Chapter Thirty One
Epilog: Empat Gelas Kopi
POV: Celine
Jam tujuh lewat sepuluh, aku memarkir mobil di depan Kopi Sudut.
Mobilnya bukan hatchback putih lagi. Sekarang mobil keluarga warna abu-abu, dengan kursi bayi di belakang dan stiker paus biru di kaca belakang yang ditempel miring oleh tangan kecil. Mobilnya baru setahun. Kijang hijau tua tahun sembilan puluh delapan tetap di garasi rumah kami, dengan aki baru dan ban baru dan AC yang akhirnya diperbaiki. Mas Bumi tidak mau menjualnya. Itu Kijang yang kamu ganti bannya di Cilincing, katanya. Itu bukan mobil. Itu monumen.
Pak Udin masih di sana.
Dia sudah enam puluh dua tahun sekarang. Lututnya tidak sekuat dulu, dan cucunya, Ilham, sembilan belas tahun, yang sekarang meniup peluit dan merapikan barisan motor. Tapi Pak Udin tetap datang setiap pagi jam enam. Dia duduk di bangku kayu di samping pos dengan topi biru di pangkuan, mengawasi Ilham dengan wajah komandan lapangan.
“Pagi, Pak,” kataku sambil keluar dari mobil.
“Pagi, Mbak.” Pak Udin tersenyum, gigi ompongnya sekarang dua. Lalu matanya bergeser ke pintu belakang mobil. “Mana si kecil?”
Pintu belakang terbuka sebelum aku sempat menjawab.
Seorang anak perempuan tiga tahun melompat turun dari kursi bayinya, yang sabuknya entah bagaimana sudah dia lepas sendiri lagi. Rambut hitamnya diikat dua dengan karet bergambar paus. Kaus kuning dengan gambar perahu. Sandal jepit hijau tua, kecil, persis seperti sandal jepit hijau tua yang dulu kuberikan pada ayahnya lewat Pak Udin “dari seseorang”.
Dia berlari ke Pak Udin dengan tangan terentang.
“KAKEK UDIN!”
“Ya Allah, Lintang. Hati-hati, Nak, jangan lari...”
Lintang Wiranata menabrak lutut Pak Udin dengan sepenuh tenaga tubuh tiga tahunnya, lalu memeluknya. Pak Udin mengangkatnya ke pangkuan dengan susah payah dan wajah yang sangat bahagia.
Bumi dan Lintang. Tanah dan bintang. Mas Bumi yang memilih nama itu, di rumah sakit, jam empat pagi, ketika dia menggendongnya untuk pertama kali dan menangis begitu keras sampai perawat menawarinya kursi.
Aku tanah, katanya waktu itu, memandangi bayi merah kecil di lengannya. Dia bintang. Biar aku yang jagain dari bawah.
Mas Dodi sudah membuka pintu Kopi Sudut.
Kopi Sudut sekarang miliknya. Pemilik lama pensiun dan pindah ke Lampung, dan Mas Dodi membelinya dengan tabungan sepuluh tahun dan pinjaman dari bank. Papa yang menjadi penjaminnya, diam-diam, tanpa bilang ke siapa pun kecuali Mama. Mama bilang ke aku. Aku bilang ke Mas Bumi. Mas Bumi bilang ke Jovan. Jovan bilang ke Tasya. Tasya bilang ke satu deretan ruko.
Deretan ruko ini memang tidak pernah bisa menyimpan rahasia.
“Pagi, Mbak Celine,” kata Mas Dodi dari balik meja bar. “Yang biasa?”
“Yang biasa, Mas Dodi.”
“Empat?”
“Empat.”
Mas Dodi tersenyum dan mulai bekerja. Dia sudah hafal, sama seperti dulu dia hafal dua gelas, lalu tiga.
Kopi susu panas dengan gula aren dua sendok, untukku.
Es kopi dengan gula aren dua sendok, untuk Pak Udin.
Teh manis. Gula duluan. Air panas dituang. Tunggu larut sendiri. Aduk tiga kali. Untuk seseorang yang sedang turun dari tangga sempit di samping kafe.
Dan susu cokelat hangat, tidak terlalu manis, di gelas plastik bergambar paus. Untuk seseorang yang sedang duduk di pangkuan Pak Udin dan menceritakan mimpinya semalam tentang gurita yang bersin.
Empat gelas.
Di meja nomor tiga, sekarang ada kursi ketiga. Kursi kayu kecil dengan kaki pendek dan bantalan hijau sage, yang Mas Bumi buat sendiri di bengkel kayu Eyang di Bogor. Bengkel itu sudah dibuka lagi, dibersihkan, dan diisi alat-alat baru di samping pahat-pahat lama. Kami ke sana sebulan sekali, ke rumah kayu di bawah pohon rambutan. Bu Imah memasakkan nasi liwet. Ibu-ibu pengajian mencubiti pipi Lintang.
Kaki kursi kecil itu pas. Kaki Lintang nyampe lantai.
Di permukaan marmer imitasi meja nomor tiga, di sisi yang retak halus, ada plakat kecil dari kuningan yang ditempel Mas Dodi tahun lalu tanpa izin siapa pun:
MEJA NOMOR TIGA
Di sini, seseorang pernah menunggu dari jendela di atas selama empat tahun.
Di sini juga, dia akhirnya turun.
Mas Bumi pura-pura marah waktu melihatnya. Dia bilang norak. Lalu dia memotretnya diam-diam dan menjadikannya wallpaper ponsel.
Dia turun jam tujuh lewat dua belas.
Aku melihatnya dari kaca depan, keluar dari pintu kecil di samping kafe. Kemeja putih, lengan digulung sampai siku, disetrika dengan niat. Aku yang menyetrikanya tadi malam, dia yang protes karena aku melakukannya. Rambutnya sedikit lebih pendek sekarang. Ada satu, dua helai uban di pelipisnya, yang muncul tahun ini dan dia salahkan pada Lintang. Tiap kali dia manjat rak, satu helai, katanya.
Tangannya masih bernoda tinta. Selalu.
Di bawah lengannya ada buku sketsa. Bukan buku kulit cokelat tua milik Eyang. Yang itu sudah penuh, sudah disimpan di rak di sudut baca rumah kami, di samping buku-buku anak dengan tanggal di sampul belakang. Ini buku sketsa ketujuh. Sampulnya kulit cokelat tua juga, dibuat oleh pengrajin di Bogor yang dulu kenal Eyang, dengan cincin besi di dalamnya supaya halamannya bisa terus ditambah.
Jilid tujuh. Isinya bukan lagi gambar dari jendela.
Isinya aku tertidur di kursi hijau sage dengan Lintang di dada. Lintang memakan kue putu pertamanya, mukanya penuh kelapa parut. Lintang dan Nayla membaca buku paus di ruang baca perpustakaan Cilincing. Aku tertawa di dapur karena salah membaca tiga cabai sebagai tiga belas lagi. Pak Udin menggendong Lintang di bangku samping pos. Jovan dan Tasya dengan anak kembar mereka yang baru enam bulan, Raka dan Rara, yang membuat Jovan menangis setiap kali mereka tersenyum. Tasya bilang Jovan lebih cengeng dari Mas Bumi. Itu fakta yang tidak pernah dibantah siapa pun.
Isinya hidup kami. Dari dekat. Dari jarak nol.
Mas Bumi berhenti di trotoar ketika melihat Lintang di pangkuan Pak Udin.
Lintang melihatnya. Matanya, mata ayahnya, gelap dan dalam dan selalu kelihatan seperti sedang melihat sesuatu lama-lama, membulat.
“PAPA!”
Dia melompat dari pangkuan Pak Udin dan berlari. Mas Bumi berjongkok dan menangkapnya. Buku sketsa jatuh ke trotoar. Dia tidak peduli.
Lintang memeluk lehernya dan berbisik sesuatu di telinganya. Wajah Mas Bumi berubah. Matanya berkaca-kaca.
Aku tahu apa yang Lintang bisikkan. Dia membisikkannya setiap pagi, sejak bulan lalu, sejak dia belajar kalimat itu entah dari mana.
Papa, aku sayang Papa sampai bulan.
Dan setiap pagi, Mas Bumi berkaca-kaca.
“Papa nangis,” kata Lintang, menunjuk mata ayahnya dengan jari kecil.
“Nggak,” kata Mas Bumi. “Papa nggak nangis.”
“Itu air.”
“Itu...” Mas Bumi menoleh ke Pak Udin. Pak Udin menoleh ke Ilham. Ilham menoleh ke Mas Dodi. Mas Dodi menoleh ke langit-langit.
“Debu,” kata Mas Bumi.
Lintang memandangi ayahnya dengan curiga. Lalu dia menoleh ke Pak Udin.
“Kakek Udin, debu?”
“Iya, Nak,” kata Pak Udin dengan wajah sangat serius. “Debunya banyak banget pagi ini.”
Lintang mengangguk-angguk, puas dengan jawaban itu, persis seperti Rafa dulu puas dengan jawaban pausnya nggak salah apa-apa.
Aku berdiri di ambang pintu Kopi Sudut dan tertawa sampai harus menutup mulut.
Mas Bumi masih menangis, sesekali, diam-diam. Seperti dulu. Di jendela, di tangga darurat, di Kijang, di warung tenda, di sudut baca. Air matanya masih sunyi, menetes, diusap, lalu dia berpaling.
Tapi sekarang dia menangis untuk dua orang.
Dia menangis waktu Lintang lahir. Waktu Lintang pertama kali tersenyum. Waktu Lintang pertama kali bilang Papa, dan waktu Lintang pertama kali bilang Mama, dan waktu Lintang, di umur dua tahun, menuangkan teh manis untuknya dari termos mainan plastik. Gula duluan, katanya. Tunggu. Aduk satu, dua, tiga.
Dia menangis waktu aku menyalakan lampu di kamar Lintang setiap malam, dan tidak pernah mematikannya.
Dia tidak menyembunyikannya lagi. Dia tidak lari ke tangga darurat atau ke Kijang. Dia menangis di depan kami, di meja makan, di sudut baca, di trotoar depan Kopi Sudut. Dan Lintang selalu bertanya Papa nangis kenapa?, dan dia selalu menjawab debu, dan Lintang selalu mengangguk, dan aku selalu tertawa.
Mas Dodi meletakkan empat gelas di meja nomor tiga.
Lintang mengambil gelas es kopi untuk Pak Udin dengan dua tangan, sangat hati-hati, dengan lidah terjulur sedikit karena berkonsentrasi. Dia berjalan pelan-pelan keluar dari kafe, ke bangku di samping pos, langkah demi langkah, dengan es kopi yang hampir tumpah di setiap langkah.
Dia berhenti di depan Pak Udin dan menyodorkan gelas itu.
“Ini, Kakek Udin.”
Pak Udin menerimanya dengan dua tangan. “Wah, makasih, Lintang. Kamu nganterin buat Kakek?”
Lintang mengangguk. Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat Pak Udin hampir menjatuhkan gelasnya, dan membuat Mas Bumi, yang sedang memungut buku sketsa dari trotoar, membeku.
“Kebetulan lewat,” kata Lintang dengan wajah sangat serius.
Hening.
Lalu Pak Udin tertawa. Tertawa sampai topinya jatuh, sampai bahunya berguncang, sampai Ilham harus memegangi bangku supaya kakeknya tidak jatuh.
Mas Bumi berdiri di trotoar dengan buku sketsa di tangan dan mulut terbuka. Lalu dia menoleh padaku di ambang pintu kafe.
“Kamu yang ajarin?” tanyanya.
“Bukan.” Aku menggeleng sambil tertawa. “Jovan.”
“Jovan?”
“Waktu Mas lembur hari Kamis. Jovan jagain dia di studio. Katanya dia ngajarin ‘kalimat legendaris keluarga Wiranata’.”
Mas Bumi memejamkan mata dan menghela napas sangat panjang, napas orang yang dikeroyok.
Lalu dia tertawa. Dengan kepala sedikit ke belakang, mata menyipit, dan kerutan kecil di sudut mata.
Tawa yang dulu, empat tahun di jendela, tidak pernah kulihat. Sekarang aku melihatnya setiap hari.
Kami duduk di meja nomor tiga. Tiga kursi. Empat gelas, karena gelas Pak Udin sudah diantar.
Mas Bumi meminum teh manisnya. Lintang meminum susu cokelatnya dengan suara sruuup yang sangat keras. Aku meminum kopi susu gula arenku.
Dari meja ini, kalau aku menengadah sedikit ke luar kaca dan ke atas, aku bisa melihat jendela besar di lantai dua.
Jendela studio Wiranata Atelier. Studionya masih di sana. Mas Bumi tidak pernah mau pindah, walaupun sekarang Wiranata Atelier sudah punya enam arsitek dan dua drafter dan proyek di empat kota. Mereka menyewa lantai dua di ruko sebelah juga, dan menjebol dindingnya. Tapi meja Mas Bumi tetap di depan jendela yang sama. Ambang jendelanya tetap punya dua cekungan bekas siku. Sekarang ada tiga. Yang ketiga kecil sekali, bekas siku Lintang, yang suka berdiri di atas kursi dan memandangi trotoar sambil berteriak KAKEK UDIN!
Dari sini, jendela itu kelihatan kosong.
Karena dia di sini.
Sore itu, kami pulang ke rumah bata ekspos.
Rumahnya sudah sedikit berubah. Ada kamar baru untuk Lintang, dengan jendela rendah supaya Lintang bisa melihat langit dari kasurnya, dan lampu kecil berbentuk paus yang tidak pernah dimatikan. Dindingnya masih tidak diplester. Kami sudah sanggup sekarang. Kami cuma tidak mau.
Di halaman belakang, pohon rambutan dari biji pohon Eyang sudah setinggi atap. Tahun lalu dia berbuah untuk pertama kalinya.
Mas Bumi memetik buah pertamanya sendiri, jam lima pagi, sebelum aku bangun. Ketika aku turun ke ruang tengah, ada kardus mi instan di kursi hijau sage. Diikat tali rafia merah, dengan simpul yang rapi, simpul tukang kayu.
Di atasnya, dengan huruf cetak kecil-kecil yang rapi seperti denah:
Buat istriku, yang selalu duluan.
Aku menangis di kursi hijau sage dengan kardus rambutan di pangkuan sampai Lintang bangun dan bertanya Mama nangis kenapa?
Aku bilang debu.
Lintang mengangguk.
Malam ini, setelah Lintang tidur di kamarnya dengan lampu paus menyala dan paus kayu Nayla di sampingnya, aku membuat teh manis.
Tiga gelas.
Gula duluan. Air panas dituang. Tunggu larut sendiri. Aduk tiga kali.
Satu buat yang bikin. Aku.
Satu buat yang minum. Laki-laki yang sedang duduk di lantai di depan kursi hijau sage, bersandar ke kakinya yang kosong, menggambar di buku sketsa jilid tujuh dengan pensil yang diraut pakai pahat Eyang. Pahat yang sekarang tergantung di dinding di atas meja gambarnya, di samping gambar rumah dari anak sembilan tahun, yang dia kopi dari dinding papan rumah kayu di Bogor dan dibingkai dengan kayu jati yang dia pahat sendiri.
Satu buat yang nunggu di rumah.
Aku membawa gelas ketiga ke kamar Lintang dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidurnya. Dia tidak akan meminumnya, dia sudah tidur. Besok pagi teh itu akan dingin, dan Mas Bumi akan meminumnya sambil meringis, karena teh dingin tiga sendok gula itu terlalu manis. Tapi dia akan menghabiskannya sampai tetes terakhir. Setiap pagi.
Aku kembali ke ruang tengah dan duduk di kursi hijau sage. Kakiku nyampe lantai. Mas Bumi bersandar ke kakiku tanpa berhenti menggambar.
“Gambar apa, Mas?”
“Kamu.”
“Dari mana?”
Dia mengangkat kepala dan memandangiku dari bawah. Matanya gelap dan dalam dan selalu kelihatan seperti sedang melihat sesuatu lama-lama. Dan dia tersenyum, dengan kerutan kecil di sudut mata.
“Dari sini,” katanya.
Aku membungkuk dan mencium keningnya. Di bawah lampu baca kuningan yang menunduk. Di sudut baca yang dia gambar sembilan tahun lalu, untuk anak perempuan yang Eyangnya ceritakan sampai hari terakhir.
Dulu aku berpikir cinta itu soal siapa yang datang duluan.
Dia yang duluan berdiri di jendela. Aku yang duluan duduk di warung. Dia yang duluan mengganti ban. Aku yang duluan mengganti ban Kijang. Dia yang duluan menangis diam-diam. Aku yang duluan melamar.
Kami berdua menghitung. Seratus empat puluh tujuh. Tiga ratus halaman. Empat tahun. Lima tahun.
Tapi ternyata, setelah semua itu, yang paling penting bukan siapa yang datang duluan.
Yang paling penting adalah siapa yang tetap tinggal.
Di luar jendela besar, bulan naik di atas pohon rambutan. Di ujung jalan di Jakarta Selatan, di lantai atas Rumah Pelangi, ada satu lampu yang masih menyala, untuk anak-anak yang takut gelap. Di kamar Lintang, lampu paus menyala.
Dan di sudut baca ini, di bawah lampu kuningan, seorang laki-laki dengan tangan bernoda tinta menggambar perempuan yang dia cintai dari jarak nol.
Dia tidak di jendela lagi.
Dia di rumah.
— TAMAT —
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi reading