Chapter Fifteen
Pacar Mas Kebetulan
POV: Celine
Jam tujuh lewat sepuluh, aku memarkir mobil di depan Kopi Sudut, dan Pak Udin tidak meniup peluit.
Dia berdiri tegak di samping posnya dengan topi biru di dada, seperti orang yang sedang menghormat bendera. Wajahnya serius. Matanya basah.
“Pagi, Pak,” kataku.
“Pagi, Mbak.” Suaranya bergetar. “Silakan masuk. Mas Bumi udah di dalam. Dari jam enam lewat empat puluh.”
“Jam enam lewat empat puluh?”
“Mas Dodi aja belum buka, Mbak. Dia nunggu di trotoar. Berdiri. Kayak satpam.”
Aku menutup mulut supaya tidak tertawa, dan masuk.
Dia duduk di meja nomor tiga, di kursi yang kakinya sudah diganjal. Kemeja putih, disetrika dengan niat, lengan tergulung sampai siku. Di depannya ada segelas teh manis yang sudah setengah habis dan, di sisi meja yang lain, segelas kopi susu panas yang masih mengepul.
Dia berdiri waktu melihatku. Berdiri betulan, dari kursi, seperti di film-film lama.
“Pagi,” katanya.
“Pagi, Mas.”
“Kopinya... aku pesan duluan. Takut kamu nunggu.” Dia menggaruk tengkuk. “Gula arennya dua sendok. Mas Dodi yang bikin, bukan aku. Aku belum dibolehin pakai mesin lagi. Katanya kemarin malam aku bikin susu tumpah sampai ke kolong kulkas.”
Aku duduk di depannya. Dia duduk lagi. Kami saling memandang di atas meja marmer imitasi yang retak halus, dalam cahaya pagi yang masuk miring dari kaca depan, dan tiba-tiba kami berdua tidak tahu harus bilang apa.
Di balik meja bar, Mas Dodi berpura-pura mengelap gelas yang sudah bersih. Gelas yang sama, sudah dua menit.
Di luar, Pak Udin menempelkan wajahnya ke kaca depan, persis seperti Tasya semalam, lalu buru-buru mundur ketika aku melirik.
“Mas,” kataku.
“Ya?”
“Ini aneh nggak, sih?”
Dia berpikir sebentar. “Aneh.”
“Aneh bagus atau aneh jelek?”
Dia memandangiku, lalu memandang ke luar kaca, ke atas, ke jendela lantai dua di seberang yang memantulkan langit pagi yang kosong.
“Aneh bagus,” katanya pelan. “Aku nggak pernah lihat jendela itu dari bawah. Ternyata kelihatan kosong.”
“Itu karena Mas di sini.”
“Iya.” Sudut bibirnya naik. “Itu karena aku di sini.”
Lalu, di bawah meja, ujung sepatunya menyentuh ujung sepatuku. Pelan dan ragu-ragu, seperti mengetuk pintu. Aku tidak menggeser kakiku. Ujung sepatu kami tetap bersentuhan sepanjang lima belas menit itu, sementara kami minum kopi dan teh dan membicarakan hal-hal kecil seperti hujan semalam, rob di Cilincing, dan Bu Hartini yang sudah mengirim tiga pesan ke Jovan menanyakan “perkembangan”.
Ketika aku pulang, aku memberikan es kopi ke Pak Udin seperti biasa. Pak Udin menerimanya dengan dua tangan, lalu berbisik, “Mbak, saya nggak nangis. Ini debu.”
“Iya, Pak. Debu.”
“Debunya banyak banget pagi ini, Mbak.”
Sorenya, dia meneleponku. Telepon kedua yang dia mulai duluan dalam sejarah hubungan kami. Aku menghitung.
“Celine.”
“Ya, Mas?”
Hening. Aku mendengar dia menarik napas di seberang, seperti orang yang mau melompat dari papan loncat yang terlalu tinggi.
“Malam Minggu,” katanya. “Kamu... ada acara?”
Aku menekan bibir supaya tidak menjerit. Di sebelahku, Tasya, yang sedang menempelkan telinga ke punggung ponselku tanpa izin, menjerit tanpa suara dan mencengkeram lenganku.
“Nggak ada, Mas.”
“Boleh aku ajak makan?”
“Boleh.”
“Tapi...” Dia berhenti. “Tempatnya sederhana. Warung tenda. Pecel lele di pinggir jalan dekat Blok M. Aku tahu kamu biasa makan di tempat yang...”
“Mas.”
“...yang ada taplak mejanya, yang pelayannya pakai rompi, yang...”
“Mas Bumi.”
Dia berhenti.
“Aku belum pernah makan di warung tenda,” kataku.
Hening di seberang.
“Belum pernah?”
“Belum pernah. Seumur hidup.” Aku memandangi Tasya, yang mengangguk-angguk membenarkan. “Waktu kecil Mama nggak bolehin, takut sakit perut. Waktu SMA aku pengin, tapi Pak Darto selalu jemput tepat waktu dan langsung pulang. Waktu di London, ya, nggak ada warung tenda di London. Ada truk makanan, tapi isinya burger yang harganya dua puluh pound.”
“Kamu... belum pernah makan pecel lele?”
“Pernah. Dibeliin Mbak Sri. Dibungkus. Dimakan di meja makan pakai piring porselen.” Aku tertawa. “Rasanya enak, tapi Tasya bilang pecel lele harus dimakan di bawah tenda, pakai tangan, sambil dengar pengamen, kalau nggak, nggak sah.”
“Tasya benar,” katanya.
“Tuh, kan.”
Hening lagi. Lalu, pelan, aku mendengar sesuatu yang belum pernah kudengar dari dia.
Dia tertawa.
Tawanya tidak keras. Cuma tawa kecil, pendek, seperti orang yang tidak sengaja. Tapi itu tawa, tawa yang sungguhan, dan suaranya rendah dan hangat dan sedikit serak, dan aku mendengarnya lewat ponsel di kantor Rumah Pelangi dan rasanya seperti ada yang menyalakan lampu di dalam dadaku.
“Oke,” katanya. “Malam Minggu. Jam tujuh. Aku jemput.”
“Pakai Kijang?”
“AC-nya masih rusak.”
“Bagus,” kataku. “Aku mau buka jendela.”
Mama memandangiku dari ambang pintu kamar ketika aku mencoba baju keenam.
“Lin,” katanya. “Warung tenda, kan?”
“Iya, Ma.”
“Terus kenapa kamu nyoba gaun sutra?”
Aku memandangi diriku di cermin. Gaun sutra hijau zamrud, potongan midi, yang kubeli di Milan dua tahun lalu. Memang tidak cocok untuk warung tenda. Memang tidak cocok untuk Kijang tanpa AC.
“Aku panik, Ma.”
Mama tertawa dan masuk ke kamar. Dia sudah jauh lebih sehat sekarang. Pipinya sudah kembali merona, dan dia minum obat tiap pagi jam tujuh tanpa lupa karena aku memasang alarm di ponselnya dengan nada dering suara Tasya yang berteriak TANTE, MINUM OBAT!
Mama membuka lemariku, mengaduk-aduk sebentar, lalu mengeluarkan kaus putih polos dan celana jeans biru muda yang sudah agak pudar di lutut.
“Ini,” katanya.
“Ma, ini baju buat beres-beres rumah.”
“Ini baju buat jadi dirimu sendiri.” Mama meletakkan baju itu di kasur. “Dia nggak jatuh cinta sama gaun sutra, Lin. Dia jatuh cinta sama perempuan yang beliin tukang parkir kopi tiap pagi.”
Aku memandangi kaus putih itu.
“Mama tahu dari mana dia jatuh cinta?”
Mama tersenyum, senyum Pak-Udin-dan-debu. “Mama pura-pura tidur, Sayang. Bukan pura-pura buta.”
Dia datang jam tujuh kurang lima.
Kijangnya diparkir di depan gerbang, dan Pak Rahmat, satpam rumah, memberi hormat padanya seperti menyambut jenderal. Dia turun dengan kemeja kotak-kotak biru tua, celana jeans gelap, dan wajah orang yang akan menghadapi wawancara kerja paling menentukan dalam hidupnya.
Lalu dia melihatku turun tangga teras dengan kaus putih polos dan jeans pudar di lutut, rambut diikat setengah, tanpa riasan berat, cuma lipstik tipis dan bedak.
Dia berhenti melangkah.
Dia memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala, lalu kembali ke wajahku, dan bibirnya sedikit terbuka. Lalu dia cepat-cepat menunduk ke kunci mobil di tangannya.
“Kenapa?” tanyaku. “Jelek?”
“Nggak.”
“Terus kenapa nunduk?”
Dia menggaruk tengkuk. Lama.
“Kamu cantik,” katanya ke kunci mobil. Pelan. Hampir tidak terdengar. “Kamu selalu cantik. Tapi aku nggak pernah lihat kamu pakai baju biasa. Ternyata...”
“Ternyata?”
“Ternyata lebih susah dilihat.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Pipiku panas. Di balik pagar, Pak Rahmat terbatuk-batuk keras, dan aku yakin dia juga akan bilang itu debu.
Kijang itu, tanpa AC, dengan semua jendela terbuka, ternyata adalah kendaraan paling menyenangkan yang pernah kunaiki.
Angin malam Jakarta masuk dari segala arah, membawa bau sate dari gerobak di pinggir jalan, bau hujan yang belum jadi, bau knalpot bus kota. Rambutku terbang ke mana-mana. Ikatan setengahku lepas di perempatan pertama. Aku tertawa, menyisir rambut dengan jari, dan rambutku terbang lagi.
“Maaf,” katanya. “Jendelanya bisa ditutup.”
“Jangan!”
Aku mengeluarkan tangan ke luar jendela, membiarkan angin menggelitik telapakku seperti waktu kecil, seperti yang dulu dilarang Pak Darto karena “bahaya, Non”. Mas Bumi melirikku, dan aku melihat sudut bibirnya naik.
Di lampu merah, dia mencondongkan badan dan membuka laci dasbor. Dia mengeluarkan sesuatu dan menyodorkannya padaku.
Karet rambut. Karet rambut hitam polos, masih baru, masih ada di kemasan kertasnya.
Aku memandangi karet itu. Lalu memandanginya.
“Kenapa Mas punya karet rambut?”
“Beli tadi sore.” Dia menatap lampu merah dengan sangat serius. “Di minimarket. Aku tahu jendelanya nggak bisa ditutup rapat yang kiri. Rambutmu panjang.”
Aku memegang karet rambut itu dan tidak bisa bicara selama satu lampu merah penuh.
Pecel Lele Cak Mat ada di trotoar lebar dekat terminal Blok M. Tendanya terpal oranye dengan tulisan merah besar-besar, PECEL LELE · AYAM · BEBEK · SEAFOOD · CAK MAT · SEJAK 1998. Ada bangku-bangku kayu panjang tanpa sandaran, meja kayu yang sedikit lengket, lampu neon putih yang dikelilingi laron, dan seorang pengamen bergitar dengan suara serak yang sedang menyanyikan lagu dangdut lawas di tenda sebelah.
Aku berdiri di depan tenda itu dengan mata berbinar seperti anak kecil di taman bermain.
“Mas,” bisikku. “Ini sempurna.”
Dia memandangiku, bingung dan lega sekaligus.
Kami duduk di bangku panjang di ujung. Cak Mat sendiri yang melayani, laki-laki gempal berkumis lebat dengan handuk kecil di bahu. Dia mengenali Mas Bumi.
“Lho, Mas Arsitek! Lama nggak ke sini!” Cak Mat menepuk bahunya. “Biasanya sendirian. Lha ini...” Dia melihatku. Matanya membulat. “Lha ini... Mas, ini...”
“Teman,” kata Mas Bumi cepat.
“Teman,” ulang Cak Mat, dengan nada orang yang tidak percaya sama sekali. “Oke. Teman. Mau pesan apa, Mbak Teman?”
Aku memesan pecel lele, ayam goreng, tahu tempe, lalapan, dan sambal yang paling pedas.
“Yang paling pedas, Mbak?” Cak Mat menatapku ragu. “Yang paling pedas itu sambal korek. Cabainya...”
“Tiga belas?” tanyaku.
Mas Bumi tersedak teh botolnya.
Pecel lele itu, dimakan dengan tangan, di bawah tenda terpal oranye, dengan lampu neon dan laron dan suara pengamen dan angin malam dan sambal korek yang membuat lidahku terbakar, adalah makanan terenak yang pernah kumakan seumur hidup. Aku mengatakannya keras-keras. Cak Mat tertawa sampai kumisnya bergetar dan memberi kami tambahan tahu goreng gratis.
Lalu aku melihat sesuatu di tenda sebelah.
Dua orang duduk di bangku pojok. Satu laki-laki dengan topi bisbol hitam, kacamata hitam, dan masker medis. Satu perempuan dengan topi pantai lebar, kacamata hitam juga, dan syal yang dililit sampai menutupi hidung.
Kacamata hitam. Di malam hari. Di bawah lampu neon.
Mereka sedang makan bebek goreng dengan sangat canggung, karena makan dengan masker dan syal itu ternyata sulit.
Aku menyikut Mas Bumi. Dia mengikuti arah pandangku.
Lama dia memandangi dua orang itu. Lalu dia menutup wajah dengan tangan yang tidak berminyak.
“Jovan,” katanya dari balik telapak tangan.
“Tasya,” kataku.
“Mereka pikir kita nggak kenal?”
“Tasya pakai syal batik yang aku kasih buat ulang tahunnya, Mas. Itu motif satu-satunya di Jakarta. Aku pesan khusus di Pekalongan.”
Di tenda sebelah, laki-laki bertopi bisbol itu memanggil pengamen. Dia berbisik sesuatu, menyelipkan uang dua puluh ribu ke kotak gitar. Pengamen itu mengangguk, berjalan ke tenda kami, berdiri tepat di depan meja kami, dan mulai menyanyikan, dengan suara serak dan penuh perasaan, lagu cinta paling klise yang pernah ditulis manusia.
Dia menyanyikannya sambil menatap Mas Bumi.
Mas Bumi menatap pengamen itu. Pengamen itu menatap balik dengan penuh penghayatan. Di bagian reff, pengamen itu memejamkan mata dan menaikkan nada satu oktaf.
Di tenda sebelah, Tasya terbatuk-batuk di balik syal batiknya. Jovan menunduk sampai topi bisbolnya hampir masuk ke piring bebek.
Aku tidak bisa menahannya lagi.
Aku tertawa. Aku tertawa sampai tidak bisa bernapas, sampai harus memegang tepi meja yang lengket, sampai air mataku keluar, sampai Cak Mat ikut tertawa dari balik wajan, sampai pengamen itu kehilangan nada dan ikut tertawa juga. Aku tertawa dengan seluruh tubuhku, dengan kepala ke belakang, dengan sambal korek masih di ujung jari, dengan rambut yang lepas lagi dari karet hitam polos dari minimarket. Tawaku lepas, bebas, keras, dan sama sekali tidak anggun, tawa yang tidak pernah boleh keluar di meja makan berlapis taplak.
Ketika akhirnya aku bisa bernapas lagi, aku menoleh ke Mas Bumi.
Dia tidak tertawa.
Dia memandangiku. Matanya basah.
Bukan basah karena tertawa. Matanya berkaca-kaca, dan aku melihat satu tetes jatuh dari sudut mata kirinya, pelan, menuruni pipinya, sebelum dia sempat memalingkan muka.
Tawaku berhenti.
“Mas?” bisikku. “Mas kenapa?”
Dia mengusap pipinya dengan punggung tangan, cepat, seperti orang yang ketahuan. Dia mencoba tersenyum, tapi senyumnya goyah.
“Maaf,” katanya. Suaranya serak. “Aku cuma...”
Dia berhenti. Dia menunduk ke piring pecel lele yang tinggal tulang, lalu mengangkat kepala lagi dan memaksakan diri menatapku.
“Aku cuma nggak nyangka bisa lihat ini dari dekat.”
Dunia di sekitarku berhenti. Pengamen, laron, lampu neon, Cak Mat, Jovan, Tasya, semuanya.
Bisa lihat ini dari dekat.
Empat tahun. Empat tahun dia melihatku tertawa dari jendela lantai dua, lewat kaca, dari ketinggian, dari jarak yang dia pikir tidak boleh dia lewati. Empat tahun menggambar tawaku tanpa pernah mendengar suaranya dari jarak satu meja.
Dan malam ini, di bawah tenda terpal oranye, di bangku kayu tanpa sandaran, dia mendengarnya. Dari dekat. Untuk pertama kalinya.
Dan dia menangis.
Mas Dodi bilang dia bisa mengajariku cara membuat kopi. Tapi tidak ada yang pernah mengajariku harus berbuat apa ketika seseorang menangis karena melihatmu bahagia.
Aku mengulurkan tangan, tangan yang masih bau sambal dan minyak goreng, dan menyentuh pipinya. Ibu jariku mengusap bekas air mata yang sudah dia hapus tapi masih menyisakan jejak basah.
Dia memejamkan mata.
“Mas,” bisikku. “Mulai sekarang Mas boleh lihat dari dekat. Tiap hari. Selama Mas mau.”
Dia membuka mata. Dan aku melihat sesuatu di matanya, sesuatu yang belum pernah kulihat di sana sebelumnya, bahkan di meja nomor tiga semalam. Dia tidak takut lagi. Tidak minta maaf lagi.
Dia cuma percaya.
“JADI KALIAN PACARAN NGGAK, SIH?”
Kami berdua menoleh.
Tasya berdiri di tenda sebelah, sudah melepas topi pantai dan syal batiknya, kacamata hitam miring di hidung, wajahnya merah dan basah karena menangis. Jovan menarik-narik lengannya sambil berbisik putus asa, “Sya, kita lagi nyamar, Sya, kita lagi nyamar.”
“Nyamarnya udah ketahuan dari tadi, Mas Jovan!” Tasya menepis tangannya. “Aku udah nggak kuat! Aku udah nunggu dari ban bocor! Aku butuh status! STATUS!”
Seluruh tenda Cak Mat menoleh ke arah kami. Pengamen itu berhenti memetik gitar. Cak Mat berhenti menggoreng lele. Seorang bapak di meja ujung menurunkan tusuk satenya.
Mas Bumi memandangi Tasya. Lalu memandangiku.
Aku menunggu.
Dia membuka mulut. Menutupnya. Menggaruk tengkuk. Membuka mulut lagi.
“Kalau...” Suaranya pelan sekali. “Kalau kamu mau...”
“Aku mau,” kataku.
Langsung. Tanpa jeda. Tanpa ragu.
Dia mengerjap. “Aku belum selesai ngomong.”
“Nggak usah diselesaiin. Aku mau.” Aku tersenyum lebar, lesung pipitku pasti muncul dalam-dalam. “Aku pacar Mas Kebetulan sekarang.”
Cak Mat bertepuk tangan. Lalu bapak dengan tusuk sate. Lalu pengamen itu memetik gitarnya keras-keras dan mulai menyanyikan lagu dangdut tentang pengantin baru, yang sama sekali tidak relevan tapi dinyanyikan dengan penuh semangat. Tasya menjerit dan memeluk Jovan, yang membeku dengan wajah merah padam di balik masker medis yang masih menggantung di satu telinga.
Mas Bumi memandangi kekacauan itu, lalu memandangiku.
Lalu dia tertawa. Tawa yang sungguhan, keras, untuk pertama kalinya. Bukan tawa kecil di telepon, bukan sudut bibir yang naik. Dia tertawa dengan kepala sedikit ke belakang dan mata menyipit, dan ternyata dia punya kerutan kecil di sudut mata kalau tertawa.
Aku tidak tahu itu. Empat tahun dia melihatku tertawa. Dan aku baru tahu sekarang seperti apa wajahnya kalau dia tertawa.
Dia mengantarku pulang jam sepuluh.
Kijang itu berhenti di depan gerbang rumah Menteng. Pak Rahmat sudah berdiri di pos satpam, pura-pura membaca koran terbalik.
Kami turun. Dia mengantarku sampai ke gerbang kecil di samping gerbang utama. Malam itu sejuk, ada sisa bau hujan yang tidak jadi, dan lampu taman menyala kuning di balik pagar.
“Makasih, Mas,” kataku. “Buat pecel lele. Buat karet rambut. Buat Kijang tanpa AC.”
“Makasih juga,” katanya. “Buat... bilang mau.”
Kami berdiri di sana. Dia memandangiku. Aku memandanginya. Tidak ada yang bergerak.
Lalu dia mengangkat tangan. Pelan, ragu-ragu, seperti waktu dia mendekati Nayla. Tangannya berhenti di udara, dekat wajahku, tidak menyentuh.
“Boleh?” bisiknya.
Aku tidak tahu dia minta izin untuk apa. Aku tidak peduli.
“Boleh,” bisikku.
Dia menyelipkan rambutku yang berantakan ke belakang telinga, rambut yang terbang dari Blok M sampai Menteng. Jari-jarinya hangat dan sedikit gemetar. Lalu, dengan sangat pelan, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang paling berharga di dunia dan takut meninggalkan bekas, dia menunduk.
Dan mengecup keningku.
Hanya sebentar. Satu detik, mungkin dua. Bibirnya hangat dan kering di kulit keningku, dan aku bisa mencium wangi kayu dari kemejanya, wangi sabun murah, dan sedikit bau sambal korek.
Ketika dia menegakkan badan, wajahnya merah sampai ke leher, dan dia tidak berani menatapku.
“Selamat malam,” katanya ke arah tiang gerbang.
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Aku cuma berdiri di sana dengan tangan menempel di kening, di tempat bibirnya tadi.
Dia berjalan kembali ke Kijang. Menyalakan mesin di percobaan kedua. Melambai sekali dari balik jendela yang terbuka. Lalu pergi.
Aku berdiri di gerbang sampai lampu belakang mobil hijau tua itu menghilang di ujung jalan.
Lalu aku menoleh ke rumah, ke lantai dua.
Di jendela kamar Mama, tirainya tersingkap sedikit. Ada wajah di balik kaca, dan wajah itu langsung menghilang begitu aku menoleh. Tirai jatuh kembali.
Di pos satpam, Pak Rahmat masih membaca koran terbalik. Bahunya bergetar.
“Pak Rahmat,” panggilku.
“Iya, Non?”
“Debu, ya?”
“Iya, Non,” kata Pak Rahmat dengan suara serak. “Banyak debu malam ini.”
Aku masuk ke rumah besar yang langit-langitnya terlalu tinggi. Untuk pertama kalinya rumah itu tidak terasa sepi. Aku membawa sesuatu yang hangat di keningku, karet rambut hitam polos di pergelangan, dan suara tawa seseorang yang baru pertama kali kudengar malam ini.
Malam itu, sebelum tidur, aku mengganti nama kontaknya di ponsel.
Dari Mas Kebetulan menjadi Pacar Mas Kebetulan.
Lalu aku memandanginya lama, tertawa sendiri, dan menggantinya lagi menjadi Bumi 🌏.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan reading
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi