Chapter Twenty Eight
Belajar Ditolong
POV: Bumi
Aku tidak merayakan ulang tahun sejak umur dua puluh enam.
Ulang tahun terakhir yang dirayakan adalah yang terakhir bersama Eyang. Dia masih ingat namaku waktu itu, kadang-kadang. Dia membuatkanku teh manis tiga gelas di teras rumah kayu, dan membelikanku kue putu di depan pasar Bogor. Lima ratus rupiah dapat tiga, katanya, padahal harganya sudah dua ribu rupiah satu. Kami duduk di bangku kayu di bawah pohon rambutan, dan Eyang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan nada yang salah, lalu lupa liriknya di tengah, lalu mulai lagi dari awal.
Sejak itu, tanggal itu cuma tanggal. Aku bangun, mandi, ke studio, menggambar, pulang. Jovan biasanya ingat seminggu kemudian dan mentraktirku bakso dengan rasa bersalah.
Aku tidak pernah bilang ke Celine tanggal ulang tahunku. Bukan karena aku menyembunyikannya. Aku cuma lupa bahwa itu sesuatu yang perlu dikatakan.
Jadi pagi itu aku bangun jam lima, mandi, memakai kemeja putih, dan turun ke meja nomor tiga seperti biasa.
Dia sudah di sana. Termos teh manis, kopi susu gula aren, es kopi untuk Pak Udin. Tiga gelas.
“Pagi, Mas.”
“Pagi.”
Dia menuang teh manis ke tutup termos dan mendorongnya ke arahku. Dia tersenyum. Senyumnya biasa, tidak ada yang aneh.
Aku minum teh itu. Kami membicarakan jadwal pengecoran lantai dua di Cilincing. Dia bercerita soal Dimas yang kemarin memanjat rak buku baru di Rumah Pelangi, rak yang kupasang dengan sambungan tukang lama, dan rak itu tidak roboh, dan Dimas bangga sekali.
Jam tujuh lewat dua puluh lima, dia berdiri, mencium pipiku cepat, sesuatu yang sekarang dia lakukan setiap pagi dan yang setiap pagi masih membuat telingaku panas, lalu pergi ke Rumah Pelangi.
Tidak ada selamat ulang tahun.
Aku tidak kecewa. Aku tidak berharap. Dia tidak tahu tanggalnya. Itu bukan salahnya.
Aku naik ke studio. Jovan datang jam tujuh lewat lima belas dengan nasi uduk yang tidak pernah dia bagi, kecuali sekali, di Kijang.
“Pagi, Bum.”
“Pagi.”
Jovan duduk, membuka nasi uduknya, dan mulai makan. Dia tidak bilang apa-apa.
Tentu saja. Jovan tidak pernah ingat. Seminggu lagi, bakso, rasa bersalah.
Aku membuka gambar kerja dan mulai bekerja.
Hari itu panjang dan biasa.
Pak Udin mengantar teh manis jam sepuluh. Tidak bilang apa-apa selain ini, Mas. Mas Dodi melambai dari bawah waktu aku turun beli makan siang. Kontraktor menelepon soal besi yang telat datang. Bu Hartini mengirim pesan menanyakan apakah “yang lantai dua” sudah melamar, dan aku tidak menjawab.
Jam empat sore, Jovan pulang. “Ada urusan,” katanya, terlalu cepat.
Jam lima, aku sendirian di studio. Langit di luar jendela mulai jingga. Di ujung jalan, lampu di lantai atas Rumah Pelangi belum menyala.
Jam lima lewat dua puluh, ponselku bergetar.
Celine: MAS
Celine: RAK DI RUANG BACA ROBOH LAGI
Celine: CEPET
Aku sudah setengah jalan menuruni tangga sebelum pesan ketiga muncul.
Kotak perkakas Eyang di tangan kiri. Aku tidak ingat mengambilnya. Tanganku mengambilnya sendiri, seperti refleks, seperti setiap kali dunia di ujung jalan itu sedikit retak.
Aku berlari menyusuri trotoar. Pak Udin tidak ada di posnya. Kopi Sudut kelihatan sepi, terlalu sepi untuk jam lima sore. Rumah Pelangi di ujung jalan, pintunya tertutup, lampunya mati.
Rak roboh. Rak yang kupasang sendiri dengan baut besi panjang dan sambungan tukang lama. Tidak mungkin roboh. Kecuali ada yang salah. Kecuali aku salah hitung. Kecuali ada anak yang terluka...
Aku membuka pintu kaca Rumah Pelangi dengan bahu.
Gelap.
“Celine?”
Tidak ada jawaban.
Aku berjalan ke ruang baca. Gelap juga. Aku meraba dinding mencari saklar...
Lampu menyala.
“SELAMAT ULANG TAHUN!”
Aku tidak bisa bergerak.
Ruang baca Rumah Pelangi penuh orang.
Anak-anak duduk di lantai, di karpet, di sofa panjang di bawah rak yang tidak roboh sama sekali. Dimas berdiri paling depan dengan topi kerucut kertas di kepala, berteriak paling keras. Rafa memeluk boneka jerapah, boneka yang pernah kududukkan menghadap ke luar di bagasi mobil putih. Nayla duduk di pojok, tidak lagi menutupi wajahnya dengan lengan. Dia memeluk paus kayu kecil, dan dia tersenyum.
Ibu-ibu Kampung Rawa, Bu Wati di antara mereka.
Mas Dodi, dengan celemek Kopi Sudut masih terpasang dan nampan berisi gelas-gelas plastik.
Pak Udin, dengan topi biru di dada, berdiri tegak seperti menghormat bendera.
Rio, memegang kamera, merekam semuanya dengan tangan gemetar.
Tasya, kacamatanya sudah berembun, dengan terompet kertas di mulut.
Jovan, berdiri di samping Tasya, nasi uduk tidak ada di tangannya, wajahnya merah. Ternyata dia tidak lupa.
Bu Hartini, dengan kacamata berantai mutiara dan sekotak bolu pandan.
Dan di pojok, di kursi plastik kecil untuk anak-anak, kursi yang terlalu kecil untuk tubuhnya, duduk Pak Hendra Florentina dengan kemeja batik dan wajah yang sangat datar, lututnya hampir menyentuh dagu. Di sebelahnya, Bu Ratna di kursi plastik yang sama kecilnya, tersenyum lebar.
Dan di samping Bu Ratna...
Bu Imah. Dari Bogor. Dengan kerudung yang dipakai terburu-buru dan rantang di pangkuan. Di belakangnya, empat ibu pengajian dari kampung Eyang, memakai baju terbaik mereka, memegang kantong plastik berisi entah apa.
Lalu, di tengah ruangan, di depan semua orang, berdiri dia.
Gaun kuning pucat. Rambut digerai dengan jepit krem. Di tangannya ada sesuatu yang besar dan miring dan aneh: kue putu, puluhan, disusun bertingkat di atas nampan bundar seperti menara, dengan lilin-lilin kecil yang ditancapkan di antara daun pisangnya.
Tiga puluh dua lilin.
“Selamat ulang tahun, Mas,” katanya.
Aku berdiri di ambang pintu ruang baca dengan kotak perkakas Eyang di tangan kiri.
Aku tidak bisa bicara. Aku tidak bisa bernapas. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berdiri di sana dan memandangi ruangan penuh orang itu, ruangan yang mereka penuhi untukku.
“Kamu...” Suaraku tidak keluar dengan benar. “Kamu tahu dari mana?”
Dia tersenyum. Lesungnya muncul dalam-dalam.
“KTP Mas. Di klinik. Waktu tipes.” Dia melangkah mendekat, pelan, menara kue putu bergoyang sedikit di tangannya. “Aku yang ngisi formulir BPJS, inget?”
Waktu itu aku setengah sadar karena demam. Aku memberikan dompetku padanya tanpa berpikir.
“Rak...” Aku memandang rak di dinding timur. Berdiri tegak. Kokoh. Dimas duduk di bawahnya. “Raknya nggak roboh.”
“Nggak. Itu bohong.” Dia berhenti di depanku. “Aku perlu alasan biar Mas dateng cepet. Dan aku tahu cuma satu alasan yang bikin Mas lari tanpa mikir.”
Dia memandang kotak perkakas di tangan kiriku.
“Mas selalu bawa itu,” katanya pelan. “Tiap kali Mas mikir ada yang butuh ditolong.”
Aku menunduk ke kotak itu. Cat hijau tua yang mengelupas. Tulisan pudar di tutupnya. WIRANATA — BOGOR.
“Malam ini,” bisiknya, “nggak ada yang perlu Mas tolong. Malam ini Mas yang ditolong.”
Aku tidak tahu harus melakukan apa.
Aku berdiri di ambang pintu, dan semua orang memandangiku, dan menara kue putu dengan tiga puluh dua lilin menyala di depanku, dan aku tidak tahu apa yang harus dilakukan seseorang ketika ada yang merayakan dia.
Lima tahun. Lima tahun tidak ada yang menyanyi. Lima tahun tanggal ini cuma tanggal.
Tanganku gemetar di gagang kotak perkakas.
Lalu dia mendekat, cukup dekat supaya cuma aku yang mendengar, dan berbisik:
“Pelajaran keenam, Mas.”
Aku memandangnya.
“Kalau ada yang nyanyiin,” bisiknya, “Mas tiup lilinnya.”
Lalu dia mundur selangkah, dan Dimas, atas aba-aba Tasya, mulai bernyanyi.
Selamat ulang tahun, kami ucapkan...
Semua orang ikut. Anak-anak, ibu-ibu, Pak Udin dengan suara serak, Mas Dodi, Rio di belakang kamera, Bu Hartini dengan vibrato berlebihan, Bu Imah dan ibu-ibu pengajian yang menyanyi setengah ketukan lebih lambat dari yang lain. Jovan menyanyi dengan wajah merah dan mata basah. Tasya terisak di antara bait. Bu Ratna bertepuk tangan mengikuti irama.
Dan Pak Hendra Florentina, di kursi plastik anak-anak, dengan lutut di dagu, menyanyi.
Pelan dan datar, dengan nada yang agak sumbang. Tapi dia menyanyi.
Selamat panjang umur, kita kan doakan...
Aku berdiri di sana, dan sesuatu di dadaku pecah. Bukan pecah yang sakit. Pecah seperti es di sungai ketika musim berganti, seperti kulit telur ketika sesuatu di dalamnya akhirnya siap keluar.
Aku menangis.
Di depan semua orang. Di ambang pintu ruang baca Rumah Pelangi, dengan kotak perkakas Eyang di tangan, dengan tiga puluh dua lilin menyala di menara kue putu, aku menangis, dan aku tidak menyembunyikannya, dan tidak ada yang bilang debu.
...Selamat sejahtera, sehat sentosa, selamat panjang umur dan bahagia.
Lagu itu selesai. Semua orang bertepuk tangan.
Dia mengangkat menara kue putu sedikit lebih tinggi, ke depan wajahku. Lilin-lilin itu bergoyang, cahayanya menari di matanya yang juga basah.
“Make a wish, Mas,” bisiknya.
Aku memandang lilin-lilin itu. Aku tidak tahu harus berharap apa. Aku tidak pernah berharap untuk diriku sendiri. Aku cuma tahu cara berharap untuk orang lain. Semoga dia baik-baik saja. Semoga dia tertawa. Semoga dia pulang dengan selamat.
Lalu aku memandang ke atas lilin-lilin itu, ke wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap sesuatu untuk diriku sendiri.
Aku meniup lilinnya.
Tiga puluh dua api padam sekaligus. Asap tipis naik ke langit-langit. Ruangan itu meledak dengan sorak-sorai. Dimas melempar topi kertasnya ke udara. Tasya meniup terompet. Pak Udin mengusap matanya dengan topi.
Dan Celine meletakkan menara kue putu di meja kecil di sampingnya, lalu memelukku, dengan kotak perkakas Eyang terjepit di antara kami, dan berbisik di dadaku:
“Lulus, Mas. Pelajaran keenam lulus.”
Hadiah-hadiahnya datang satu-satu.
Nayla datang paling pertama. Dia berjalan sendiri dari pojok, tanpa didorong, tanpa ditarik. Dia berhenti di depanku dan menyodorkan selembar kertas gambar yang digulung dan diikat pita merah.
Aku membukanya. Gambar krayon. Rumah besar dengan tangga yang anak tangganya kecil-kecil. Jendela-jendela rendah. Perahu di samping rumah. Dan di depan rumah itu, seorang laki-laki tinggi dengan tangan biru, yang ternyata tinta, digambar dengan krayon biru tua di seluruh telapak tangannya, memegang tangan seorang anak perempuan kecil yang memeluk paus.
Di atasnya, tulisan miring yang besar-besar, huruf-hurufnya terbalik di beberapa tempat:
OM BUMI BIKIN RUMAH BUKU. AKU UDAH BISA BACA.
Aku berlutut di depan Nayla. Aku tidak bisa bicara.
Nayla memandangiku dengan mata besar. Lalu, pelan-pelan, dia mengulurkan paus kayu kecil itu. Paus yang kupahat di hari rak roboh.
“Om,” bisiknya. Suaranya sangat kecil. Itu pertama kalinya aku mendengar suaranya. “Ini buat Om. Biar Om nggak sendirian kalau gelap.”
Aku memandangi paus kayu itu di tangannya yang kecil.
“Nayla,” kataku serak. “Itu punyamu.”
“Aku udah nggak takut gelap,” bisik Nayla. “Ada lampu di atas. Kak Celine yang nyalain.”
Aku memeluknya. Pelan. Hati-hati, seperti memeluk sesuatu yang sangat rapuh. Nayla memelukku balik dengan tangan kecilnya, dan paus kayu itu menempel di punggungku.
Di belakangku, aku mendengar Celine menangis.
Jovan memberiku sebuah buku tulis bersampul batik cokelat. Masih kosong. Di sampulnya, dengan spidol hitam:
BUKU KEBETULAN BUMI — JILID 4
Di halaman pertama, tulisan tangan Jovan yang berantakan:
Jilid 1–3: semua kebaikan yang Bumi lakukan buat orang lain.
Jilid 4: mulai hari ini, Bumi yang nulis. Semua kebaikan yang orang lain lakukan buat Bumi.
Entri pertama sudah saya isikan. Sisanya kamu yang nulis.
Entri nomor 1. Ulang tahun ke-32. Rumah Pelangi. Satu kampung datang. Bumi nangis. Nggak ada yang bilang debu.
Aku memandangi Jovan. Jovan memandangi langit-langit.
“Jangan peluk aku,” katanya. “Aku nggak kuat.”
Aku memeluknya. Dia tidak kuat. Kami berdua menangis di pojok ruang baca seperti dua mahasiswa yang dulu makan mi instan seminggu tiga kali, dan Tasya memotret kami dengan ponsel sambil terisak.
Pak Hendra tidak memberiku hadiah.
Dia berdiri dari kursi plastik anak-anak, dengan susah payah dan bantuan Bu Ratna, berjalan ke arahku, dan mengulurkan tangan.
Aku menjabatnya.
Genggamannya kuat dan kering. Dia memandangku dengan wajah datar seperti biasa.
“Selamat ulang tahun,” kata Pak Hendra. Lalu, setelah jeda yang sangat singkat: “Nak.”
Satu kata. Satu suku kata. Dia mengucapkannya seperti mengucapkan sesuatu yang biasa, seperti hari ini cerah.
Aku memegang tangannya lebih lama dari seharusnya. Dia tidak menariknya.
Bu Imah memberiku rantang. Isinya nasi liwet, ayam goreng, sambal terasi, dan lalapan, masakan yang dulu sering dia antar ke rumah Eyang setiap Jumat. “Biar kamu nggak kurus,” katanya, mencubit lenganku.
Ibu-ibu pengajian memberiku sarung. Sarung kotak-kotak. Warnanya sama dengan sarung Eyang.
Aku memeluk sarung itu ke dada dan tidak bisa bicara selama lima menit.
Hadiah terakhir datang dari dia.
Dia menyerahkannya ketika semua orang sudah makan kue putu dan bolu pandan Bu Hartini dan nasi liwet Bu Imah, ketika anak-anak sudah mulai mengantuk di karpet, ketika lampu di lantai atas Rumah Pelangi sudah dinyalakan.
Sebuah kardus.
Kardus bekas mi instan. Cokelat, sudut-sudutnya sedikit penyok. Diikat tali rafia merah, dengan simpul yang tidak rapi, simpul orang yang jelas belajar dari video.
Dan di atasnya, dengan spidol hitam, tulisan tangan yang miring dan sedikit gemetar, tulisan yang sengaja dibuat mirip tulisan orang tua:
Buat cucunya Eyang yang pintar gambar.
Aku memandangi tulisan itu.
Aku tidak bisa membuka kardus itu. Tanganku tidak bisa bergerak. Aku cuma berdiri di sana, memeluk kardus mi instan dengan tali rafia merah, dan memandangi tulisan yang miring itu.
“Buka, Mas,” bisiknya.
Aku membukanya.
Rambutan. Puluhan. Merah, berbulu, segar, masih bertangkai dan berdaun.
“Dari pohon Eyang,” bisiknya. “Yang di depan rumah kayu. Lagi musim. Bu Imah yang petik tadi pagi.”
Aku memandangi rambutan-rambutan itu. Lalu aku memandang Bu Imah di pojok, yang mengangguk-angguk dengan mata basah.
“Pohon itu udah lima tahun nggak ada yang petik,” kata Bu Imah dengan suara serak. “Buahnya jatuh semua tiap musim. Busuk di tanah. Nggak ada yang ngirim ke kos lagi.”
“Mulai sekarang ada,” kata Celine. Dia menggenggam tanganku di atas kardus. “Tiap musim. Aku yang ngirim. Pakai kardus mi instan. Diiket rafia.”
Aku menunduk ke kardus itu, dan air mataku jatuh di atas rambutan-rambutan merah.
Lima tahun aku tidak dapat kardus ini. Lima tahun aku pikir tidak ada lagi orang di dunia yang akan menulis buat cucunya Eyang di sebuah kardus.
Malam itu, setelah semua orang pulang, setelah anak-anak digendong ibu-ibunya, setelah Pak Hendra dan Bu Ratna diantar Pak Rahmat, setelah Bu Imah dan ibu-ibu pengajian naik mobil sewaan kembali ke Bogor, setelah Jovan dan Tasya pergi bersama, entah ke mana, mereka tidak bilang, kami duduk berdua di rumahku.
Dia di kursi hijau sage. Aku di lantai, bersandar ke kakinya. Kardus rambutan di sampingku. Buku Kebetulan Jilid 4 di pangkuanku. Paus kayu Nayla di meja jati, di atas tatakan gelas berbentuk awan.
Aku mengambil sesuatu dari saku kemejaku.
Pahat. Pahat kayu Eyang, dengan gagang yang licin dan mengilap, sedikit melengkung mengikuti genggaman. Yang kubawa dari meja studio sore tadi, sebelum ponselku bergetar, sebelum RAK ROBOH LAGI. Aku sudah berencana memberikannya malam ini, tapi bukan di ulang tahunku. Aku cuma tidak tahu kapan lagi akan berani.
Aku memberikannya padanya.
Dia memandangi pahat itu di telapak tangannya. Lalu memandangiku.
“Mas...”
“Ini satu-satunya yang aku punya,” kataku pelan. “Dari Eyang. Satu-satunya yang aku bawa dari rumah kayu. Aku raut pensil pakai ini tiap pagi, sebelum gambar kamu. Lima tahun.”
Dia menggenggam pahat itu. Gagangnya yang melengkung pas di telapak tangannya, sedikit terlalu besar, tapi pas.
“Aku nggak punya cincin,” kataku. Bohong. Ada kotak kecil di laci kanan atas meja studio, di bawah buku sketsa. Kotak beludru biru tua, berisi cincin emas sederhana yang kubeli dengan termin pertama pembayaran proyek Cilincing. Aku sudah merencanakan semuanya. Minggu depan. Meja nomor tiga. Jam tujuh lewat sepuluh. “Belum. Tapi ini... ini yang paling berharga yang aku punya. Aku mau kamu yang pegang.”
Dia memandangi pahat itu lama. Ibu jarinya mengusap gagangnya, pelan, mengikuti lengkungan yang dibentuk tangan Eyang selama puluhan tahun.
“Mas salah,” katanya akhirnya.
Aku mengerjap. “Salah?”
“Ini bukan satu-satunya yang Mas punya.” Dia mengangkat kepala dan memandangiku. Matanya basah, tapi dia tersenyum. “Mas punya Jovan. Mas punya Pak Udin. Mas punya Mas Dodi, Rio, Tasya. Mas punya Nayla, yang kasih paus kayunya biar Mas nggak takut gelap. Mas punya Bu Imah dan satu kampung di Bogor. Mas punya Papa, yang nyanyi sumbang di kursi plastik anak-anak.”
Dia menurunkan tubuhnya dari kursi hijau sage dan duduk di lantai di depanku. Lutut ketemu lutut.
“Dan Mas punya aku,” bisiknya.
Dia meletakkan pahat itu di telapak tanganku lagi, lalu menutup jari-jariku di atasnya dengan tangannya sendiri.
“Simpan dulu,” katanya. “Kasih ke aku nanti. Kalau udah resmi. Kalau udah di rumah yang sama.”
Aku memandangi tangan kami di atas pahat Eyang.
“Kamu yakin?” bisikku.
“Yakin.” Dia tersenyum. “Dan Mas juga harus belajar satu hal lagi.”
“Apa?”
“Mas nggak cuma punya satu hal. Mas punya banyak. Mas cuma belum biasa ngitung.”
Aku tertawa. Basah, serak, kecil. Aku memeluknya di lantai rumahku, dengan pahat Eyang di antara tangan kami dan kardus rambutan di samping kami dan buku Kebetulan Jilid 4 jatuh dari pangkuanku ke lantai.
Setelah dia pulang jam sebelas, aku mengambil buku Kebetulan Jilid 4 dari lantai.
Aku membukanya ke halaman kedua. Halaman pertama sudah diisi Jovan.
Aku mengambil pensil, pensil yang diraut dengan pahat Eyang, dan menulis dengan huruf cetak kecil-kecil:
Entri nomor 2. Nayla kasih paus kayu. Katanya biar Om nggak sendirian kalau gelap.
Entri nomor 3. Pak Hendra bilang “Nak”.
Entri nomor 4. Bu Imah bawa nasi liwet. Ibu-ibu pengajian bawa sarung kotak-kotak.
Entri nomor 5. Celine kirim rambutan dari pohon Eyang. Pakai kardus mi instan. Diiket rafia.
Aku berhenti. Aku memandangi daftar itu, lima entri dalam satu malam, lebih banyak dari yang kudapat dalam lima tahun.
Lalu aku menulis satu baris lagi:
Entri nomor 6. Aku berharap sesuatu buat diriku sendiri waktu tiup lilin. Pertama kali.
Aku tidak menulis apa yang kuharapkan.
Tapi besok pagi, sebelum jam tujuh lewat sepuluh, aku akan membuka laci kanan atas meja studio, dan mengambil kotak beludru biru tua di bawah buku sketsa itu.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong reading
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi