Chapter Thirteen
Rahasia yang Buruk
POV: Devan
Kami tidak pernah sepakat merahasiakan hubungan.
Kami juga tidak pernah mengumumkannya.
Entah bagaimana itu berubah menjadi operasi rahasia paling buruk dalam sejarah SMA Arunika.
“Lu kenapa duduk sebelah Clara terus?” tanya Raka.
“Kerja.”
“Kenapa pulang bareng?”
“Searah.”
“Kenapa kemarin gue lihat dia gandeng tangan lu?”
Aku berhenti.
Raka tersenyum lebar. “Kena.”
“Kamu salah lihat.”
“Van, gue pakai kacamata.”
“Justru itu.”
Masalahnya bukan hanya Raka.
Di ruang OSIS, Bima mulai pergi setiap kali Clara duduk di sebelahku.
Nadine tidak pergi. Nadine lebih buruk. Dia hanya melihat.
Hari Kamis, Clara datang ke kelas membawa map.
Semua orang melihat.
“Devan, sebentar.”
Aku berdiri.
Raka berbisik, “Semoga berhasil.”
Di koridor Clara menyerahkan map.
“Ini data vendor.”
“Bisa kirim.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Dia tersenyum.
Aku langsung tahu map itu alasan.
“Kangen,” katanya pelan.
Aku menatapnya.
Koridor penuh siswa.
“Kita baru ketemu tadi pagi.”
“Sudah tiga jam.”
“Itu bukan lama.”
“Buat aku lama.”
Telingaku panas.
Clara tampak puas.
“Alasan sebenarnya?” tanyaku.
“Mau makan siang bareng.”
“Oh.”
“Mau?”
“Iya.”
Masalah berikutnya muncul di kantin.
Kami baru duduk ketika Raka datang membawa nampan. Nadine muncul dari arah lain.
Keduanya melihat kursi kosong di meja kami.
Lalu saling melihat.
Aku tahu bencana akan terjadi.
“Boleh gabung?” tanya Raka.
“Boleh,” jawab Clara.
Nadine duduk di samping Clara. Raka duduk di sampingku.
Makan siang berlangsung normal selama empat menit.
Lalu Clara, tanpa melihat ke bawah, menyentuh tanganku di bawah meja.
Aku hampir menjatuhkan sendok.
Raka menatapku.
“Kenapa?”
“Nggak.”
Clara menggenggam satu jariku.
Aku menatapnya.
Dia sedang bicara dengan Nadine seolah tidak melakukan kejahatan.
Aku mencoba menarik tangan.
Dia tidak melepas.
Raka menyipitkan mata.
Aku menendang kaki Clara pelan.
Dia menendang balik.
Nadine berhenti makan.
Matanya turun ke bawah meja.
Lalu kembali ke Clara.
“Ketua,” katanya.
“Hm?”
“Kalau mau merahasiakan sesuatu, sebaiknya jangan main kaki di bawah meja.”
Clara membeku.
Raka menoleh kepadaku.
Aku menutup mata.
Hening dua detik.
Lalu Raka memukul meja.
“GUE TAHU.”
“Pelan,” kataku.
“KALIAN PACARAN?”
“Pelan.”
Clara menutup wajah sambil tertawa.
Nadine mengangguk kecil. “Akhirnya.”
“Kamu tahu?” tanya Clara.
“Sejak kamu membawa map kosong ke kelasnya.”
Aku menatap Clara.
“Map kosong?”
Dia masih tertawa. “Aku butuh alasan.”
Raka menunjuk kami bergantian. “Sejak kapan?”
“Dua hari,” jawab Clara.
“Dan lu nggak bilang ke gue?” Raka menatapku seolah aku mengkhianati negara.
“Aku juga nggak bilang ke siapa-siapa.”
“Itu lebih buruk.”
Aku menghela napas.
Rahasia kami bertahan dua hari.
Secara teknis, itu lebih lama daripada perkiraanku setelah melihat cara Clara memegang tangan di bawah meja.
Aku menoleh kepadanya.
Dia masih tersenyum.
Entah kenapa, aku tidak terlalu keberatan ketahuan.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk reading
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal