tanganku. “Ibu lihat dia nangis di tangga, Nak. Buat kamu.”


Aku tidak menangis di depan Mama. Aku menahannya sampai Papa dan Tasya kembali dari kantin, sampai Papa duduk di samping ranjang dan Mama tertidur lagi, sampai aku bilang “Aku ke toilet sebentar” dan keluar ke koridor.

Aku berjalan ke pintu besi abu-abu bertuliskan TANGGA DARURAT. Aku membukanya.

Tangga itu dingin dan sunyi. Lampunya neon putih yang berdengung. Anak tangga paling atas berdebu sedikit, kecuali di satu bagian, bagian tempat seseorang pernah duduk lama.

Aku duduk di sana, di tempat yang sama.

Lalu aku menangis. Tangis yang sudah kutahan sejak Mama mengatakannya, sejak kuitansi itu, sejak dompet batik dengan foto kakek dan anak kecil itu, sejak pesan Jovan tentang AC Kijang dan sewa studio.

Aku menangis karena aku mengerti sekarang. Dulu aku tidak mengerti.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka catatan. Dengan jari gemetar, aku mulai menulis daftar. Aku butuh melihatnya. Aku butuh melihat semuanya di satu tempat, supaya aku tidak bisa pura-pura tidak tahu lagi.

1. Ban bocor. Jalan belakang. Jam 12 malam. “Kebetulan lewat.”
2. Laptop mati. Jam 2 pagi. Datang dalam 10 menit. “Kebetulan lewat.”
3. Roti bakar cokelat keju. Dibayar dari atas.
4. Halte. Hujan. Bawa jaket yang nggak dia pakai. “Kebetulan lewat.”
5. Rak roboh. Datang setengah jam lebih awal bawa kotak perkakas.
6. Mama. Jam 2 pagi. 14 menit. Deposit 15 juta, uang sewa studio.
7. Teh manis + tisu waktu Mochi mati. Tiga tahun lalu. “Saya cuma yang nganter, Mbak.”

Aku berhenti menulis. Lalu aku menambahkan, pelan-pelan:

8. Terpal biru di atas genteng Rumah Pelangi waktu hujan Februari. Nggak ada yang tahu siapa yang pasang.
9. Satpam Rumah Pelangi sakit, gerbang nggak dikunci. Ada Kijang parkir di depan sampai subuh. Kata Pak Udin, “ada yang jagain, Mbak.”
10. Sepatu baru Pak Udin. Seminggu setelah aku bilang sepatunya mangap kayak buaya.

Nomor delapan, sembilan, dan sepuluh. Aku tidak pernah tahu jawabannya. Selama ini aku cuma menganggapnya keajaiban kecil, kebaikan orang asing, Jakarta yang kadang-kadang baik hati.

Sekarang aku tahu.

Aku memandangi daftar itu sampai huruf-hurufnya kabur oleh air mata.

Tidak ada orang yang kebetulan lewat sebanyak ini.

Bertahun-tahun. Setiap kali duniaku retak, ban, laptop, hujan, rak, Mama, Mochi, dia ada di sana. Bukan setelah aku minta tolong, tapi sebelum. Dia datang sebelum aku sempat panik, sebelum aku sempat menelepon siapa pun, sebelum aku sendiri tahu aku butuh ditolong.

Dia selalu datang duluan.

Dan setiap kali, dia pergi sebelum aku sempat bilang terima kasih. Dia sembunyi di gudang. Dia menangis di tangga darurat, sendirian, menutup mukanya supaya tidak ada yang lihat. Dia membayar deposit dengan uang sewa studionya, lalu bilang ke pemilik ruko itu cuma keperluan mendadak.

Waktu kecil, aku punya buku cerita favorit tentang ksatria yang menyelamatkan putri dari menara. Aku dulu berpikir pahlawan itu yang datang dengan kuda putih, pedang berkilau, dan sorak-sorai rakyat. Pahlawan yang semua orang tahu namanya.

Aku salah.

Pahlawan yang sungguhan ternyata datang memakai sandal jepit yang talinya hampir putus. Dia mengganti ban di jalan gelap dan menyuruhmu jangan ngebut. Dia mendudukkan boneka jerapahmu menghadap ke luar. Dia memahat paus kayu untuk anak kecil yang terlalu malu untuk mendekat. Dia membuatkan teh manis tiga sendok gula, lalu menangis untukmu di tangga darurat dan tidak pernah bilang.

He is my hero.

Kalimat itu muncul di kepalaku dalam bahasa Inggris, bahasa yang kupakai selama bertahun-tahun di London, bahasa tempat aku belajar kata-kata untuk hal-hal yang terlalu besar. Kalimat yang sangat sederhana.

He is my hero. And he doesn’t even know it.


Malam itu, sebelum pulang dari rumah sakit, aku mampir ke Kopi Sudut.

Sudah tutup. Kursi-kursi ditumpuk terbalik. Pos Pak Udin kosong. Tapi lampu studio di lantai dua menyala, terang dan kuning, satu-satunya jendela yang menyala di sepanjang deretan ruko itu.

Aku berdiri di trotoar dan mendongak.

Dompet batik itu ada di tasku, bersama amplop berisi lima belas juta dari Papa. Jaket abu-abu itu terlipat di lenganku. Daftar sepuluh nomor itu ada di ponselku.

Aku bisa naik sekarang. Mengetuk pintu. Memaksanya bicara.

Tapi aku membayangkan wajahnya, wajah orang yang melihat sesuatu yang dia sayang, tapi dia pikir dia tidak boleh pegang, dan aku tahu kalau aku naik sekarang, dia akan lari. Dia akan sembunyi di gudang, sakit gigi, survei ke Bekasi, kebetulan apa saja.

Aku harus pelan. Aku harus melakukannya seperti dia mendekati Nayla: duduk di tempat yang cukup terang supaya dia bisa lihat, tapi cukup jauh supaya dia tidak merasa dikejar.

Aku mengetik pesan.

Celine: Mas masih di studio?

Centang dua. Langsung biru. Dia sedang memegang ponselnya.

Lalu, lewat jendela lantai dua, aku melihat siluet itu bergerak. Dia berdiri dari kursi. Mendekati kaca. Lalu berhenti, seperti baru sadar sesuatu, dan mundur lagi.

Mas Kebetulan: Di Cilincing.

Aku tertawa. Sambil berdiri di trotoar gelap, dengan mata bengkak dan jaket di lengan, aku tertawa sampai harus menutup mulut supaya tidak terdengar ke atas.

Celine: Oke. Mas di Cilincing.
Celine: Besok pagi, jam 7 lewat 10. Meja nomor tiga Kopi Sudut.
Celine: Turun, ya. Jangan kebetulan. Jangan survei. Jangan sakit gigi.
Celine: Aku mau nanya sesuatu. Satu aja.

Lama. Lama sekali. Siluet di lantai dua itu tidak bergerak. Aku membayangkannya berdiri di sana, memegang ponsel dengan layar retak di pojok, menggaruk tengkuk.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.

Lalu:

Mas Kebetulan: Iya.

Satu kata. Satu kata yang butuh tujuh menit.

Aku menempelkan ponsel ke dada dan mendongak sekali lagi ke jendela yang menyala itu. Aku tidak melambai kali ini. Aku cuma berdiri di sana, membiarkan dia melihatku kalau dia mau melihat.

Lalu aku berbisik, sangat pelan, cukup pelan supaya tidak ada yang mendengar kecuali angin malam dan deretan ruko yang tertidur:

“Kali ini jangan pergi duluan, ya, Mas.”