Chapter Thirty
Dua Jendela
POV: Bumi
Aku tidak punya keluarga untuk duduk di barisan mempelai pria.
Itu yang kupikirkan selama tiga bulan sebelum akad. Waktu Bu Ratna menunjukkan denah tempat duduk di ruang tengah rumah Menteng. Waktu penghulu bertanya siapa saksi dari pihak laki-laki. Waktu Tasya, yang entah bagaimana menjadi koordinator acara, menulis di papan tulis kecil: KELUARGA MEMPELAI PRIA — BARIS KANAN — ? ORANG.
Tanda tanya itu menghantuiku setiap malam.
Bapak dan Ibu sudah tiada sejak aku sembilan tahun. Eyang sudah tiada sejak lima tahun lalu. Keluarga Ibu di Kalimantan, sudah lama tidak ada kabar. Aku anak tunggal dari anak tunggal.
Barisan kanan itu akan kosong. Di depan seluruh keluarga Florentina, di depan rekan-rekan bisnis Pak Hendra, di depan teman-teman Celine dari London dan Jakarta, ada satu barisan kursi kosong untuk laki-laki yang tidak punya siapa-siapa.
Aku tidak bilang ke siapa pun soal ini. Aku tidak mau Celine sedih. Aku tidak mau dia merasa harus memperbaikinya.
Tapi ternyata aku masih belum belajar. Aku masih mengira bisa menyembunyikan sesuatu dari orang-orang yang sudah belajar membacaku.
Pagi hari akad, aku bangun jam tiga.
Aku tidak tidur sebenarnya. Aku berbaring di kasur di rumah bata ekspos, memandangi langit-langit, mendengarkan jangkrik di halaman belakang, mendengarkan daun pohon rambutan muda bergesek di jendela.
Jam tiga lewat sepuluh, aku bangun dan pergi ke ruang tengah.
Kursi hijau sage di sudut dekat jendela besar. Lampu baca kuningan yang menunduk. Rak buku anak-anak dengan tanggal di sampul belakang. Tatakan gelas berbentuk awan, dengan paus kayu Nayla di atasnya.
Mulai malam ini, sudut itu tidak akan pernah kosong lagi.
Aku membuat teh manis. Tiga gelas. Gula duluan, air panas dituang, tunggu larut sendiri, aduk tiga kali. Satu buat yang bikin. Satu buat yang minum. Satu buat yang nunggu di rumah.
Aku meletakkan gelas ketiga di ambang jendela besar, menghadap ke halaman belakang, ke pohon rambutan dari biji pohon Eyang.
“Yang,” kataku pelan ke gelas itu, ke pohon itu, ke langit yang masih gelap di atasnya. “Hari ini aku nikah.”
Jangkrik bernyanyi.
“Sama anak teh manis,” bisikku. “Yang Eyang ceritain sampai hari terakhir. Aku nepatin janji, Yang. Rumah buat buku. Aku bikinin. Tapi ternyata dia juga bikinin rumah buat aku.”
Aku duduk di lantai di depan kursi hijau sage, bersandar ke kakinya yang kosong, dan meminum teh manisku sampai habis sementara langit di luar berubah dari hitam ke biru tua.
Jam tujuh pagi, pintu rumahku diketuk.
Aku membukanya, memakai kaus dalam dan sarung, dengan rambut masih basah. Aku berharap Jovan, yang berjanji menjemputku jam tujuh lewat lima belas.
Di teras ada Jovan. Dan di belakang Jovan, Pak Udin, dengan peci baru dan baju koko putih yang masih ada lipatan dari bungkusnya. Dan di belakang Pak Udin, Mas Dodi, dengan batik dan rambut yang disisir rapi dengan minyak rambut. Dan di belakang Mas Dodi, Rio, dengan kemeja putih dan kamera di leher.
Dan di belakang Rio...
Bu Imah. Dengan kebaya hijau dan kerudung yang kali ini dipakai dengan rapi. Di belakangnya, sepuluh, lima belas, dua puluh orang. Ibu-ibu pengajian dari kampung Eyang. Bapak-bapak dengan peci dan sarung. Pak RT yang Eyang lupa namanya. Imam masjid kecil bercat hijau. Anak-anak muda kampung yang dulu main layangan bersamaku di sawah di belakang rumah Eyang, sekarang sudah besar dan punya anak sendiri.
Mereka memenuhi gang sempit di depan rumahku, sampai ke jalan.
Aku berdiri di ambang pintu dengan sarung dan kaus dalam dan rambut basah, dan tidak bisa bicara.
“Kami dateng pakai tiga mobil sewaan sama satu bus mini, Bumi,” kata Bu Imah, tersenyum lebar. “Berangkat dari Bogor jam tiga pagi. Pak RT nyetir busnya sendiri.”
“Saya nyasar dua kali,” kata Pak RT dengan bangga.
“Bu...” Suaraku tidak keluar dengan benar. “Bu Imah, kenapa...”
“Kenapa?” Bu Imah memandangku seperti aku baru menanyakan sesuatu yang sangat bodoh. “Kamu cucunya Pak Wira. Pak Wira udah nggak ada. Siapa lagi yang duduk di barisan keluarga kalau bukan kami?”
Aku memegang kusen pintu.
“Neng Celine yang telepon,” kata Bu Imah, lebih pelan. “Sebulan lalu. Dia bilang, ‘Bu, Mas Bumi nggak bilang apa-apa, tapi saya tahu dia takut barisan keluarganya kosong.’ Dia minta tolong kami dateng.” Bu Imah tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Kami bilang, Neng nggak usah minta tolong. Kami udah siap dari lima tahun lalu.”
Di belakang Bu Imah, Pak Udin melepas pecinya, memegangnya di dada, dan berdiri tegak seperti menghormat bendera.
“Mas Bumi,” katanya. “Empat tahun saya nganter teh manis ke atas. Hari ini saya nganter Mas ke bawah. Ke tempat yang bener.”
Jovan, di depan semua orang, sudah menangis. Dia tidak bilang debu. Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma berjalan masuk ke rumahku, memelukku, dan menepuk punggungku dua kali, keras, seperti cara Pak Hendra menepuk bahuku di ruang kerjanya.
“Sepuluh tahun,” katanya serak di bahuku. “Sepuluh tahun aku nungguin hari ini, Bum.”
Ruang tengah rumah Menteng sudah diubah. Meja makan mahoni empat meter sudah dipindahkan. Lampu kristal dihias melati. Lantai marmer ditutup karpet merah. Di tengah, meja akad kecil berlapis kain putih, dengan dua bantal duduk di depannya dan seperangkat alat salat di atasnya.
Barisan kiri penuh. Keluarga Florentina, teman-teman Pak Hendra, ibu-ibu sosialita teman Bu Ratna, Bu Hartini dengan kacamata berantai mutiara baru dan bolu pandan, teman-teman Celine dari London yang terbang khusus.
Barisan kanan juga penuh.
Bu Imah dan ibu-ibu pengajian di baris paling depan, dengan kebaya dan kerudung terbaik mereka. Pak RT dan imam masjid. Pak Udin dengan peci baru, duduk tegak. Mas Dodi. Rio dengan kamera. Anak-anak muda kampung Eyang. Dan di pojok, di kursi kecil, Nayla dan Bu Wati dan Dimas dan Rafa dan anak-anak Rumah Pelangi, yang ternyata juga diundang dan didudukkan di barisan kanan. Dimas melambaikan tangan ke arahku dengan bersemangat sampai Bu Wati menariknya duduk.
Jovan duduk di sampingku sebagai saksi.
Barisan kanan penuh. Lebih penuh dari barisan kiri. Orang-orang berdiri di belakang karena kursinya tidak cukup.
Aku duduk di bantal di depan meja akad dengan beskap putih dan kain batik parang dan blangkon yang dipasangkan Pak Udin dengan tangan gemetar. Aku memandang barisan kanan itu, dan aku tidak bisa berhenti menangis sedikit-sedikit. Jovan terus menyodorkan tisu.
“Bum,” bisiknya. “Matamu bengkak nanti di foto.”
“Nggak peduli.”
“Rio bilang kamu kayak habis disengat tawon.”
“Biarin.”
Pak Hendra duduk di seberang meja akad, sebagai wali. Dia memakai beskap hitam, wajahnya datar seperti biasa. Tapi tangannya, yang terletak di atas meja, sedikit gemetar.
Lalu ada suara di tangga.
Semua orang menoleh.
Dia turun dari tangga melingkar, digandeng Bu Ratna di satu sisi dan Tasya di sisi lain.
Kebaya putih. Bukan kebaya mewah dengan payet dan ekor panjang. Kebaya kutubaru sederhana dari brokat putih, dengan kain batik yang motifnya sama dengan kainku. Rambutnya disanggul rendah, dengan untaian melati yang jatuh di bahu kiri. Di belakang telinga kirinya, di bawah tahi lalat yang sangat kecil yang tidak pernah kelihatan dari jendela, terselip satu bunga kamboja putih.
Bunga kamboja dari pohon di atas makam Eyang. Bu Imah yang memetiknya jam dua pagi, sebelum bus mini berangkat.
Riasannya tipis. Wajahnya cerah. Matanya sudah sedikit basah.
Dan dia cantik.
Bukan cantik yang bisa dijelaskan dengan sopan, bukan cantik yang cukup disebut “manis” atau “lumayan”. Dia cantik dengan cara yang membuat seluruh ruang tengah rumah Menteng berhenti bicara di tengah kalimat. Dia cantik dengan cara yang membuat Pak Udin menutup wajah dengan peci, Bu Hartini menjatuhkan bolu pandannya, dan Jovan berhenti menyodorkan tisu karena dia sendiri butuh tisu.
Empat tahun aku menggambarnya dari jendela. Ratusan halaman. Garis rahang, rambut di bahu, lesung pipit di pipi kiri.
Tidak ada satu pun sketsa yang pernah mendekati ini.
Dia turun dari anak tangga terakhir dan memandangku, dari seberang ruang tengah. Dari jarak tiga meter.
Lalu dia tersenyum.
Lesungnya muncul dalam-dalam.
Dan aku menangis lagi. Bukan sedikit-sedikit seperti tadi. Air mataku jatuh begitu saja, di depan semua orang, di depan barisan kiri dan barisan kanan, di depan Pak Hendra dan penghulu. Aku tidak bisa menahannya. Aku tidak mau menahannya.
Dia tersenyum padaku, dan aku menangis, karena aku bahagia.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, air mataku jatuh karena bahagia.
Dia berjalan ke arahku pelan-pelan, digandeng mamanya dan sahabatnya. Dia berhenti di sampingku. Dia duduk di bantal di sebelahku, di belakang meja akad.
Dia tidak menyeka air mataku. Dia cuma mengulurkan tangannya di bawah meja, menemukan tanganku, dan menggenggamnya.
Tangan kananku. Tangan dengan noda tinta biru kehitaman di sisi telapak, di ujung jari, di pergelangan. Noda yang tidak pernah bisa hilang, bahkan setelah Pak Udin menyuruhku menggosoknya dengan sabun colek tiga kali tadi pagi.
Ibu jarinya mengusap noda tinta di punggung tanganku. Pelan. Seperti mengusap sesuatu yang dia sayang.
“Jangan dihapus,” bisiknya. “Aku suka.”
Penghulu membacakan khutbah nikah. Aku tidak mendengar sebagian besar isinya. Aku cuma merasakan tangannya di tanganku, di bawah meja, hangat dan tidak gemetar.
Lalu Pak Hendra mengulurkan tangan kanannya ke seberang meja.
Aku menjabatnya. Genggamannya kuat dan kering, sama seperti di ruang kerja, sama seperti di ulang tahunku.
Pak Hendra memandangku. Wajahnya datar. Matanya merah.
“Bumi Wiranata bin Prasetyo Wiranata,” katanya. Suaranya dalam, jelas, dan bergetar di ujung. “Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Celine Florentina binti Hendra Florentina, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas tiga puluh dua gram, dibayar tunai.”
Aku menarik napas.
Lima tahun. Warung di dekat Pasar Santa. Teh manis. Eyang tertawa. Dua detik di jendela mobil yang basah. Empat tahun di jendela lantai dua. Ban bocor, laptop, halte, rak, rumah sakit. Meja nomor tiga. Tipes. Cilincing. Buku sketsa. Halaman pertama. Makam di bawah pohon kamboja. Ventilasi di anak tangga kelima. Kardus mi instan diikat rafia. Kebetulan lewat, mau sekalian seumur hidup?
“Saya terima nikah dan kawinnya Celine Florentina binti Hendra Florentina dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Satu napas. Tidak terputus. Tidak goyah.
Penghulu menoleh ke kiri, ke saksi dari pihak perempuan. Lalu ke kanan, ke Jovan.
“Bagaimana, saksi? Sah?”
“SAH!” teriak Jovan.
Terlalu keras. Seluruh ruangan terlonjak. Lalu barisan kanan ikut: “SAH!” Bu Imah, ibu-ibu pengajian, Pak RT, Pak Udin dengan peci di dada, Mas Dodi, Rio, Dimas yang berdiri di kursi kecil dan berteriak paling keras.
Lalu barisan kiri: “Sah!”
Lalu penghulu: “Alhamdulillah.”
Aku menoleh ke sampingku.
Dia menangis. Dengan kebaya putih, bunga kamboja di telinga, dan lesung pipit yang masih muncul di tengah tangis.
“Mas,” bisiknya.
“Hm.”
“Mas udah jadi suamiku.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku cuma menggenggam tangannya, tangan dengan cincin dari laci kanan atas, dan tidak melepaskannya.
Setelah doa, setelah sungkem, setelah dia menangis di pangkuan Bu Ratna dan aku menangis di tangan Pak Hendra, setelah Pak Hendra berbisik di telingaku, Sekarang kamu tahu harus panggil apa, dan aku menjawab Iya, Pa untuk pertama kalinya dan dia menepuk punggungku dua kali, keras, lalu memalingkan muka ke lampu kristal...
Aku mengeluarkan sesuatu dari balik beskap.
Pahat Eyang. Gagang licin dan mengilap, sedikit melengkung mengikuti genggaman.
Dia memandanginya.
“Kamu bilang kasih nanti,” kataku pelan. “Kalau udah resmi.”
Dia menerima pahat itu dengan dua tangan. Seperti menerima sesuatu yang sangat berharga. Seperti aku dulu menerima termos teh manis pertamanya.
“Kalau udah di rumah yang sama,” bisiknya, menyelesaikan kalimatnya sendiri dari malam ulang tahunku.
“Malam ini,” kataku.
Dia menggenggam pahat itu, dan menangis lagi.
Resepsinya tidak di hotel.
Atas permintaan Celine, dan setelah Pak Hendra diam lama sekali lalu mengangguk sekali, resepsinya diadakan di deretan ruko di Jakarta Selatan. Di trotoar depan Kopi Sudut, di ruang baca Rumah Pelangi, di jalan di antara keduanya yang ditutup untuk satu sore dengan izin kelurahan. Izin itu diurus Rio. Rio menelepon kelurahan sebelas kali, persis seperti aku dulu soal lampu jalan.
Tenda-tenda putih. Lampu-lampu kecil digantung dari tiang listrik ke tiang listrik. Kopi Sudut menyajikan kopi susu gula aren dan teh manis gratis untuk semua orang. Mas Dodi berdiri di balik meja bar dengan celemek putih, membuat ratusan gelas tanpa berhenti. Cak Mat dari Blok M datang dengan gerobak pecel lele, gratis, katanya sebagai kado. Gerobak kue putu dari depan pasar parkir di samping posnya Pak Udin. Bu Siti dari Cilincing datang membawa termos teh manis besar.
Pak Udin tidak jaga parkir hari itu. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, katanya. Dia duduk di kursi tamu di bawah tenda, dengan baju koko dan peci baru, makan pecel lele dengan tangan, dan setiap kali ada yang bertanya siapa dia, dia menjawab dengan bangga: Saya yang nganter.
Anak-anak berlarian di jalan yang ditutup. Nayla membacakan buku cerita untuk anak-anak lain di ruang baca Rumah Pelangi. Membacakan, dengan suara kecil yang jelas. Celine berdiri di ambang pintu ruang baca dengan kebaya putih, menutup mulut dengan tangan, dan menangis lagi.
Jovan dan Tasya berdansa di trotoar dengan lagu dangdut dari pengamen yang dulu menyanyi di Pecel Lele Cak Mat. Pengamen itu juga diundang. Tasya juga yang mengurusnya.
Bu Hartini mengumumkan ke siapa pun yang mau mendengar bahwa dia yang pertama tahu soal “yang lantai dua”.
Dan aku berdiri di trotoar di depan Kopi Sudut, dengan beskap putih yang sudah kusut di bahu dan blangkon yang miring, memandangi semuanya.
Lalu aku mendongak.
Jendela lantai dua. Jendela studio. Kacanya memantulkan lampu-lampu kecil yang digantung di tiang listrik, dan langit sore yang jingga di atasnya.
Kosong.
Tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada laki-laki yang berdiri dengan siku di ambang jendela, memandangi trotoar, menggambar diam-diam.
Aku memandangi jendela kosong itu lama.
Sesuatu menyentuh tanganku. Jari-jari yang kecil dan hangat, dengan cincin di jari manis, menyusup ke sela-sela jariku yang bernoda tinta.
“Mas lihat apa?” tanyanya pelan di sampingku.
“Jendelaku,” kataku. “Kosong.”
Dia ikut mendongak. Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Nggak apa-apa kosong,” bisiknya. “Sekarang Mas punya jendela lain.”
“Jendela mana?”
Dia tidak menjawab. Dia cuma tersenyum di bahuku.
Malam itu, jam sebelas, kami pulang ke rumah bata ekspos.
Rumahku. Rumah kami.
Dia masuk duluan, masih dengan kebaya putih yang sudah kusut dan sanggul yang sudah setengah lepas. Bunga kamboja masih di belakang telinganya. Dia berjalan pelan di ruang tengah dan berhenti di depan sudut baca dekat jendela besar.
Dia meletakkan pahat Eyang di atas meja samping kayu jati, di samping paus kayu Nayla, di atas tatakan gelas berbentuk awan.
Lalu dia duduk di kursi hijau sage.
Kakinya menyentuh lantai.
Dia menoleh padaku. Aku berdiri di tengah ruang tengah, dengan beskap yang sudah setengah dibuka dan blangkon di tangan.
“Mas,” katanya. “Sini.”
Aku tidak duduk di lantai seperti biasa. Aku berlutut di depan kursi itu, di depannya, sampai wajah kami sama tinggi.
Di belakangnya, jendela besar menghadap ke halaman belakang. Di luar gelap, cuma ada cahaya bulan dan pohon rambutan muda yang daunnya bergoyang pelan. Di ambang jendela itu masih ada gelas teh manis ketiga yang kutaruh jam tiga pagi tadi. Gelas itu sudah dingin, sudah kosong separuh karena menguap.
Dia memandang gelas itu. Lalu memandangku.
“Mas taruh itu tadi pagi?”
“Buat Eyang.”
Dia tersenyum. Matanya basah lagi.
“Ini jendela lain itu,” bisiknya.
Aku memandang jendela besar di belakangnya. Kaca yang memantulkan lampu baca kuningan. Dia di kursi hijau sage, kebaya putih, bunga kamboja, pantulannya samar di kaca. Dan aku di depannya, di dalam pantulan yang sama.
Dua orang. Satu jendela.
Empat tahun aku melihat dunia dari jendela lantai dua, sendirian, dan semua yang kulihat ada di bawah, di luar, jauh, di balik kaca.
Jendela ini berbeda. Di jendela ini, semua yang kusayang ada di dalam. Di sebelahku.
“Mas,” bisiknya.
“Hm?”
“Aku boleh minta satu hal?”
“Apa pun.”
Dia mengangkat tangan dan menyentuh pipiku. Ibu jarinya mengusap bekas air mata yang sudah kering sejak akad tadi pagi, yang sudah berkali-kali basah dan kering lagi seharian.
“Jangan gambar aku dari jauh lagi,” bisiknya. “Mulai sekarang, gambar aku dari sini.”
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku mencondongkan badan dan menciumnya. Di sudut baca yang kugambar lima tahun lalu untuk anak perempuan yang Eyang ceritakan. Di kursi yang kakinya pas. Di bawah lampu kuningan yang menunduk seperti akhirnya menemukan yang dia tunggu.
Dia membalas ciumanku, dalam dan pelan, sabar, dengan tangan di pipiku dan tangan lain di kerah beskapku, menarikku lebih dekat. Bunga kamboja di telinganya jatuh ke pangkuannya. Sanggulnya lepas, dan rambutnya jatuh di bahu, dan aku menyusupkan jari-jariku ke sana, pelan, seperti menyentuh sesuatu yang ratusan kali kugambar dan baru sekarang benar-benar milikku.
Bukan milik. Bukan itu kata yang tepat.
Pulang. Itu kata yang tepat.
Ketika akhirnya kami berhenti, dahinya menempel di dahiku, napas kami berdua berantakan, dan dia tertawa kecil, basah, dan bahagia.
“Mas,” bisiknya.
“Hm.”
“Aku sayang Mas.”
“Aku juga,” bisikku. “Dari jendela. Dari warung. Dari teh manis pertama.”
“Dari sebelahku,” koreksinya.
“Dari sebelahmu,” aku setuju. “Mulai sekarang.”
Dia tertidur di kursi hijau sage jam satu pagi, dengan kepala di bahuku, karena aku akhirnya duduk di lengan kursi dan dia bersandar padaku.
Aku tidak bergerak lama sekali.
Lalu, sangat pelan, aku mengambil buku sketsa kulit cokelat tua dari tas yang kubawa dari studio tadi sore. Buku Eyang. Buku yang empat tahun tinggal di laci kanan atas, yang halaman pertamanya sudah tidak diselotip lagi.
Aku membukanya ke halaman kosong terakhir.
Dan aku menggambarnya.
Kebaya putih yang kusut. Rambut yang jatuh di bahu. Bunga kamboja di pangkuan. Tangan dengan cincin di jari manis, terletak di dadaku. Bulu mata yang jatuh di pipi seperti kipas kecil. Lesung pipit yang tidak muncul karena dia tidur, tapi aku tahu di mana letaknya. Aku selalu tahu.
Aku menggambarnya dari jarak nol.
Garisnya tidak sama dengan semua sketsa lain di buku itu. Tidak terburu-buru seperti pagi-pagi ketika dia akan pergi dari meja nomor tiga. Tidak terlalu hati-hati seperti ketika aku takut salah. Tidak gemetar seperti halaman pertama. Tidak luntur seperti halaman yang bergelombang.
Garisnya seperti garis orang yang tahu dia punya seumur hidup.
Di pojok kanan bawah, dengan pensil yang diraut pakai pahat Eyang, aku menulis tanggal hari ini.
Lalu, di bawahnya, dengan huruf cetak kecil-kecil yang rapi seperti denah:
Dia pakai kebaya putih.
Dia nggak di bawah jendela.
Dia di sebelahku.
Aku menutup buku itu dan meletakkannya di meja samping kayu jati, di samping pahat Eyang, di samping paus kayu Nayla, di samping gelas teh manis ketiga yang sudah dingin.
Lalu aku mematikan lampu baca kuningan.
Di luar jendela, bulan sudah tinggi di atas pohon rambutan muda. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menyalakan lampu supaya ada yang tidak takut gelap.
Tidak perlu. Malam ini, tidak ada yang sendirian.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela reading
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi