Chapter Twelve
Giliran Aku Nolong
POV: Celine
“Oke,” kata Tasya. “Kita mulai dari awal. Dia bilang apa persisnya?”
“’Kamu pantas dapat yang lebih.’”
“Terus?”
“Terus dia pergi.”
“Ke mana?”
“Ke Kijang. Di gang samping apotek. Pak Udin bilang dia duduk di situ setengah jam sama Mas Jovan, nggak nyalain mesin.”
Tasya mengangguk perlahan. Dia sedang duduk di beanbag oranye kempes di kantor Rumah Pelangi dengan papan tulis kecil di pangkuan. Di papan itu dia sudah menulis dengan spidol merah: OPERASI MAS KEBETULAN — RAPAT DARURAT. Di bawahnya ada gambar Kijang yang lebih mirip roti tawar beroda.
Rio, anak magang, duduk di kursi di sebelahnya dengan buku catatan. Aku tidak tahu kenapa Rio ikut rapat ini. Tasya bilang Rio “perwakilan laki-laki pemalu” dan “punya perspektif penting”.
“Rio,” kata Tasya. “Menurut perspektifmu sebagai laki-laki pemalu, ‘kamu pantas dapat yang lebih’ itu artinya apa?”
Rio menatap buku catatannya. Telinganya merah. “Ehm. Artinya... dia suka banget, Mbak. Tapi dia merasa dirinya nggak cukup.”
Aku dan Tasya menoleh padanya.
“Itu...” Rio menggaruk tengkuk. Persis seperti Mas Bumi. Ya Tuhan, apa semua laki-laki pemalu menggaruk tengkuk? “Itu kalimat yang dipakai kalau kita udah nyerah duluan sebelum ditolak. Biar sakitnya kita yang pilih, bukan dia.”
Ruangan itu hening.
“Rio,” kata Tasya pelan, “kamu pernah bilang gitu ke orang?”
“Pernah, Mbak. Waktu SMA.”
“Terus?”
“Terus dia pacaran sama ketua OSIS.”
Tasya meletakkan spidol dan memeluk Rio dari samping. Rio duduk kaku seperti tiang listrik.
Aku menatap papan tulis kecil itu, ke gambar Kijang berbentuk roti tawar, dan memikirkan wajah Mas Bumi pagi tadi ketika dia berdiri dari kursi yang kakinya goyang. Dia tidak marah. Dia tidak dingin. Wajahnya seperti orang yang sedang mengangkat beban yang terlalu berat, dan memutuskan untuk mengangkatnya sendirian supaya tidak jatuh menimpa orang lain.
Biar sakitnya kita yang pilih.
“Aku nggak mau ‘yang lebih’,” kataku.
Tasya melepas Rio. “Hah?”
“Aku nggak mau ‘yang lebih’. Aku nggak tahu ‘yang lebih’ itu siapa. Laki-laki yang mobilnya lebih bagus? Yang rumahnya lebih besar? Aku udah punya rumah besar, Sya. Rumahnya sepi. Aku udah punya mobil bagus. Bannya bocor dan aku nggak bisa ganti.” Aku berdiri. “Dia selalu nolongin aku. Selalu. Sekarang giliranku.”
“Giliranmu ngapain?”
“Nolongin dia.”
Tasya memandangiku lama. Lalu dia mengambil spidol dan menulis di papan tulis kecil itu, di bawah gambar Kijang roti tawar, dengan huruf besar-besar:
FASE 2: GILIRAN CELINE NOLONG
“Oke,” katanya. “Apa rencanamu?”
Aku tidak punya rencana. Tapi aku punya sesuatu yang lebih baik.
Aku punya Pak Udin.
“Rantang,” kata Pak Udin.
“Rantang?”
“Ibu saya dulu bawa rantang.” Pak Udin menyedot es kopi dengan wajah bijak. “Lima tahun nunggu Bapak ngomong. Bapak nggak ngomong-ngomong. Akhirnya Ibu dateng ke rumah bawa rantang. Isinya sayur asem, ikan asin, sambel terasi. Bapak nggak bisa nolak. Laki-laki nggak bisa nolak sayur asem.”
Jadi besoknya, jam dua belas siang, aku naik tangga sempit di samping Kopi Sudut membawa rantang tiga susun.
Bukan rantang dari rumah. Rantang dari rumah terbuat dari porselen motif bunga dengan tutup berlapis emas, dan aku takut dia akan menganggap itu terlalu mewah dan menolaknya karena alasan yang sama dengan dia menolak duduk di bawah atap halte. Jadi aku beli rantang baru di pasar. Rantang seng, motif bunga-bunga merah, dua puluh lima ribu rupiah. Isinya kumasak sendiri, dengan bantuan Mbak Sri dan tiga video tutorial: sayur asem, tempe goreng, ikan asin jambal, dan sambal terasi yang terlalu pedas karena aku salah membaca tiga cabai sebagai tiga belas cabai.
Aku mengetuk pintu studio.
Mas Jovan yang membukanya. Dia melihat rantang di tanganku. Dia melihat wajahku. Lalu dia menoleh ke dalam, ke meja di dekat jendela, dan berkata dengan suara sangat keras dan sangat jelas:
“WAH. ADA MBAK CELINE. BAWA RANTANG. RANTANG, BUM. RANTANG.”
Di dalam, ada bunyi sesuatu jatuh. Penggaris segitiga, kalau dari bunyinya.
Aku masuk.
Mas Bumi berdiri di samping mejanya dengan penggaris segitiga di lantai dan pensil di tangan. Kemejanya kusut di siku kiri. Jadi hari ini dia tidak menyetrika dengan niat. Matanya sedikit bengkak, seperti orang yang tidak tidur dua malam berturut-turut.
“Celine,” katanya.
Dia menyebut namaku, bukan Mbak. Aku mencatat itu di kepala sebagai poin kecil untuk timku.
“Siang, Mas.” Aku meletakkan rantang di mejanya, di atas gambar denah lantai dua perpustakaan Cilincing. “Makan siang.”
Dia menatap rantang itu. “Buat siapa?”
“Buat Mas. Sama Mas Jovan.”
“Saya sudah makan.”
“Mas belum makan,” kata Jovan dari mejanya. “Mas cuma makan roti tawar sobek dua lembar. Tadi pagi. Tanpa selai.”
Mas Bumi menatap Jovan. Jovan menatap balik dengan wajah malaikat.
“Saya...” Mas Bumi berdeham. “Aku... nggak bisa terima ini.”
“Kenapa?”
“Kamu sudah repot.”
“Aku nggak repot. Aku seneng.” Aku membuka tutup rantang paling atas. Uap sayur asem naik, wangi asam jawa dan belimbing wuluh. “Mbak Sri bantuin dikit. Tapi sambelnya aku sendiri. Tiga belas cabai.”
“Tiga belas?” Jovan bangkit dari kursinya. “Saya mau, Mbak. Saya mau tiga belas cabai.”
“Jo.”
“Apa? Kamu nggak mau, ya udah. Aku yang makan. Aku nggak punya harga diri soal sayur asem.”
Aku berhasil membuat Jovan makan. Dia makan dengan sangat lahap, menangis sedikit karena sambal, dan bilang ini sayur asem terenak yang dia makan sejak neneknya meninggal. Aku tidak tahu itu benar atau cuma diplomasi, tapi aku menghargainya.
Mas Bumi makan sedikit. Satu centong nasi, setengah potong tempe, beberapa sendok sayur asem. Dia makan pelan-pelan, menunduk ke piring, dan setiap kali aku melihatnya, dia sedang menatap rantang seng motif bunga itu dengan ekspresi aneh, seperti orang yang menatap sesuatu yang dia tidak tahu harus diapakan.
“Enak?” tanyaku.
“Enak.”
“Sambalnya?”
Dia mencoba sambal itu. Ujung sendok saja. Wajahnya berubah merah, lalu lebih merah, lalu dia minum segelas air dalam satu tegukan.
“Enak,” katanya serak.
Jovan tertawa sampai tersedak tempe.
Ketika aku pulang, dia mengantarku ke pintu. Di ambang pintu, dia menyodorkan rantang yang sudah dicuci bersih, dikeringkan, dan disusun rapi.
“Terima kasih,” katanya. “Tapi besok jangan lagi, ya. Kamu sibuk.”
Aku menerima rantang itu, tersenyum, dan berkata, “Oke.”
Besoknya aku datang lagi. Kali ini soto ayam.
Usaha kedua: membantu di studio.
Aku sudah melihat meja Mas Jovan. Meja itu seperti museum kekacauan: tumpukan kertas, gulungan gambar, kemasan kerupuk kulit kosong, tiga cangkir kopi dengan endapan dari zaman berbeda, dan sebuah kaktus mati yang menurut Jovan “cuma lagi tidur”. Aku pikir, oke, aku bisa bantu beresin ini.
Hari Kamis sore, ketika Mas Bumi sedang survei ke Cilincing, aku naik ke studio dengan izin Jovan dan menghabiskan dua jam merapikan rak arsip mereka. Aku mengelompokkan gulungan gambar berdasarkan warna karet pengikatnya, karena warnanya bagus dan kelihatannya logis. Merah dengan merah, biru dengan biru, hijau dengan hijau. Aku memberi label lucu pada setiap rak dengan spidol warna-warni. Aku membuang kaktus mati itu, maaf, Mas Jovan.
Ketika Mas Bumi pulang jam tujuh, dia berdiri di depan rak arsip itu dengan ekspresi orang yang baru melihat rumahnya diatur ulang oleh alien yang ramah.
“Ini...” katanya pelan.
“Bagus, kan?” Aku berdiri di sampingnya dengan bangga. “Aku kelompokin pakai warna.”
“Warna karetnya?”
“Iya.”
“Karetnya...” Dia berhenti. Dia menggaruk tengkuk. “Karetnya itu dulu dipakai buat kode tahun. Merah tahun pertama, biru tahun kedua, dan seterusnya. Tapi kami kehabisan karet merah di tahun ketiga, jadi...”
Aku menatap rak itu. Lalu menatapnya.
“Jadi aku barusan nyampur proyek empat tahun,” kataku.
“Kurang lebih.”
“Mas Bumi, maaf. Ya Tuhan, maaf banget. Aku beresin lagi, aku...”
“Nggak apa-apa.”
“Apa-apa! Mas butuh berapa jam buat...”
“Celine.” Suaranya pelan. “Nggak apa-apa. Labelnya lucu.”
Dia menunjuk salah satu label yang kutulis dengan spidol ungu: GAMBAR-GAMBAR CAKEP BANGET (JANGAN DIBUANG).
Sudut bibirnya bergerak.
Dia menghabiskan tiga jam malam itu menyusun ulang rak arsip. Aku tahu, karena Jovan mengirimiku foto jam sepuluh malam: Mas Bumi duduk bersila di lantai studio, dikelilingi gulungan gambar, dan semua label lucuku masih dia pertahankan, ditempel di rak-rak yang baru disusun.
Jovan: Dia nggak buang satu pun labelmu, Mbak.
Jovan: Yang ungu malah dia tempel di rak paling depan.
Jovan: Saya cuma lapor. Saya nggak bilang apa-apa.
Jovan: Btw kaktus saya mana
Usaha ketiga: klien.
Ini usaha yang paling kupikirkan. Aku tahu studio mereka butuh proyek. Aku tahu soal uang sewa yang telat dua minggu. Aku tahu soal AC Kijang. Dan aku tahu, entah karena beruntung atau karena dunia sempit, bahwa sahabat Mama, Tante Rina, sedang mencari arsitek untuk membangun vila di Bali, proyek besar dengan anggaran yang membuatku pusing ketika mendengarnya.
Aku tidak menyebut nama Mas Bumi pada Tante Rina. Aku cuma menunjukkan foto-foto ruang baca perahu Cilincing dan bertanya, “Tante suka nggak gaya arsitek ini?” Tante Rina langsung jatuh cinta dan minta nomornya.
Aku memberikan nomor studio, bukan nomor Mas Bumi. Aku pikir itu cukup halus.
Tiga hari kemudian, Mas Bumi meneleponku. Itu pertama kalinya dia meneleponku duluan.
“Celine,” katanya. “Ada klien namanya Bu Rina Hartawan. Katanya dapat rekomendasi dari kamu.”
Jantungku melompat. “Oh? Bagus, dong! Mas ambil, kan? Proyeknya gede, lho.”
Hening di seberang.
“Aku nggak ambil.”
“Kenapa?”
“Aku bilang ke Bu Rina, jadwal studio penuh sampai tahun depan. Aku rekomendasiin teman kampus yang studionya di Denpasar. Dia lebih paham arsitektur Bali.”
“Mas...”
“Terima kasih,” katanya lembut. “Beneran. Tapi aku nggak bisa terima proyek yang datang karena kamu.”
“Karena aku? Itu karena desain Mas bagus! Tante Rina suka sama gambarnya, bukan sama aku!”
“Tapi dia lihat gambarnya karena kamu yang nunjukin.” Suaranya sangat pelan sekarang. “Aku nggak mau... aku nggak mau jadi orang yang dapat sesuatu karena dekat sama kamu.”
Aku memegang ponsel begitu erat sampai jari-jariku sakit.
Aku nggak mau jadi orang yang dapat sesuatu karena dekat sama kamu.
Aku tiba-tiba teringat logo Florentina Group di halaman pertama proposal bisnis mantanku. Aku teringat suara-suara: Lin, kenalin aku ke papamu, dong. Lin, perusahaan papamu butuh vendor, nggak?
Mas Bumi tidak pernah mendengar suara-suara itu. Tapi dia mendengarnya dariku, di meja nomor tiga, tiga hari lalu. Dan sekarang dia menolak proyek ratusan juta, menolak uang sewa studionya bulan depan, supaya dia tidak pernah, sekali pun, menjadi salah satu suara itu.
“Mas,” kataku. Suaraku bergetar. “Mas bukan mereka.”
Hening lama di seberang.
“Aku tahu,” katanya akhirnya. “Makanya aku nggak mau jadi mirip, sedikit pun.”
“Gagal,” kata Tasya, mencoret FASE 2 di papan tulis kecil itu dengan spidol merah. “Rantang: diterima, tapi dia bilang jangan lagi. Bantu studio: bencana. Klien: ditolak. Skor kita nol, Lin. Nol bulat.”
“Tiga,” kataku.
“Hah?”
“Rantangnya dia cuci bersih, dikeringin, terus dia kembaliin pakai dua tangan.” Aku duduk di lantai kantor, bersandar ke dinding. “Labelku nggak dia buang satu pun. Yang ungu dia taruh paling depan. Dan dia nolak Tante Rina bukan karena dia nggak mau dibantu sama aku. Dia nolak supaya aku nggak pernah curiga sama dia.”
Tasya menurunkan spidolnya.
“Sya, dia bukan nolak aku.” Aku memeluk lutut. “Aku pikir awalnya dia nolak aku. Tapi bukan. Setiap kali aku coba nolong dia, dia nolak ditolong. Dia nolak dapat sesuatu. Dia nolak dicintai.”
Rio, yang ternyata masih ada di ruangan itu, mengangkat tangan pelan-pelan seperti anak sekolah.
“Ya, Rio?”
“Mbak,” kata Rio. “Mungkin dia nolak bukan karena nggak mau. Mungkin karena dia nggak tahu caranya.”
Kami berdua menoleh padanya.
“Orang yang nggak pernah ditolong,” kata Rio pelan, “nggak tahu harus ngapain kalau ada yang nolong. Kayak orang yang nggak pernah dikasih hadiah. Dia bakal bingung tangannya mau ditaruh di mana.”
Aku memikirkan Mas Bumi menatap rantang seng motif bunga-bunga itu. Ekspresi aneh itu. Bukan tidak suka. Bingung. Seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya.
Aku memikirkan kotak perkakas bertuliskan WIRANATA — BOGOR, dan kata dulu. Foto kakek tua dengan anak laki-laki kurus yang memegang gambar rumah. Kakek saya dulu. Saya sering bawa ke rumah sakit.
Siapa yang menolongnya, waktu kakeknya sakit?
Siapa yang datang duluan untuknya?
“Rio,” kataku. “Kamu dapat kenaikan uang saku magang.”
“Hah? Beneran, Mbak?”
“Beneran.”
Tasya tertawa dan memeluk Rio lagi. Rio duduk kaku lagi seperti tiang listrik, tapi kali ini dia tersenyum.
Malam itu, ponselku bergetar. Pesan dari Mas Jovan.
Jovan: Mbak Celine. Boleh saya kasih saran?
Celine: Boleh, Mas.
Jovan: Saya udah 10 tahun kenal Bumi. Kuliah bareng, ngekos bareng, susah bareng. Saya tahu hampir semua tentang dia.
Jovan: Tapi ada satu hal yang saya nggak pernah ngerti, sampai hari ini.
Jovan: Kenapa dia nggak pernah mau pindah studio. Tempat itu panas. Atapnya bocor. Pemilik rukonya nyebelin. Kita pernah dapat tawaran tempat yang lebih murah dan lebih luas di Kemang. Dia nolak.
Jovan: Saya baru ngerti beberapa bulan terakhir.
Jovan: Kalau Mbak mau ngerti dia, coba berdiri di jendelanya.
Jovan: Jam 7 lewat 10. Lihat ke bawah.
Aku membaca pesan itu berkali-kali, sampai layarnya mati, lalu kunyalakan lagi.
Coba berdiri di jendelanya.
Aku membalas.
Celine: Gimana caranya, Mas? Dia selalu ada di situ jam segitu.
Jovan: Senin depan ada rapat koordinasi proyek di studio. Jam 9. Perwakilan yayasan dateng. Bumi nggak bisa sakit gigi, soalnya Bu Ketua Yayasan yang kacamatanya berantai mutiara itu ngefans sama dia.
Jovan: Rapatnya selesai jam 11. Habis itu Bumi harus anter Bu Ketua turun sampai mobil. Itu protokol.
Jovan: Jendelanya kosong 10 menit.
Jovan: Saya cuma kasih info. Saya nggak bilang apa-apa.
Jovan: Btw kaktus saya beneran dibuang ya Mbak? 😢
Aku tertawa, sendirian, di kamar luas yang langit-langitnya terlalu tinggi.
Lalu aku berhenti tertawa dan memandangi pesan itu. Jendelanya kosong 10 menit.
Sepuluh menit untuk berdiri di tempat dia berdiri selama empat tahun.
Aku tidak tahu apa yang akan kulihat di sana. Tapi aku tahu, entah bagaimana, bahwa setelah melihatnya, aku tidak akan bisa kembali menjadi Celine yang cuma tahu ada orang baik di lantai dua.
Celine: Kaktusnya aku ganti, Mas. Dua. Yang masih hidup.
Jovan: 🥹
Jovan: Selamat datang di tim, Mbak.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong reading
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi