Chapter Twenty One
Gelas Ketiga
POV: Celine
“Tiga,” kataku.
Mas Dodi berhenti dengan tangan di atas mesin kopi. “Tiga, Mbak?”
“Kopi susu panas gula aren, es kopi gula aren dua sendok buat Pak Udin, sama...” Aku tersenyum. “Teh manis. Gulanya duluan, tunggu larut, aduk tiga kali.”
Mas Dodi memandangiku lama. Lalu dia meletakkan cangkir yang sedang dia pegang, mengusap tangannya di celemek, dan mengulurkan tangan ke seberang meja bar.
Aku menjabatnya, bingung.
“Selamat, Mbak,” kata Mas Dodi dengan suara serius. “Empat tahun saya bikin dua gelas buat Mbak. Hari ini tiga.” Dia mengangguk-angguk sendiri. “Saya catat tanggalnya.”
“Mas Dodi, ini cuma teh.”
“Bukan cuma teh, Mbak.” Dia mulai membuat pesanan. Gelas teh dia siapkan duluan, gula di dasar, air panas dituang, lalu dia diam, menunggu, tidak diaduk. “Ini gelas ketiga.”
Di luar kaca, Pak Udin sudah berdiri di samping posnya dengan topi di dada. Seperti biasa sekarang. Setiap pagi sejak meja nomor tiga punya dua orang, Pak Udin berdiri seperti itu, seperti menghormat bendera, sampai aku keluar membawa es kopinya.
Di meja nomor tiga, di kursi yang kakinya sudah diganjal kertas lipat, Mas Bumi duduk dengan kemeja putih yang disetrika dengan niat. Dia sedang membaca sesuatu di ponsel dengan kening berkerut.
Aku meletakkan teh manis di depannya.
Dia mengangkat kepala, melihat teh itu, lalu melihatku.
“Kamu pesan buat aku?”
“Mulai hari ini, aku yang pesan. Mas yang duduk.”
“Tapi...”
“Pelajaran keempat, Mas. Kalau dipesenin, diminum.”
Dia memandangi gelas itu. Lalu dia mengangkatnya dengan dua tangan, seperti dulu aku memeluk teh manis kiriman Pak Udin di hari Mochi mati, dan menyeruputnya pelan.
“Diaduk tiga kali,” katanya.
“Mas Dodi udah hafal.”
Dia tersenyum ke gelas itu, senyum kecil yang sekarang sudah lebih sering muncul. Aku menghitungnya. Minggu ini sudah dua puluh tiga.
Peletakan batu pertama perpustakaan Cilincing dilakukan hari Sabtu, di bawah tenda putih yang angin lautnya hampir menerbangkan, dengan tiga puluh anak nelayan duduk di tikar plastik di depan.
Bu Hartini memakai kebaya hijau dan kacamata berantai mutiara yang baru. Pak Gunawan, bendahara yayasan, membaca sambutan dari kertas yang terus tertiup angin, sehingga dia harus menangkapnya tiga kali. Pak Lurah datang terlambat, dengan alasan macet, padahal kantornya cuma dua ratus meter dari sana.
Lalu Bu Hartini mengumumkan, “Dan sekarang, sambutan dari arsitek kita, Mas Bumi Wiranata.”
Dia tidak siap. Aku tahu dia tidak siap. Dia sudah bilang ke Bu Hartini tiga kali bahwa dia tidak perlu bicara, dan tiga kali Bu Hartini bilang, Mas, sebentar saja. Anak-anak mau dengar dari yang gambar rumahnya.
Dia berdiri di depan mikrofon dengan wajah pucat. Kertas di tangannya, yang dia tulis semalam dan baca ulang empat belas kali menurut Jovan, bergetar sedikit.
Aku berdiri di barisan paling depan, di samping tikar anak-anak. Aku mengangkat sesuatu ke atas kepala: buku paus biru kecil dari rak di sudut baca rumahnya. Di sampul depannya aku menempelkan kertas bertulisan spidol besar-besar:
MAS BISA.
Dia melihatnya. Aku melihat dia melihatnya. Bahunya, yang tadi naik sampai telinga, turun sedikit.
Dia melipat kertas sambutannya dan memasukkannya ke saku kemeja.
“Adik-adik,” katanya ke mikrofon. Suaranya pelan, tapi tidak bergetar. “Om mau cerita sedikit soal tangganya.”
Anak-anak memandanginya.
“Tangga di perpustakaan kalian nanti, anak tangganya cuma lima belas senti. Pendek. Biar kaki kalian yang kecil nggak capek naiknya.” Dia diam sebentar. “Terus jendelanya, Om bikin rendah. Biar kalau kalian duduk di lantai baca buku, kalian tetap bisa lihat langit. Sama lihat perahu bapak kalian pulang.”
Beberapa ibu di belakang menutup mulut.
“Terus ada satu sudut,” lanjutnya, “yang Om bikin agak gelap. Nggak terlalu terang. Buat yang belum lancar baca. Buat yang malu.” Dia memandang ke tikar, ke barisan paling belakang, ke seorang anak perempuan kecil yang duduk dengan lengan menutupi separuh wajah. Bukan Nayla, tapi anak lain yang sama seperti Nayla. “Malu itu nggak apa-apa. Malu itu butuh tempat sembunyi sedikit. Nanti, kalau udah berani, kalian boleh keluar. Pelan-pelan aja.”
Anak perempuan di barisan belakang itu menurunkan lengannya sedikit.
“Udah,” kata Mas Bumi. “Itu aja. Terima kasih.”
Dia mundur dari mikrofon.
Hening sebentar. Lalu Dimas, yang ikut naik angkot bersama rombongan Rumah Pelangi, berdiri di tikar dan berteriak, “OM BUMI KEREN!” Lalu semua anak bertepuk tangan. Lalu ibu-ibu. Lalu Bu Hartini, yang menangis di balik kacamata berantai mutiaranya. Lalu Pak Lurah, yang tidak mengerti tapi ikut-ikutan.
Mas Bumi berdiri di samping tenda dengan wajah merah sampai ke leher, menggaruk tengkuk.
Dia menoleh mencari sesuatu di keramaian. Dia menemukanku.
Aku menurunkan buku paus biru dari atas kepala dan memeluknya ke dada. Aku tersenyum padanya. Senyum yang lebar, yang lesungnya muncul.
Dia tersenyum balik.
Lalu dia mengucapkan sesuatu tanpa suara, dari seberang tenda, di antara tepuk tangan dan angin laut.
Makasih.
Senin pagi, ketika aku keluar dari Kopi Sudut membawa es kopi, Pak Udin tidak berdiri menghormat seperti biasa.
Dia duduk di bangku kecil di samping posnya, dengan topi di pangkuan, memandangi jendela lantai dua di seberang yang kosong. Mas Bumi sudah naik duluan ke studio, karena dia ada rapat daring dengan kontraktor jam setengah delapan.
“Pak?” Aku menyodorkan es kopi.
Pak Udin menerimanya. Dia tidak langsung menyedotnya. Dia memandangi gelas itu, lalu menepuk bangku di sebelahnya.
“Duduk, Mbak. Sebentar.”
Aku duduk.
Pak Udin diam lama. Angkot lewat. Motor lewat. Kucing belang, Pak Bos, melintas di trotoar dengan ekor tegak, berhenti di depan kakiku, lalu duduk menjilati kakinya sendiri.
“Mbak Celine,” kata Pak Udin akhirnya. “Saya udah tua.”
“Bapak masih sehat, Pak.”
“Iya. Tapi tua.” Dia memutar gelas es kopi di tangannya. “Dan saya udah lama nyimpen sesuatu. Empat tahun. Saya pikir, sekarang Mas Bumi udah turun dari jendelanya, udah duduk di meja Mbak, udah bisa bilang makasih, udah nggak apa-apa kalau saya cerita.”
Aku menahan napas.
“Bukan rahasia gede,” kata Pak Udin cepat. “Cuma... yang saya lihat. Dari bawah sini.”
Dia menunjuk ke jendela lantai dua.
“Empat tahun saya jaga parkir di sini, Mbak. Dari jam enam pagi. Mas Bumi selalu udah di atas sebelum saya dateng. Lampunya udah nyala. Dan jam tujuh lewat sepuluh...” Pak Udin tersenyum kecil. “Tiap hari, Mbak. Tiap hari dia berdiri di situ. Kalau hujan, kalau panas, kalau tanggal merah. Kalau Mbak nggak dateng, dia tetap berdiri di situ sampai jam delapan, baru duduk.”
“Kalau aku nggak dateng?”
“Mbak pernah flu, kan? Dua tahun lalu. Tiga hari nggak dateng.”
Aku ingat. Flu berat, demam, terbaring di kamar Menteng tiga hari.
“Hari pertama, dia berdiri di jendela sampai jam delapan,” kata Pak Udin. “Hari kedua sampai jam setengah sembilan. Hari ketiga dia turun. Turun beneran, Mbak, ke pos saya. Tanya, ‘Pak, Mbak yang beli dua kopi, sakit apa, ya?’ Saya bilang saya nggak tahu. Dia diem. Terus dia naik lagi.” Pak Udin menyedot es kopinya sedikit. “Sorenya ada kiriman ke Rumah Pelangi. Sop buntut, dari restoran Padang di ujung jalan. Mbak Tasya yang terima. Katanya dari ‘penggemar rahasia’.”
Aku ingat sop buntut itu. Tasya membawanya ke Menteng. Kami pikir itu dari salah satu orang tua anak-anak Sabtu dongeng.
“Itu dari dia?”
“Saya yang nganter ke restoran Padang buat pesen. Dia yang bayar.” Pak Udin terkekeh. “Saya cuma yang nganter, Mbak. Kayak biasa.”
Aku memeluk tasku ke dada.
“Terus,” kata Pak Udin. Suaranya berubah. Lebih pelan. “Yang Mbak harus tahu. Pagi waktu Mochi.”
Aku membeku.
“Mbak nangis di meja tiga. Mbak nggak tahu, tapi saya lihat dari sini.” Pak Udin menunjuk ke kaca depan Kopi Sudut, lalu ke atas, ke jendela lantai dua. “Saya lihat Mbak nangis di bawah. Terus saya lihat ke atas. Mau ngecek Mas Bumi udah lihat apa belum.”
Pak Udin diam. Dia memandang ke atas, ke jendela yang kosong itu, seolah masih bisa melihatnya.
“Dia nangis juga, Mbak.”
Pak Bos berhenti menjilati kakinya.
“Mukanya nempel di kaca. Saya lihat jelas, soalnya hujan, lampu studionya nyala, jadi kelihatan dari bawah. Dia nangis. Tangannya megang kusen jendela, kenceng banget. Badannya maju, kayak mau turun. Terus mundur. Terus maju lagi.” Suara Pak Udin bergetar. “Saya kira dia bakal turun. Saya nunggu. Tapi dia nggak turun. Dia cuma berdiri di situ, nangis, lihatin Mbak nangis.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Habis itu dia turun. Tapi bukan ke Mbak. Ke saya. Basah kuyup. Matanya merah. Bawa tisu sama teh manis. Bilang, ‘Buat Mbak yang di meja tiga, Pak. Jangan bilang dari siapa.’” Pak Udin mengusap matanya dengan punggung tangan. “Saya tanya, kenapa nggak Mas aja yang kasih. Tahu dia jawab apa?”
Aku menggeleng. Aku tidak bisa bicara.
“’Saya nggak berhak, Pak. Saya bukan siapa-siapa.’”
Air mataku jatuh. Ke tas di pangkuanku, ke trotoar, ke dekat kaki Pak Bos yang memandangiku dengan mata kuning bulat.
“Saya udah tua, Mbak,” kata Pak Udin pelan. “Saya udah lihat banyak orang jatuh cinta. Bapak saya sama Ibu saya. Saya sama almarhumah. Anak saya sama mantunya. Tapi saya belum pernah lihat orang yang nangis buat orang lain dari jendela lantai dua, karena dia pikir dia nggak boleh turun.”
Dia meletakkan es kopinya di bangku.
“Dan ada satu lagi,” katanya. “Setahun lalu. Waktu Mbak lagi ke luar negeri dua minggu, ke Inggris, kalau nggak salah. Dia turun ke pos saya malam-malam, bawain saya nasi goreng. Kami makan di sini, di bangku ini. Terus dia bilang sesuatu yang saya inget terus.”
“Apa, Pak?”
Pak Udin memandang ke jalan.
“Dia bilang, ‘Pak, kalau suatu hari dia nggak dateng lagi ke sini, karena pindah, atau nikah sama orang lain, saya nggak apa-apa. Saya cuma mau tahu dia bahagia. Kalau Bapak ketemu dia di mana pun, tolong lihat dia bahagia apa nggak. Terus kasih tahu saya.’”
Aku menunduk dan menangis. Di bangku kayu di samping pos parkir, di trotoar depan Kopi Sudut, jam tujuh lewat tiga puluh pagi, dengan orang-orang lewat dan Pak Bos memandangiku dan Pak Udin memegang topinya.
Dia tidak pernah berharap apa-apa. Bahkan dalam bayangannya tentang masa depan, dia tidak ada di dalamnya. Dia cuma ingin tahu aku bahagia, dari jauh, lewat orang lain, lewat tukang parkir yang dia minta tolong mengecek.
“Pak,” kataku terisak. “Kenapa Bapak baru cerita sekarang?”
“Karena sekarang Mbak bisa ngapa-ngapain soal itu.” Pak Udin tersenyum, gigi ompongnya yang satu kelihatan. “Dulu kalau saya cerita, Mbak cuma bisa sedih. Sekarang Mbak bisa naik ke atas, terus peluk dia.”
Aku tertawa di tengah tangis.
“Dan satu lagi, Mbak,” kata Pak Udin, berdiri dan memakai topinya. “Buku gambar. Kulit cokelat tua. Dia gambar Mbak di situ tiap pagi. Saya pernah lihat sekilas waktu nganter teh.”
Aku berhenti bernapas.
“Saya nggak lihat isinya,” kata Pak Udin cepat. “Cuma lihat dia ngegambar. Tiap pagi, jam tujuh lewat sepuluh. Habis Mbak masuk kafe, dia buka bukunya, terus gambar.” Dia menyedot es kopinya sampai habis. “Bukan punya saya buat diceritain lebih dari itu. Tapi saya rasa, Mbak berhak tahu bukunya ada.”
Dia meniup peluitnya ke arah mobil yang mau parkir, dan meninggalkanku di bangku itu.
Aku tidak naik ke studio pagi itu. Aku tidak sanggup. Kalau aku naik dengan mata seperti ini, dia akan panik, dan aku akan menangis lagi, dan dia akan bertanya kenapa, dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tanpa menangis lebih keras.
Jadi aku berjalan ke Rumah Pelangi dan duduk di mejaku, meja yang sudah kupindah ke dekat jendela, dari mana aku bisa melihat ujung jendela lantai dua di atas Kopi Sudut.
Tasya memandangiku dari mejanya. Dia tidak bertanya. Dia cuma berdiri, mengambil sekotak tisu, meletakkannya di mejaku, lalu kembali duduk.
Rio membawakan segelas air putih tanpa bicara.
Aku memandangi jendela itu sepanjang pagi.
Kalau suatu hari dia nggak dateng lagi ke sini, karena pindah, atau nikah sama orang lain, saya nggak apa-apa.
Bagaimana seseorang bisa mencintai seperti itu? Tanpa berharap, tanpa meminta, bahkan tanpa membayangkan dirinya ada di dalam cerita?
Siang, Mas Bumi mengirim pesan.
Bumi 🌏: Pak Udin bilang kamu nangis di bangkunya tadi pagi.
Bumi 🌏: Kamu nggak apa-apa?
Bumi 🌏: Aku boleh turun?
Aku boleh turun. Dia bertanya. Dia meminta izin untuk datang. Setelah semuanya, dia masih meminta izin.
Celine: Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma lagi mikir.
Celine: Nanti sore aku naik.
Bumi 🌏: Oke.
Bumi 🌏: Aku pesenin teh manis buat kamu. Gula duluan.
Aku tertawa, basah, ke layar ponsel.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring di kamarku yang langit-langitnya empat meter, memandangi plafon, dan memikirkan semuanya. Wajah yang menempel di kaca jendela saat hujan. Tangan yang mencengkeram kusen. Badan yang maju, mundur, maju lagi. Saya nggak berhak, Pak. Saya bukan siapa-siapa.
Buku gambar kulit cokelat tua. Tiap pagi jam tujuh lewat sepuluh.
Laci kanan atas yang tidak boleh kubuka. Bukan punya Mbak buat dibuka diam-diam. Nanti dia sendiri yang kasih.
Aku memikirkan lima tahun dan empat tahun. Di jendela ini. Ada satu cerita lagi. Yang paling awal. Cuma ada satu cerita yang nggak pernah Eyang lupa. Waktu itu aku cuma tahu satu hal tentang kamu: kamu suka buku anak-anak.
Ada sesuatu yang menunggu di laci itu. Sesuatu yang lebih besar dari jendela dan meja nomor tiga. Aku bisa merasakannya, seperti merasakan hujan yang belum turun.
Aku mengambil ponsel. Jam satu pagi.
Celine: Mas.
Langsung centang biru. Dia juga belum tidur.
Bumi 🌏: Ya?
Celine: Pak Udin cerita soal buku gambar.
Lama. Lama sekali. Tiga titik muncul. Hilang. Muncul.
Bumi 🌏: Pak Udin.
Celine: Jangan marah sama Pak Udin.
Bumi 🌏: Nggak marah.
Bumi 🌏: Aku cuma lagi mikir, satu deretan ruko itu memang nggak ada yang bisa jaga rahasia.
Aku tertawa ke bantal.
Celine: Aku nggak akan minta lihat, Mas. Itu punya Mas.
Celine: Aku cuma mau Mas tahu, aku tahu bukunya ada. Dan aku nggak apa-apa nunggu.
Tiga titik. Lama. Lebih lama dari Iya di malam sebelum meja nomor tiga. Lebih lama dari Yang belum siap aku.
Lalu:
Bumi 🌏: Besok sore. Jam lima. Studio.
Bumi 🌏: Jovan aku suruh pulang cepet.
Bumi 🌏: Aku kasih lihat.
Aku duduk tegak di kasur, ponsel di dada, jantung berdetak seperti palu.
Bumi 🌏: Semuanya, kecuali halaman pertama.
Bumi 🌏: Halaman pertama... aku belum sanggup. Tapi yang lain boleh.
Celine: Oke, Mas.
Celine: Makasih.
Bumi 🌏: Celine.
Celine: Ya?
Bumi 🌏: Jangan kaget, ya. Isinya banyak banget.
Aku memandangi kalimat itu sampai layarnya mati.
Lalu aku memeluk ponsel itu, memandang langit-langit yang terlalu tinggi, dan untuk pertama kalinya kamar itu tidak terasa gelap. Ada lampu baca kuningan di rumah bata ekspos di Jakarta Selatan, dan ada jendela lantai dua di atas Kopi Sudut, dan ada seseorang yang belum tidur di sana, memikirkan hal yang sama.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga reading
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi