← Yang Selalu Datang Duluan

Chapter Eleven

Kamu Pantas Dapat yang Lebih

POV: Bumi

Aku turun jam tujuh lewat tiga.

Aku tidak tidur semalam. Aku duduk di studio sampai jam dua, lalu pulang dan berbaring di kasur sampai jam lima, menatap langit-langit, menyusun kalimat dan menghapusnya, menyusun lagi. Jam setengah enam aku mandi. Jam enam aku mencoba tiga kemeja. Jam enam lewat dua puluh aku sadar ketiga kemeja itu warnanya hampir sama, dan aku memakai yang pertama.

Pak Udin melihatku keluar dari pintu samping dan langsung tersedak teh manisnya sendiri.

“Mas Bumi,” katanya. “Turun. Pagi-pagi. Lewat pintu depan.”

“Pagi, Pak.”

“Pakai kemeja disetrika.”

“Selalu disetrika, Pak.”

“Nggak, Mas. Biasanya kusut di siku kiri.” Pak Udin memicingkan mata. “Ini licin. Ini disetrika pakai niat.”

Aku masuk ke Kopi Sudut sebelum Pak Udin sempat menganalisis sepatuku.

Mas Dodi menatapku dari balik bar seperti melihat hantu. Aku memesan teh manis. Dia membuatnya tanpa bicara, tapi waktu meletakkan gelas di depanku, dia berbisik, “Semangat, Mas,” dengan nada orang yang mengantar temannya ke ruang sidang.

Lalu aku berdiri di depan meja nomor tiga.

Empat tahun aku memandangi meja ini dari atas. Meja bundar kecil dengan permukaan marmer imitasi yang sudah retak halus di satu sisi, dua kursi besi bercat putih yang kakinya agak goyang. Aku tahu meja ini lebih baik dari meja di rumahku sendiri. Tapi aku tidak pernah duduk di sini. Sekali pun.

Aku menarik kursi yang menghadap ke pintu. Aku duduk.

Kursinya goyang. Ternyata kaki kirinya yang lebih pendek.

Jam tujuh lewat sepuluh, hatchback putih masuk ke parkiran.


Dia membawa banyak barang.

Jaket abu-abuku, terlipat. Dompet batikku. Sebuah amplop cokelat tebal. Dan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya selama empat tahun. Ekspresi itu bukan tawa, bukan senyum basa-basi, bukan juga sedih. Ekspresinya tenang dan sangat fokus, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.

Dia meletakkan semuanya di meja, lalu duduk di depanku.

“Pagi, Mas.”

“Pagi.”

Dia tidak memesan kopi. Dua puluh menit lagi Pak Udin akan kebingungan.

“Ini dompet Mas.” Dia mendorong dompet batik itu ke arahku. “Uangnya utuh. Aku nggak pakai.”

“Harusnya dipakai.”

“Aku nggak butuh, Mas. Papa datang siang.”

Aku mengambil dompet itu. Dia diam sebentar, memperhatikan tanganku, lalu berkata pelan, “Maaf, aku lihat fotonya. Nggak sengaja. Waktu buka buat ngecek uangnya.”

Jariku berhenti di resleting yang macet itu.

“Itu Eyang Mas?” tanyanya. “Yang punya kotak perkakas?”

“Iya.”

“Mas kecil kurus banget.”

Aku hampir tersenyum. “Eyang bilang saya kayak lidi dikasih baju.”

Dia tersenyum. Lesungnya tidak muncul, tapi matanya hangat.

Lalu dia mendorong amplop cokelat itu ke depanku.

“Lima belas juta,” katanya. “Dari Papa. Papa minta dikembalikan langsung, nggak boleh transfer. Dan Papa titip terima kasih.”

Aku memandangi amplop itu.

Aku sudah tahu ini akan terjadi. Tentu saja. Keluarga Florentina tidak akan membiarkan orang asing membayar deposit rumah sakit. Itu wajar. Itu benar. Lagi pula, pemilik ruko memang menunggu uang sewa.

Tapi entah kenapa, melihat amplop itu di meja nomor tiga membuat dadaku terasa seperti dilempar batu kecil. Rasanya seperti hutang yang dilunasi. Seperti garis yang ditarik dengan penggaris: ini dia, di sana. Ini kamu, di sini.

“Terima kasih,” kataku. Aku mengambil amplop itu dan memasukkannya ke tas. Aku tidak menghitungnya.

“Mas nggak protes?” tanyanya.

“Itu uang papamu. Papamu benar.”

Dia memandangiku lama. Aku menunduk ke teh manis.

“Mas,” katanya. “Aku boleh nanya sekarang?”

Aku sudah menyiapkan diri untuk ini semalaman. Aku sudah menyusun jawaban yang sopan, aman, tidak terlalu jujur, dan tidak terlalu bohong. Aku sudah mengulangnya di kamar mandi sampai airnya dingin.

“Boleh.”

“Kenapa selalu Mas?”

Dan seluruh jawaban yang sudah kususun semalaman itu hilang, seperti kertas kalkir yang tertiup angin dari jendela.


“Saya...” Aku mulai.

“Mas pakai ‘saya’ lagi,” katanya pelan.

Aku berhenti.

“Waktu di rumah sakit Mas pakai ‘aku’. Di surat juga. Sekarang ‘saya’ lagi.” Dia memiringkan kepala sedikit. “Kenapa?”

Aku tidak punya jawaban untuk itu juga.

Dia mengeluarkan ponselnya, membuka sesuatu, lalu meletakkannya di meja dan memutarnya menghadapku.

Sebuah daftar. Nomor satu sampai sepuluh.

Aku membacanya. Ban bocor. Laptop. Roti. Halte. Rak. Bu Ratna. Teh manis waktu Mochi mati. Lalu tiga nomor terakhir. Terpal biru. Kijang yang diparkir di depan gerbang sampai subuh. Sepatu Pak Udin.

Aku mengangkat kepala. “Siapa yang...”

“Nggak ada yang cerita. Aku yang ngitung sendiri.” Dia menarik ponsel itu kembali. “Aku cuma butuh satu malam di tangga darurat rumah sakit buat ngitung semuanya.”

Tangga darurat.

Darahku turun ke kaki.

Dia tahu. Bu Ratna. Tentu saja Bu Ratna. Aku pikir beliau tidur. Aku pikir aku cukup jauh dan cukup diam.

“Aku nggak marah,” katanya cepat, mungkin karena melihat wajahku. “Aku nggak takut. Aku cuma mau tahu kenapa.”

Aku menatap gelas teh manisku. Gula di dasarnya belum larut semua. Butiran-butiran kecil berputar pelan ketika aku menggerakkan gelas itu.

“Saya lihat kamu tiap pagi,” kataku akhirnya. Pelan. “Dari atas. Sudah lama. Maaf kalau itu bikin kamu nggak nyaman. Saya nggak bermaksud... Saya nggak pernah...”

“Aku tahu.” Dia memotong dengan lembut. “Pak Udin udah kasih kode. Mas Jovan juga. Mas Dodi juga. Kayaknya satu deretan ruko ini udah tahu kecuali aku.”

Aku memejamkan mata sebentar.

“Mas,” katanya. “Aku boleh cerita sesuatu dulu? Sebelum Mas jawab?”

Aku membuka mata. Dia sedang memandangi meja, memainkan sudut tisu di bawah gelasku dengan ujung jari.

“Waktu di London,” katanya, “aku punya pacar. Namanya nggak penting. Dua tahun. Dia baik, pintar, lucu, suka bawain bunga tiap Jumat. Aku pikir dia orangnya. Aku pikir aku bakal bawa dia pulang ke Jakarta dan kenalin ke Papa.” Dia tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke mata. “Terus suatu hari aku nggak sengaja baca email di laptopnya. Proposal bisnis. Startup teknologi properti. Untuk diajukan ke investor. Dan di halaman pertama, di bagian ‘Strategic Partners’, ada logo Florentina Group.”

Aku diam.

“Dia belum pernah ketemu Papa. Papa belum pernah dengar nama startupnya. Tapi logo Papa udah ada di sana. Di halaman pertama.” Dia mengusap sudut tisu itu sampai lecek. “Aku tanya dia. Dia bilang, ‘Sayang, itu cuma rencana. Nanti juga kita pasti ketemu ayahmu, kan? Apa salahnya siap-siap?’”

Tanganku di bawah meja mengepal.

“Habis dia, ada yang lain. Bukan pacar, sih. Teman. Kenalan. Orang-orang yang tiba-tiba baik banget. Ngajak makan, ngajak liburan, kirim hadiah ulang tahun yang mahal. Terus, pelan-pelan, keluar juga. ‘Lin, kenalin aku ke papamu, dong.’ ‘Lin, perusahaan papamu lagi butuh vendor, nggak?’ ‘Lin, kamu kan anak Florentina, masa nggak bisa bantu.’”

Suaranya tidak bergetar. Dia menceritakannya dengan tenang, seperti membacakan dongeng yang sudah dia hafal. Tapi jari-jarinya terus mengusap tisu itu sampai robek di satu sisi.

“Lama-lama aku capek, Mas. Aku jadi curiga sama semua orang. Tiap ada yang baik ke aku, aku langsung mikir, ‘Dia mau apa?’ Aku benci jadi kayak gitu. Aku benci mikir kayak gitu tentang orang. Tapi aku nggak bisa berhenti.” Dia mengangkat kepala dan menatapku. “Makanya aku bikin Rumah Pelangi pakai uangku sendiri. Makanya aku nggak mau pakai sopir. Makanya aku nggak pernah bawa nama Papa ke mana-mana. Aku pengin, sekali aja, ada orang yang lihat aku sebagai aku. Bukan sebagai anak siapa.”

Dia diam sebentar.

“Terus ada Mas,” katanya.

Tenggorokanku terasa seperti dicekik.

“Mas ganti banku dan nggak nanya namaku. Mas nolongin laptopku dan nggak minta apa-apa. Mas benerin rak dan nggak mau dibayar. Mas bawa Mama ke rumah sakit pakai uang sewa studio Mas sendiri. Iya, aku tahu soal itu juga.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Mas orang pertama, Mas. Orang pertama dalam bertahun-tahun yang nolong aku tanpa minta apa-apa. Tanpa nyebut nama Papa. Tanpa nunggu dibalas.”

Aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku menunduk ke gelas teh, karena kalau aku melihat wajahnya sekarang, aku akan...

“Makanya aku mau tahu,” katanya. “Kenapa?”


Ada saat dalam hidup ketika kamu berdiri di depan pintu yang terbuka, dan kamu tahu kalau kamu masuk, semuanya akan berubah.

Aku berdiri di depan pintu itu.

Di balik pintu itu ada lima tahun. Ada warung kecil di pinggir jalan, Eyang yang kebingungan, seorang perempuan muda yang membelikan teh manis untuk kakek tua yang bukan siapa-siapanya. Ada buku sketsa dengan ratusan halaman. Ada halaman yang bergelombang karena air mata. Ada sudut baca hijau sage di rumahku yang tidak pernah diduduki siapa pun.

Kalau aku membuka semua itu sekarang, di meja nomor tiga, pada jam tujuh lewat dua puluh pagi, dia akan tahu.

Dan dia baru saja bercerita tentang orang-orang yang mendekat karena menginginkan sesuatu darinya.

Aku membayangkan wajahnya kalau dia tahu laki-laki yang menolongnya selama empat tahun ternyata menyimpan perasaan sebesar itu. Laki-laki dengan Kijang tua, studio sewaan, dan rumah bata ekspos yang tidak sanggup diplester. Laki-laki yang, kalau berdiri di sampingnya di acara keluarga Florentina, akan membuat semua orang bertanya-tanya, dia siapa? Dia dapat apa?

Aku tidak akan pernah meminta apa-apa darinya. Tidak pernah. Tapi dunia tidak akan percaya itu. Dan suatu hari, mungkin, dia sendiri tidak akan percaya. Suatu hari dia akan melihatku dan bertanya-tanya, sama seperti dia bertanya-tanya tentang laki-laki di London itu. Dia mau apa?

Aku lebih baik mati daripada menjadi salah satu alasan dia berhenti percaya pada orang.

“Celine,” kataku.

Dia menatapku. Dia tahu itu pertama kalinya aku memanggil namanya dengan sengaja, pagi ini, di meja ini.

“Kamu orang baik,” kataku pelan. “Kamu beli dua kopi tiap pagi, satu buat Pak Udin. Kamu bacain dongeng buat anak-anak yang nggak punya buku. Kamu ngasih makan kucing liar dan ngasih dia nama. Kamu nangis waktu Mochi mati, tapi kamu tetap beliin Pak Udin es kopi pakai gula aren dua sendok.”

Air matanya jatuh satu. Dia tidak menghapusnya.

“Saya nolong kamu karena kamu pantas ditolong,” kataku. “Itu aja.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban.”

“Mas...”

“Dan kamu pantas dapat yang lebih.”

Kalimat itu jatuh di meja nomor tiga seperti gelas yang pecah.

Dia membeku. “Apa?”

“Kamu pantas dapat yang lebih.” Aku memaksa diriku menatapnya. “Lebih dari orang yang cuma bisa nolong dari jauh. Kamu pantas dapat orang yang bisa berdiri di sampingmu tanpa bikin orang lain bertanya-tanya. Yang bisa ikut ke acara keluargamu tanpa... tanpa kelihatan salah tempat.”

“Mas, aku nggak...”

“Saya harus ke Cilincing.” Aku berdiri. Kaki kiri kursi yang lebih pendek itu berderit di lantai. “Kontraktornya nunggu jam delapan.”

“Mas Bumi.”

“Jaga Bu Ratna. Ingatkan minum obat. Tiap pagi, jam yang sama.”

Aku mengambil jaket abu-abu dari meja, lalu ragu-ragu, dan meletakkannya lagi di depannya.

“Ini buat kamu. Kalau hujan.”

Lalu aku berjalan ke pintu.

Aku tidak menoleh. Aku tidak bisa. Aku mendengar dia memanggil namaku sekali lagi, pelan dan pecah, dan aku tetap berjalan keluar dari pintu kafe, melewati Pak Udin yang berdiri dengan peluit tergantung di bibir dan wajah seperti baru melihat kecelakaan, menyusuri trotoar, belok ke gang samping.

Ke Kijangku.


Aku masuk, menutup pintu, dan mencengkeram setir.

Kijang itu panas karena sudah dijemur matahari pagi. Bau jok tua dan pengharum mobil rasa jeruk yang sudah kehilangan rasanya. Lewat kaca depan yang berdebu, aku bisa melihat sepotong trotoar dan dinding samping apotek.

Aku tidak menyalakan mesin.

Aku duduk di sana dan memikirkan tisu yang dia robek sedikit-sedikit dengan ujung jari. Logo Florentina Group di halaman pertama proposal bisnis. Lin, kenalin aku ke papamu, dong. Dia bilang aku benci jadi kayak gitu dengan suara yang tidak bergetar sama sekali, karena dia sudah terlalu sering mengatakannya pada dirinya sendiri sampai suaranya lupa caranya bergetar.

Selama bertahun-tahun, setiap kali ada yang baik padanya, dia bertanya dia mau apa?

Dan dia sendirian dengan pertanyaan itu.

Air mataku jatuh ke setir.

Bukan untukku. Aku tahu aku baru saja membuatnya menangis di meja nomor tiga. Aku tahu itu kesalahanku, dan aku pantas merasa seperti ini. Tapi bukan itu yang membuatku menangis. Aku menangis untuk perempuan yang belajar curiga pada kebaikan karena terlalu sering dikhianati olehnya. Aku menangis untuk perempuan dua puluh tujuh tahun yang menceritakan luka paling dalamnya dengan suara tenang, karena tidak ada lagi yang tersisa untuk bergetar.

Aku menangis tanpa suara, menunduk ke setir, bahuku naik turun. Kijang itu panas dan sunyi.

Lalu seseorang mengetuk kaca jendela.

Aku tersentak.

Jovan berdiri di samping pintu dengan helm masih di kepala, tas laptop di bahu, dan sebungkus nasi uduk di tangan. Dia memandangiku lewat kaca yang berdebu.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia membuka pintu penumpang, masuk, duduk, dan menutup pintu. Helmnya masih terpasang. Nasi uduknya di pangkuan.

Kami duduk diam di Kijang yang panas itu.

“Pak Udin telepon,” kata Jovan akhirnya. “Katanya kamu keluar dari kafe kayak orang habis lihat setan, terus Mbak Celine nangis di meja nomor tiga sambil meluk jaket butut.”

Aku mengusap wajah dengan telapak tangan.

“Kamu bilang apa ke dia?”

“Kamu pantas dapat yang lebih.”

Jovan menoleh perlahan ke arahku. Dengan helm masih di kepala, dia kelihatan seperti astronot yang baru mendengar roketnya meledak.

“Kamu,” katanya, “bilang apa?”

“Dia cerita soal mantan pacarnya di London, Jo. Soal orang-orang yang deketin dia karena papanya. Dia bilang dia capek. Dia bilang tiap ada yang baik, dia mikir ‘dia mau apa?’” Suaraku pecah. Aku tidak peduli lagi. “Dan kamu pikir aku harus bilang apa? ‘Iya, aku juga baik, karena aku udah lima tahun cinta sama kamu’? Biar dia mikir aku sama aja kayak mereka? Biar suatu hari dia lihat Kijang ini, lihat rumahku, lihat aku, terus mikir jangan-jangan dia juga...”

“Bum.”

“Aku nggak akan pernah minta apa-apa dari dia. Tapi dunia nggak akan percaya. Keluarganya nggak akan percaya. Dan suatu hari dia juga...”

“BUMI.”

Aku berhenti.

Jovan melepas helmnya. Rambutnya berantakan dan lepek. Dia meletakkan helm itu di dasbor dan menatapku dengan wajah yang tidak bercanda sama sekali.

“Kamu tahu dari mana,” katanya pelan, “dia bakal mikir begitu?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu nanya dia?”

Aku diam.

“Empat tahun, Bum. Empat tahun kamu udah jawab semua pertanyaan atas nama dia. ‘Dia nggak butuh namaku.’ ‘Dia pantas dapat yang lebih.’ ‘Dia bakal mikir aku mau sesuatu.’ Kamu udah mutusin semuanya buat dia. Kamu nggak pernah sekali pun ngasih dia kesempatan buat mutusin sendiri.” Jovan menggeleng. “Kamu bilang kamu ngelindungin dia. Dari siapa? Dari kamu?”

Aku menatap dinding samping apotek lewat kaca depan yang berdebu.

“Pagi ini dia datang ke meja itu,” kata Jovan, “bawa daftar sepuluh nomor, bawa dompetmu, bawa jaketmu, terus cerita soal luka paling dalam yang mungkin nggak pernah dia ceritain ke siapa pun selain Tasya. Ke kamu, Bum. Dia cerita ke kamu. Dan kamu bilang dia pantas dapat yang lebih, terus kabur ke Kijang.”

“Aku harus ke Cilincing.”

“Kontraktornya baru dateng jam sepuluh. Aku udah telepon.” Jovan membuka bungkus nasi uduknya, mengambil sendok plastik, lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah persahabatan kami, menyodorkan nasi uduk itu padaku. “Makan. Kamu belum makan dari semalam, kan? Pak Udin bilang kamu turun kayak mayat pakai kemeja disetrika.”

Aku memandangi nasi uduk itu.

“Jovan Hadi,” kataku, “membagi nasi uduknya.”

“Diam dan makan. Ini kejadian sekali seumur hidup. Jangan dirusak.”

Aku makan. Nasi uduknya sudah dingin dan sambalnya terlalu pedas. Air mataku masih jatuh sedikit-sedikit di antara suapan, dan Jovan pura-pura tidak melihat dengan sibuk memandangi apotek.

“Bum,” katanya setelah beberapa saat.

“Hm.”

“Dia nangis di meja itu bukan karena kamu nolak dia.” Jovan memutar helm di dasbor. “Dia nangis karena kamu nolak dirimu sendiri di depan dia. Dan dia nggak tahu caranya bilang ke kamu kalau itu salah.”

Aku berhenti mengunyah.

Di luar, lewat ujung gang, aku bisa melihat sepotong trotoar di depan Kopi Sudut. Pak Udin berdiri di sana, tidak meniup peluit, cuma memandangi kafe dengan topi di tangan.

Dan di balik kaca kafe, di meja nomor tiga, ada seorang perempuan yang masih duduk sendirian, memeluk jaket abu-abu, tidak memesan kopi sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, dia tidak memesan dua kopi.