← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Fourteen

Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat

POV: Bumi

Mas Dodi meninggalkan kunci Kopi Sudut di bawah pot bunga plastik di meja kasir, bersama selembar kertas bon yang ditulis dengan spidol:

Mas Bumi. Lampu yang di pojok saklarnya paling kiri. Kulkas jangan dibuka, ada kue pesanan orang. Gula aren di toples biru. Semoga lancar. Saya doain. — Dodi

P.S. Jangan kabur lewat dapur.

Aku berdiri di tengah kafe yang gelap, membaca kertas itu di bawah cahaya lampu jalan yang masuk dari kaca depan, dan tidak tahu harus tertawa atau sembunyi di bawah meja kasir.

Aku menyalakan satu lampu saja, lampu gantung kecil di atas meja nomor tiga. Cahayanya kuning dan hangat, jatuh membentuk lingkaran di atas permukaan marmer imitasi yang retak halus di satu sisi. Seluruh kafe tetap gelap kecuali lingkaran itu. Kursi-kursi lain masih ditumpuk terbalik di atas meja. Mesin kopi diam, berkilau samar.

Aku menurunkan dua kursi besi putih dari atas meja nomor tiga. Kaki kiri yang satu masih goyang. Aku mengambil selembar kertas dari tas, melipatnya empat kali, dan menyelipkannya di bawah kaki itu.

Lalu aku berdiri di belakang bar. Pertama kali dalam hidupku aku berdiri di sana.

Aku tahu cara membuat teh manis. Itu gampang. Tapi kopi susu dengan gula aren, yang setiap pagi dia pesan, aku tidak pernah membuatnya. Siang tadi aku meminta Mas Dodi mengajariku. Mas Dodi memandangiku lama dengan tatapan yang tidak bisa kubaca, lalu bilang, “Mas, saya ajarin. Tapi Mas harus janji satu hal.”

“Apa?”

“Kalau Mbak Celine nangis lagi di meja itu, nangisnya karena seneng.”

Aku tidak bisa menjanjikan itu. Tapi aku mengangguk.

Mesin kopi itu ternyata lebih rumit dari gambar kerja tiga lantai. Percobaan pertama, susunya terlalu panas dan berbuih seperti sabun. Percobaan kedua, kopinya tumpah ke tanganku. Percobaan ketiga, lumayan. Gula aren dua sendok, diaduk sampai larut, karena aku tahu dia tidak suka ada butiran di dasar gelas.

Teh manis untukku. Kopi susu gula aren untuknya. Dua gelas di meja nomor tiga.

Jam sembilan lewat delapan, aku duduk di kursi yang menghadap pintu.

Jam sembilan lewat sepuluh, lampu mobil menyapu kaca depan.

Tentu saja jam sembilan lewat sepuluh.


Dia masuk tanpa mengetuk, karena pintunya tidak kukunci. Lonceng di atas pintu berbunyi kling pelan, terlalu nyaring di kafe yang sunyi.

Dia memakai gaun sederhana warna biru muda, cardigan putih, rambut digerai. Di tangannya ada jaket abu-abuku, terlipat. Wajahnya, dalam cahaya lampu jalan, kelihatan gugup. Sama gugupnya denganku.

Lalu dia melihat meja nomor tiga. Lingkaran cahaya kuning. Dua kursi. Dua gelas.

Dia berhenti di ambang pintu.

“Mas bikin kopi?” bisiknya.

“Mas Dodi yang ngajarin. Tadi siang.” Aku berdiri, karena tidak tahu harus melakukan apa dengan tubuhku. “Mungkin nggak enak. Percobaan ketiga.”

Dia berjalan pelan ke meja. Dia meletakkan jaket di sandaran kursinya. Dia duduk. Dia mengangkat gelas itu dengan kedua tangan dan menyeruputnya pelan.

Aku menunggu, seperti menunggu hasil sidang.

“Gula arennya dua sendok,” katanya.

“Iya.”

“Diaduk sampai nggak ada butiran.”

“Iya.”

Dia meletakkan gelas itu, lalu menatapku. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Enak, Mas,” katanya. “Lebih enak dari buatan Mas Dodi. Jangan bilang dia.”

Aku duduk. Kursi itu tidak goyang lagi.


Lama kami tidak bicara.

Di luar, jalanan sepi. Sesekali motor lewat. Lampu di lantai atas Rumah Pelangi menyala di ujung jalan. Aku bisa melihatnya dari sini, dari kursi ini, lewat kaca depan. Aku tidak pernah tahu lampu itu juga kelihatan dari meja nomor tiga.

“Mas,” katanya akhirnya. “Aku nggak mau maksa. Kalau Mas belum siap...”

“Aku siap.”

Aku tidak siap. Tapi aku sudah memutuskan, kemarin, di jendela, ketika dia menangis di bekas sikuku. Ketika dia bilang nggak ada yang lebih dari ini, Mas. Ketika aku sadar bahwa diam, yang selama empat tahun kupikir melindunginya, ternyata juga melukainya.

Aku memandangi gelas teh manis di tanganku. Gulanya sudah larut. Tidak ada butiran yang berputar.

“Aku nggak pernah kebetulan lewat,” kataku.

Kalimat itu jatuh di antara kami, pelan, di bawah lampu kuning.

“Nggak pernah. Sekali pun.” Suaraku keluar lebih stabil dari yang kukira. “Ban bocor itu... oke, itu satu-satunya yang beneran kebetulan. Aku lewat jalan belakang karena kepalaku penuh. Tapi waktu lampu mobilku nyorot punggungmu, aku kenal punggung itu sebelum aku sempat mikir. Aku berhenti bukan karena kebetulan. Aku berhenti karena itu kamu.”

Dia tidak bergerak.

“Laptop. Lampu kantormu masih nyala jam dua pagi. Aku lihat kamu keluar, jalan bolak-balik di trotoar peluk laptop. Aku tahu ada yang salah.” Aku menelan ludah. “Halte. Aku lihat dari jendela. Kamu menggigil.”

“Terpal biru,” bisiknya.

“Hujan Februari. Pak Udin bilang genteng Rumah Pelangi bocor di atas ruang baca. Buku-bukumu basah. Kamu nggak ada di sana, kamu lagi ke Surabaya. Jadi aku naik.”

“Mas jatuh ke talang air.”

Aku menatapnya.

“Mas Jovan,” katanya. “Dia cerita ke Tasya. Tasya cerita ke aku.”

Aku akan bicara serius dengan Jovan nanti. Tapi tidak malam ini.

“Talangnya kuat,” kataku.

Dia tertawa kecil, basah. Air matanya jatuh satu.

“Satpam,” lanjutku. “Gerbangmu nggak bisa dikunci. Aku cuma duduk di Kijang. Nggak ngapa-ngapain. Cuma jaga.”

“Sampai subuh.”

“Aku ngantuk beneran, kok.”

“Sepatu Pak Udin.”

“Kamu bilang sepatunya mangap kayak buaya.” Aku hampir tersenyum. “Kamu bilangnya sambil ketawa, tapi habis itu kamu lihatin sepatunya lama. Aku tahu kamu mau beliin. Tapi kamu takut Pak Udin malu. Jadi aku kirim tanpa nama.”

Dia menutup mulut dengan tangan.

“Teh manis,” kataku, lebih pelan. “Waktu Mochi. Itu dari aku. Pak Udin cuma nganter.”

Dia memejamkan mata. Air mata jatuh dari kedua matanya sekarang, pelan, satu-satu, ke pipinya, ke dagunya.

“Aku lihat kamu nangis dari atas,” kataku. Suaraku mulai goyang, tapi aku tidak berhenti. “Aku pengin turun. Pengin duduk di meja sebelah. Nggak ngomong apa-apa, cuma duduk, biar kamu nggak sendirian. Tapi aku nggak berani. Aku pikir aku nggak berhak. Kamu nggak kenal aku. Aku cuma laki-laki asing dari lantai dua. Jadi aku cuma bisa titip teh lewat Pak Udin.”

“Mas...”

“Empat tahun.” Aku memaksa diriku menatapnya. “Empat tahun aku lihat kamu dari jendela itu. Tiap pagi, jam tujuh lewat sepuluh. Jovan pernah ngajak pindah studio ke Kemang, lebih murah, lebih luas, atapnya nggak bocor. Aku nolak, karena dari Kemang aku nggak bisa lihat meja ini.”

Dia menangis tanpa suara sekarang, bahunya bergetar kecil, tangannya masih menutupi mulut.

Dan aku harus mengatakan bagian berikutnya. Bagian yang kusiapkan semalaman, bagian yang paling penting, bagian yang harus kukatakan dengan benar.

“Celine.” Aku meletakkan gelas teh. Tanganku gemetar sedikit, jadi aku menyembunyikannya di bawah meja. “Aku nggak minta apa-apa.”

Dia membuka mata.

“Aku nggak cerita ini supaya kamu ngasih sesuatu. Aku nggak mau kamu ngerasa berutang. Aku nggak mau kamu ngerasa harus jawab. Kamu pantas dapat yang lebih dari aku, dan aku tahu itu. Aku tahu itu dari awal.” Aku menarik napas. “Aku cuma mau kamu tahu satu hal. Setelah semua orang yang deketin kamu karena papamu, setelah semua yang bikin kamu capek dan curiga sama orang baik...”

Suaraku pecah. Aku berhenti. Aku menunggu. Aku mencoba lagi.

“Aku cuma mau kamu tahu, ada yang sayang kamu tanpa butuh apa pun dari kamu. Itu aja.”

Kafe itu sunyi sekali. Lonceng di atas pintu tidak berbunyi. Mesin kopi tidak berdengung. Bahkan jalanan di luar seperti menahan napas.

“Kamu nggak usah jawab,” kataku pelan.


Dia tidak langsung menjawab.

Dia menurunkan tangannya dari mulut. Dia memandangi gelas kopi susu di depannya, gula aren dua sendok, tanpa butiran. Dia memandangi lingkaran cahaya kuning di permukaan meja. Dia memandangi jaket abu-abu di sandaran kursinya.

Lalu dia mengangkat kepala dan memandangiku.

“Aku juga,” katanya.

Aku mengerjap.

“Aku juga, Mas.”

Aku tidak mengerti. Atau mungkin aku mengerti, tapi otakku menolak menerimanya, seperti tubuh menolak organ yang dicangkokkan.

“Kamu...” Aku menggeleng pelan. “Celine, kamu cuma lagi terharu. Kamu baru dengar semua ini, wajar kalau kamu...”

“Aku bukan terharu.”

“Kamu berterima kasih. Itu beda.”

“Aku tahu bedanya, Mas.”

“Kamu nggak perlu ngerasa harus...”

Dia mengulurkan tangan ke seberang meja.

Tangannya berhenti di udara sebentar, ragu-ragu, di atas permukaan marmer imitasi yang retak halus. Lalu, perlahan, dia meraih tanganku yang kusembunyikan di bawah meja, menariknya ke atas, ke dalam lingkaran cahaya kuning, dan menggenggamnya.

Tanganku besar, kasar, dengan noda tinta biru kehitaman di sisi telapak, di ujung jari, di pergelangan. Noda yang tidak pernah bisa hilang. Tangannya kecil, halus, kukunya berwarna merah muda pucat, dan hangat. Hangat sekali.

Dia menggenggam tanganku seperti menggenggam sesuatu yang berharga.

“Terima kasih udah aku bilang seratus kali,” katanya. Suaranya bergetar tapi jelas. “Di jalan gelap, di kantor jam tiga pagi, di rumah sakit, di sticky note, di DM Instagram studio Mas. Aku udah bilang terima kasih sampai bosan. Ini bukan terima kasih, Mas.”

Ibu jarinya bergerak pelan di atas noda tinta di punggung tanganku. Pelan. Seperti mengusap sesuatu yang dia sayang.

“Kemarin aku berdiri di jendela Mas,” bisiknya. “Aku taruh siku di bekas siku Mas. Aku lihat meja ini dari atas. Aku lihat lampu Rumah Pelangi. Dan aku jatuh cinta sama Mas di situ. Sendirian. Waktu Mas lagi antar Bu Hartini turun tangga.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Bukan karena Mas nolong aku,” lanjutnya. “Bukan karena ban, laptop, rak, atau Mama. Aku jatuh cinta karena Mas berdiri di jendela itu empat tahun dan nggak pernah minta apa-apa. Karena Mas memahat paus buat Nayla. Karena Mas nyimpan label ungu jelekku di rak paling depan.” Dia tertawa kecil di tengah tangisnya. “Karena Mas bikin kopi tiga kali sampai bener, cuma supaya gulanya larut.”

Aku memandangi tangan kami di atas meja, di bawah lampu kuning. Tangannya di atas tanganku. Kulitnya yang terang di atas noda tinta.

Empat tahun aku menggambar tangan ini dari jendela. Tangan yang memegang gelas, yang menyelipkan rambut ke telinga, yang menyuapi kucing, yang melambai ke Pak Udin. Aku menggambarnya ratusan kali, dan aku tidak pernah sekali pun membayangkan tangan ini akan menggenggam tanganku.

Pelan-pelan, sangat pelan, seperti orang yang takut sesuatu akan pecah kalau dia bergerak terlalu cepat, aku membalik tanganku di bawah tangannya.

Telapak bertemu telapak.

Dan aku menggenggamnya balik.

Dia mengeluarkan suara kecil, setengah tangis setengah tawa, dan menggenggam lebih erat.

“Celine,” kataku. Suaraku serak dan tidak bisa kukendalikan lagi. “Aku nggak punya apa-apa. Studio sewa. Rumahku belum diplester. Kijang AC-nya rusak.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu bawa aku ke acara keluargamu, orang-orang bakal...”

“Biarin.”

“Papamu...”

“Papa titip terima kasih. Papa nggak pernah titip terima kasih ke siapa pun, Mas. Seumur hidup.” Dia menggenggam tanganku lebih erat lagi. “Dan Mama bilang, Mas lihatin aku kayak orang yang lihat sesuatu yang dia sayang banget, tapi dia pikir dia nggak boleh pegang.”

Bu Ratna. Pura-pura tidur. Tentu saja.

“Boleh, Mas,” bisiknya. “Mas boleh pegang.”

Aku menunduk. Aku tidak mau dia melihat wajahku sekarang. Mataku panas, dadaku sesak, dan ada sesuatu di tenggorokanku yang besar sekali, seperti empat tahun yang mencoba keluar sekaligus lewat lubang yang terlalu kecil.

Aku tidak menangis. Aku menahannya. Tapi aku tidak melepaskan tangannya.


“Mas,” katanya setelah lama sekali. “Kemarin Mas bilang ‘di jendela ini’. Empat tahun di jendela ini.”

Aku membeku.

“Ada jendela lain?”

Laci kanan atas. Halaman pertama buku sketsa yang tidak pernah kubuka lagi. Warung kecil di pinggir jalan, lima tahun lalu. Eyang dengan sarung kotak-kotak, kebingungan, dan seorang perempuan muda yang membelikannya teh manis.

Aku sudah memutuskan semalam: tidak malam ini. Bukan karena aku mau berbohong. Tapi karena malam ini harus tentang dia dan aku, tentang meja ini, tentang tangan yang saling menggenggam. Kalau aku membuka cerita itu sekarang, dia akan berpikir semua ini, semua yang barusan dia katakan, semua yang dia rasakan, cuma utang budi yang dibalas. Dan aku tidak akan pernah tahu apakah dia mencintaiku karena aku, atau karena Eyang.

Aku butuh tahu itu. Sekali dalam hidupku, aku butuh tahu ada yang memilihku, bukan membalasku.

“Ada,” kataku jujur. “Ada satu cerita lagi. Yang paling awal.”

Dia menunggu.

“Aku belum sanggup ceritain sekarang.” Aku mengangkat kepala dan menatapnya. “Bukan karena aku mau nyembunyiin. Aku janji, nanti aku ceritain. Semuanya. Aku cuma minta waktu.”

Dia memandangiku lama, mencari sesuatu di wajahku. Lalu, pelan-pelan, dia mengangguk.

“Oke,” katanya. “Aku tunggu.”

Semudah itu. Tanpa marah, tanpa curiga, tanpa kenapa. Seperti dia percaya aku akan menepatinya.

Aku tidak pantas mendapatkan perempuan ini. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melepaskan sesuatu karena aku merasa tidak pantas.


Sesuatu mengetuk kaca depan.

Kami berdua tersentak dan menoleh.

Di luar, di trotoar gelap, menempel di kaca depan Kopi Sudut dengan kedua telapak tangan dan wajah yang terdistorsi seperti ikan di akuarium, ada Tasya. Di belakangnya, setengah bersembunyi di balik tiang listrik yang terlalu kurus untuk menyembunyikan apa pun, ada Jovan dengan helm masih di kepala.

Tasya sedang menangis. Kacamatanya berembun. Dia melambai-lambai dengan semangat sambil terisak.

Jovan menarik lengan Tasya dengan panik, berbisik sesuatu yang jelas berarti ketahuan, ketahuan, kabur. Tasya tidak bergerak. Dia malah mengangkat kedua jempolnya ke arah kami, wajah masih menempel di kaca.

Celine menutup wajah dengan tangannya yang bebas, tangan yang tidak menggenggamku, dan tertawa sampai bahunya berguncang.

“Dari kapan mereka di situ?” tanyaku.

“Nggak tahu,” katanya di sela tawa. “Mungkin dari awal. Tasya nanya aku mau ke mana malam ini, aku bilang nggak ke mana-mana. Harusnya aku tahu dia nggak percaya.”

Jovan akhirnya berhasil menarik Tasya mundur dari kaca. Mereka berdua berlari kecil menyusuri trotoar, Tasya masih menoleh ke belakang, Jovan memegangi helmnya yang miring, sampai mereka hilang di balik pos Pak Udin.

Satu detik kemudian, kepala Jovan muncul lagi dari balik pos. Dia mengacungkan jempol juga. Lalu menghilang.

Aku memandangi pos kosong itu. Lalu aku memandangi Celine yang masih tertawa, matanya basah, lesung pipitnya muncul dalam-dalam.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak memalingkan muka.

Aku memandanginya tertawa, dari jarak satu meja, di bawah lampu kuning, dengan tangannya masih di tanganku. Aku memandanginya lama, puas, seperti orang yang akhirnya boleh memandangi sesuatu yang dia sayang dari dekat.

Dia berhenti tertawa ketika menyadari aku memandanginya. Pipinya memerah.

“Kenapa?” bisiknya.

“Nggak,” kataku. “Cuma... dari sini kelihatan lebih jelas.”


Aku mengantarnya ke mobil jam sepuluh lewat sedikit. Kami berjalan berdampingan di trotoar, dan tangannya masih di tanganku. Aku tidak tahu siapa yang tidak melepas duluan. Mungkin dua-duanya.

Di samping hatchback putihnya, dia berhenti dan menoleh padaku.

“Jadi kita apa sekarang, Mas?”

Aku menggaruk tengkuk dengan tangan yang bebas. “Aku... nggak tahu caranya.”

“Nggak tahu caranya apa?”

“Semuanya. Aku nggak pernah...” Aku berhenti. “Aku cuma tahu cara lihat dari jendela.”

Dia tersenyum. Senyum yang pelan, yang lembut, yang membuat dadaku sakit.

“Aku tahu caranya,” katanya. “Besok pagi, jam tujuh lewat sepuluh, Mas jangan di jendela.”

“Terus?”

“Mas duduk di meja nomor tiga. Di kursi yang kakinya udah Mas ganjal. Aku beli tiga kopi. Eh, dua kopi sama satu teh manis.” Dia meremas tanganku sekali. “Dan Mas nggak boleh kabur lewat dapur.”

“Mas Dodi juga bilang gitu.”

“Mas Dodi orang pinter.”

Dia membuka pintu mobil. Lalu, sebelum masuk, dia ragu-ragu sebentar, seperti mau melakukan sesuatu, lalu tidak jadi. Dia cuma menatapku, lama, dengan mata yang masih sedikit merah dan senyum yang belum hilang.

“Selamat malam, Mas Bumi.”

“Selamat malam, Celine.”

Mobil itu pergi. Lampu belakangnya merah di jalan yang sepi, belok di perempatan, lalu hilang.

Aku berdiri di trotoar, di depan Kopi Sudut yang gelap, dengan tangan kanan yang masih hangat.

Lalu aku menengadah ke jendela lantai dua di atas kafe. Jendelaku. Gelap, karena lampunya kumatikan sebelum turun.

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, tidak ada siapa pun di sana.

Karena aku ada di bawah.