Chapter Eleven
Kalau Begitu, Pacaran
POV: Devan
Aku menghabiskan satu malam untuk memikirkan kalimat yang seharusnya sederhana.
Aku suka Clara.
Masalahnya bukan mengetahui itu. Masalahnya adalah apa yang harus dilakukan setelah mengetahuinya.
Raka, tentu saja, tidak membantu.
“Tembak.”
“Jangan pakai istilah itu.”
“Nyatakan cinta.”
“Lebih buruk.”
“Lamar.”
Aku menutup buku. “Aku pindah meja.”
Raka tertawa. “Bilang yang bener aja, Van.”
Itu nasihat paling berguna yang pernah keluar dari mulutnya.
Sore hari aku menunggu Clara di halte.
Kali ini bukan kebetulan, perpustakaan, atau OSIS. Aku datang karena ingin bertemu dia.
Clara muncul sepuluh menit kemudian.
“Kamu beneran nyari lagi.”
“Iya.”
“Ada apa?”
“Ada.”
Clara tidak menggoda. Itu justru membuat semuanya lebih sulit.
“Kemarin aku bilang mungkin nggak salah.”
“Aku ingat.”
Aku memasukkan tangan ke saku.
“Maksudku…”
Kalimat berhenti. Clara menunggu. Tidak mendesak. Tidak menyelamatkanku.
Baik.
“Aku suka kamu.”
Sudah.
Ternyata dunia tidak meledak.
Clara diam. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, dia benar-benar kehabisan kata.
“Oh,” katanya.
Aku hampir tertawa. “Itu jawabannya?”
“Tunggu. Jangan lihat.”
Dia menutup wajah. Aku memalingkan wajah.
“Van.”
“Hm?”
“Kamu beneran suka aku?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Nggak tahu. Aku baru sadar jelasnya kemarin.”
“Jawaban jelek.”
Clara menurunkan tangan. Pipinya sedikit merah.
Menarik. Aku tidak akan menunjuk. Aku masih ingin hidup.
“Aku juga suka kamu,” katanya.
Sekarang giliranku diam.
Matanya turun ke telingaku. Senyumnya kembali.
“Merah.”
“Jangan.”
“Merah banget.”
“Clara.”
Dia tertawa.
Aneh. Kami baru saling mengaku suka dan permainan telinga ini masih berjalan.
“Terus sekarang gimana?” tanyanya.
“Maksudnya?”
“Kita.”
Aku tidak punya jawaban.
Clara menyilangkan tangan. “Kamu suka aku.”
“Iya.”
“Aku suka kamu.”
“Iya.”
“Kalau begitu, pacaran?”
Aku menatapnya.
Dia mengangkat alis. “Sederhana, kan?”
Aku tidak bisa menahan senyum. “Iya.”
“Iya sederhana atau iya pacaran?”
“Iya pacaran.”
Clara tersenyum lebar. “Resmi?”
“Resmi.”
Dia mengulurkan tangan.
“Kesepakatan lagi?”
“Nggak. Pacar.”
Aku memasukkan tanganku ke tangannya.
Clara menggenggam. Tidak seperti jabat tangan dulu. Kali ini jari kami benar-benar saling mengisi.
Aku tidak tahu harus melihat ke mana. Clara jelas tahu. Dia melihat telingaku.
“Jangan komentar.”
“Aku belum ngomong.”
“Mukamu ngomong.”
Dia tertawa.
“Van. Berarti mulai sekarang aku boleh gangguin kamu lebih banyak?”
“Aku bisa batal?”
“Nggak bisa.”
“Cepat sekali aturannya.”
“Aku ketua OSIS.”
“Itu nggak relevan.”
“Sekarang relevan.”
Aku menghela napas.
Tapi aku tidak melepas tangannya.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran reading
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal