← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Twenty

Rumah yang Dia Gambar

POV: Bumi

Aku bangun jam empat pagi dan menyapu rumah tiga kali.

Rumahnya tidak kotor. Aku tinggal sendiri, aku tidak punya kucing, dan aku jarang di rumah. Tapi aku menyapunya tiga kali. Lalu mengepel. Lalu mengelap jendela, kaca demi kaca, sampai matahari terbit dan cahayanya masuk tanpa noda sedikit pun. Lalu aku berdiri di tengah ruang tengah dengan kain lap di tangan dan menyadari aku belum mandi.

Jam sembilan, Jovan menelepon.

“Udah siap?”

“Nggak.”

“Rumahnya?”

“Udah bersih.”

“Kamunya?”

Aku diam.

“Bum,” kata Jovan. “Kursi itu. Udah kamu lap juga?”

Aku memandang ke sudut dekat jendela besar yang menghadap halaman belakang. Kursi baca berbantalan lebar berwarna hijau sage. Lampu baca kuningan berleher panjang. Rak kecil setinggi lutut berisi buku-buku anak bergambar. Meja samping mungil dari kayu jati dengan tatakan gelas berbentuk awan.

“Aku lap tiap minggu,” kataku. “Empat tahun.”

Jovan diam lama di seberang.

“Semoga lancar, Bum,” katanya akhirnya. Pelan. “Aku nggak akan ngintip kali ini. Janji.”

“Kamu janji juga waktu pecel lele.”

“Kali ini beneran. Tasya juga udah janji. Kita di Ancol.”

“Ngapain di Ancol?”

Jeda. “Bukan urusanmu.”

Aku hampir tersenyum.


Dia datang jam sebelas lewat sepuluh. Bukan jam tujuh lewat sepuluh, tapi tetap lewat sepuluh. Aku curiga dia sengaja.

Aku mendengar mobilnya berhenti di gang sempit di depan rumah. Aku mendengar pintu mobil terbuka, langkah kaki di jalan berbatu kecil yang kubuat sendiri dari sisa batu kali proyek di Ciawi. Aku berdiri di balik pintu dengan tangan berkeringat dan jantung berdetak seperti palu Eyang.

Ketukan. Tiga kali. Pelan.

Aku membuka pintu.

Dia berdiri di teras kecilku dengan gaun katun warna kuning pucat, sandal tali, rambut digerai dengan jepit krem di satu sisi. Di tangannya ada kantong kertas cokelat yang wanginya kelapa dan gula merah. Kue putu. Tentu saja kue putu.

Dia tidak langsung masuk. Dia berdiri di teras dan memandang rumahku.

Dinding bata ekspos yang tidak diplester. Kusen jendela kayu jati bekas yang kubeli dari pembongkaran rumah tua di Bogor. Atap genteng tanah liat. Teras kecil dengan dua kursi rotan yang anyamannya sudah mulai lepas. Pot-pot tanaman yang separuh mati karena aku jarang di rumah.

Rumah kecil. Rumah yang dibangun sedikit demi sedikit selama tiga tahun dengan uang sisa proyek. Rumah yang, kalau diletakkan di halaman rumahnya di Menteng, mungkin akan muat di garasi.

“Mas,” katanya pelan.

Aku menunggu. Aku menunggu dia bilang lucu, atau mungil, atau nyaman, kata-kata sopan yang orang pakai untuk rumah kecil.

“Ini cantik banget,” katanya.

Aku mengerjap.

Dia melangkah ke dinding dan menyentuh batanya. Telapak tangannya menempel di bata merah yang kasar, seperti menyentuh sesuatu yang hidup.

“Ini Mas susun sendiri?”

“Sebagian. Tukang yang pasang, tapi aku yang pilih batanya satu-satu.”

“Satu-satu?”

“Yang retak aku sisihin. Yang warnanya terlalu pucat juga. Biar dindingnya rata warnanya.”

Dia menelusuri garis-garis semen di antara bata dengan ujung jarinya. “Kenapa nggak diplester?”

“Nggak sanggup bayar.” Aku menggaruk tengkuk. “Waktu itu.”

Dia menoleh padaku. “Untung nggak sanggup.”

“Kenapa?”

“Karena kalau diplester, aku nggak bisa lihat ini.” Dia menepuk bata itu pelan. “Kelihatan Mas bikinnya pakai sabar.”

Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku membuka pintu lebih lebar.


Dia berjalan pelan di rumahku seperti orang berjalan di museum.

Dia melihat ruang tengah dengan rak-rak buku di dua dinding, kebanyakan buku arsitektur dan buku bekas dari pasar loak Kwitang. Dia melihat meja gambar besar di dekat jendela samping, dengan lampu berleher panjang yang sama seperti di studio. Dia melihat dapur kecil dengan kompor dua tungku dan satu panci yang gagangnya sudah diperbaiki pakai kawat. Dia melihat foto Eyang di dinding dekat pintu dapur, foto yang sama seperti di dompet tapi lebih besar, dibingkai kayu yang dipahat sendiri dengan motif daun dan sulur.

Dia berhenti di depan foto itu lama.

“Eyang Mas ganteng,” katanya.

“Eyang bilang dulu banyak yang naksir.”

“Aku percaya.” Dia tersenyum ke foto itu. “Senyumnya mirip Mas.”

“Aku jarang senyum.”

“Belakangan ini sering.” Dia menoleh. “Aku hitung.”

Lalu dia berbalik, memandang ke seberang ruang tengah, ke jendela besar yang menghadap halaman belakang.

Dan dia melihatnya.

Aku melihatnya melihat sudut itu. Aku melihat langkahnya berhenti. Aku melihat kantong kertas berisi kue putu itu pelan-pelan turun di tangannya.

Cahaya siang masuk dari jendela besar dan jatuh tepat di atas kursi hijau sage itu, membuat warnanya kelihatan lembut seperti daun muda. Lampu baca kuningan berdiri di sampingnya, lehernya melengkung ke arah bantalan kursi seperti orang yang sedang menunduk membaca. Rak kecil setinggi lutut, dengan buku-buku yang punggungnya warna-warni: paus biru, gajah ungu, anak perempuan yang ingin terbang ke bulan, kancil yang selalu menang. Meja samping jati, dengan tatakan gelas berbentuk awan.

Di halaman belakang, lewat jendela, ada pohon rambutan muda. Tingginya baru dua meter, daunnya hijau mengilap.

Dia berjalan ke sudut itu. Pelan sekali, seperti takut sesuatu akan hilang kalau dia bergerak terlalu cepat.

Dia berhenti di depan kursi itu dan tidak duduk.

Dia membungkuk dan memandangi rak buku. Jarinya menyusuri punggung-punggung buku itu. Lalu dia berhenti di satu buku, buku tentang paus biru kecil yang takut berenang ke laut dalam, dan menariknya keluar.

Buku yang dia bacakan di hari rak roboh. Buku yang membuat semua anak pura-pura bersin.

Dia membuka sampul belakangnya. Di sana, di pojok kanan bawah, dengan pensil, dalam huruf cetak kecil-kecil:

Dibaca Sabtu, 14 Mei. Gurita bersin. Dimas paling keras.

Dia menarik buku lain. Gajah ungu. Sampul belakang:

Dibaca Sabtu, 3 Desember. Dia nirukan suara gajah. Pak Udin batuk.

Buku lain. Kancil. Sabtu, 19 Agustus. Hujan. Anak-anak sedikit. Dia tetap baca pakai suara-suara.

Satu demi satu. Setiap buku di rak itu. Setiap buku yang pernah dia bacakan di hari Sabtu, di Rumah Pelangi, di depan anak-anak, aku membeli satu salinannya di toko buku. Aku membawanya pulang dan menulis tanggal di sampul belakangnya, lalu meletakkannya di rak kecil di samping kursi yang tidak pernah diduduki siapa pun.

Dia memeluk buku-buku itu ke dada dan menoleh padaku.

Matanya sudah basah.

“Mas,” bisiknya. “Ini buat siapa?”

Aku berdiri di tengah ruang tengah dengan tangan kosong. Tidak ada payung, tidak ada kotak perkakas, tidak ada jaket. Tidak ada yang bisa kupegang untuk menyembunyikan tanganku yang gemetar.

“Buat kamu,” kataku.


Dia tidak langsung bicara. Dia memandangi kursi hijau sage itu, lalu lampu, lalu tatakan gelas berbentuk awan, lalu kembali padaku.

“Kapan Mas bikin ini?”

Aku menarik napas. “Aku gambar sudut ini lima tahun lalu. Sebelum rumahnya ada. Sebelum aku beli tanahnya.”

Dia mengerutkan kening. “Lima tahun?”

“Iya.”

“Tapi Mas bilang Mas lihat aku dari jendela empat tahun.”

Aku diam.

Aku melihat dia mengerti, pelan-pelan. Aku melihat dia mengingat di jendela ini. Ada satu cerita lagi. Yang paling awal. Cuma ada satu cerita yang nggak pernah Eyang lupa.

“Itu bagian dari cerita yang belum,” bisiknya.

“Iya,” kataku. “Maaf.”

“Nggak usah minta maaf.” Dia menggeleng pelan. “Tapi Mas, lima tahun lalu, apa yang Mas tahu tentang aku sampai Mas bikin sudut baca? Buku anak-anak?”

Aku memandang ke pohon rambutan di halaman belakang.

“Waktu itu aku cuma tahu satu hal tentang kamu,” kataku pelan. “Kamu suka buku anak-anak. Kamu mimpi bikin perpustakaan buat anak-anak yang nggak punya buku.”

Dia menahan napas. “Dari mana Mas tahu? Aku belum bikin Rumah Pelangi waktu itu. Aku masih di London.”

“Itu juga bagian dari cerita.”

Dia memandangiku lama. Aku melihat seribu pertanyaan di matanya. Aku melihat dia memilih untuk tidak menanyakan satu pun.

Lalu dia melakukan sesuatu yang membuat lututku hampir hilang.

Dia duduk di kursi itu.

Pelan. Dia menurunkan tubuhnya ke bantalan hijau sage yang empat tahun tidak pernah diduduki siapa pun. Bantalan itu menyerah sedikit di bawah berat tubuhnya, lalu menyesuaikan diri, seperti memang dibuat untuk tubuh itu. Punggungnya bersandar. Kakinya menyentuh lantai, karena aku membuat kursinya lebih rendah dari kursi biasa. Dulu aku tidak tahu persis tingginya, jadi aku menebak dari tinggi badannya yang kulihat dari jendela. Tebakanku pas.

Cahaya dari jendela jatuh di rambutnya, di bahunya, di buku-buku yang masih dia peluk.

Lampu baca kuningan itu menunduk di atasnya, seperti akhirnya menemukan orang yang ditunggunya.

Aku berdiri di tengah ruangan dan memandanginya.

Empat tahun aku melap kursi itu setiap minggu. Empat tahun aku membeli buku dan menulis tanggal di sampulnya. Empat tahun aku membayangkan seseorang duduk di sana, dan tidak pernah sekali pun berani membayangkannya dengan jelas, karena aku tahu itu tidak akan terjadi.

Sekarang dia duduk di sana.

“Pas,” bisiknya. Dia menepuk lengan kursi. “Tingginya pas, Mas. Kakiku nyampe lantai. Kursi di mana-mana kakiku selalu gantung.”

“Aku tahu,” kataku. Suaraku tidak bisa kukendalikan. “Aku lihat dari jendela. Di meja nomor tiga, kakimu selalu gantung. Kamu suka goyang-goyangin.”

Dia memandangiku. Lalu dia tertawa kecil, basah, dan menutup wajah dengan buku paus biru itu.


Kami makan kue putu di lantai, di depan kursi itu.

Dia di kursi, aku di lantai bersandar ke kakinya. Dia tidak membiarkanku duduk di sofa. Mas duduk di sini, katanya sambil menepuk lantai di samping kakinya, biar aku bisa nyandarin kaki. Lalu dia benar-benar menyandarkan kakinya di pahaku, dan aku membeku selama tiga menit sebelum ingat cara bernapas.

Kue putu itu sudah dingin, tapi gula merahnya masih meleleh. Di luar, pohon rambutan muda bergoyang pelan.

“Itu pohon rambutan dari mana?” tanyanya.

“Biji dari pohon di belakang rumah Eyang. Musim terakhir sebelum Eyang meninggal. Aku tanam waktu rumah ini baru fondasi.”

“Udah berbuah?”

“Belum. Mungkin tahun depan.”

“Nanti kalau berbuah, aku mau yang pertama.”

“Iya.”

“Pakai kardus mi instan, diiket rafia.”

Aku menoleh dan memandangnya dari bawah. Dia tersenyum padaku dari atas kursi, senyum yang pelan dan hangat.

Lalu senyumnya berubah sedikit. Dia memandang ke luar jendela, ke pohon rambutan, dan matanya jadi jauh.

“Mas tahu nggak,” katanya pelan, “rumah ini lebih hangat dari rumahku.”

Aku tidak menjawab. Aku menunggu.

“Rumahku gede, Mas. Kamu udah lihat. Langit-langitnya empat meter. Kamarku sendiri lebih gede dari ruang tengah ini.” Dia memeluk buku paus biru. “Waktu kecil, aku tidur sendirian di kamar itu. Umur lima tahun. Mama sama Papa bilang aku harus mandiri. Kamar mereka di sayap lain, jauh, harus lewat koridor panjang.”

Dia diam sebentar.

“Aku takut gelap. Banget. Tiap malam aku nyalain lampu kamar. Tapi Mbak Sri yang dulu, sebelum Mbak Sri yang sekarang, selalu matiin lampunya kalau aku udah tidur. Katanya hemat listrik. Terus aku kebangun tengah malam, gelap, langit-langitnya tinggi banget, suara apa pun kedengeran keras, dan aku nggak berani lari ke kamar Mama karena koridornya juga gelap.”

Aku menegakkan punggung dari kakinya.

“Jadi aku nangis aja di kasur. Pelan-pelan. Biar nggak ada yang denger.” Dia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata. “Lucu, ya? Rumah segede itu, dan nggak ada yang denger.”

“Papamu? Mamamu?”

“Sibuk. Papa bangun perusahaan. Mama ikut Papa ke mana-mana, acara, makan malam, ke luar negeri. Mereka sayang aku, Mas. Beneran. Aku nggak pernah ragu. Tapi mereka jarang ada.” Dia mengusap sampul buku paus itu dengan ibu jari. “Ulang tahunku yang ketujuh, ada pesta gede. Seratus tamu. Badut. Kue lima tingkat. Tapi Mama sama Papa telat, pesawatnya delay dari Singapura. Mereka dateng waktu kuenya udah dipotong. Aku tiup lilin sama Mbak Sri.”

Aku tidak bisa bicara.

“Habis itu ada Mochi.” Suaranya melembut. “Aku pungut dia dari pinggir tol waktu SMA. Mama nggak suka anjing, tapi aku nangis tiga hari, akhirnya boleh. Mochi tidur di kasurku tiap malam. Kalau ada Mochi, aku nggak takut gelap lagi. Ada yang napas di sebelahku.”

Dia menoleh padaku.

“Makanya lampu Rumah Pelangi selalu aku biarin nyala, Mas. Bukan cuma buat anak-anak ronda. Aku pikir, mungkin di sekitar situ ada anak kecil yang takut gelap. Yang kebangun tengah malam terus lihat ke luar jendela. Kalau dia lihat ada satu lampu yang nyala di ujung jalan, mungkin dia nggak terlalu takut. Mungkin dia ngerasa ada yang jagain.”

Lampu di lantai atas Rumah Pelangi. Empat tahun aku melihatnya dari jendela studio, setiap malam. Aku pikir itu untuk anak-anak ronda. Aku pikir itu kebaikan kecil, seperti dua gelas kopi.

Aku tidak tahu itu lampu yang dia nyalakan untuk dirinya sendiri yang berumur lima tahun.

“Rumah sebesar itu,” kataku. Suaraku pecah. Aku tidak bisa menahannya. “Kok kamu sendirian.”

Dan aku menangis.

Di depannya. Di lantai rumahku, bersandar ke kakinya, dengan kue putu dingin di pangkuan. Air mataku jatuh, dan aku tidak menyembunyikannya. Aku tidak berpaling, tidak pergi ke toilet, tidak mencari tangga darurat atau Kijang.

Aku menangis untuk anak perempuan lima tahun di kamar yang terlalu besar, dengan langit-langit yang terlalu tinggi, yang menangis pelan-pelan supaya tidak ada yang dengar. Untuk anak perempuan tujuh tahun yang meniup lilin bersama pembantu. Untuk anak perempuan SMA yang memungut anjing dari pinggir tol supaya ada yang bernapas di sebelahnya.

Untuk perempuan dua puluh tujuh tahun yang menyalakan lampu di ujung jalan untuk anak-anak yang tidak dia kenal, karena dia tahu persis rasanya takut gelap sendirian.

Dia memandangiku menangis. Untuk pertama kalinya, dia melihatku menangis karena dia. Bukan di tangga darurat yang dia dengar dari Bu Ratna, bukan berkaca-kaca di warung tenda yang dia tangkap sekilas. Dia melihatnya langsung, dari jarak setengah lengan, air mata jatuh di pipi dan menetes ke daun pisang bekas kue putu.

Dia meletakkan buku paus biru di lengan kursi. Dia membungkuk dari kursi itu, dan memegang wajahku dengan kedua tangannya.

“Mas,” bisiknya. “Kenapa Mas yang nangis?”

“Karena kamu nggak nangis,” kataku. “Kamu ceritain itu semua sambil senyum. Kayak kamu udah biasa.”

Dia memandangiku lama. Ibu jarinya mengusap air mata di pipiku, pelan, satu-satu.

Lalu matanya juga basah.

“Mas tahu nggak,” bisiknya, “seumur hidup, nggak pernah ada yang nangisin aku. Mama sedih, Papa sedih, Tasya sedih. Tapi nggak pernah ada yang nangis karena aku pernah takut gelap waktu kecil.”

Dia menempelkan dahinya ke dahiku.

“Makasih, Mas,” bisiknya. “Udah nangisin aku yang dulu.”


Sore itu dia membacakan buku untukku.

Dia duduk di kursi hijau sage, aku di lantai bersandar ke kakinya, dan dia membuka buku paus biru kecil yang takut berenang ke laut dalam. Dia membacanya dengan suara-suara. Suara paus kecil yang gemetar. Suara ibu paus yang sabar. Suara gurita tua yang bijak dan agak pilek.

Di bagian gurita bersin, dia berhenti dan menatapku.

“Mas harus pura-pura bersin,” katanya. “Itu aturannya.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Dimas umur sepuluh tahun dan dia bersin paling keras.”

Aku memandanginya. Dia memandangiku balik, menunggu, dengan alis terangkat.

Aku pura-pura bersin.

Dia tertawa sampai buku itu hampir jatuh. Lesung pipitnya muncul dalam-dalam, dan cahaya sore dari jendela besar jatuh di wajahnya, keemasan, dan aku memandanginya dari jarak setengah lengan.

Dia menyelesaikan buku itu. Paus kecil akhirnya berenang ke laut dalam, dan ternyata di sana tidak gelap. Ada ubur-ubur yang menyala seperti lampu.

Lalu dia membaca buku kedua. Gajah ungu. Lalu buku ketiga. Kancil.

Di tengah buku ketiga, suaranya mulai pelan. Kalimatnya mulai panjang-panjang. Kepalanya mulai miring ke sandaran kursi.

Dia tertidur. Di kursi yang kubuat untuknya, dengan buku kancil terbuka di pangkuan, dan kakinya masih di pahaku.

Aku tidak bergerak lama sekali.

Lalu, sangat pelan, aku memindahkan kakinya ke bantal kecil di lantai. Aku berdiri. Aku mengambil jaket abu-abu dari gantungan di balik pintu dan menyelimutkannya di bahunya. Pelan. Seperti takut jaketnya terlalu berat.

Aku mengambil buku sketsa dari tas. Bukan buku sketsa kulit cokelat tua milik Eyang. Yang itu masih di laci kanan atas meja studio, menunggu. Ini buku sketsa biasa, yang kubeli di toko alat tulis.

Aku duduk di lantai, satu meter darinya, dan mulai menggambar.

Garis rahangnya. Rambut yang jatuh di bahu. Bulu mata yang jatuh di pipi seperti kipas kecil. Tahi lalat sangat kecil di bawah telinga kiri. Tangan yang masih memegang buku kancil. Kaki yang tidak gantung.

Empat tahun aku menggambarnya dari jendela. Dari atas. Dari jauh. Lewat kaca.

Ini pertama kalinya aku menggambarnya dari dekat.

Garisnya berbeda. Aku tidak tahu kenapa, tapi garisnya berbeda. Lebih lembut. Lebih yakin. Tidak terburu-buru seperti pagi-pagi ketika dia akan pergi dari meja nomor tiga, tidak terlalu hati-hati seperti ketika aku takut salah. Garisnya seperti garis orang yang tahu dia punya waktu.

Di pojok halaman, aku menulis tanggal hari ini.

Lalu, di bawahnya:

Dia tertidur di kursi yang kubuat untuknya. Kakinya nyampe lantai.

Dari sini, jaraknya satu meter.

Di luar, matahari sore turun di balik pohon rambutan muda yang belum berbuah. Lampu baca kuningan itu kunyalakan pelan, karena ruangan mulai gelap, dan aku tidak mau dia terbangun dalam gelap.