Chapter Seven
Selalu Punya Alasan
POV: Devan
Ada alasan aku biasanya membantu tanpa banyak bicara.
Kalau orang tahu kamu bisa memperbaiki sesuatu, mereka akan membawa benda rusak berikutnya.
Hari Senin, benda rusak itu berupa laptop milik kelas X-C.
“Nggak bisa nyala, Kak,” kata seorang junior di depan ruang multimedia.
Aku mengambil laptop.
“Charger?”
“Ada.”
“Tadi terakhir dipakai kapan?”
“Jumat.”
Aku memeriksa kabel, adaptor, lalu tombol daya.
Masalahnya sederhana: konektor longgar.
Lima menit selesai.
Junior itu terlihat lega.
“Makasih banget, Kak. Nanti saya bilang ke Bu Ratih kalau Kak Devan yang benerin.”
“Nggak usah.”
“Tapi—”
“Cuma kabel.”
Aku menyerahkan laptop.
Dia masih ingin bicara, tetapi aku sudah berjalan.
Aku tidak tahu Clara ada di ujung koridor.
Aku baru melihatnya ketika dia menyilangkan tangan dan menghalangi jalan.
“Kamu.”
Aku berhenti.
“Aku.”
“Kenapa nggak mau dikasih kredit?”
Aku melirik ke belakang.
Junior tadi sudah masuk ruangan.
“Dengar dari mana?”
“Aku punya telinga.”
“Objektivitasnya masih diragukan.”
Clara menahan senyum.
“Serius.”
Aku berjalan lagi. Dia ikut di samping.
“Cuma kabel.”
“Tapi kamu bantu.”
“Dia minta.”
“Dan kamu selalu bantu kalau diminta?”
“Kalau bisa.”
“Kenapa?”
Aku menoleh.
“Kenapa harus ada alasan?”
Clara diam.
Jawabanku mungkin terdengar lebih filosofis daripada maksud sebenarnya.
Aku hanya tidak suka melihat masalah kecil menjadi besar kalau bisa selesai dalam lima menit.
Kami sampai di tangga.
Clara masih berjalan di sebelahku.
“Kamu mau ke mana?” tanyaku.
“Ruang OSIS.”
“Tangga satunya lebih dekat.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku mau lewat sini.”
Aku tidak bertanya lagi.
Itu mungkin keputusan paling aman.
Di lantai dua, seorang guru memanggil Clara. Dia berhenti, membahas proposal selama beberapa menit, lalu kembali menyusul.
Aku menunggunya tanpa sadar.
Begitu sadar, aku sudah berdiri di ujung koridor selama hampir tiga menit.
Clara datang sambil membawa tambahan map.
“Kamu nunggu?”
“Kebetulan.”
Senyumnya muncul.
“Kebetulan yang konsisten?”
Aku menyesal pernah mengucapkan kalimat itu.
“Jalan.”
Dia tertawa dan menyusul.
Di ruang OSIS, suasana lebih kacau daripada biasanya.
Bima salah memasukkan jumlah kursi. Nadine sedang menelepon vendor. Dua junior terlihat hampir bertengkar karena desain spanduk.
Clara langsung berubah.
Bukan secara drastis.
Hanya posturnya sedikit lebih tegak, suaranya lebih jelas, dan perhatiannya terbagi ke seluruh ruangan.
“Bima, cek ulang aula dulu. Nadine, setelah telepon selesai kasih aku angka terakhir. Kalian berdua, desain A dan B taruh di meja, kita pilih berdasarkan ukuran cetak.”
Semua bergerak.
Aku berdiri dekat pintu.
Tidak ada yang memintaku melakukan apa-apa.
Aku hampir pergi.
Lalu melihat meja di sudut penuh formulir peminjaman yang belum diurutkan.
Aku duduk.
Dua puluh menit kemudian Clara menghampiri.
“Kamu ngapain?”
“Mengurutkan ini.”
“Aku nggak minta.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku mengangkat bahu.
“Berantakan.”
Clara menatap tumpukan yang sudah rapi, lalu aku.
“Kamu tahu kamu aneh, kan?”
“Katanya.”
Dia menarik kursi dan duduk.
Untuk beberapa detik dia tidak bicara.
Aku melanjutkan menyusun formulir.
“Van.”
“Hm?”
“Makasih.”
Aku berhenti.
Nada suaranya berbeda.
Tidak ada godaan.
Tidak ada eksperimen.
Hanya terima kasih.
Aku mengangguk. “Sama-sama.”
Dia masih duduk.
“Kamu capek?” tanyaku.
“Sedikit.”
“Makan?”
“Belum.”
Aku melihat jam.
Sudah lewat empat.
“Kenapa belum?”
“Tadi ada rapat.”
Aku berdiri.
“Mau ke mana?”
“Minimarket.”
“Kenapa?”
“Beli makan.”
Clara menyipitkan mata.
“Buat siapa?”
“Aku juga belum makan.”
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Aku memang belum makan sejak siang.
Aku juga tidak mengatakan bahwa aku baru merasa lapar setelah tahu dia belum makan.
“Ikut,” katanya.
“Kamu masih kerja.”
“Lima belas menit.”
Aku menatapnya.
Clara tersenyum lebar.
“Aku belajar dari Bima.”
“Buruk.”
“Efektif.”
Kami pergi ke minimarket depan sekolah.
Clara mengambil roti cokelat, aku mengambil roti tuna. Di depan lemari minuman dia berhenti.
“Kopi susu yang kemarin?”
“Boleh.”
Dia mengambil dua botol berbeda, lalu melihatku.
“Yang ini lebih manis. Yang ini biasa.”
“Biasa.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
Clara baru sadar apa yang dia katakan.
“Apa?”
“Kamu ingat?”
“Kamu kasih nilai delapan.”
Aku berhenti.
“Aku bilang tujuh.”
Dia menunjuk wajahku.
“Nah. Berarti delapan.”
Aku tidak punya bantahan yang aman.
Kami kembali ke sekolah sambil makan.
Di gerbang, Clara berhenti.
“Van.”
“Hm?”
“Kamu tadi nunggu aku di koridor.”
“Kebetulan.”
“Terus kamu rapihin formulir tanpa diminta.”
“Berantakan.”
“Terus kamu ngajak beli makan setelah tahu aku belum makan.”
“Aku juga lapar.”
Dia menatapku.
Aku menatap balik.
“Kamu selalu punya alasan, ya?” tanyanya.
“Biasanya.”
Senyumnya kali ini kecil.
“Oke.”
Dia berjalan lagi.
Aku menyusul.
Entah kenapa, aku merasa baru saja lolos dari sesuatu.
Atau justru masuk lebih dalam.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan reading
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal