Chapter Thirty
Minta Tolong
POV: Clara
Festival Arunika dimulai pukul tujuh pagi.
Aku datang pukul lima lewat empat puluh.
Itu sudah merupakan kemajuan.
Tahun lalu aku datang pukul lima.
Nadine menyebutnya perkembangan karakter.
Aku menyebutnya alarm yang tidak berbunyi.
Begitu masuk gerbang, semuanya bergerak cepat.
Panitia membawa meja.
Vendor mengecek panggung.
Anak-anak kelas sepuluh berlari membawa kabel.
Bima berdiri di tengah lapangan sambil memegang handy talky seperti komandan perang yang salah memilih profesi.
“Ketua!”
Aku baru tiga langkah masuk.
“Apa?”
“Stand makanan minta tambahan dua meja.”
Refleks lama muncul.
Aku hampir bilang aku urus.
Aku berhenti.
Menarik napas.
“Hubungi divisi perlengkapan.”
Bima berkedip.
“Oh.”
“Kenapa?”
“Nggak. Bagus.”
Aku menatapnya.
Dia kabur.
Lima menit kemudian junior publikasi datang.
“Kak, banner depan miring.”
Aku melihat ke arah gerbang.
Bisa kubetulkan.
Mudah.
Aku tahu di mana tali cadangan.
Mulutku hampir terbuka.
Lalu aku melihat Nadine.
Dia tidak berkata apa-apa.
Hanya mengangkat alis.
Aku menghela napas.
“Panggil Fajar dari perlengkapan. Bilang aku yang minta.”
“Siap.”
Junior itu pergi.
Aneh.
Mendelegasikan terasa seperti melanggar aturan yang tidak pernah ada.
Jam enam lewat dua puluh, Devan datang.
Dia memakai kaus panitia hitam yang dipinjamkan Bima, meskipun secara teknis dia tetap bukan panitia.
Tulisan di punggungnya:
FESTIVAL ARUNIKA — CREW.
Aku langsung tertawa.
Devan berhenti.
“Apa?”
“Anggota tidak resmi akhirnya punya seragam.”
“Aku dipaksa.”
“Cocok.”
Dia menatapku.
Telinganya memerah sedikit.
Aku tersenyum puas.
Beberapa hal tidak perlu berubah.
“Sudah makan?” tanyanya.
“Sudah.”
Dia menatapku.
Kali ini jawabanku benar.
Aku menunjuk bungkus roti di meja registrasi.
“Bukti.”
“Bagus.”
“Aku bangga sekali mendapat persetujuan.”
“Kamu harusnya.”
Aku hendak membalas ketika handy talky Bima berbunyi.
Suara panik keluar.
“Clara, kabel panggung samping nggak kebaca labelnya.”
Aku melihat Devan.
Dia sudah mengulurkan tangan.
“Kasih.”
“Apa?”
“Handy talky.”
Aku menyerahkan.
“Bima, foto labelnya kirim.”
Suara Bima terdengar, “Van?”
“Iya.”
“Kenapa lu—”
“Foto.”
“Siap.”
Aku menahan tawa.
Devan mengembalikan alat.
“Lima menit.”
“Kamu mau ke sana?”
“Iya.”
Aku hampir bilang aku ikut.
Kemudian teringat aturan baru kami.
Kalau penting, bilang.
Kalau butuh, minta.
“Van.”
“Hm?”
“Tolong urus itu.”
Dia menatapku.
Hanya satu detik.
Lalu mengangguk.
“Oke.”
Satu kata yang dulu pernah membuatku kesal.
Hari itu terasa berbeda.
Aku tersenyum.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Dia pergi ke arah panggung.
Aku tetap di meja registrasi.
Tidak mengejar.
Tidak memeriksa.
Tidak mengambil alih.
Ternyata dunia tidak runtuh.
Lebih mengejutkan lagi, masalah selesai tanpa aku.
Jam sembilan, acara pembukaan dimulai.
Bu Ratih berdiri di sampingku.
“Bagus, Clara.”
“Apanya, Bu?”
“Kamu kelihatan lebih santai.”
Aku melihat lapangan.
Bima mengatur perlengkapan.
Nadine mengurus tamu.
Junior publikasi memotret.
Devan berdiri dekat sound system.
Semua bergerak.
Tanpa aku mengendalikan setiap detail.
“Sedikit,” kataku.
Bu Ratih tersenyum.
“Pemimpin bukan orang yang mengerjakan semuanya.”
Aku mengangguk.
Kalimat itu dulu mungkin akan membuatku defensif.
Hari ini tidak.
Menjelang siang, masalah besar pertama muncul.
Salah satu pengisi acara terlambat.
Rundown kosong dua puluh menit.
Semua orang melihatku.
Dulu aku akan langsung mengambil papan jadwal.
Hari ini aku melihat Nadine.
“Bisa atur tukar sesi?”
“Bisa.”
Aku melihat Bima.
“Panggung?”
“Aman.”
Aku melihat junior MC.
“Kamu bisa isi lima menit?”
Dia menelan ludah.
“Bisa, Kak.”
Aku mengangguk.
“Bagus. Tolong.”
Semua bergerak.
Masalah selesai.
Aku berdiri diam.
Devan muncul di sampingku membawa kopi susu.
“Ini.”
Aku menerima.
“Nilai berapa?”
“Belum diminum.”
“Festivalnya.”
Aku menatapnya.
“Delapan.”
“Kenapa bukan sepuluh?”
Aku tersenyum.
“Biar ada festival tahun depan.”
Devan menghela napas.
Aku tertawa.
Kemudian, tanpa merasa malu, aku berkata, “Van.”
“Hm?”
“Aku capek.”
Dia mengangguk.
“Mau duduk?”
“Iya.”
Kami duduk di tangga aula selama lima menit.
Hanya lima.
Dunia tetap berjalan.
Festival tetap berjalan.
Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi ketua OSIS, aku tidak merasa bersalah karena membiarkannya berjalan tanpa aku.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong reading
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal