← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Nine

Kalau Nggak Diganggu

POV: Devan

Sudah tiga hari Clara tidak menggangguku.

Secara objektif, itu kabar baik.

Tidak ada orang yang mendadak muncul di perpustakaan. Tidak ada yang mencondongkan badan terlalu dekat sambil bertanya apakah telingaku merah. Hidup kembali tenang.

Aku membenci kenyataan bahwa aku menyadarinya.

“Lu kenapa?” tanya Raka.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Lu udah lihat pintu lima kali.”

“Ada orang lewat.”

“Di perpustakaan memang biasanya ada orang lewat.”

Dua baris kemudian pintu terbuka. Aku melihat. Yang masuk dua anak kelas sepuluh.

“Enam kali,” katanya.

“Diam.”

Clara tidak benar-benar menghilang. Aku melihatnya di koridor, di aula bersama Nadine, dan lewat depan kelasku.

Dia hanya tidak datang kepadaku.

Itu seharusnya tidak menjadi kategori kejadian yang berbeda.

Ternyata menjadi.

Jam istirahat kedua, aku pergi ke ruang OSIS dengan alasan yang sepenuhnya masuk akal.

Ada file inventaris yang perlu diperbarui.

Aku memang bisa mengirimnya. Menjelaskan langsung terasa lebih cepat.

Setidaknya itu alasan yang kupilih.

Clara berdiri di depan papan jadwal ketika aku masuk. Dia melihatku dan tersenyum kecil.

“Hai, Van.”

“Hai.”

Lalu dia kembali bekerja.

Aku berdiri di pintu. Entah apa yang kuharapkan. Mungkin serangan. Mungkin komentar soal telinga.

Tidak ada.

Bima mengangkat kepala. “Ada apa?”

“File inventaris.”

“Kirim ke gue aja.”

“Bisa.”

Aku seharusnya pergi.

Aku tidak pergi.

Nadine melihatku, lalu Clara.

Clara akhirnya berbalik. “Van, kamu butuh aku?”

Otakku memperlakukan pertanyaan itu seperti ujian esai.

“Nggak.”

“Oke.”

Aku pulang ke kelas dengan perasaan kalah dalam permainan yang tidak sedang dimainkan siapa pun.

Sore harinya aku bertemu Clara di halte.

“Belum pulang?” tanyaku.

“Baru selesai. Kamu?”

“Perpustakaan.”

Hening.

Bukan heningnya yang aneh. Aku suka hening.

Yang aneh adalah aku ingin dia mengisinya.

“Gimana kerjaannya?”

“Lancar.”

“Nggak capek?”

“Hari ini nggak.”

“Bagus.”

Clara memiringkan kepala. “Kamu kok aneh?”

“Nggak.”

“Biasanya kalau aku diam, kamu kelihatan lega.”

Aku tidak punya jawaban yang aman.

“Van. Kamu kangen aku gangguin?”

Tepat sasaran.

“Nggak.”

“Cepat banget jawabnya.”

“Karena gampang.”

Dia mendekat setengah langkah. Telingaku langsung panas.

Senyum Clara berubah. “Nah.”

“Jangan mulai.”

“Aku belum ngapa-ngapain.”

“Mukamu ngomong.”

Clara tertawa. Suara itu membuat sesuatu di dadaku kembali ke tempatnya.

“Kenapa tiga hari ini nggak ganggu?” tanyaku.

“Aku kira kamu butuh istirahat. Dari aku.”

“Kamu bisa menyebalkan.”

“Tuh.”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

Aku menghela napas.

“Nggak perlu tiga hari.”

Clara diam, lalu tersenyum. Bukan senyum kemenangan.

“Oke.”

Bus berhenti. Sebelum naik, dia menoleh.

“Besok aku ganggu lagi.”

“Terserah.”

Secara objektif, ketenangan tiga hari terakhir memang kabar baik.

Aku hanya baru sadar bahwa ternyata aku tidak terlalu menginginkannya.