← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Twenty Five

Ternyata yang Duluan Itu Aku

POV: Celine

Aku tidak tidur malam itu.

Mas Bumi mengantarku pulang jam sebelas. Kami tidak banyak bicara di Kijang. Jendela terbuka, angin malam masuk, rambutku diikat karet hitam polos dari minimarket. Tangannya di persneling, tanganku di atas tangannya. Di setiap lampu merah, dia menoleh padaku, dan aku menoleh padanya, dan kami tidak bilang apa-apa, karena tidak ada kata yang cukup.

Di gerbang rumah Menteng, dia mengecup keningku lama sekali. Pak Rahmat tidak pura-pura membaca koran terbalik kali ini. Dia cuma menunduk dan masuk ke posnya, menutup pintu pelan.

Lalu aku masuk ke kamarku yang langit-langitnya empat meter, duduk di tepi kasur, dan memandangi kegelapan sampai pagi.

Aku memikirkan warung itu.

Lima tahun aku tidak ingat. Satu sore di bulan Juli, satu kakek tersesat, satu gelas teh manis. Hari itu tenggelam di antara ribuan hari lain. Aku menceritakannya ke Tasya sekali, lewat video call dari London, sambil lalu. Sya, tadi sebelum ke bandara aku nemu kakek-kakek tersesat, kasihan banget, aku temenin sampai cucunya dateng. Tasya bilang ya ampun, baik banget kamu, lalu kami membicarakan hal lain. Lalu aku lupa.

Kakek itu tidak lupa. Sampai hari terakhirnya.

Cucunya tidak lupa. Lima tahun.

Aku memikirkan semua yang Mas Bumi lakukan untukku. Seratus empat puluh tujuh kebaikan di spreadsheet Rio. Ban bocor, laptop, rak, halte, Mama, tipes yang disembunyikan. Selama ini aku pikir aku yang berutang. Aku pikir aku yang harus membalas. Aku pikir dia yang memulai semuanya, dia yang datang duluan, dia yang berdiri di jendela, dia yang memberi tanpa pernah diberi.

Tapi itu tidak benar.

Lima tahun lalu, sebelum ban bocor, sebelum jendela, sebelum meja nomor tiga, sebelum dia tahu namaku, aku sudah duduk di bangku warung itu. Aku sudah memegang tangan kakeknya. Aku sudah memesan teh manis dan membiarkan kakeknya mengajariku membuatnya. Aku sudah menelepon nomor di kertas dalam peci dan bilang, saya tunggu, Mas, saya nggak ke mana-mana.

Aku tidak tahu dia siapa. Aku tidak tahu kakek itu siapa. Aku tidak dapat apa-apa. Aku cuma melihat orang yang kesusahan, dan aku duduk di sebelahnya.

Kalau kamu lihat orang kesusahan, Le, jangan mikir dulu kamu siapa. Turun saja. Mas Bumi pernah menyebut kalimat Eyang itu, di salah satu malam setelah tipes, sambil lalu. Aku menyimpannya.

Lima tahun lalu, aku turun. Untuk Eyangnya.

Dan semua yang dia lakukan untukku setelahnya, setiap ban dan payung dan teh manis tiga sendok gula, bukan dia yang memulai.

Ternyata yang duluan itu aku.


Kesadaran itu datang jam empat pagi, dan bentuknya bukan seperti lega.

Rasanya seperti jatuh.

Aku sudah jatuh cinta padanya di jendela lantai dua. Aku sudah jatuh lagi di sofa studio jam empat pagi, di hujan Cilincing, di kursi hijau sage. Aku pikir aku sudah sampai di dasar. Aku pikir tidak ada lagi yang lebih dalam.

Tapi jam empat pagi itu, di kamar yang terlalu besar, aku jatuh lagi. Lebih dalam dari semua sebelumnya.

Karena sekarang aku tahu kenapa dia selalu datang duluan.

Dia tidak sedang membalas budi. Dia sendiri bilang begitu, dan aku percaya, karena aku melihat caranya menggambar senyumku. Tapi dia juga tidak sedang memulai sesuatu. Dia sedang melanjutkan. Dia melanjutkan sesuatu yang Eyangnya titipkan padanya di malam terakhir: rumah buat buku, jangan lupa, Le, anak baik itu. Dia melanjutkan sesuatu yang aku mulai di bangku warung, tanpa sadar, tanpa tahu, tanpa ingat.

Lima tahun aku tidak tahu ada seseorang di dunia ini yang menjaga satu sore di bulan Juli seperti menjaga lampu yang tidak boleh padam.

Aku menangis di kasur jam empat pagi. Bukan tangis sedih. Aku tidak tahu ada nama untuk tangis seperti ini.

Mungkin cuma: cinta. Yang terlalu besar untuk ditampung dada.


Jam enam pagi, Mama mengetuk pintu kamarku.

“Lin? Kamu udah bangun? Lampunya nyala dari tadi malam.”

Aku membuka pintu. Mama memandangiku. Mataku bengkak, rambutku berantakan, aku masih memakai gaun kemarin.

“Sayang.” Mama langsung memelukku. “Ada apa? Bertengkar sama Bumi?”

Aku menggeleng di bahunya.

“Terus kenapa?”

Aku menarik diri dan memandangnya. “Ma. Mama inget nggak, lima tahun lalu, hari aku balik ke London, aku telat pulang? Pesawatku hampir ketinggalan?”

Mama berpikir sebentar. “Yang kamu bilang nemenin kakek-kakek tersesat? Pak Darto ngebut ke bandara, terus kamu lari-lari di terminal?”

“Iya.”

“Inget. Mama marah banget waktu itu.” Mama tersenyum kecil. “Tapi habis itu Mama bangga. Papa juga. Papa bilang, anak kita nggak ninggalin orang tua di pinggir jalan cuma karena takut ketinggalan pesawat.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Kenapa, Lin?”

“Kakek itu...” Suaraku pecah. “Kakek itu Eyangnya Mas Bumi, Ma.”

Mama tidak bergerak.

Lalu, sangat pelan, Mama duduk di tepi kasurku. Dia memandangi lantai lama sekali. Lalu dia mengangkat kepala dan memandangku, dan matanya basah.

“Pantas,” bisik Mama.

“Pantas apa, Ma?”

“Pantas dia lihatin kamu kayak gitu.” Mama mengusap mata dengan ujung jari. “Waktu di rumah sakit. Mama bilang ke kamu, dia lihatin kamu kayak orang yang lihat sesuatu yang dia sayang banget, tapi dia pikir dia nggak boleh pegang.” Mama tersenyum, senyum yang sangat lembut. “Mama salah satu hal, Lin.”

“Apa?”

“Dia nggak cuma lihat sesuatu yang dia sayang. Dia lihat sesuatu yang dia jaga. Lama banget.” Mama menggenggam tanganku. “Kayak orang jaga lampu.”


Aku sampai di Kopi Sudut jam enam lewat empat puluh. Lebih pagi dari Pak Udin.

Mas Dodi sedang membuka pintu kafe. Dia melihatku berdiri di trotoar dengan mata bengkak dan termos teh manis di tangan, dan dia membeku dengan kunci masih di gembok.

“Mbak Celine? Pagi banget?”

“Pagi, Mas Dodi.”

Dia memandangi wajahku. Lalu tanpa bicara, dia membuka pintu lebar-lebar, menyalakan lampu gantung kecil di atas meja nomor tiga, menurunkan dua kursi besi putih dari atas meja, dan menunjuknya dengan tangan.

“Silakan, Mbak,” katanya pelan. “Saya bikinin kopi.”

Aku duduk di kursi yang kakinya tidak diganjal, di kursiku.

Mas Bumi turun jam enam lewat lima puluh. Aku melihatnya dari kaca depan, keluar dari pintu samping, rambut basah, kemeja putih yang tidak disetrika dengan niat, matanya juga bengkak. Dia juga tidak tidur.

Dia melihatku di meja nomor tiga, dan berhenti di trotoar.

Lalu dia masuk. Lonceng di atas pintu berbunyi kling. Dia berjalan ke meja dan berdiri di sana, tidak duduk, memandangiku.

“Kamu dateng duluan,” katanya.

Aku tersenyum.

“Iya, Mas.” Aku menuang teh manis dari termos ke tutupnya dan mendorongnya ke seberang meja. “Ternyata aku emang selalu duluan.”

Dia memandangi teh itu. Lalu dia duduk di kursi yang kakinya diganjal kertas lipat, mengangkat teh itu dengan dua tangan, dan menyeruputnya.

“Diaduk tiga kali,” katanya pelan.

“Satu buat yang bikin. Satu buat yang minum. Satu buat yang nunggu di rumah.”

Dia meletakkan gelas itu dan menunduk.


“Mas,” kataku. “Semalam aku nggak tidur.”

“Aku juga.”

“Aku mikir.” Aku memandangi lingkaran cahaya kuning dari lampu gantung di atas meja. “Selama ini aku pikir aku yang berutang sama Mas. Seratus empat puluh tujuh. Aku pikir Mas yang mulai semuanya. Mas yang datang duluan. Mas yang kasih, aku yang terima.”

Dia diam, mendengarkan.

“Tapi semalam aku sadar.” Aku menatapnya. “Ternyata yang duluan itu aku.”

Dia mengangkat kepala.

“Di warung itu. Lima tahun lalu. Sebelum Mas tahu namaku. Sebelum Mas tahu aku siapa. Sebelum jendela.” Suaraku bergetar, tapi aku tidak berhenti. “Aku yang duluan duduk di sebelah Eyang. Aku yang duluan pesan teh manis. Aku yang duluan nelepon Mas dan bilang aku nggak ke mana-mana.”

“Celine...”

“Jadi semua yang Mas lakuin setelahnya,” kataku pelan, “semua ban, semua payung, semua teh manis... Mas nggak mulai apa-apa, Mas. Mas cuma nerusin. Nerusin sesuatu yang aku mulai, waktu aku nggak tahu aku lagi mulai sesuatu.”

Dia memandangiku dengan mata yang mulai basah lagi.

“Mas tahu nggak apa artinya itu buat aku?” bisikku.

Dia menggeleng pelan.

“Artinya kita nggak pernah punya utang.” Aku tersenyum, dan air mataku jatuh. “Mas nggak berutang sama aku karena Eyang. Aku nggak berutang sama Mas karena seratus empat puluh tujuh. Nggak ada yang bales, nggak ada yang nagih. Kita cuma dua orang yang kebetulan...” Aku tertawa kecil. “Bukan kebetulan. Dua orang yang sama-sama nggak bisa lihat orang kesusahan tanpa turun.”

Aku mengeluarkan ponselku dan membuka spreadsheet Rio. DAFTAR UTANG KEBAIKAN — CELINE KE MAS BUMI (JANGAN DIKASIH LIHAT KE MAS BUMI). Seratus empat puluh delapan baris. Kolom status yang sebagian sudah LUNAS 🎉, sebagian Sedang Dicicil, sebagian Belum.

Aku memutar ponsel itu menghadapnya.

Dia membaca judul itu. Lalu menggulir ke bawah. Baris demi baris. Ban bocor. Laptop. Terpal biru. Sepatu Pak Udin. Lampu jalan. Roti cokelat keju. Dia membaca dengan wajah yang tidak bisa kubaca, lalu sampai di baris paling bawah.

148. Mas Bumi ngajak aku ke rumahnya. Status: —

“Kamu bikin ini?” bisiknya.

“Rio yang bikin. Aku yang isi.”

“Seratus empat puluh delapan?”

“Seratus empat puluh tujuh dari Buku Kebetulan Jovan. Satu dari aku.”

Dia menutup mata sebentar. Lalu membukanya. “Semalam aku bilang aku takut cintaku jadi baris di daftar,” katanya pelan. “Ternyata beneran ada daftarnya.”

“Ada.” Aku mengambil ponsel itu kembali. “Dan sekarang aku hapus.”

Dia mengangkat kepala cepat. “Jangan...”

Aku sudah memilih semua baris. Seratus empat puluh delapan. Aku menekan hapus.

Spreadsheet itu kosong. Cuma ada judul ungu di atas, dan lima kolom yang tidak berisi apa-apa.

Lalu, di baris pertama, di kolom Kebaikan, aku mengetik pelan-pelan sambil memutar ponselku supaya dia bisa melihat setiap hurufnya:

Nggak ada utang. Cuma ada kita.

Di kolom Status Pelunasan, aku memilih dari menu tarik-turun.

LUNAS 🎉

Dia memandangi layar itu lama sekali.

Lalu dia tertawa. Pelan dan basah, dengan suara yang pecah di tengah. Dia menutup wajah dengan tangan yang bernoda tinta, dan bahunya bergetar, dan aku tidak tahu dia tertawa atau menangis. Mungkin dua-duanya.

“Rio bakal sedih,” katanya dari balik telapak tangan.

“Rio bakal ngerti. Dia perwakilan laki-laki pemalu.”

Dia tertawa lebih keras.


“Mas,” kataku, ketika dia sudah menurunkan tangannya. “Satu lagi.”

“Hm?”

“Mas takut aku mikir Mas cinta aku karena Eyang. Karena utang budi.”

Dia mengangguk pelan.

Aku meraih tangannya di atas meja, tangan yang bernoda tinta, dan membaliknya sehingga telapaknya menghadap ke atas, seperti telapak yang menadahkan baut di jalan gelap.

“Aku tahu Mas cinta aku bukan karena utang,” kataku. “Aku tahu.”

“Dari mana?”

“Dari caramu gambar senyumku.”

Dia tidak bergerak.

“Utang nggak bikin orang gambar tiga ratus halaman,” bisikku. “Utang nggak bikin orang nulis lesungnya nggak muncul, pesannya dari siapa?. Utang nggak bikin orang beli buku cerita anak tiap hari Sabtu terus nulis tanggal di sampul belakangnya. Utang nggak bikin orang nangis di jendela waktu aku nangis karena Mochi.” Aku meremas tangannya. “Utang nggak bikin tinta luntur, Mas.”

Dia memejamkan mata. Rahangnya bergerak.

“Halaman pertama itu buat Eyang,” kataku pelan. “Aku tahu. Mas gambar itu buat Eyang, biar Mas nggak lupa janji. Tapi halaman-halaman setelahnya...” Aku menggeleng pelan. “Itu bukan buat Eyang lagi. Itu buat aku. Garisnya beda, Mas. Aku lihat. Halaman pertama, garisnya buru-buru, takut lupa. Halaman-halaman setelahnya, garisnya... sayang.”

Dia membuka mata. Air mata jatuh dari sudut matanya, satu, pelan.

“Mas nggak perlu takut lagi,” bisikku. “Aku udah lihat buktinya. Tiga ratus halaman.”


Pintu kafe berbunyi kling keras.

“SEPULUH TAHUN,” teriak seseorang.

Kami berdua menoleh. Jovan berdiri di ambang pintu dengan helm masih di kepala, tas laptop di bahu, dan wajah merah padam. Di belakangnya, Tasya, dengan kacamata berembun dan ponsel di tangan, layarnya menyala, menampilkan pesan yang kukirim jam lima pagi: Sya. Kakek di warung lima tahun lalu. Yang aku ceritain waktu video call. Itu Eyangnya Mas Bumi.

“SEPULUH TAHUN, BUM,” teriak Jovan lagi. Dia berjalan ke meja kami dengan langkah menghentak. “Sepuluh tahun aku kenal kamu! Kita ngekos bareng! Makan mi instan bareng! Aku yang angkat telepon waktu kamu bilang Eyang meninggal! Dan kamu nggak pernah cerita soal warung? Soal teh manis? Soal anak baik itu?”

Mas Bumi memandanginya dengan wajah bersalah. “Jo...”

“Aku pikir kamu jatuh cinta pada pandangan pertama dari jendela!” Jovan melepas helm dan membantingnya ke meja sebelah. “Aku bikin tiga jilid buku! Aku kasih kapur barus! Dan ternyata ada jilid nol yang aku nggak tahu!”

“Jilid nol?” kata Tasya di belakangnya.

“Halaman pertama! Selotip cokelat! Aku pikir itu gambar mantan!” Jovan menunjuk Mas Bumi dengan jari gemetar. “Lima tahun aku nggak berani tanya karena aku pikir itu gambar mantan yang nyakitin hatimu!”

Mas Dodi tertawa sampai tersedak di balik meja bar.

Tasya mendorong Jovan ke samping, berjalan ke arahku, dan memelukku dari belakang kursi dengan sangat erat sampai tulangku berbunyi lagi.

“Lin,” katanya di rambutku, terisak. “Lin, kamu tahu nggak, waktu kamu cerita soal kakek itu di video call, aku bilang ‘baik banget kamu’, terus kita ngomongin cowok kampusmu yang botak. Aku nyesel, Lin. Aku nyesel nggak dengerin lebih lama.”

“Nggak apa-apa, Sya.”

“APA-APA. Itu cerita paling penting dalam hidupmu dan aku ngomongin cowok botak!”

Di luar kaca, Pak Udin sudah datang. Dia berdiri di trotoar dengan topi di dada. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tidak ada yang memberitahunya, tapi dia melihat kami berempat di meja nomor tiga. Jovan memegang helm dan berteriak. Tasya memelukku sambil menangis. Mas Bumi menunduk dengan telinga merah. Aku tertawa dengan mata bengkak.

Pak Udin mengusap matanya dengan punggung tangan.

Aku tidak perlu bertanya. Aku tahu dia bilang debu.


Sorenya, di studio, ketika Jovan dan Tasya sudah pergi, yang satu masih menggerutu soal jilid nol, yang satu masih menangis soal cowok botak, Mas Bumi duduk di meja dekat jendela dan membuka buku sketsa kulit cokelat itu ke halaman pertama.

Selotip kertas cokelat yang menguning itu tidak dia tempel lagi.

Dia mengambil pensil, pensil yang diraut dengan pahat Eyang, dan di pojok kanan bawah halaman pertama, di bawah tulisan lama yang berantakan, Dia pergi sebelum aku sempat bilang makasih, dia menulis satu baris baru dengan huruf cetak kecil-kecil yang rapi:

Lima tahun kemudian, dia kembali. Dan dia nggak pergi.

Aku berdiri di belakangnya, membaca dari atas bahunya, dengan daguku di bahunya.

“Mas,” bisikku.

“Hm.”

“Minggu ini. Ke Bogor.”

Dia diam sebentar. Lalu dia menutup buku sketsa itu, pelan, dan menoleh padaku.

“Hari Minggu,” katanya. “Pagi. Eyang suka pagi.”

“Aku bawa termos.”

“Dua gelas?”

Aku tersenyum dan memeluk lehernya dari belakang.

“Tiga, Mas,” kataku. “Satu buat Eyang.”