← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Twenty Seven

Kalau Kamu Tahu

POV: Clara

Hari yang paling melelahkan minggu itu bukan hari dengan pekerjaan paling banyak.

Justru pekerjaan hari Jumat lebih sedikit.

Yang membuatnya berat adalah kursi di sebelahku kosong.

Devan tidak datang.

Bukan karena marah.

Bukan karena ada masalah.

Dia hanya pulang setelah kelas selesai.

Aku tahu karena Raka bilang begitu saat lewat.

“Van udah pulang?”

Aku berusaha terdengar biasa.

“Udah. Katanya lu sibuk.”

“Oh.”

Satu kata.

Seharusnya cukup.

Aku sendiri yang menyuruh Devan tidak perlu menunggu beberapa hari terakhir.

Dia hanya mendengarkan.

Jadi kenapa rasanya seperti ditinggalkan?

Aku membuka laptop.

Menutupnya lagi.

Nadine memperhatikan dari meja seberang.

“Chat.”

“Apa?”

“Kalau mau dia datang, chat.”

“Aku nggak mau dia datang.”

Nadine menatapku.

Aku mengoreksi.

“Maksudku, nggak perlu.”

“Itu dua hal berbeda.”

Aku tahu.

Sangat tahu.

“Aku cuma capek.”

“Bilang.”

“Dia juga lagi capek.”

“Bilang itu juga.”

Aku memutar pena.

“Kalau dia peka, harusnya dia tahu.”

Begitu kalimat itu keluar, aku langsung merasa bersalah.

Nadine tidak menegur.

Itu lebih buruk.

Dia hanya berkata, “Bukannya kalian kemarin bangga sudah saling hafal?”

Aku menatap kursi kosong.

Iya.

Kami sudah hafal.

Devan tahu senyumku.

Tahu kalau aku bilang tidak apa-apa terlalu cepat.

Tahu kalau aku belum makan.

Tahu kalau aku mulai mengambil terlalu banyak pekerjaan.

Jadi kenapa sekarang dia tidak datang?

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Devan.

Sudah makan?

Aku melihat kotak makan yang belum disentuh.

Jari-jariku mengetik:

Sudah.

Aku berhenti.

Menghapus.

Belum.

Berhenti lagi.

Kalau aku tulis belum, dia mungkin datang.

Atau mengkhawatirkan.

Atau merasa harus menolong.

Aku akhirnya menulis:

Sebentar lagi.

Balasannya:

Oke. Jangan lupa.

Aku menaruh ponsel.

Dadaku terasa berat.

Ini konyol.

Aku ingin dia tahu tanpa harus kubilang.

Aku juga sengaja memastikan dia tidak tahu.

Dua hal itu tidak bisa hidup bersama.

Tapi saat capek, logika terasa seperti sesuatu yang dimiliki orang lain.

Jam lima, semua orang pulang.

Aku tetap duduk.

Kursi Devan tetap kosong.

Aku membuka pesan lagi.

Mengetik:

Van.

Menghapus.

Mengetik:

Kamu sibuk?

Menghapus.

Mengetik:

Datang.

Jari berhenti.

Terlalu menuntut.

Aku menghapus lagi.

Akhirnya aku hanya mengirim:

Sudah rumah?

Balasan cepat.

Sudah. Kamu belum?

Belum.

Mau aku tunggu?

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Ini dia.

Kesempatan mudah.

Tinggal jawab iya.

Aku menatap layar.

Lalu mengetik:

Nggak usah. Dikit lagi.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Akhirnya:

Oke.

Aku menutup mata.

Sakitnya langsung datang.

Bodoh.

Sangat bodoh.

Aku ingin dia melawan jawabanku.

Aku ingin dia berkata, “Aku tetap datang.”

Aku ingin Devan yang biasanya paling sulit digerakkan tiba-tiba mengabaikan kata-kataku sendiri.

Tapi dia menghormatiku.

Persis seperti yang seharusnya dilakukan pasangan yang baik.

Dan aku membencinya untuk beberapa detik.

Bukan karena Devan salah.

Karena aku tidak cukup berani mengatakan yang sebenarnya.

Aku ingin kamu di sini.

Kalimat itu terasa terlalu besar.

Terlalu egois.

Terlalu jujur.

Aku menunduk ke meja.

Air mataku tidak jatuh.

Belum.

Aku hanya lelah.

Lalu suara Nadine dari pintu membuatku mengangkat kepala.

Dia ternyata belum pulang.

“Aku lupa charger.”

“Oh.”

Dia mengambil charger.

Kemudian melihatku.

“Clara.”

“Aku baik-baik aja.”

Senyum otomatis keluar.

Nadine tidak tersenyum balik.

Aku langsung membenci senyumku sendiri.

“Jangan lihat aku begitu.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Itu lebih parah.”

Dia mendekat.

“Pulang.”

“Ada satu file.”

“Besok.”

Aku ingin berdebat.

Tidak punya tenaga.

Akhirnya aku menutup laptop.

Saat keluar, aku melihat kursi Devan sekali lagi.

Kosong.

Dulu aku merasa aman karena yakin dia akan selalu tahu.

Hari itu aku mulai memahami sesuatu yang lebih menyakitkan.

Mungkin dia tahu aku tidak baik-baik saja.

Mungkin dia hanya percaya saat aku bilang tidak membutuhkannya.

Dan kalau begitu, siapa yang sebenarnya membuat jarak ini?

Jawabannya terlalu jelas.

Aku.