← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Twenty Seven

Meja Makan Florentina

POV: Celine

Mas Bumi membeli batik dengan uangnya sendiri.

Aku tahu karena Jovan mengirimiku foto diam-diam, Rabu sore. Mas Bumi berdiri di depan cermin di sebuah toko batik di Tanah Abang, memakai kemeja batik lengan panjang warna cokelat soga dengan motif parang kecil, memandangi bayangannya sendiri dengan wajah orang yang sedang memandangi gambar kerja yang salah ukur.

Jovan: Ini batik ketujuh yang dia coba, Mbak.
Jovan: Yang pertama terlalu ramai. Yang kedua terlalu kalem. Yang ketiga “kayak mau kondangan”. Yang keempat “kayak mau ke kelurahan”. Yang kelima saya nggak ngerti alasannya apa, dia cuma bilang “nggak”.
Jovan: Saya udah lapar dari jam dua.
Jovan: Tolong bilangin dia batik apa aja dia pakai, Mbak tetap cinta.

Aku tidak membalas Jovan. Aku mengirim pesan langsung ke Mas Bumi.

Celine: Mas, yang cokelat soga itu bagus banget.

Lima detik kemudian:

Bumi 🌏: Jovan.
Celine: Jangan marah sama Jovan. Dia lapar.
Bumi 🌏: Kamu yakin? Nggak terlalu tua?
Celine: Mas mau ketemu Papa sama Mama, bukan mau ikut audisi boyband.
Bumi 🌏: ...
Bumi 🌏: Oke. Yang ini.

Sepuluh menit kemudian, Jovan mengirim foto lagi: dirinya sendiri, makan bakso di warung depan toko batik, mengacungkan jempol dengan mulut penuh.

Jovan: Terima kasih, Mbak. Mbak menyelamatkan nyawa saya.


Makan malam itu hari Sabtu, jam tujuh.

Undangannya datang dari Mama. Bukan dariku, bukan dari Papa. Mama menelepon Mas Bumi langsung hari Senin, dan aku cuma tahu karena Mas Bumi meneleponku setelahnya dengan suara seperti orang yang baru dipanggil ke kantor kepala sekolah.

“Celine. Mamamu ngundang aku makan malam.”

“Oh ya? Bagus, dong.”

“Di rumahmu.”

“Iya, Mas. Mama emang biasanya ngundang orang ke rumah.”

“Sama papamu.”

“Papa juga tinggal di situ, Mas.”

Hening lama di seberang.

“Celine,” katanya akhirnya. “Aku harus bawa apa?”

“Nggak usah bawa apa-apa.”

“Harus bawa sesuatu. Eyang bilang, kalau bertamu ke rumah orang, jangan tangan kosong.”

Aku berpikir sebentar. “Mama suka kue putu.”

“Beneran?”

“Nggak tahu. Tapi Mama pasti suka kalau Mas yang bawa.”


Dia datang jam tujuh kurang lima belas.

Aku melihatnya dari jendela kamarku di lantai dua. Kijang hijau tua itu berhenti di depan gerbang, dan Pak Rahmat, seperti biasa sekarang, keluar dari posnya dan memberi hormat. Mas Bumi turun memakai batik cokelat soga, celana bahan hitam yang jelas baru disetrika, dan sepatu kulit yang jelas baru disemir. Di tangannya ada bungkusan daun pisang yang diikat tali rafia: kue putu, dari gerobak depan pasar, masih hangat.

Dia berdiri di depan gerbang lama. Tidak masuk. Cuma berdiri, memandangi rumah, memandangi pilar-pilar putih di teras, lampu kristal yang kelihatan lewat jendela ruang tamu, taman depan yang dirawat tukang kebun setiap pagi.

Aku melihat bahunya naik. Lalu turun. Lalu naik lagi.

Aku turun tangga secepat mungkin.

Ketika aku membuka pintu depan, dia masih di gerbang. Pak Rahmat sedang menepuk-nepuk bahunya dan berkata sesuatu yang membuat Mas Bumi menunduk dan mengangguk-angguk.

Belakangan aku tahu Pak Rahmat bilang, Mas, santai aja. Ibu sayang Mas. Bapak... Bapak memang mukanya kayak gitu dari lahir.


Meja makan rumah Menteng panjangnya empat meter, terbuat dari kayu mahoni dengan permukaan yang dipelitur sampai mengilap seperti cermin. Ada dua belas kursi berukir, lampu kristal di atasnya, dan taplak putih bersulam dengan serbet yang dilipat berbentuk angsa.

Malam ini cuma empat kursi yang dipakai. Papa di ujung. Mama di sebelah kanan Papa. Aku di sebelah kiri Papa. Mas Bumi di sebelahku.

Dan di depan setiap piring, berjajar rapi, ada tiga garpu, dua pisau, dua sendok, dan satu sendok kecil di atas piring.

Aku melihat Mas Bumi memandangi barisan alat makan itu seperti memandangi soal ujian dalam bahasa yang tidak dia kuasai.

Mbak Sri menyajikan sup. Sup krim jagung, dalam mangkuk porselen bermotif bunga biru.

Mas Bumi tidak bergerak. Matanya bergerak dari sendok besar ke sendok sedang ke sendok kecil, lalu kembali lagi. Aku melihat setetes keringat di pelipisnya.

Aku sudah mau menyentuh lututnya di bawah meja, memberi kode yang paling luar, Mas, ketika Papa melakukan sesuatu.

Papa mengambil sendok yang salah.

Sendok kecil di atas piring, sendok untuk makanan penutup. Papa mengambilnya dengan sangat santai, dengan wajah datar seperti biasa, lalu mulai menyendok sup krim jagung dengan sendok kecil itu. Pelan. Sedikit-sedikit. Dengan konsentrasi orang yang sedang membaca laporan keuangan.

Mama memandangi Papa. Aku memandangi Papa.

Papa tidak memandang siapa-siapa. Dia terus makan sup dengan sendok kecil.

Mas Bumi memandangi Papa lama. Lalu, pelan-pelan, bahunya turun sedikit. Dia mengambil sendok yang paling luar, sendok yang benar, dan mulai makan.

Di bawah meja, Mama menginjak kaki Papa. Papa tidak bereaksi. Tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak, sangat sedikit, sekali.

Aku harus menunduk ke sup supaya tidak menangis.

Papa tidak pernah salah sendok. Seumur hidupku, di ratusan makan malam resmi, di hotel bintang lima, di jamuan kenegaraan, Papa tidak pernah salah sendok. Papa yang mengajariku urutan sendok waktu aku tujuh tahun, dengan sabar, di meja makan ini juga.

Malam ini Papa memakai sendok penutup untuk sup krim jagung. Supaya seorang laki-laki muda yang gugup tidak merasa jadi satu-satunya yang tidak tahu.


Makan malam itu berjalan lebih baik dari yang kubayangkan, dan lebih aneh.

Mama bertanya banyak hal. Tentang studio, tentang perpustakaan Cilincing, tentang rumah bata ekspos. Mas Bumi menjawab dengan sopan dan pendek-pendek, seperti biasa. Lalu Mama bertanya tentang Eyang, dan Mas Bumi bercerita tentang bengkel kayu dan kursi jati dan pahat yang gagangnya melengkung. Ceritanya lebih panjang dari jawaban mana pun malam itu. Mama mendengarkan dengan mata berbinar.

Lalu Mama memotong kue putu yang dibawa Mas Bumi, menyusunnya di piring porselen berlapis emas di samping puding karamel buatan Mbak Sri, dan memakannya dengan garpu kue perak.

“Enak sekali,” kata Mama. “Ini dari mana, Nak?”

“Gerobak di depan pasar, Bu. Dekat studio.”

“Besok Ibu suruh Pak Rahmat beli.”

“Biar saya yang beliin, Bu. Tiap pagi saya lewat.”

Mama tersenyum. “Kebetulan lewat?”

Mas Bumi tersedak puding karamel.

Aku menutup wajah dengan serbet angsa. Papa terbatuk satu kali, batuk yang sangat mirip tawa yang ditahan.

“Celine sudah cerita banyak,” kata Mama dengan wajah sangat polos. “Tasya juga. Pak Rahmat juga. Mbak Sri juga, entah dari mana dia tahu.”

“Dari Pak Rahmat, Bu,” kata Mbak Sri dari pintu dapur, lalu buru-buru menghilang.


Setelah makan, Papa berdiri.

“Bumi,” katanya. Itu pertama kalinya Papa memanggil nama Mas Bumi malam itu. Suaranya datar dan dalam, seperti biasa. “Ke ruang kerja saya. Sebentar.”

Seluruh meja makan diam.

Mas Bumi berdiri. Wajahnya pucat, tapi punggungnya tegak. Dia mengikuti Papa menyusuri koridor panjang ke ruang kerja di sayap timur, ruangan berpintu kayu jati ganda yang selama aku kecil tidak boleh kumasuki tanpa mengetuk tiga kali.

Pintu itu tertutup.

Aku langsung berdiri.

“Lin,” kata Mama. “Duduk.”

“Ma, aku cuma mau...”

“Kamu mau nguping.”

“Aku mau... ke toilet.”

“Toiletnya di sebelah sana, Sayang. Ruang kerja Papa di sebelah sini.”

Aku memandang Mama. Mama memandangku balik dengan wajah yang sangat tenang. Lalu Mama mengambil ponselnya, mengetik sesuatu, dan meletakkannya kembali di meja.

Sepuluh detik kemudian, bel pintu depan berbunyi.

“Itu Tasya,” kata Mama. “Mama yang suruh dateng. Buat... dukungan moral.”

“Ma!”

“Tangga belakang,” kata Mama sambil menyendok sisa puding karamel. “Yang ke lantai dua, lewat dapur. Ada ventilasi di bawah anak tangga kelima, langsung ke ruang kerja Papa. Mama tahu dari dulu. Waktu Papa ngelamar Mama, Kakek ngajak Papa ngomong di ruangan yang sama. Mama nguping dari situ.”

Aku memandangi Mama dengan mulut terbuka.

“Cepet,” kata Mama. “Papamu nggak suka basa-basi. Lima menit udah selesai.”


Tasya dan aku duduk berdempetan di anak tangga kelima tangga belakang, dalam gelap, dengan telinga menempel ke kisi-kisi ventilasi besi yang dingin.

“Lin,” bisik Tasya. “Ini paling seru sepanjang hidupku. Lebih seru dari nyamar di Pecel Lele Cak Mat.”

“Ssst.”

Suara dari ruang kerja terdengar samar, tapi jelas. Suara Papa, dalam dan pelan.

“Duduk.”

Bunyi kursi kulit berderit.

Hening lama. Terlalu lama. Aku membayangkan Papa duduk di balik meja jati besarnya, memandangi Mas Bumi dengan wajah datar yang membuat teman-temanku waktu kecil takut. Aku membayangkan Mas Bumi duduk di kursi di seberangnya, punggung tegak, tangan di lutut, menggaruk tengkuk.

“Kamu tahu,” kata Papa akhirnya, “bapak saya penjahit.”

Aku mengerjap. Tasya menoleh padaku dalam gelap.

“Kios kecil. Di Pasar Senen. Dua meter kali dua meter. Mesin jahit satu, tua, pakai kaki.” Suara Papa tidak berubah, tetap datar dan pelan. “Saya bantu bapak saya dari umur sepuluh. Jahit kancing. Pasang ritsleting. Antar baju ke pelanggan naik sepeda.”

Aku tidak pernah tahu ini. Aku tahu Kakek dari pihak Papa sudah meninggal sebelum aku lahir. Aku tahu Papa membangun Florentina Group dari nol. Tapi Papa tidak pernah cerita soal kios di Pasar Senen. Soal mesin jahit pakai kaki.

“Waktu saya melamar istri saya,” lanjut Papa, “saya pakai kemeja satu-satunya yang saya punya. Jahitan bapak saya sendiri. Kakek Celine, bapaknya Ratna, pejabat. Rumahnya ini. Meja makannya yang tadi.” Jeda. “Saya pakai sendok yang salah malam itu.”

Di sebelahku, Tasya menutup mulut dengan dua tangan.

“Bapaknya Ratna panggil saya ke ruangan ini. Duduk di kursi yang kamu duduki sekarang. Dan saya tahu dia mau bilang apa. Saya sudah siap ditolak. Saya sudah siapkan kalimat. ‘Putri Bapak pantas dapat yang lebih.’”

Aku berhenti bernapas.

“Tapi dia nggak bilang itu.” Suara Papa melembut sedikit, sangat sedikit, sesuatu yang hampir tidak pernah kudengar. “Dia bilang, ‘Anak saya memang pantas dapat yang lebih. Makanya dia pilih kamu.’”

Hening.

Lalu suara Mas Bumi, sangat pelan, hampir tidak terdengar lewat ventilasi.

“Pak...”

“Saya belum selesai.” Bunyi kursi kulit berderit lagi. Papa bergerak. “Lima tahun lalu, anak saya hampir ketinggalan pesawat ke London. Pak Darto ngebut ke bandara, nerobos dua lampu merah. Istri saya marah besar. Saya tanya Celine kenapa telat. Dia bilang, ‘Pa, ada kakek tersesat di warung. Aku nggak bisa ninggalin dia sendirian sampai cucunya dateng.’”

Hening. Aku mendengar Mas Bumi menarik napas, gemetar.

“Saya marah juga waktu itu. Tapi malamnya, waktu dia udah terbang, saya duduk di ruangan ini, dan saya bangga. Lebih bangga dari waktu dia diterima di London. Lebih bangga dari apa pun yang pernah perusahaan saya capai.” Jeda panjang. “Celine sudah cerita. Minggu lalu. Kakek itu kakekmu.”

“Iya, Pak.” Suara Mas Bumi pecah.

“Dan kamu yang empat tahun berdiri di jendela itu.”

“Iya, Pak.”

“Yang bawa istri saya ke rumah sakit jam dua pagi, dan bayar depositnya pakai uang sewa studio.”

“...Iya, Pak.”

“Yang nolak proyek Bu Rina karena nggak mau dapat apa pun lewat anak saya.”

Hening. Mas Bumi tidak menjawab. Aku membayangkan wajahnya, merah sampai ke telinga.

“Rina teman istri saya,” kata Papa. “Dia cerita. Dia kesal. Dia bilang, ‘Hendra, arsitek itu bodoh. Proyek vila segede itu ditolak.’” Jeda. “Saya bilang ke Rina, ‘Bukan bodoh. Itu laki-laki yang nggak mau anak saya ragu.’”

Tasya menangis di sebelahku. Diam-diam, dengan dua tangan di mulut, bahunya bergetar.

Aku juga.

“Pak,” kata Mas Bumi. Suaranya sekarang lebih jelas, lebih kuat, seperti orang yang mengumpulkan semua keberanian dari seluruh tubuhnya. “Saya mau minta izin.”

Papa diam.

“Saya nggak punya apa-apa, Pak. Studio saya sewa. Rumah saya kecil, belum diplester. Mobil saya Kijang tahun sembilan puluh delapan. Saya nggak punya keluarga, Pak. Eyang saya sudah meninggal. Bapak Ibu saya juga.” Suaranya bergetar, tapi tidak berhenti. “Saya cuma punya diri saya sendiri. Dan dua tangan saya. Dan... dan saya sayang Celine, Pak. Lebih dari yang bisa saya jelasin. Lebih dari tiga ratus halaman.”

Tasya memandangku dalam gelap. Tiga ratus halaman? bisiknya tanpa suara. Aku menggeleng. Nanti.

“Saya mau minta izin Bapak,” kata Mas Bumi, “buat jagain Celine. Seumur hidup saya. Kalau dia mau.”

Hening yang sangat panjang.

Aku mencengkeram kisi-kisi ventilasi besi sampai jariku sakit.

Lalu suara kursi kulit berderit. Langkah kaki. Papa berdiri, berjalan, berhenti.

“Bumi.”

“Iya, Pak.”

“Kamu bilang kamu nggak punya apa-apa.” Suara Papa sangat dekat sekarang, seperti dia berdiri tepat di depan Mas Bumi. “Bapak saya penjahit. Saya datang ke rumah ini pakai kemeja jahitan bapak saya sendiri. Kamu datang pakai batik yang kamu beli sendiri dan kue putu dari gerobak depan pasar. Kamu bawa istri saya ke rumah sakit pakai mobil anak saya dan uang kamu sendiri.” Jeda. “Kamu pikir itu nggak ada apa-apanya?”

Mas Bumi tidak menjawab.

“Anak saya memang pantas dapat yang lebih,” kata Papa. Kalimat yang sama dengan kakekku dulu, kalimat yang turun di ruangan yang sama. “Makanya dia pilih kamu.”

Aku mendengar sesuatu. Suara kecil, tertahan, pecah. Suara laki-laki yang mencoba tidak menangis di depan laki-laki lain dan gagal.

Lalu suara kain bergesek. Seperti seseorang menepuk bahu seseorang, dua kali, keras, seperti cara laki-laki menepuk bahu.

“Sudah,” kata Papa, suaranya sedikit serak. “Jangan nangis di ruangan saya. Nanti istri saya tahu.”

“Maaf, Pak.”

“Dan jangan panggil saya Pak terus. Kaku.”

“Terus... saya panggil apa, Pak?”

Hening sebentar.

“Nanti,” kata Papa. “Kalau sudah resmi, kamu tahu sendiri.”


Tasya dan aku hampir jatuh dari anak tangga kelima karena terlalu cepat berdiri. Kami berlari menyusuri dapur, melewati Mbak Sri yang sedang mencuci piring dan pura-pura tidak melihat kami, dan sampai di ruang makan tepat ketika pintu jati ganda di ujung koridor terbuka.

Mama masih duduk di meja makan, dengan sendok kue perak di tangan, memakan kue putu terakhir. Dia memandangi kami berdua dengan mata merah dan rambut berantakan, lalu tersenyum.

“Gimana?” tanyanya polos.

Aku tidak bisa menjawab. Tasya menangis lebih keras.

Papa berjalan keluar dari koridor duluan. Wajahnya datar seperti biasa. Tapi matanya merah di pinggir, dan dia berjalan langsung ke Mama tanpa memandang siapa pun, lalu meletakkan tangannya di bahu Mama.

“Ratna,” katanya. “Kamu nguping lagi?”

“Nggak, Pa. Aku di sini dari tadi. Makan putu.”

“Anakmu yang nguping.”

“Itu nurun dari aku, Pa. Bukan salah dia.”

Di belakang Papa, Mas Bumi berdiri di ujung koridor dengan batik cokelat soga yang kusut di bagian bahu, bekas ditepuk. Matanya merah. Wajahnya basah. Dan dia memandangiku dari seberang ruang makan, dari ujung meja mahoni empat meter yang mengilap seperti cermin.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia berdiri di rumahku dan tidak kelihatan seperti orang yang salah tempat.

Dia kelihatan seperti orang yang baru diberi tahu bahwa dia boleh pulang.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan, lalu cepat, lalu aku berlari, melewati kursi-kursi berukir dan lampu kristal dan taplak bersulam, dan memeluknya di ujung koridor.

Dia memelukku balik, erat, di depan Papa dan Mama dan Tasya dan Mbak Sri yang muncul di pintu dapur dengan tangan basah.

“Papa bilang apa?” bisikku di dadanya, pura-pura tidak tahu.

Dia tertawa kecil, basah, di rambutku.

“Kamu udah denger semuanya,” bisiknya. “Ventilasi di anak tangga kelima.”

Aku menarik diri dan memandangnya. “Mas tahu?”

“Papamu yang bilang. Sebelum aku duduk.” Dia tersenyum. “Katanya, ‘Ngomong yang jelas. Anak saya sama mamanya pasti lagi di tangga belakang.’”

Aku menoleh ke Papa. Papa sedang memandang lampu kristal di langit-langit dengan wajah sangat datar.

Di sebelah Papa, Mama tertawa sampai harus memegangi meja.

Di sebelah Mama, Tasya terisak dan berkata pada siapa pun yang mau mendengar, “Aku butuh oksigen. Aku butuh oksigen. Rio, panggilin ambulans.”

“Rio nggak di sini, Sya.”

“Aku tahu! Aku cuma butuh bilang itu!”

Dan Mas Bumi, di ujung koridor rumah Menteng, dengan batik cokelat soga dan mata merah, menunduk dan mengecup keningku di depan seluruh keluargaku.

Kali ini dia tidak menoleh ke kiri dan ke kanan dulu.