← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Six

Pak Udin Tahu Sesuatu

POV: Celine

Biayanya: nastar. Sudah lunas.

Aku membaca sticky note itu sebelas kali di trotoar, dua kali di mobil, dan empat kali lagi di meja kerjaku. Tasya merebutnya di pembacaan ke delapan belas.

“’Selamat, Mbak Celine. Anak-anak itu beruntung,’” dia membacakan keras-keras, dengan suara seperti penyiar radio malam. Lalu dia menempelkan kertas kuning itu di dahinya sendiri dan menjatuhkan diri ke beanbag. “Aku nggak kuat. Aku butuh oksigen. Rio, panggilin ambulans.”

Rio, yang sedang menyusun katalog buku, bertanya dengan serius, “Beneran, Mbak?”

“Nggak usah, Rio,” kataku. “Mbak Tasya cuma kumat.”

Aku mengambil sticky note itu dari dahi Tasya dan menyelipkannya di sampul belakang agenda, di sebelah sticky note pertama: Laptopnya dipinjam saja. Semoga lancar. — B.

Dua catatan. Dua kali dia menolong. Dua kali dia menghilang sebelum aku sempat menatap matanya cukup lama untuk bilang terima kasih dengan benar.

“Lin.” Tasya sudah duduk tegak lagi, kacamatanya miring. “Kamu sadar nggak, kalian berdua udah kayak sahabat pena? Tapi sahabat penanya tinggal di atas kafe dan kantornya lima puluh meter dari sini.”

“Dia nggak mau ketemu, Sya.”

“Dia sembunyi di gudang.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Mas Jovan.” Tasya mengangkat ponselnya dengan wajah bangga. “Aku DM dia di Instagram studionya. Kubilang aku manajer program Rumah Pelangi dan butuh kontak PIC proyek Cilincing. Dia balas dalam empat detik. Terus kita ngobrol. Terus dia bilang, dan aku kutip, ‘Mbak, saya nggak bisa cerita banyak, tapi tadi teman saya sembunyi di gudang sambil megang sapu.’”

Aku menatapnya.

“Megang sapu,” ulang Tasya. “Kayak megang tongkat Musa, katanya.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Aku tidak tahu kenapa, tapi yang kurasakan bukan kesal. Ada sesuatu yang hangat dan menggelitik di dadaku, seperti mau tertawa dan mau menangis sekaligus.

Laki-laki dewasa, tinggi seratus delapan puluh dua, arsitek yang bisa menggambar perpustakaan berbentuk perahu dalam satu setengah jam, sembunyi di gudang supaya tidak perlu menerima ucapan terima kasih dariku.

“Kenapa, ya, Sya?” tanyaku dari balik telapak tangan.

Tasya diam sebentar. “Mungkin dia pemalu.”

“Pemalu nggak datang jam dua pagi bawa obeng.”

“Mungkin dia buronan.”

“Sya.”

“Mungkin dia pangeran Eropa Timur yang lagi menyamar.”

Aku melempar bantal kecil ke arahnya. Dia menangkapnya dan memeluknya sambil tersenyum lebar.

“Ya udah,” katanya. “Kalau mau tahu, tanya orang yang tahu semuanya.”

“Siapa?”

Tasya menunjuk ke luar jendela, ke ujung deretan ruko, ke sebuah pos kecil beratap seng tempat seorang laki-laki tua bertopi biru sedang meniup peluit ke arah angkot yang sama sekali tidak butuh dibantu parkir.


Pak Udin sudah jadi juru parkir di depan Kopi Sudut sejak sebelum Kopi Sudut ada. Dulu tempat itu warung fotokopi, lalu toko pulsa, lalu warung bakso yang tutup karena pemiliknya pindah ke Lampung. Pak Udin tetap di sana selama semua perubahan itu, dengan peluit yang sama dan topi biru yang sama, seolah dia bagian dari bangunan.

Aku sudah empat tahun membelikannya kopi setiap pagi. Aku tahu dia punya tiga cucu, satu di antaranya baru masuk SMP. Aku tahu dia pernah jadi sopir truk antarprovinsi sebelum lututnya rusak. Aku tahu dia suka gula aren dua sendok karena almarhumah istrinya selalu membuatkan kopi begitu.

Yang tidak kuketahui, ternyata, adalah kemampuannya pura-pura bodoh. Kemampuan itu ada di level profesional.

“Pak Udin,” kataku sore itu sambil menyodorkan es kopi kedua hari ini. Sogokan. “Saya mau tanya sesuatu.”

“Wah, kopi dua kali sehari.” Pak Udin menerima gelas itu dengan kedua tangan. “Mbak Celine pasti mau minta tolong yang berat.”

“Nggak berat, kok. Gampang.”

“Yang gampang biasanya paling susah.”

Aku duduk di bangku kayu kecil di samping posnya. Dari sini, kalau mendongak sedikit, aku bisa melihat jendela besar di lantai dua di atas Kopi Sudut. Kacanya memantulkan langit sore yang jingga. Tidak kelihatan apa-apa di dalam.

“Mas Bumi,” kataku.

Pak Udin menyedot es kopinya. Lama sekali.

“Bapak kenal, kan?”

“Kenal,” kata Pak Udin. “Mas yang di atas. Arsitek. Baik orangnya.”

“Baik gimana?”

“Ya baik.” Pak Udin mengangkat bahu. “Bayar parkir nggak pernah kurang.”

“Dia nggak parkir di sini, Pak. Mobilnya di gang samping.”

Pak Udin berhenti menyedot. “Oh. Iya. Tapi dia tetap bayar.”

“Bayar buat apa kalau nggak parkir?”

“Itu...” Pak Udin meniup peluitnya mendadak ke arah motor yang sedang mundur dengan sangat baik tanpa bantuan siapa pun. “Prrrit! Kiri, Mas, kiri! Ya, terus, ya, sip!”

Pengendara motor itu menatap Pak Udin dengan bingung, lalu pergi.

Aku menunggu sampai Pak Udin selesai.

“Pak,” kataku pelan. “Tiga tahun lalu, waktu Mochi mati. Bapak ingat?”

Pak Udin menurunkan peluitnya.

“Bapak bawain saya teh manis sama tisu,” lanjutku. “Bapak bilang itu dari Bapak. Saya ingat banget, karena itu pertama kalinya Bapak beliin saya sesuatu. Biasanya saya yang beliin Bapak.”

Angin sore lewat, membawa bau gorengan dari gerobak di seberang jalan. Pak Udin memandangi es kopinya.

“Itu dari Bapak, kan?” tanyaku.

Lama. Lalu Pak Udin berkata, sangat pelan, “Saya cuma yang nganter, Mbak.”

Aku menahan napas.

“Saya ini cuma tukang parkir,” kata Pak Udin. “Tugas saya nganter. Mobil masuk, saya anter ke tempatnya. Mobil keluar, saya anter ke jalan. Kadang-kadang yang dianter bukan mobil.” Dia menyedot es kopinya lagi. “Nah. Itu aja yang bisa saya bilang. Sisanya bukan punya saya buat diceritain.”

“Pak...”

“Tapi.” Pak Udin mengangkat satu jari. Matanya, yang biasanya setengah tertutup karena silau, sekarang terbuka lebar dan menatapku dengan sesuatu yang mirip geli. “Kalau Mbak Celine mau tahu, coba besok pagi Mbak lihat ke atas. Jam tujuh lewat sepuluh. Pas Mbak turun dari mobil.”

“Ke atas?”

“Ke atas,” ulang Pak Udin. Dia mendongak sedikit ke arah jendela lantai dua, lalu cepat-cepat menunduk lagi, seperti orang yang sadar sudah bicara terlalu banyak. “Mas di atas itu tiap pagi lihat ke sini. Udah. Saya nggak bilang apa-apa. Saya cuma tukang parkir.”

Dia meniup peluitnya lagi. Kali ini ke arah kucing.


Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku berbaring di kamarku di rumah Mama, rumah besar di Menteng dengan langit-langit setinggi empat meter yang selalu membuat suara apa pun terdengar lebih sepi. Aku memandangi plafon dan memutar ulang semua yang kutahu.

Ban bocor di jalan yang tidak dilewati siapa pun. Laptop mati jam dua pagi, dan dia ada di sana dalam sepuluh menit. Teh manis di hari hujan, yang ternyata bukan dari Pak Udin.

Mas di atas itu tiap pagi lihat ke sini.

Seharusnya aku merasa takut. Logikanya, kalau ada laki-laki yang memperhatikanmu setiap pagi dari jendela, kamu seharusnya merasa terancam. Tasya pasti akan mengirim tiga artikel berita kriminal kalau mendengar kalimat itu tanpa konteks.

Tapi aku tidak merasa takut.

Aku ingat cara dia berhenti tiga meter dariku di jalan gelap, dengan kedua tangan terangkat. Aku ingat cara dia mendudukkan boneka jerapahku menghadap ke luar. Aku ingat cara dia memalingkan muka setiap kali aku tertawa, seperti orang yang tidak sengaja menatap matahari.

Orang yang berniat jahat tidak memalingkan muka. Orang yang berniat jahat menatap lebih lama.

Dia justru tidak sanggup.

Aku menarik selimut sampai dagu dan, entah kenapa, tersenyum ke gelap.


Pagi berikutnya, jam tujuh lewat sepuluh, aku memarkir mobil di depan Kopi Sudut.

Aku sengaja tidak langsung turun. Aku duduk di balik kemudi, merapikan rambut di kaca spion untuk ketiga kalinya, dan menghitung napas. Ini konyol, kataku pada diri sendiri. Kamu dua puluh tujuh tahun. Kamu pernah presentasi di depan dewan kurator British Library. Kamu cuma mau keluar dari mobil.

Aku keluar dari mobil.

Pak Udin meniup peluit. Aku melambai seperti biasa. Lalu, dengan jantung berdebar seperti anak SMA yang mau menyerahkan surat cinta, aku mendongak ke jendela lantai dua.

Kacanya memantulkan langit pagi. Biru pucat dan awan tipis. Tidak ada siapa-siapa.

Aku mengerjap. Menunggu satu detik. Dua.

Lalu, di bagian bawah kaca, ada sesuatu yang bergerak. Gerakannya cepat sekali, seperti seseorang yang tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Di sampingku, Pak Udin terbatuk-batuk hebat. Kupikir dia tersedak, tapi ternyata dia sedang tertawa sambil berusaha keras supaya tidak kelihatan tertawa. Bahunya bergetar, topinya miring, dan peluitnya berbunyi kecil-kecil, prit, prit, prit, setiap kali dia menghela napas.

“Pak!”

“Nggak, nggak, Mbak.” Pak Udin mengusap matanya. “Saya kelilipan. Debu. Jakarta banyak debu.”

Aku masuk ke Kopi Sudut dengan wajah panas. Aku memesan dua kopi seperti biasa, lalu duduk di meja nomor tiga. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku memperhatikan sesuatu yang tidak pernah kusadari: dari meja ini, kalau aku sedikit menengadah ke luar kaca dan ke atas, aku bisa melihat sudut bawah jendela besar studio itu.

Berarti dari sana, dia bisa melihat meja ini dengan sangat jelas.

Berarti setiap pagi, selama empat tahun...

“Mbak Celine.” Mas Dodi meletakkan dua gelas kopi di mejaku. Wajahnya, yang biasanya cemberut sampai jam sembilan, sekarang terlihat seperti menahan sesuatu. “Ini kopinya. Dan, eh...” Dia meletakkan satu benda lagi: sepotong roti bakar cokelat keju di piring kecil. “Ini juga.”

“Saya nggak pesan roti, Mas.”

“Udah dibayar.”

“Sama siapa?”

Mas Dodi melirik ke langit-langit. Langsung ke atas. Ke lantai dua.

“Kebetulan,” kata Mas Dodi, dengan nada orang yang sudah diberi naskah dan disuruh menghafal. “Kebetulan ada yang bayarin.”

Aku memandangi roti itu. Lalu memandangi langit-langit kafe, seolah aku bisa melihat menembus beton, kabel listrik, dan pipa air sampai ke seseorang yang sekarang mungkin sedang berbaring telentang di lantai studionya, bersembunyi dari jendelanya sendiri.

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai beberapa pengunjung menoleh, sampai Mas Dodi ikut tersenyum, sampai mataku berair.

Lalu aku mengambil ponsel, membuka aplikasi kamera, dan memotret roti itu. Fotonya kukirim ke Tasya.

Celine: Dia bayarin rotiku. Dari atas. Tanpa turun.
Tasya: ROTI APA
Celine: Roti bakar cokelat keju.
Tasya: ITU ROTI KESUKAANMU
Tasya: DARI MANA DIA TAHU
Tasya: Lin ini udah bukan sahabat pena lagi. Ini udah level malaikat penjaga.
Tasya: Malaikat penjaga yang takut sama kamu 😭

Aku menatap pesan terakhir itu lama.

Malaikat penjaga yang takut sama kamu.

Aku makan roti itu pelan-pelan. Enak sekali, lebih enak dari biasanya, entah kenapa.


Rapat pertama proyek Cilincing diadakan hari Kamis di ruang rapat kecil Rumah Pelangi.

Yang datang dari Wiranata Atelier hanya satu orang: Mas Jovan, dengan kemeja motif daun monstera dan tas tabung gambar yang terlalu besar untuk tubuhnya.

“Mas Bumi mana?” tanyaku.

“Sakit gigi,” kata Jovan.

“Kemarin dia nggak sakit gigi.”

“Mendadak. Sakit gigi itu memang suka mendadak, Mbak. Kayak cinta.” Jovan tersenyum sangat lebar, lalu langsung batuk. “Maksud saya, kayak hujan. Mendadak kayak hujan.”

Di sebelahku, Tasya menunduk ke laptop dan pura-pura mengetik. Pundaknya bergetar.

Jovan membentangkan gambar-gambar di meja. Denah lantai satu dan dua, potongan bangunan, perspektif kasar ruang baca perahu. Semuanya jauh lebih detail dari yang kulihat jam tiga pagi itu. Ada ukuran, ada keterangan material, ada catatan-catatan kecil di pinggir dengan huruf cetak rapi yang sudah sangat kukenal dari sticky note.

Anak tangga maks. 15 cm. Anak-anak kaki pendek.

Jendela ini menghadap timur. Anak-anak bisa lihat matahari terbit sebelum sekolah.

Sudut ini buat anak yang belum lancar membaca. Jangan terlalu terang. Malu itu butuh tempat sembunyi sedikit.

Aku membaca catatan terakhir itu dua kali. Tenggorokanku terasa aneh.

“Mas Jovan,” kataku. “Ini tulisan Mas Bumi, kan?”

Jovan, yang sedang menjelaskan sistem ventilasi silang dengan sangat bersemangat, berhenti di tengah kalimat.

“Itu...” Dia melirik catatan itu. “Itu tulisan studio.”

“Tulisan studio.”

“Kami punya satu tulisan. Seragam. Kayak... kayak logo.”

“Mas Jovan.”

Jovan menghela napas panjang dan meletakkan pensilnya. Dia memandangiku dengan ekspresi yang baru pertama kali kulihat di wajahnya, tidak bercanda sama sekali. Ekspresinya lelah, sayang, dan sedikit putus asa, seperti kakak yang sudah terlalu lama menunggu adiknya pulang.

“Mbak Celine,” katanya. “Saya boleh minta satu hal?”

“Apa?”

“Jangan berhenti tanya.”

Aku mengerjap.

“Dia bakal jawab ‘kebetulan’. Dia bakal sembunyi. Dia bakal sakit gigi, survei ke Bekasi, ketiduran di Kijang, apa pun. Dia ahli banget soal itu. Tapi...” Jovan menggulung salah satu gambar pelan-pelan. “Tapi jangan berhenti tanya. Saya udah capek nanya sendirian.”

Ruang rapat sunyi. Bahkan Tasya berhenti pura-pura mengetik.

“Kenapa dia begitu?” tanyaku pelan.

Jovan tersenyum, senyum yang lebih mirip ringisan. “Itu bukan punya saya buat diceritain, Mbak.”

Kalimat yang persis sama dengan Pak Udin.

Aku menunduk ke catatan kecil di pinggir gambar itu. Malu itu butuh tempat sembunyi sedikit.

Aku menyentuh huruf-huruf itu dengan ujung jari, seolah aku bisa merasakan tangan yang menulisnya, tangan bernoda tinta yang selalu bergerak cepat untuk menolong lalu bersembunyi lebih cepat lagi.

“Oke,” kataku. “Aku nggak akan berhenti.”


Sore itu, sebelum pulang, aku berdiri di trotoar di depan Kopi Sudut dan mendongak ke jendela lantai dua.

Lampu studio menyala. Kacanya tidak lagi memantulkan langit, karena langit sudah gelap. Sekarang aku bisa melihat ke dalam: rak-rak berisi gulungan kertas, ujung meja gambar, dan sebuah lampu meja berleher panjang yang menyorot ke bawah.

Dan di balik lampu itu, sebuah siluet. Tinggi. Bahu lebar. Kepala menunduk ke meja.

Aku mengangkat tangan dan melambai.

Siluet itu membeku. Lalu, pelan sekali, seperti orang yang tidak yakin apakah lambaian itu memang untuknya, dia mengangkat kepala.

Kami saling menatap, dia di lantai dua dan aku di trotoar, dipisahkan kaca, jarak, dan empat tahun yang baru separuh kupahami.

Lalu tirai jendela itu turun. Cepat. Seperti pintu yang dibanting oleh orang yang panik.

Di belakangku, Pak Udin terbatuk-batuk lagi.

“Debu, Pak?” tanyaku tanpa menoleh.

“Debu, Mbak,” kata Pak Udin dengan suara bergetar. “Banyak banget debu hari ini.”

Aku tersenyum ke tirai yang tertutup itu, lalu berjalan pulang. Sepanjang jalan, aku menyadari satu hal yang aneh.

Aku tidak sabar menunggu besok pagi jam tujuh lewat sepuluh.