Chapter Twenty Six
Celine, Eyang
POV: Celine
Kijang itu berangkat dari depan gerbang rumah Menteng jam lima pagi, ketika langit Jakarta masih biru tua dan lampu-lampu jalan belum mati.
Aku duduk di kursi penumpang dengan termos besar di pangkuan, termos yang kuisi jam empat pagi di dapur rumah, diawasi Mbak Sri yang mengantuk dan Mama yang tidak bisa tidur. Gula duluan. Air panas dituang. Tunggu larut sendiri. Aduk tiga kali.
Di kursi belakang ada keranjang bambu kecil berisi bunga melati dan mawar putih yang kubeli kemarin sore di pasar bunga Rawa Belong, kendi kecil berisi air, sekotak kue putu yang masih hangat karena Mas Bumi mampir ke gerobak di depan pasar jam empat lewat empat puluh lima, dan tiga gelas belimbing kaca bening dibungkus kain.
Tiga gelas.
Mas Bumi menyetir tanpa bicara. Jendela terbuka sedikit. Udara pagi masuk, dingin dan basah, bau embun dan knalpot truk sayur. Tangannya di setir, dan aku melihat buku-buku jarinya pucat, karena dia menggenggam setir terlalu erat.
“Mas,” kataku pelan. “Udah berapa lama nggak ke makam Eyang?”
Dia diam lama.
“Setahun,” katanya. “Terakhir waktu haul. Sendirian.”
“Rumah Eyang?”
Diam lebih lama.
“Belum pernah aku buka,” katanya. “Sejak pemakaman. Lima tahun.”
Aku meletakkan tanganku di atas tangannya di setir. Dia tidak melepaskan setir, tapi genggamannya melonggar sedikit.
Kampung Eyang ada di lereng di pinggir Bogor, satu jam lebih dari tol, melewati jalan kecil yang berkelok di antara kebun singkong dan rumah-rumah beratap genteng tanah liat. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon-pohon ketika kami sampai. Udaranya dingin, jauh lebih dingin dari Jakarta, dan wanginya tanah basah dan daun.
Mas Bumi memarkir Kijang di depan sebuah masjid kecil bercat hijau.
“Makamnya di belakang,” katanya. “Jalan kaki sedikit.”
Kami berjalan menyusuri jalan setapak tanah di samping masjid. Mas Bumi membawa keranjang bunga dan kendi. Aku membawa termos dan kotak kue putu dan gelas-gelas belimbing. Embun membasahi ujung celana kami. Ayam berkokok di suatu tempat. Seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya berhenti, memandang kami, lalu matanya membesar.
“Lho... Bumi? Bumi, cucunya Pak Wira?”
Mas Bumi berhenti. “Bu Imah.”
Ibu itu, perempuan gemuk berdaster batik dengan kerudung yang dipakai terburu-buru, menjatuhkan sapunya dan berjalan cepat ke arah kami. Dia memeluk Mas Bumi, menepuk-nepuk punggungnya, lalu menarik diri dan memandanginya dari atas sampai bawah.
“Ya Allah, Bumi. Kurus. Kamu kurus. Makan nggak di Jakarta?”
“Makan, Bu.”
“Bohong. Pak Wira pasti sedih lihat kamu kurus begini.” Bu Imah menoleh padaku. Matanya menyipit, memandangiku dengan teliti. “Ini siapa? Istri?”
Mas Bumi tersedak udara.
“Belum, Bu,” kataku sambil tersenyum. “Saya Celine.”
Bu Imah memandangiku lama sekali. Wajahnya berubah pelan-pelan, dari penasaran menjadi berpikir, dari berpikir menjadi tidak percaya.
“Celine,” ulangnya. “Celine...”
Lalu dia memandang termos di tanganku. Lalu memandang gelas-gelas belimbing yang kubawa. Lalu memandang Mas Bumi.
“Bumi,” bisik Bu Imah. “Ini... ini bukan anak teh manis, kan?”
Aku membeku.
Mas Bumi memandang Bu Imah dengan wajah orang yang baru saja ditampar dengan lembut.
“Ibu tahu?” tanyanya pelan.
“Tahu?” Bu Imah menutup mulut dengan tangan. “Bumi, satu kampung tahu! Pak Wira cerita terus! Tiap sore duduk di teras, siapa pun yang lewat, dia panggil. ‘Sini, sini, aku cerita. Tadi ada anak perempuan cantik kasih aku teh manis di Jakarta. Dia mau bikin rumah buat buku.’” Mata Bu Imah berkaca-kaca. “Tiga bulan, Bumi. Tiap hari. Pak Wira udah lupa nama saya, lupa nama Pak RT, lupa jalan ke masjid. Tapi anak teh manis, nggak pernah lupa.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Ibu-ibu pengajian sampai hafal,” lanjut Bu Imah, suaranya bergetar. “Kalau Pak Wira mulai bingung, mulai nangis, kami bilang, ‘Pak, cerita anak teh manis, dong.’ Terus beliau tenang. Terus beliau senyum. Terus beliau cerita lagi dari awal.”
Dia memandangiku, dan air matanya jatuh.
“Ternyata beneran ada,” bisik Bu Imah. “Kami pikir itu cerita orang sakit, Neng. Kami pikir Pak Wira ngarang. Ternyata beneran ada.”
Aku menangis di jalan setapak tanah di samping masjid, jam enam pagi, di depan ibu-ibu yang tidak kukenal, dengan termos teh manis di pelukanku.
Bu Imah memelukku. Dia wangi minyak kayu putih dan bawang goreng.
“Makasih, Neng,” bisiknya di bahuku. “Makasih udah bikin Pak Wira senyum. Kami semua utang sama Neng.”
“Nggak ada utang, Bu,” bisikku, terisak. “Nggak ada utang.”
Makam itu ada di bawah pohon kamboja tua yang batangnya meliuk-liuk. Bunga-bunga putih kekuningan berjatuhan di sekelilingnya, di atas rumput yang basah embun.
Nisannya sederhana. Batu nisan semen dicat putih yang sudah mulai mengelupas, dengan tulisan hitam yang dicat ulang dengan tangan:
WIRANATA
bin Sastro
Dan di bawahnya, tanggal lahir dan tanggal wafat. Lima tahun lalu. Bulan Oktober.
Tanggal sembilan Oktober.
Aku menoleh pada Mas Bumi. Dia tidak memandangku. Dia memandangi nisan itu.
Sembilan Oktober. Tiga tahun lalu, di hari yang sama, dua tahun setelah Eyang wafat, aku menangis di meja nomor tiga karena Mochi mati. Dan dia berdiri di jendela lantai dua, di hari haul Eyangnya, memandangiku menangis, dan menangis bersamaku.
Dia tidak pernah bilang.
Aku menggenggam tangannya. Dia membalas genggamanku, erat sekali, sampai jari-jariku sakit. Aku tidak menariknya.
Kami membersihkan makam itu bersama. Mencabut rumput liar yang tumbuh di pinggir. Menyapu daun kamboja kering. Menyiram tanahnya dengan air dari kendi. Menaburkan bunga melati dan mawar putih di atasnya, sampai tanah merah itu tertutup putih dan wangi.
Lalu Mas Bumi duduk bersila di samping nisan, dan dia berdoa. Lama. Bibirnya bergerak tanpa suara, matanya terpejam.
Aku duduk di sampingnya dan ikut berdoa.
Ketika selesai, aku membuka bungkus kain dan mengeluarkan tiga gelas belimbing kaca bening. Aku meletakkannya di atas rumput di depan nisan, berjajar. Aku membuka termos. Uap tipis naik ke udara pagi yang dingin.
Aku menuang teh manis ke gelas pertama. Ke gelas kedua. Ke gelas ketiga.
Lalu aku menggeser gelas ketiga ke depan, dan meletakkannya tepat di depan nisan, di antara bunga-bunga melati.
Aku berlutut di depan nisan itu. Kedua tanganku di pangkuan.
“Eyang,” kataku.
Suaraku goyang. Aku menarik napas dan mencoba lagi.
“Eyang. Assalamualaikum. Ini aku.”
Angin pagi menggerakkan daun kamboja. Satu bunga jatuh, putih, ke atas gelas teh di depan nisan, mengapung di permukaannya.
“Eyang mungkin nggak inget aku. Kita ketemu sekali. Di warung, di Jakarta, waktu hujan. Eyang cuma pakai sandal sebelah. Eyang nanya ini Bogor apa bukan.” Aku tertawa sedikit, basah. “Eyang ngajarin aku bikin teh manis. Gula duluan, tunggu larut, aduk tiga kali. Satu buat yang bikin, satu buat yang minum, satu buat yang nunggu di rumah.”
Di sampingku, Mas Bumi menunduk.
“Aku bawain teh manis buat Eyang. Bikinan aku sendiri, pakai resep Eyang. Semoga rasanya sama.” Aku menyentuh gelas ketiga itu dengan ujung jari. “Kata Mas Bumi rasanya persis. Tapi Mas Bumi bias. Dia pacarku.”
Mas Bumi mengeluarkan suara kecil, seperti tawa yang tersedak.
“Eyang,” lanjutku, lebih pelan. “Namaku Celine. Celine Florentina. Waktu itu aku nggak sempat kenalan. Aku buru-buru, pesawatku mau berangkat. Maaf ya, Eyang. Aku pergi sebelum cucu Eyang sempat bilang makasih.”
Air mataku jatuh ke rumput.
“Tapi cucu Eyang nggak pernah lupa. Lima tahun, Eyang. Dia nyari aku. Dia nemuin aku. Dia lihatin aku dari jendela empat tahun. Dia nolongin aku seratus empat puluh tujuh kali. Dia ganti ban mobilku di jalan gelap. Dia benerin rak perpustakaan anak-anakku. Dia bawa mamaku ke rumah sakit jam dua pagi.” Suaraku pecah. “Dia nangis buat aku, Eyang. Banyak kali. Diam-diam. Kayak Eyang ngajarin dia buat nggak ngerepotin orang.”
Mas Bumi menutup wajah dengan tangan.
“Dan dia bikinin rumah buat buku, Eyang.” Aku tersenyum ke nisan itu di tengah tangisku. “Kayak janji Eyang ke aku. Dua kali. Satu di Cilincing, buat anak-anak nelayan. Tangganya pendek, jendelanya rendah, ada sudut gelap buat anak yang malu. Satu lagi di rumahnya. Sudut baca hijau sage, kursinya pas buat kakiku. Kakiku nyampe lantai, Eyang. Seumur hidup kakiku gantung di kursi, sekarang nyampe.”
Aku menyentuh nisan itu. Batunya dingin dan sedikit basah oleh embun.
“Cucu Eyang pintar gambar,” bisikku. “Persis kayak kata Eyang. Dia jadi tukang bikin rumah. Rumah gede, rumah bagus. Tapi yang paling bagus, Eyang, dia bikin rumah buat aku. Bukan dari bata. Dari dia sendiri.”
Aku menarik napas panjang.
“Eyang, aku janji jagain dia.” Aku menatap tulisan WIRANATA yang dicat ulang dengan tangan. “Aku janji dia nggak sendirian lagi. Kalau dia sakit, aku yang dateng. Kalau Kijangnya mogok, aku yang bawa kunci roda. Kalau dia sedih, aku yang dengerin. Dia nggak akan duduk di kursi plastik rumah sakit sendirian lagi jam tiga pagi. Nggak akan, Eyang. Aku janji.”
Angin pagi. Bunga kamboja jatuh lagi, satu ke rambutku, satu ke bahu Mas Bumi.
“Satu buat yang bikin,” bisikku, menyentuh gelas pertama. “Satu buat yang minum.” Gelas kedua. “Satu buat yang nunggu di rumah.” Aku menyentuh gelas ketiga, gelas di depan nisan, gelas dengan bunga kamboja mengapung di atasnya.
“Sekarang Eyang nggak usah nunggu lagi,” kataku. “Cucunya udah ada yang nemenin pulang.”
Mas Bumi menangis di sampingku.
Dia tidak bersembunyi. Dia tidak menutup wajah lagi. Dia duduk bersila di samping makam kakeknya, di bawah pohon kamboja, dengan bunga putih di bahunya, dan menangis dengan wajah terbuka, membiarkan air matanya jatuh ke rumput, ke tanah merah, ke bunga melati.
Aku memeluknya dari samping. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Lama sekali kami duduk di sana. Matahari pagi naik pelan-pelan dari balik bukit, menembus kabut, membuat embun di rumput berkilau seperti pecahan kaca. Dari masjid terdengar suara anak-anak mengaji. Dari jalan setapak, Bu Imah dan tiga ibu lain berdiri di kejauhan, tidak mendekat, cuma menonton dengan tangan di dada.
“Celine,” bisik Mas Bumi akhirnya, di bahuku.
“Hm?”
“Nenek namanya Sarinah. Meninggal sebelum aku lahir.” Suaranya serak. “Eyang cerita, Nenek selalu nunggu Eyang pulang dari bengkel tiap sore. Pakai teh manis di meja teras. Gula duluan. Tunggu larut. Aduk tiga kali.”
Aku memejamkan mata.
“Satu buat yang bikin, itu Nenek. Satu buat yang minum, itu Eyang.” Dia menarik napas yang gemetar. “Satu buat yang nunggu di rumah, itu Bapak. Waktu Bapak masih kecil, nunggu Eyang pulang.”
“Mas...”
“Habis Nenek meninggal, Eyang tetap bikin tiga gelas. Tiap sore. Sendirian di teras.” Dia mengangkat kepala dari bahuku dan memandang nisan itu. “Aku baru tahu tadi. Waktu kamu ngomong ke Eyang. Aku baru ngerti kenapa Eyang bikin tiga gelas.”
Aku menggenggam tangannya.
“Sekarang,” kataku pelan, “ada yang bikin, ada yang minum, ada yang nunggu di rumah.”
Dia menoleh padaku.
“Aku yang bikin,” kataku. “Mas yang minum. Dan nanti...” Pipiku panas, tapi aku tidak berhenti. “Nanti ada yang nunggu di rumah.”
Dia memandangiku lama sekali. Matanya merah, basah, dan dalam cahaya pagi yang menembus kabut, ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang tidak pernah kulihat bahkan di jendela lantai dua, bahkan di meja nomor tiga. Dia tidak sedang berharap. Dia sedang percaya bahwa ada masa depan, dan dia ada di dalamnya.
Rumah kayu Eyang ada di ujung kampung, di bawah pohon rambutan yang sangat besar. Pohon itu jauh lebih besar dari pohon muda di halaman belakang rumah Mas Bumi. Daunnya lebat, batangnya penuh lumut, cabang-cabangnya menaungi seluruh atap.
Rumahnya kecil. Satu lantai, dinding papan kayu yang catnya sudah pudar, jendela berkusen kayu jati dengan kaca yang buram oleh debu, teras kecil dengan bangku kayu panjang. Di samping rumah ada bangunan lain yang lebih kecil lagi, beratap seng, dengan pintu besar dari papan.
Bengkel.
Mas Bumi berdiri di depan pintu rumah dengan kunci di tangan. Kunci besi tua yang sudah berkarat, diikat tali rafia merah.
Tangannya gemetar lagi.
“Mau aku yang buka?” tanyaku pelan.
Dia menggeleng. Lalu dia memasukkan kunci itu ke lubangnya, memutarnya dengan dua tangan karena kuncinya macet, dan mendorong pintu.
Pintu itu terbuka dengan derit panjang, seperti napas yang sudah ditahan lima tahun.
Di dalam, gelap dan berdebu. Cahaya pagi masuk dari pintu yang terbuka dan menyinari partikel-partikel debu yang melayang pelan di udara, seperti salju yang tidak mau turun. Ada kursi kayu berukir. Ada lemari kayu jati dengan pintu kaca. Ada meja makan kecil dengan taplak plastik bermotif bunga yang sudah kusam. Di atas meja itu ada tiga gelas belimbing kaca, terbalik, berdebu.
Tiga gelas.
Aku menahan napas.
Mas Bumi berjalan pelan ke dalam. Dia menyentuh sandaran kursi berukir dengan ujung jari, meninggalkan jejak di debu. Dia memandangi lemari, meja, dinding.
Lalu dia berhenti di depan dinding di samping pintu dapur.
Di dinding papan kayu itu, setinggi pinggang orang dewasa, ada gambar. Bukan di kertas, tapi langsung di papan kayu, dengan pensil yang sudah pudar dan arang yang sudah luntur. Gambar rumah. Rumah kecil dengan atap segitiga, jendela kotak, pintu di tengah, cerobong asap yang tidak masuk akal untuk iklim tropis. Di sampingnya, dua orang. Satu besar memakai peci. Satu kecil.
Di bawahnya, huruf-huruf yang besar dan miring dan tidak rapi, tulisan anak kecil:
RUMAH BUAT EYANG. NANTI AKU BIKININ YANG BENERAN.
— BUMI, 9 TAHUN
Aku berdiri di belakangnya, dan aku mengerti.
Aku mengerti dari mana dia berasal. Dari rumah kayu kecil di bawah pohon rambutan, dari bengkel beratap seng, dari tiga gelas belimbing di meja makan, dari anak sembilan tahun yang baru kehilangan orang tuanya dan menggambar rumah di dinding untuk kakek yang menjemputnya, sambil berjanji akan membuat yang beneran.
Dia selalu menepati janji.
Rumah buat Eyang. Rumah buat buku. Rumah buat aku.
Mas Bumi menyentuh gambar itu. Ujung jarinya menyusuri garis atap segitiga yang miring, cerobong asap, dua orang yang berdiri berdampingan.
“Aku lupa ini ada,” bisiknya.
“Eyang nggak hapus,” kataku.
“Eyang nggak pernah hapus apa pun.” Dia tersenyum, kecil, ke dinding itu. “Eyang nggak pernah buang apa pun yang aku bikin.”
Aku melingkarkan lengan di pinggangnya dari belakang dan menempelkan pipiku di punggungnya. Kemejanya wangi kayu. Seperti rumah ini. Seperti Eyang.
“Mas,” bisikku di punggungnya. “Aku tahu sekarang.”
“Tahu apa?”
“Kenapa Mas wangi kayu.”
Dia menunduk, menutupi tanganku di pinggangnya dengan tangannya yang bernoda tinta, dan kami berdiri di sana, di rumah kayu yang berdebu. Cahaya pagi masuk dari pintu yang terbuka, dan gambar rumah dari anak sembilan tahun itu menempel di dinding di depan kami.
Di luar, di bawah pohon rambutan, Bu Imah dan ibu-ibu pengajian sudah berkumpul di pagar. Mereka membawa rantang, termos, dan sapu. Bu Imah memanggil dengan suara keras:
“Bumi! Neng Celine! Kami bantu beres-beres, ya! Pak Wira pasti seneng rumahnya dibuka lagi!”
Mas Bumi menoleh padaku. Matanya merah, tapi dia tersenyum.
“Pelajaran kelima?” tanyanya pelan.
Aku tersenyum balik.
“Kalau satu kampung mau bantu,” kataku, “dibukain pintunya, Mas.”
Dia membuka pintu itu lebar-lebar.
- 1 Dua Gelas Kopi
- 2 Kebetulan Lewat
- 3 Mas Kebetulan
- 4 Laptop Jam Tiga Pagi
- 5 Sketsa dari Balik Jendela
- 6 Pak Udin Tahu Sesuatu
- 7 Halte Jam Delapan
- 8 Dongeng Hari Sabtu
- 9 Telepon Jam Dua
- 10 Dia Selalu Datang Duluan
- 11 Kamu Pantas Dapat yang Lebih
- 12 Giliran Aku Nolong
- 13 Lantai Dua
- 14 Aku Nggak Pernah Kebetulan Lewat
- 15 Pacar Mas Kebetulan
- 16 Orang yang Nggak Mau Ditolong
- 17 Nggak Pernah Ada yang Datang Duluan
- 18 Kebetulan Lewat, Katanya
- 19 Daftar Utang Kebaikan
- 20 Rumah yang Dia Gambar
- 21 Gelas Ketiga
- 22 Buku Gambar Jendela
- 23 Halaman Pertama
- 24 Teh Manis untuk Eyang
- 25 Ternyata yang Duluan Itu Aku
- 26 Celine, Eyang reading
- 27 Meja Makan Florentina
- 28 Belajar Ditolong
- 29 Kali Ini Aku Duluan
- 30 Dua Jendela
- 31 Epilog: Empat Gelas Kopi