← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Twenty Nine

Kali Ini Aku Duluan

POV: Celine

Aku merencanakannya selama tiga minggu, dan Tasya hampir membocorkannya sebelas kali.

“Lin,” bisiknya di kantor Rumah Pelangi, hari Senin minggu pertama, dengan wajah merah. “Lin, aku nggak kuat. Tadi Mas Jovan nanya kenapa aku senyum-senyum terus, dan aku hampir bilang...”

“Sya.”

“Aku nggak bilang! Aku bilang aku senyum karena kucing! Pak Bos! Pak Bos lucu!”

“Pak Bos lagi tidur di got.”

“Itu yang lucu!”

Rio membuat jadwal di spreadsheet. Tentu saja Rio membuat jadwal di spreadsheet. Judulnya, dengan huruf tebal warna ungu: OPERASI KALI INI AKU DULUAN — JANGAN DIKASIH LIHAT KE MAS BUMI (SERIUS). Ada kolom Tugas, Penanggung Jawab, Tenggat, dan Status. Rio memasukkan dirinya sendiri sebagai “Dokumentasi & Logistik”. Tasya sebagai “Dukungan Moral & Komunikasi”. Pak Udin sebagai “Pengawas Lapangan”. Mas Dodi sebagai “Koordinator Lokasi”.

Jovan sebagai “Pengalih Perhatian”.

“Saya?” kata Jovan waktu aku memberitahunya, di trotoar depan Kopi Sudut, dengan bisikan. “Saya nggak bisa bohong sama Bumi, Mbak. Dia tahu muka saya.”

“Mas Jovan bohong soal Pak Harso.”

“Itu beda. Itu bohong buat kebaikan.”

“Ini juga, Mas.”

Jovan memandangiku lama. Lalu dia menghela napas sangat panjang dan mengangguk.

“Oke,” katanya. “Tapi kalau saya ketahuan, saya kabur ke Bekasi. Beneran.”


Cincinnya kubuat di tukang emas kecil di Pasar Senen.

Papa yang memberi alamatnya. Dia tidak bertanya untuk apa. Dia cuma menulis di secarik kertas dengan tulisan tangannya yang rapi dan tegak: Toko Emas Kencana, lantai 2, kios nomor 14, Pak Harun. Bilang anaknya Hendra, dulu tetangga kios jahit Pak Darman.

Pak Harun ternyata laki-laki tua berkacamata tebal yang kenal Kakek. Dia mengenaliku dari wajah, katanya mirip Papa waktu muda. Lalu dia memandangi kertas berisi ukuran jari yang kuberikan. Kudapat ukuran itu dengan mengikatkan benang ke jari manis Mas Bumi waktu dia tertidur di sofa studio.

“Cincin laki-laki?” tanya Pak Harun.

“Iya, Pak.”

“Buat siapa?”

“Buat calon suami saya, Pak.”

Pak Harun mengangkat alis di balik kacamata tebalnya. “Neng yang ngelamar?”

“Iya, Pak.”

Pak Harun memandangiku lama. Lalu dia tertawa. Tawanya serak, mirip suara mesin jahit tua.

“Bapakmu dulu juga gitu,” katanya. “Dateng ke sini bawa uang receh hasil jahit tiga bulan, minta dibikinin cincin buat anak pejabat. Gemeteran. Saya kasih diskon.” Dia mengambil pulpen dan mulai menggambar di kertas. “Mau polos? Atau diukir?”

“Polos, Pak. Emas putih. Sederhana.” Aku diam sebentar. “Tapi di dalamnya, boleh diukir sedikit?”

“Ukir apa?”

Aku memberitahunya.

Pak Harun berhenti menggambar. Dia memandangiku dari balik kacamata tebalnya.

“Itu apa artinya, Neng?”

“Panjang ceritanya, Pak.”

“Saya punya waktu.” Pak Harun meletakkan pulpennya. “Saya udah tua. Saya suka cerita panjang.”

Aku duduk di bangku plastik di depan kios nomor empat belas, di lantai dua Pasar Senen yang panas dan berisik, dan menceritakan semuanya. Ban bocor. Laptop. Halte. Rumah sakit. Jendela. Buku sketsa. Warung. Eyang.

Ketika aku selesai, Pak Harun melepas kacamatanya dan mengusap matanya dengan sapu tangan.

“Gratis ukirannya,” katanya serak. “Nggak usah bayar.”


Rencananya sederhana.

Hari Sabtu. Jam tujuh lewat sepuluh. Dia di jendela. Satu kali lagi. Yang terakhir.

Malam sebelumnya, aku mengirim pesan.

Celine: Mas.
Bumi 🌏: Ya?
Celine: Besok pagi, jam 7 lewat 10, Mas jangan turun ke meja nomor tiga dulu.
Bumi 🌏: Kenapa?
Celine: Aku mau Mas berdiri di jendela. Kayak dulu. Sekali lagi.
Celine: Aku mau lihat Mas dari bawah. Aku belum pernah lihat Mas di jendela itu dengan sengaja.

Lama. Tiga titik muncul dan hilang beberapa kali.

Bumi 🌏: Oke.
Bumi 🌏: Tapi habis itu aku turun, ya. Jam 7 lewat 20.
Bumi 🌏: Ada yang mau aku omongin. Di meja nomor tiga.

Aku memandangi pesan itu.

Ada yang mau aku omongin.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Tapi aku tidak berpikir lebih jauh. Aku terlalu sibuk dengan rencanaku sendiri.

Celine: Oke, Mas. Jam 7 lewat 20.
Celine: Selamat tidur. 🌏


Sabtu pagi, jam tujuh lewat delapan, aku memarkir mobil di depan Kopi Sudut.

Aku tidak langsung turun. Aku duduk di balik kemudi, sama seperti pagi setelah Pak Udin pertama kali bilang Mas di atas itu tiap pagi lihat ke sini. Aku merapikan rambut di kaca spion untuk ketiga kalinya. Gaun putih sederhana, katun, potongan midi. Rambut digerai, jepit krem di satu sisi. Karet hitam polos dari minimarket di pergelangan tangan, karena aku tidak pernah melepasnya lagi.

Di saku gaun, kotak kecil dari beludru cokelat tua. Warna kulit buku sketsa Eyang. Pak Harun yang memilihkan.

Pak Udin berdiri di samping posnya dengan topi di dada. Dia tidak meniup peluit pagi ini. Dia memandangku lewat kaca mobil dan mengangguk sekali, serius, seperti komandan lapangan.

Mas Dodi berdiri di ambang pintu Kopi Sudut dengan celemek baru, celemek putih bersih yang jelas dibeli khusus untuk hari ini.

Di meja nomor tiga, lewat kaca depan, aku melihat Tasya dan Jovan duduk berdampingan, terlalu berdampingan, dengan Rio di kursi tambahan memegang kamera.

Jam tujuh lewat sepuluh.

Aku keluar dari mobil.

Dan aku mendongak.

Dia di sana.

Di jendela lantai dua di atas Kopi Sudut. Berdiri dengan kemeja putih yang disetrika dengan niat, siku di ambang jendela, di cekungan kayu itu. Kacanya tidak memantulkan langit pagi ini. Matahari masih rendah di timur, dan cahayanya jatuh langsung ke kaca, dan aku bisa melihatnya dengan sangat jelas.

Dia memandangiku dari atas, persis seperti empat tahun.

Tapi kali ini dia tidak menjatuhkan diri ke lantai. Tidak menurunkan tirai. Tidak mundur satu langkah dari kaca.

Dia tersenyum. Dan mengangkat tangannya. Dan melambai.

Aku melambai balik. Mataku langsung panas.

Ini yang dia lihat. Setiap pagi, empat tahun. Seseorang di bawah, di trotoar, turun dari mobil putih, mendongak sebentar, atau tidak mendongak sama sekali. Dan dia di atas, sendirian, menggambar.

Sekarang aku yang di bawah, dengan sengaja, memandangi dia.

Lalu aku tidak masuk ke Kopi Sudut.

Aku berjalan ke pintu kecil di samping kafe, pintu menuju tangga sempit ke lantai dua.

Di jendela, aku melihatnya mengerutkan kening. Bingung. Tangannya yang melambai berhenti di udara.

Aku membuka pintu kecil itu dan naik.


Tangga sempit itu punya dua puluh tiga anak tangga. Aku menghitungnya sekarang, untuk pertama kalinya. Dua puluh tiga anak tangga yang dia turuni jam dua pagi untuk laptopku. Yang dia turuni basah kuyup untuk teh manis di hari Mochi. Yang dia turuni dengan kotak perkakas Eyang untuk rak yang roboh.

Hari ini aku yang naik.

Jantungku berdetak seperti palu Eyang di atas papan jati.

Pintu studio sedikit terbuka. Aku mendorongnya.

Dia berdiri di tengah studio, setengah jalan dari jendela ke pintu, seperti orang yang baru mau turun dan berhenti di tengah langkah. Wajahnya bingung. Tangan kanannya di belakang punggung.

“Celine?” katanya. “Kamu ngapain naik? Aku baru mau turun. Jam tujuh lewat dua puluh, kan? Meja nomor tiga?”

“Iya, Mas.”

“Terus kenapa...”

Aku menutup pintu studio di belakangku.

Lalu aku berjalan ke jendela. Pelan. Melewatinya, sangat dekat, cukup dekat untuk mencium wangi kayu dari kemejanya. Aku berhenti di depan jendela besar itu dan meletakkan kedua sikuku di ambangnya, di cekungan bekas sikunya.

Di bawah, lewat kaca, meja nomor tiga terlihat seperti lukisan dalam bingkai. Tasya, Jovan, dan Rio menempelkan wajah mereka ke kaca kafe, mendongak. Pak Udin berdiri di trotoar dengan topi di dada. Mas Dodi di ambang pintu dengan tangan di mulut.

“Celine,” katanya di belakangku. Suaranya ragu-ragu. “Ada apa?”

Aku berbalik.

“Mas,” kataku. “Empat tahun Mas berdiri di sini. Lihatin aku dari jendela ini. Tiap pagi. Jam tujuh lewat sepuluh.”

Dia memandangiku.

“Empat tahun Mas yang duluan,” lanjutku. Suaraku bergetar, tapi tidak berhenti. “Mas yang duluan lihat aku. Mas yang duluan tahu namaku. Mas yang duluan jatuh cinta. Mas yang duluan dateng waktu ban bocor, waktu laptop mati, waktu hujan, waktu Mama sakit. Mas selalu duluan.”

“Kamu yang duluan di warung,” katanya pelan.

“Iya. Sekali.” Aku tersenyum, dan air mataku jatuh. “Sekali, Mas. Satu sore. Satu gelas teh manis. Habis itu lima tahun Mas yang duluan terus.”

Aku memasukkan tangan ke saku gaun.

“Jadi kali ini,” bisikku, “aku duluan.”

Aku mengeluarkan kotak beludru cokelat tua itu.

Dia membeku.

Aku melihatnya membeku. Seluruh tubuhnya berhenti. Matanya membulat. Mulutnya sedikit terbuka. Tangan kanannya, yang dari tadi di belakang punggung, menegang.

Aku membuka kotak itu.

Cincin emas putih. Polos. Sederhana. Pak Harun memolesnya sampai mengilap seperti air.

Aku mengangkatnya sedikit, ke dalam cahaya pagi yang masuk dari jendela.

“Mas Bumi Wiranata,” kataku.

Suaraku pecah. Aku menarik napas. Aku mencoba lagi, dan kali ini aku memastikan setiap kata keluar dengan jelas, karena aku sudah berlatih kalimat ini selama tiga minggu, di depan cermin, di mobil, di kamar mandi, di depan Tasya yang menangis setiap kali.

“Kebetulan lewat,” kataku. “Mau sekalian seumur hidup?”


Dia tidak menjawab.

Dia berdiri di tengah studio, memandangi cincin di tanganku, dan tidak bergerak. Lima detik. Sepuluh. Lima belas.

Lalu, sangat pelan, dia mulai tertawa.

Bukan tawa yang keras. Tawa yang keluar seperti napas yang terlalu lama ditahan, seperti kertas yang dibuka dari lipatan lima tahun. Dia menutup mata dan tertawa dan menggeleng, dan air matanya jatuh, dan dia tertawa dan menangis dan menggeleng sekaligus.

“Mas?” Aku mulai panik. “Mas, kenapa ketawa? Mas, aku serius, aku latihan tiga minggu, Tasya nangis tiap aku latihan...”

Dia mengeluarkan tangan kanannya dari balik punggung.

Di telapak tangannya, yang bernoda tinta biru kehitaman, ada sebuah kotak kecil.

Beludru biru tua.

Aku berhenti bicara.

Dia membuka kotak itu dengan ibu jarinya. Di dalamnya, di atas bantalan satin kecil, ada cincin emas. Sederhana. Tipis. Dengan satu batu kecil di tengahnya, batu bening yang menangkap cahaya pagi dari jendela dan memantulkannya seperti bintang kecil yang tidak bisa memutuskan mau menyala atau tidak.

“Aku beli pakai termin pertama Cilincing,” katanya. Suaranya hancur di tengah tawa. “Aku simpan di laci kanan atas. Di bawah buku sketsa. Aku udah rencanain semuanya. Meja nomor tiga. Jam tujuh lewat dua puluh. Aku udah latihan kalimatnya dua minggu.”

Aku memandangi cincin di tangannya. Lalu cincin di tanganku. Lalu wajahnya.

“Mas mau ngelamar aku,” bisikku.

“Sepuluh menit lagi.” Dia tertawa lagi, basah. “Kamu duluan. Lagi. Kamu selalu duluan.”

Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Jadi aku melakukan dua-duanya. Suara yang keluar dariku terdengar seperti ayam kecil tersedak, persis seperti di trotoar jam dua pagi waktu laptopku mati.

“Kalimatnya apa?” tanyaku di tengah tawa dan tangis. “Kalimat yang Mas latihan dua minggu?”

Dia menggeleng. “Udah nggak penting.”

“Penting! Aku mau denger!”

Dia memandangiku lama. Lalu dia menarik napas, dan aku melihatnya mengumpulkan sesuatu, keberanian, kalimat, lima tahun.

“Aku nggak punya apa-apa,” katanya pelan. “Tapi semua yang aku punya, dari dulu, udah punyamu. Dari jendela ini. Dari warung itu. Dari teh manis pertama.” Suaranya bergetar. “Aku cuma mau minta satu hal. Pertama kali seumur hidup aku minta sesuatu buat diriku sendiri.”

Air mataku jatuh.

“Boleh aku pulang ke kamu?” bisiknya. “Tiap hari. Seumur hidup.”


Aku tidak menjawab dengan kata-kata.

Aku mengambil tangan kirinya, tangan yang tidak memegang kotak biru, dan memasang cincin emas putih itu di jari manisnya. Pas. Benang yang kuikatkan saat dia tidur di sofa itu tidak bohong.

Dia memandangi cincin itu di jarinya.

“Lihat dalamnya, Mas,” bisikku.

Dia melepas cincin itu lagi, pelan, dan memiringkannya ke cahaya jendela. Di bagian dalam lingkarannya, diukir tangan dengan huruf kecil-kecil yang rapi, ukiran gratis dari Pak Harun:

Bukan kebetulan.

Dia memandangi dua kata itu lama sekali.

Lalu dia memasang cincin itu kembali di jarinya sendiri, dan dia tidak bisa berdiri lagi. Dia berlutut. Di lantai studio, di depanku, di depan jendela, dengan kotak biru tua di tangan kanan dan cincin bertuliskan Bukan kebetulan di jari manis kiri.

Dia mengangkat kotak biru itu ke arahku.

“Celine Florentina,” katanya dari bawah, wajahnya basah, suaranya pecah. “Kamu mau?”

“Mau,” kataku. Langsung. Tanpa jeda. Tanpa ragu. Persis seperti di Pecel Lele Cak Mat.

Dia mengerjap. “Aku belum selesai ngomong.”

“Nggak usah diselesaiin.” Aku berlutut di depannya, sampai kami sama tinggi, lutut ketemu lutut di lantai studio. “Mau, Mas. Mau. Dari dulu.”

Dia memasang cincin itu di jari manisku. Tangannya gemetar sampai dia harus mencoba dua kali. Cincin itu masuk, pas. Batu kecil bening di tengahnya menangkap cahaya.

“Pas,” bisiknya. “Aku ukur dari jendela. Dari cara kamu pegang gelas kopi. Aku nggak yakin.”

“Mas ngukur jariku dari jendela?”

“Empat tahun,” katanya. “Aku tahu ukuran jarimu kayak aku tahu ukuran anak tangga.”

Aku menangis dan tertawa dan memegang wajahnya dengan dua tangan, dua tangan dengan cincin di jari manis kiri, dan menciumnya.


Ciuman itu tidak seperti di jendela waktu buku sketsa, waktu ciuman itu penuh air mata dan empat tahun yang tidak kuketahui. Tidak seperti ciuman ringan jam empat pagi di sofa.

Ciuman ini rasanya seperti pulang.

Dia memelukku di lantai studio dan menciumku balik, dalam, pelan, sabar, dengan tangan di pipiku dan tangan lain di punggungku. Cincin di jarinya terasa dingin di kulit pipiku, lalu hangat. Aku bisa merasakan dia tersenyum di tengah ciuman, dan itu membuatku ikut tersenyum, dan kami berdua tertawa di bibir satu sama lain seperti dua orang bodoh yang terlalu bahagia untuk berciuman dengan benar.

Lalu sesuatu terdengar dari bawah.

PRIIIIIIIIIIIIT.

Peluit Pak Udin. Panjang sekali. Lebih panjang dari peluit mana pun yang pernah kudengar, seperti terompet di film perang.

Kami berdua menoleh ke jendela.

Aku berdiri, menarik tangannya, dan kami berdiri di depan jendela itu bersama. Siku kami di cekungan kayu, berdampingan. Dua cekungan. Satu untuk masing-masing.

Di bawah, di trotoar, di depan Kopi Sudut, semua orang memandang ke atas.

Pak Udin dengan peluit di mulut dan topi di tangan, melambai-lambaikannya ke udara. Mas Dodi di ambang pintu, bertepuk tangan dengan celemek putih barunya. Rio dengan kamera teracung tinggi.

Dan Tasya dan Jovan, berdiri di tengah trotoar, memegang spanduk kain putih yang mereka bentangkan berdua. Di atasnya, dengan cat merah yang masih menetes:

DIA BILANG MAU?

Aku tertawa sampai harus memegang kusen jendela.

Lalu aku membuka jendela itu. Jendela besar yang empat tahun tidak pernah dibuka, kusennya macet dan berkarat. Mas Bumi membantuku mendorongnya. Jendela itu terbuka dengan derit panjang, dan angin pagi masuk, dan suara jalanan masuk: angkot, motor, gerobak kue putu, Pak Bos yang mengeong di got.

Aku mencondongkan badan keluar jendela, mengangkat tangan kiriku tinggi-tinggi supaya cincin di jari manisku menangkap cahaya matahari, dan berteriak sekeras-kerasnya:

“MAU!”

Lalu aku menoleh ke laki-laki di sampingku, yang juga mencondongkan badan keluar jendela, yang wajahnya basah dan merah dan tersenyum lebih lebar dari yang pernah kulihat.

“Mas juga bilang,” bisikku.

Dia memandangiku. Lalu dia memandang ke bawah, ke trotoar, ke Pak Udin dan Mas Dodi dan Rio dan Tasya dan Jovan dan spanduk merah. Lalu dia mengangkat tangan kirinya, tangan bernoda tinta dengan cincin bertuliskan Bukan kebetulan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dari jendela tempat dia empat tahun berdiri diam-diam, Bumi Wiranata berteriak.

“MAU!”

Trotoar di bawah meledak.

Tasya menjatuhkan spanduknya dan memeluk Jovan. Jovan memeluk Tasya balik. Lalu mereka berdua berhenti, saling memandang, dan Jovan mencium Tasya di tengah trotoar, di depan Kopi Sudut, di depan Pak Udin yang langsung menutup mata dengan topi.

Aku menoleh ke Mas Bumi dengan mulut terbuka.

“Jovan sama Tasya?”

Mas Bumi memandang ke bawah, ke dua orang yang sekarang berciuman di trotoar sambil diteriaki Rio.

“Ancol,” katanya pelan. Lalu dia mulai tertawa. “Waktu kamu ke rumahku pertama kali. Jovan bilang mereka di Ancol. Aku tanya ngapain. Dia bilang bukan urusanku.”

Aku tertawa sampai harus bersandar ke bahunya.

Di bawah, Bu Hartini baru saja turun dari mobil, membawa sekotak lemper, dan berdiri di trotoar dengan mulut terbuka memandangi dua pasangan. Satu di jendela lantai dua, satu di trotoar. Kacamata berantai mutiaranya melorot ke ujung hidung.

“Oh,” kata Bu Hartini, cukup keras untuk terdengar sampai lantai dua. “Oh, oh, oh.”


Lama kemudian, setelah semua orang naik ke studio dan memeluk kami dan menangis dan memotret cincin kami dari segala sudut, setelah Pak Udin bilang debu empat belas kali, setelah Mas Dodi membawa nampan berisi kopi susu gula aren dan teh manis dan es kopi dan satu gelas susu cokelat untuk Rio, setelah Jovan dan Tasya berdiri di pojok dengan wajah merah dan menjelaskan Ancol dengan terbata-bata, kami berdiri berdua lagi di jendela.

Siku di cekungan. Bahu menempel bahu.

“Mas,” kataku.

“Hm?”

“Empat tahun Mas berdiri di sini sendirian.”

“Iya.”

Aku menoleh dan memandangnya. Cahaya pagi jatuh di wajahnya, di matanya yang masih sedikit merah, di senyum yang sekarang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.

“Sekarang Mas nggak sendirian lagi di jendela ini,” bisikku.

Dia memandang ke bawah, ke meja nomor tiga yang kosong, ke trotoar tempat Pak Udin sudah kembali meniup peluit untuk mobil yang mau parkir, ke ujung jalan tempat lampu di lantai atas Rumah Pelangi sudah dimatikan karena pagi sudah terang.

“Nggak,” katanya pelan. Dia menggenggam tanganku di ambang jendela. Cincin ketemu cincin. “Sekarang aku nggak lihat dari jendela lagi.”

“Terus lihat dari mana?”

Dia menoleh padaku. Lalu dia tersenyum, senyum yang lebar, dengan kerutan kecil di sudut mata.

“Dari sebelahmu,” katanya.