Chapter Thirty Two
Tidak Pernah Kebal
POV: Clara
Dua minggu setelah festival, hidup kembali normal.
Versi normal yang baru.
Ruang OSIS tidak lagi dipenuhi map sampai meja hilang.
Bima sudah kembali salah menghitung barang dalam jumlah yang masih bisa ditoleransi.
Nadine kembali punya suara penuh dan menggunakannya untuk mengkritik semua orang.
Devan tetap duduk di kursinya.
Ya.
Kursinya.
Tidak ada yang mempertanyakan lagi.
Hari Jumat, aku masuk ruang OSIS dan menemukan kopi susu di meja.
“Van.”
“Hm?”
“Kamu beli?”
“Iya.”
“Aku belum bilang mau.”
“Kamu selalu mau.”
Aku tersenyum.
“Kita sudah hafal?”
Devan mengangkat kepala dari buku.
“Sebagian.”
Jawaban yang jauh lebih baik daripada dulu.
Aku duduk di sebelahnya.
“Kalau yang nggak hafal?”
“Tanya.”
“Kalau butuh?”
“Bilang.”
“Kalau kangen?”
Dia menatapku.
Aku tersenyum lebar.
Telinganya mulai merah.
Indah.
“Bilang,” jawabnya.
“Aku kangen.”
“Kita ketemu pagi.”
“Bukan jawaban.”
Devan menghela napas.
“Aku juga.”
Aku merasa menang.
Masih menyenangkan.
Setelah rapat selesai, kami pergi ke perpustakaan.
Tempat semuanya dimulai.
Raka sudah ada di meja belakang.
Begitu melihat kami, dia mengangkat alis.
“Wah. TKP.”
Aku tertawa.
Devan menatapnya.
“Pergi.”
“Ini perpustakaan umum.”
“Meja lain.”
Raka membawa bukunya sambil tertawa.
Aku duduk di kursi seberang Devan.
Persis seperti pertama kali.
Dia membuka buku.
Aku menopang dagu.
Menatapnya.
Devan membaca dua baris.
Berhenti.
“Apa?”
“Nggak ada.”
“Kamu kalau bilang begitu biasanya ada.”
Aku tersenyum.
“Kamu ingat pertama kali kita duduk begini?”
“Iya.”
“Aku bilang bakal bikin kamu gugup.”
“Iya.”
“Kamu bilang apa?”
Devan menatap buku.
Aku menunggu.
“Semoga berhasil.”
Aku tertawa.
“Nyebelin banget.”
“Katanya.”
Aku berdiri.
Berjalan mengitari meja.
Devan langsung tahu.
Matanya mengikutiku.
Aku berhenti di samping kursinya.
Sama seperti dulu.
“Tahu nggak?” tanyaku.
“Apa?”
“Aku menang.”
“Menang apa?”
“Aku akhirnya bisa bikin kamu gugup.”
Devan menatapku.
Aku mendekat sedikit.
Tidak terlalu dekat.
Cukup.
Telinganya merah.
Aku menunjuk dengan puas.
“Bukti.”
Devan menghela napas.
Lalu menutup bukunya.
“Ada masalah.”
“Apa?”
“Kamu salah dari awal.”
Aku mengernyit.
“Salah apa?”
Dia melihatku.
Wajahnya tetap tenang.
Tapi sekarang aku tahu semuanya.
Jeda kecil.
Tangan yang masuk saku.
Napas yang sedikit pendek.
Telinga yang tidak pernah bisa bohong.
“Aku nggak pernah kebal,” katanya.
Aku berhenti.
“Apa?”
“Dari awal.”
Aku menatapnya.
Devan melanjutkan dengan nada datar yang sama.
“Waktu kamu datang ke perpustakaan pertama kali, aku sudah gugup.”
Aku tidak bergerak.
“Waktu aku mendekat?”
“Iya.”
“Waktu aku bilang bakal bikin kamu gugup?”
“Sudah.”
“Terus kamu bilang semoga berhasil?”
“Iya.”
“Van.”
“Hm?”
“Itu penipuan.”
“Bukan.”
“Kamu bikin aku kerja keras berminggu-minggu.”
“Aku nggak minta.”
Aku memukul bahunya pelan.
Devan tertawa.
Aku menatapnya dengan tidak percaya.
“Jadi dari awal aku sudah menang?”
Dia berpikir.
“Kalau itu yang kamu mau.”
Aku menyilangkan tangan.
“Kenapa nggak bilang?”
“Panik.”
“Wajahmu datar.”
“Itu karena panik.”
Aku menutup mata.
Semua kejadian lama tiba-tiba berubah bentuk.
Perpustakaan.
Ruang OSIS.
Gudang.
Halte.
Telinga merah.
Tangan masuk saku.
Cowok ini tidak pernah kebal.
Dia hanya sangat pandai terlihat seperti itu.
Aku membuka mata.
Devan masih melihatku.
Aku tersenyum.
“Kalau sekarang?”
“Apa?”
“Masih gugup?”
Dia melihat wajahku.
Lalu tanganku.
Lalu kembali ke mata.
“Iya.”
Jawabannya langsung.
Tidak ada alasan.
Tidak ada persembunyian.
Aku merasa dadaku hangat.
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Berarti aku masih punya efek.”
“Percaya diri.”
“Aku ketua OSIS.”
“Itu tetap nggak relevan.”
Aku tertawa.
Beberapa hal memang tidak perlu berubah.
Aku mengulurkan tangan.
Devan menggenggamnya tanpa ragu.
Tidak menunggu.
Tidak pura-pura.
Aku duduk di kursi sebelahnya, bukan kembali ke seberang.
Kepalaku bersandar di bahunya.
“Van.”
“Hm?”
“Aku sayang kamu.”
Dia diam.
Satu detik.
Dua.
Telinganya merah.
Aku hampir menggoda.
Hampir.
Lalu Devan menjawab.
“Aku juga sayang kamu.”
Aku tersenyum.
Tidak ada permainan.
Tidak ada tes.
Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Di meja belakang, Raka bersin terlalu keras.
Aku tertawa.
Devan menutup wajah dengan satu tangan.
Perpustakaan tetap sepi.
Kurang lebih.
Dan cowok yang dulu kukira tidak bisa kugoda ternyata sejak awal sudah kalah.
Masalahnya, aku juga.
Untungnya, kali ini kami sama-sama menang.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal reading