Chapter Twenty Three
Giliran Aku
POV: Devan
Aku tidak suka telepon dari Ayah pada jam sekolah.
Bukan karena Ayah sering membawa kabar buruk.
Justru karena beliau hampir tidak pernah menelepon saat jam sekolah.
Ketika layar ponsel menyala dengan namanya di jam istirahat, aku langsung keluar kelas.
“Yah?”
Suara di seberang terdengar biasa.
Terlalu biasa.
Ayah bilang proyeknya diperpanjang.
Dua bulan.
Mungkin tiga.
Ibu sudah tahu.
Aku juga seharusnya tidak kaget.
Beliau memang sering kerja di luar kota.
Aku sudah terbiasa.
Setidaknya itu yang kukatakan.
“Ya sudah,” kataku.
Ayah diam sebentar.
“Van, kamu nggak apa-apa?”
“Iya.”
Jawabannya keluar terlalu cepat.
Aku tahu.
Ayah mungkin juga tahu.
Tapi beliau tidak memaksa.
Setelah telepon selesai, aku berdiri di koridor beberapa menit.
Tidak ada masalah nyata.
Ayah sehat.
Ibu sehat.
Rumah tetap sama.
Hanya sedikit lebih sepi.
Sedikit lebih lama.
Aku memasukkan ponsel ke saku.
“Van?”
Aku menoleh.
Clara berdiri beberapa meter dariku membawa map biru.
Tentu saja.
Aku seharusnya bisa tersenyum normal.
Masalahnya, aku tidak pandai tersenyum normal.
“Kenapa di sini?” tanyanya.
“Telepon.”
“Dari siapa?”
“Ayah.”
Dia melihat wajahku.
Aku tahu dia melihat terlalu banyak.
“Semua oke?”
“Iya.”
Clara tidak menjawab.
Aku berjalan.
Dia ikut.
“Rapat nanti jam tiga,” katanya.
“Oke.”
“Bima minta kamu lihat file sound system.”
“Oke.”
“Dan aku punya pertanyaan.”
Aku menoleh.
“Kenapa kamu rapihin tali tas yang sudah rapi tiga kali?”
Tanganku berhenti.
Sial.
“Aku nggak.”
“Van.”
“Refleks.”
“Tanganmu masuk saku juga.”
Aku tidak menjawab.
Clara berdiri di depanku, menghalangi jalan.
Tidak agresif.
Tidak menggoda.
Hanya berdiri.
“Cerita.”
“Nggak ada.”
“Bohong.”
“Ayah cuma memperpanjang proyek.”
“Berapa lama?”
“Dua bulan. Mungkin tiga.”
“Oh.”
Dia diam.
Aku sudah menyiapkan jawaban berikutnya.
Nggak masalah.
Sudah biasa.
Aku baik-baik saja.
Clara mengalahkanku sebelum satu pun keluar.
“Kamu nggak harus kelihatan baik-baik saja di depanku.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu terasa familiar dengan cara yang tidak menyenangkan.
Aku pernah mengatakannya.
Sekarang kalimat itu kembali.
Tepat.
Tidak bisa dihindari.
Aku menghela napas.
“Aku tahu.”
“Bener?”
“Nggak.”
Clara menunggu.
Aku melihat lantai.
“Aku cuma…”
Kalimat macet.
Dia tidak menyelamatkan.
Bagus.
“Aku tahu ini bukan masalah besar.”
“Siapa bilang harus besar?”
“Ayah memang kerja begitu.”
“Iya.”
“Jadi harusnya biasa.”
“Harusnya?”
Aku menutup mata sebentar.
“Mungkin aku cuma capek rumah sepi.”
Itu kalimat paling jujur yang kuucapkan hari itu.
Clara tidak bilang kasihan.
Tidak bilang semangat.
Dia hanya mengambil tanganku.
“Kalau begitu nanti pulang ke rumahku.”
Aku menatapnya.
“Niko berisik.”
“Justru.”
“Ibumu bakal nambah nasi tiga kali.”
“Bagus.”
“Ayahmu bakal ngajak debat bola.”
“Lebih bagus.”
Aku hampir tertawa.
Clara tersenyum.
“Nah.”
“Apa?”
“Lebih hidup.”
Aku menggeleng.
“Manipulatif.”
“Aku ketua OSIS.”
“Itu tetap nggak relevan.”
“Buat aku selalu relevan.”
Telingaku mulai panas.
Aneh.
Beberapa menit lalu aku ingin pulang ke rumah kosong.
Sekarang aku justru membayangkan meja makan yang berisik.
Clara mempererat genggamannya.
“Jam lima?”
Aku mengangguk.
“Oke.”
Dia menarikku berjalan.
Untuk pertama kalinya aku sadar sesuatu.
Menerima bantuan terasa lebih sulit daripada memberi.
Mungkin karena menerima berarti mengakui ada bagian diri yang tidak cukup kuat sendirian.
Aku belum terbiasa.
Tapi kalau orang di sampingku adalah Clara, mungkin aku bisa belajar.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku reading
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal