← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Nineteen

Daftar Utang Kebaikan

POV: Celine

Rio membuat spreadsheet-nya dalam empat puluh menit.

Judulnya, ditulis dengan huruf tebal warna ungu di baris paling atas: DAFTAR UTANG KEBAIKAN — CELINE KE MAS BUMI (JANGAN DIKASIH LIHAT KE MAS BUMI).

Kolomnya ada lima: No., Kebaikan, Tanggal (perkiraan), Sumber, dan Status Pelunasan. Kolom terakhir punya tiga pilihan dalam menu tarik-turun yang Rio buat dengan sangat bangga: Belum, Sedang Dicicil, dan LUNAS 🎉.

“Rio,” kata Tasya, memandangi layar laptop dengan kagum. “Kamu jenius.”

“Saya anak akuntansi, Mbak,” kata Rio, telinganya merah.

Masalahnya, setelah daftar itu diisi, jumlahnya bukan sepuluh.

Sepuluh nomor pertama dari daftar di ponselku, yang kubuat di tangga darurat rumah sakit, masuk dengan mudah. Lalu nomor sebelas: halte, jaket. Dua belas: rak roboh, paus kayu Nayla. Tiga belas sampai lima belas: tipes, dan semua hal yang dia tutupi waktu itu.

Lalu Jovan datang ke Rumah Pelangi hari Selasa sore, membawa sebuah kantong plastik berisi tiga buku tulis bersampul batik cokelat.

“Saya fotokopi,” katanya, meletakkan kantong itu di meja dengan gerakan lambat dan penuh hormat. “Yang asli tetap di kotak sepatu. Dikasih kapur barus.”

Aku membuka buku pertama. Di sampulnya, dengan spidol hitam: BUKU KEBETULAN BUMI — JILID 1.

Entri nomor satu: Tanggal 3 Agustus, empat tahun lalu. Bumi pindah posisi meja gambar dari dinding ke jendela. Alasan: “Cahayanya lebih bagus.” Cahayanya sama saja. Mencurigakan.

Entri nomor dua: Tanggal 5 Agustus. Bumi mulai pesan teh manis ke Pak Udin tiap pagi jam setengah tujuh. Sebelumnya dia bikin teh sendiri di dispenser. Alasan: “Biar Pak Udin dapat tambahan.” Pak Udin dapat tambahan dua ribu sehari. Tetap mencurigakan.

Aku membalik halaman demi halaman. Tulisan tangan Jovan berantakan, miring ke segala arah, penuh coretan dan gambar kecil yang tidak jelas maksudnya. Tapi setiap entri ditulis dengan tanggal, dan setiap entri, entah bagaimana, berujung padaku.

Kucing belang yang dipanggil Pak Bos ternyata dibawa ke dokter hewan waktu kakinya pincang. Entri nomor sembilan belas.

Ban sepeda Pak Udin yang selalu kempes tiba-tiba diganti baru. Entri nomor dua puluh tiga. Seminggu setelah Mbak Celine bilang, “Kasihan Pak Udin, tiap pagi pompa ban.”

Lampu jalan di depan Rumah Pelangi yang mati tiga bulan tiba-tiba menyala lagi. Entri nomor tiga puluh satu. Bumi menelepon kelurahan sebelas kali. Saya dengar sendiri. Dia pura-pura jadi warga yang khawatir. Dia memang warga yang khawatir.

“Total,” kata Rio pelan, mengetik di laptop. “Seratus empat puluh tujuh, Mbak.”

Aku memandangi angka itu di layar. 147.

“Itu baru yang saya tahu,” kata Jovan. “Yang nggak ketahuan pasti lebih banyak.”

Seratus empat puluh tujuh kebaikan. Empat tahun. Hampir setiap minggu.

Aku duduk di beanbag oranye yang kempes sebelah dan memeluk buku fotokopian itu ke dada.

“Gimana aku bisa bayar ini semua?” bisikku.

Tasya duduk di sebelahku dan merangkul bahuku.

“Satu-satu, Lin,” katanya. “Kayak cicilan motor.”


Aku mulai dari nomor satu.

Pindah meja gambar ke jendela. Aku tidak bisa membalas yang ini secara langsung. Jadi aku memindahkan meja kerjaku di kantor Rumah Pelangi ke dekat jendela yang menghadap ke deretan ruko. Dari sana, kalau aku mencondongkan badan sedikit, aku bisa melihat ujung jendela lantai dua di atas Kopi Sudut.

Rio menandai: Sedang Dicicil.

Nomor dua: Teh manis tiap pagi. Ini mudah. Aku sudah belajar resepnya. Jadi setiap pagi, mulai Rabu, aku datang jam tujuh lewat sepuluh membawa termos teh manis buatanku sendiri, gula duluan, tunggu larut, diaduk tiga kali. Mas Dodi memandangi termosku dengan wajah terluka, seperti barista yang dikhianati.

“Mbak,” katanya. “Teh saya kurang enak?”

“Enak, Mas Dodi. Ini cicilan.”

“Cicilan apa?”

“Cicilan cinta, Mas,” kata Pak Udin dari luar, lewat pintu yang terbuka, lalu terbatuk-batuk dan bilang debu.

Mas Bumi menerima termos itu setiap pagi dengan wajah bingung yang sama. Hari pertama dia bilang “Makasih” dengan susah payah. Hari kedua lebih lancar. Hari ketiga dia bertanya, “Ini cicilan apa?”

“Rahasia.”

“Ada daftarnya?”

“Mungkin.”

“Berapa nomor?”

“Seratus empat puluh tujuh.”

Dia tersedak teh manisnya sendiri.


Nomor dua puluh tiga: ban sepeda Pak Udin. Nomor lima puluh delapan: sepatu Pak Udin.

Aku tidak bisa membalasnya ke Pak Udin. Pak Udin bukan utangku. Tapi aku punya ide lain.

Kamis pagi, Pak Udin menyerahkan sebuah kantong plastik hitam pada Mas Bumi di trotoar.

“Dari seseorang, Mas,” kata Pak Udin, dengan wajah sangat serius. “Nggak mau disebutin namanya.”

Mas Bumi membuka kantong itu. Isinya sepasang sandal jepit baru. Warnanya hijau tua, seperti Kijang. Ukurannya empat puluh tiga. Aku mengukur sandal jepit lamanya yang talinya hampir putus, waktu dia tidur di sofa studio dengan tipes.

Dari meja nomor tiga, lewat kaca, aku melihatnya memandangi sandal itu lama.

Lalu dia menoleh ke kafe. Ke meja nomor tiga. Ke arahku.

Aku pura-pura sibuk dengan ponsel.

Dia masuk, duduk di depanku, dan meletakkan sandal jepit hijau tua itu di atas meja di antara teh manis dan kopi susu gula aren.

“Dari seseorang,” katanya. “Nggak mau disebutin namanya.”

“Oh ya?” Aku menyeruput kopi. “Baik banget seseorang itu.”

“Ukurannya pas.”

“Kebetulan.”

Dia memandangiku dengan mata menyipit. Aku memandanginya balik dengan wajah tidak bersalah.

Lalu, untuk pertama kalinya, dia yang tertawa duluan. Tawanya kecil dan pelan. Dia menggeleng sambil menunduk ke sandal itu.

“Kamu tahu nggak,” katanya, “aku sekarang ngerti kenapa Pak Udin selalu bilang ‘debu’.”

“Kenapa?”

“Karena ternyata nggak enak ketahuan dibaikin.”

Rio menandai nomor lima puluh delapan: LUNAS 🎉.


Nomor sembilan belas: Pak Bos dibawa ke dokter hewan. Aku membalasnya dengan membawa Pak Bos ke dokter hewan lagi untuk vaksin, dan memberi tahu dokternya, “Atas nama Bumi Wiranata, ya, Dok.”

Nomor tiga puluh satu: Lampu jalan. Aku menelepon kelurahan dan melaporkan lampu jalan di depan studio Wiranata Atelier yang berkedip-kedip. Dua belas kali. Petugas kelurahan, di telepon kedua belas, bertanya dengan suara lelah, “Mbak ini saudaranya Mas yang dulu nelepon sebelas kali itu, ya?”

Nomor empat puluh tujuh: Terpal biru di genteng Rumah Pelangi. Aku tidak bisa naik genteng. Tasya melarang. Rio melarang. Pak Rahmat, ketika kutanya, berlutut di garasi dan memohon atas nama Bapak dan seluruh keturunannya. Jadi aku membalasnya dengan cara lain: aku dan Jovan, di Sabtu siang ketika Mas Bumi survei ke Cilincing, menambal noda air berbentuk pulau Sulawesi di langit-langit studio. Jovan naik tangga. Aku memegang tangga. Kami mengecatnya putih. Hasilnya belang. Sulawesinya sekarang berbentuk Sulawesi yang lebih pucat.

Ketika Mas Bumi pulang dan melihat langit-langit itu, dia berdiri di tengah studio dengan kepala mendongak selama satu menit penuh.

“Siapa?” tanyanya.

“Seseorang,” kata Jovan dari mejanya, tanpa mengangkat kepala.

“Yang nggak mau disebutin namanya,” tambahku dari kursi tamu.

Dia memandang kami berdua bergantian. Lalu dia menutup wajah dengan tangan dan menghela napas yang sangat panjang, napas orang yang dikeroyok.

“Celine,” katanya dari balik tangan. “Daftarnya masih berapa?”

“Seratus tiga puluh dua.”

“Tolong,” katanya, sungguh-sungguh. “Pelan-pelan. Aku nggak kuat.”

Jovan tertawa sampai jatuh dari kursi.


Lalu aku sampai di masalah yang tidak kuduga.

Aku ingin membalas nomor delapan: roti bakar cokelat keju. Dia tahu makanan kesukaanku. Dia tahu aku makan pinggirannya dulu, tengahnya terakhir. Dia tahu aku suka gula aren, bukan gula pasir. Dia tahu semua itu dari empat tahun memandang.

Aku ingin membalasnya dengan cara yang sama. Membawakan makanan kesukaannya.

Dan aku sadar aku tidak tahu apa makanan kesukaannya.

“Mas Jovan,” kataku di telepon, Rabu malam. “Mas Bumi suka makan apa?”

Hening di seberang.

“Mas Jovan?”

“Saya lagi mikir, Mbak.”

“Sepuluh tahun Mas kenal dia.”

“Iya.” Suara Jovan pelan. “Dan dia nggak pernah bilang suka apa. Dia makan apa aja yang ada. Kalau saya tanya mau makan apa, dia bilang ‘terserah’. Kalau saya pesan, dia makan. Kalau nggak ada, dia nggak makan.” Jovan diam sebentar. “Saya nggak pernah sadar sampai Mbak nanya barusan. Saya nggak tahu dia suka apa.”

Aku memegang ponsel dan memandang ke luar jendela kamarku yang terlalu tinggi.

Seratus empat puluh tujuh kebaikan. Dia tahu semua yang kusukai. Dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tahu apa yang dia sukai.

Malam itu aku tidak tidur.


Jadi aku melakukan apa yang dia lakukan padaku selama empat tahun.

Aku memperhatikan.

Selama seminggu, aku memperhatikan apa yang dia makan duluan di piring. Apa yang dia sisihkan. Apa yang membuat matanya berhenti sebentar di etalase warung. Aku memperhatikannya dari meja nomor tiga, dari kursi tamu di studio, dari kursi penumpang Kijang yang sudah dapat ban baru dan aki baru dari uang proyek Cilincing.

Aku melihat dia selalu menyisakan kerupuk sampai terakhir, seperti aku dengan bagian tengah roti. Aku melihat dia bersenandung pelan, sangat pelan, nyaris tidak terdengar, setiap kali menggambar garis lengkung. Lagunya selalu sama, lagu keroncong tua yang tidak kukenal. Aku melihat dia berhenti di depan gerobak kue putu di depan pasar setiap kali kami lewat, menatapnya dua detik, lalu berjalan lagi tanpa membeli.

Dan aku melihat dia memandangi pedagang buah yang lewat di depan Kopi Sudut hari Jumat pagi, gerobak dorong dengan tumpukan rambutan merah berbulu. Dia memandanginya sampai gerobak itu belok di tikungan.

Buat cucuku yang pintar gambar.

Sabtu pagi aku datang ke meja nomor tiga membawa dua bungkus kue putu yang masih mengepul di daun pisang, dan sekeranjang kecil rambutan dari pasar Minggu. Merah, segar, masih bertangkai.

Aku meletakkannya di meja tanpa bicara.

Dia memandangi kue putu itu. Lalu rambutan itu. Lalu, sangat pelan, dia mengangkat kepala dan memandangiku.

“Kamu tahu dari mana?” bisiknya.

“Aku lihat Mas berhenti di depan gerobak putu. Tiap kali.” Aku tersenyum. “Dan Mas lihatin gerobak rambutan sampai belok.”

Dia tidak bilang apa-apa. Dia mengambil satu kue putu, membuka daun pisangnya pelan-pelan, dan memandanginya. Kelapa parut, gula merah yang meleleh di tengah, uap tipis yang naik.

“Eyang suka beliin ini,” katanya. Suaranya pelan sekali. “Tiap aku pulang dari sekolah. Di depan pasar Bogor. Lima ratus rupiah dapat tiga.”

Dia memakannya. Satu gigitan kecil. Dia mengunyah dengan mata terpejam.

“Rambutannya...” Dia menyentuh salah satu buah berbulu merah itu dengan ujung jari. “Eyang punya pohon di belakang rumah. Tiap musim dikirim ke kos. Pakai kardus mi instan.”

“Aku tahu,” kataku pelan. “Mas cerita waktu tipes.”

Dia membuka mata. Matanya basah.

“Aku nggak inget cerita soal rambutan,” katanya.

“Mas cerita. Satu kalimat. Waktu itu Mas lagi demam.” Aku menggenggam tangannya di atas meja. “Aku nyimpen kalimat itu, Mas. Kayak Mas nyimpen semua kalimatku.”

Dia menunduk ke kue putu di tangannya, dan aku melihat setetes air mata jatuh ke daun pisang.

Rio menandai nomor delapan: LUNAS 🎉🎉🎉. Tiga emoji. Katanya ini spesial.


Masalah yang sebenarnya datang hari Senin.

Florentina Group berulang tahun yang kelima puluh. Ada gala di hotel bintang lima di Sudirman. Lima ratus tamu, pengusaha, pejabat, wartawan. Papa akan pidato. Mama akan memakai kebaya yang sudah dijahit tiga bulan. Dan aku, sebagai putri tunggal keluarga Florentina, harus hadir dan berdiri di sana, tersenyum, berjabat tangan, berfoto.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin datang sendirian.

“Mas,” kataku di meja nomor tiga, setelah dia menghabiskan teh manis termosku. “Sabtu depan ada acara. Gala ulang tahun perusahaan Papa. Aku mau Mas dateng. Sama aku.”

Dia membeku.

Aku melihat semua darah turun dari wajahnya. Tangannya yang memegang tutup termos berhenti di udara.

“Gala,” ulangnya pelan.

“Iya.”

“Di hotel.”

“Iya.”

“Lima ratus orang?”

“Kira-kira.”

Dia meletakkan tutup termos itu di meja dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan bom.

“Celine,” katanya. Suaranya hati-hati. Terlalu hati-hati. “Aku... aku nggak tahu.”

“Nggak tahu apa?”

“Aku nggak punya jas.” Dia menggaruk tengkuk. “Maksudku, punya. Satu. Waktu wisuda. Udah sempit di bahu.”

“Kita beli.”

“Bukan cuma jas.” Dia memandang ke luar kaca. “Orang-orang di sana. Mereka bakal lihat kamu, terus lihat aku. Terus mereka bakal nanya. ‘Dia siapa? Kerja di mana? Keluarganya siapa?’”

“Biarin mereka nanya.”

“Kamu nggak ngerti.” Dia menggeleng pelan. “Kamu pantas dapat yang lebih dari ini. Dari aku. Kamu pantas berdiri di sana sama orang yang bisa jawab pertanyaan itu tanpa bikin kamu malu. Yang bisa bilang namanya terus orang langsung tahu. Yang...”

“Mas.”

Dia berhenti.

Aku meletakkan kopiku. Aku menatapnya lurus-lurus, tidak berkedip.

“Yang lebih itu siapa?”

Dia membuka mulut. Tidak ada suara.

“Tunjukin,” kataku. Suaraku pelan, tapi tidak bergetar. “Yang lebih itu siapa, Mas? Kasih tahu aku namanya. Kasih tahu aku di mana dia. Laki-laki yang lebih dari laki-laki yang empat tahun berdiri di jendela. Yang lebih dari yang naik genteng waktu hujan dan jatuh ke talang. Yang lebih dari yang bayar deposit rumah sakit Mama pakai uang sewa studio. Yang lebih dari yang demam tiga sembilan tapi nyelesaiin tangga anak-anak Cilincing jam dua pagi.”

Dia tidak bergerak.

“Tunjukin,” bisikku. “Aku tungguin.”

Kafe itu sunyi. Mas Dodi berhenti mengelap gelas. Di luar, Pak Udin berhenti meniup peluit.

Dia memandangiku. Lama. Aku melihat sesuatu bergerak di matanya. Pertama bingung, lalu kalah, lalu sesuatu yang lain, sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya. Rasanya seperti orang yang selama ini memegang satu jawaban erat-erat, lalu baru sadar jawaban itu tidak pernah benar.

“Nggak ada,” katanya akhirnya. Pelan sekali.

“Apa?”

“Nggak ada.” Dia menunduk. “Aku nggak bisa tunjukin. Aku nggak tahu siapa.”

“Karena nggak ada, Mas.” Aku menggenggam tangannya di atas meja. “Nggak ada yang lebih. Yang ada cuma Mas yang selalu ngerasa kurang.”

Dia tidak menjawab. Tapi dia juga tidak melepaskan tanganku.

“Aku nggak akan maksa Mas dateng ke gala,” kataku, lebih lembut. “Kalau Mas belum siap, nggak apa-apa. Kita tunggu. Aku bisa dateng sendiri, senyum, salaman, foto, pulang. Aku udah biasa.” Aku meremas tangannya. “Tapi satu hal. Satu aja.”

“Apa?”

“Berhenti bilang kalimat itu.”

Dia mengangkat kepala.

“Setiap kali Mas bilang ‘kamu pantas dapat yang lebih’,” kataku, “Mas nggak lagi ngelindungin aku. Mas lagi ngusir diri Mas sendiri dari hidupku. Dan aku nggak mau Mas pergi, Mas. Aku udah capek lihat Mas pergi duluan.”

Dia memandangiku lama sekali.

Lalu dia mengangguk. Pelan. Sekali.

“Aku coba,” katanya.

Itu bukan janji. Tapi untuk laki-laki yang empat tahun memegang satu kalimat seperti memegang dinding, aku coba sudah seperti meruntuhkan setengahnya.


Malam itu, ketika aku sudah di rumah, ponselku bergetar.

Bumi 🌏: Celine.
Bumi 🌏: Maaf soal gala.
Celine: Nggak apa-apa, Mas. Beneran.
Bumi 🌏: Aku belum siap ketemu lima ratus orang.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lama sekali.

Bumi 🌏: Tapi aku mau nunjukin satu hal ke kamu duluan. Sebelum yang lain-lain.
Bumi 🌏: Sabtu ini. Siang.
Bumi 🌏: Mau lihat rumahku?

Aku duduk tegak di kasur.

Celine: Katanya belum siap?

Tiga titik. Lama. Lebih lama dari waktu dia menjawab “Iya” di malam sebelum meja nomor tiga.

Bumi 🌏: Rumahnya udah siap dari lama.
Bumi 🌏: Yang belum siap aku.
Bumi 🌏: Sekarang... aku coba.

Aku memandangi pesan itu sampai layarnya mati, kunyalakan lagi, mati lagi.

Yang belum siap aku.

Aku membuka spreadsheet di laptop. Di baris paling bawah, di bawah nomor seratus empat puluh tujuh, aku menambahkan satu baris baru.

148. Mas Bumi ngajak aku ke rumahnya. Tanggal: Sabtu ini. Status: —

Aku tidak tahu harus mengisi kolom status dengan apa. Ini bukan utang. Ini bukan sesuatu yang bisa dicicil.

Jadi aku membiarkannya kosong, menutup laptop, dan tidur sambil memeluk agenda dengan sebelas kertas kecil di sampul belakangnya.