← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Twenty Six

Ruang yang Kuberi

POV: Devan

Aku tahu Clara menjauh sebelum aku tahu kenapa.

Bukan menjauh seperti tidak mau bertemu.

Dia tetap datang.

Tetap tersenyum.

Tetap menggandeng tangan kalau kami kebetulan pulang bersama.

Masalahnya, hampir semuanya terasa lebih pendek.

Percakapan lebih pendek.

Waktu bersama lebih pendek.

Jawaban lebih pendek.

“Aku tunggu?”

“Nggak usah.”

“Mau makan?”

“Nanti.”

“Masih ada kerjaan?”

“Sedikit.”

Semua kalimat masuk akal.

Justru itu yang membuatku sulit membantah.

Raka melihatku melamun di kelas.

“Berantem?”

“Nggak.”

“Yakin?”

“Iya.”

“Kok muka lu kayak orang ditinggal bus?”

Aku menatapnya.

“Wajahku biasa.”

“Justru itu. Kalau makin biasa berarti ada masalah.”

Aku mulai membenci orang-orang yang belajar membacaku.

Sore itu aku datang ke ruang OSIS.

Clara sedang bicara dengan Bu Ratih.

Aku duduk di kursiku.

Menunggu.

Setelah Bu Ratih pergi, Clara menghampiri.

“Van.”

“Hm?”

“Kamu datang.”

“Iya.”

Dia tersenyum.

“Maaf, hari ini kayaknya aku sibuk banget.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku mungkin pulang malam.”

“Oke.”

Clara diam sepersekian detik.

Aku melihatnya.

Ada sesuatu di matanya.

Aku hampir bertanya.

Hampir.

Lalu aku ingat percakapan beberapa hari terakhir.

Dia sudah beberapa kali bilang tidak perlu menunggu.

Dia bilang bisa.

Dia bilang baik-baik saja.

Kalau aku terus menekan, mungkin aku hanya membuatnya merasa diawasi.

Aku tidak mau jadi pacar yang mengatur.

Aku tidak mau semua perhatian berubah menjadi tekanan.

Jadi aku berdiri.

“Aku pulang dulu.”

Senyumnya muncul.

“Ya.”

Terlalu cepat.

Aku memasukkan laptop ke tas.

Clara melihat tanganku.

“Kamu nggak apa-apa?”

Sekarang giliranku yang punya jawaban mudah.

“Iya.”

Dia menatapku.

Aku menunggu dia membongkar kebohongan itu.

Dia tidak.

“Chat kalau sudah sampai,” katanya.

“Oke.”

Aku pergi.

Di koridor, langkahku melambat.

Setiap bagian tubuhku ingin kembali.

Duduk di kursi itu.

Menunggu.

Bertanya lagi.

Tapi ada suara lain di kepala.

Beri dia ruang.

Dia tahu kamu ada.

Kalau dia butuh, dia akan bilang.

Masuk akal.

Sangat masuk akal.

Aku membenci betapa menyakitkannya sesuatu yang masuk akal.

Malamnya, Clara mengirim pesan pukul sembilan.

Sudah rumah?

Sudah.

Kamu?

Baru.

Istirahat.

Iya.

Percakapan selesai.

Aku melihat layar.

Dulu dia akan mengirim foto makanan, stiker aneh, atau mengeluh soal Bima.

Sekarang tidak.

Aku mengetik:

Kamu beneran nggak apa-apa?

Jempolku berhenti di tombol kirim.

Aku hapus.

Kalau dia capek, pertanyaan itu mungkin jadi satu hal lagi yang harus dijawab.

Aku mengganti dengan:

Tidur jangan malam.

Balasan datang:

Siap, Pak.

Ada emoji tertawa.

Aku tersenyum sedikit.

Lalu layar mati.

Besoknya sama.

Hari berikutnya juga.

Aku mulai percaya bahwa memberi ruang adalah hal paling baik yang bisa kulakukan.

Masalahnya, ruang bisa berubah bentuk kalau terlalu banyak.

Dari tempat bernapas.

Menjadi jarak.

Aku belum tahu itu.

Yang kutahu hanya satu:

Aku sayang Clara.

Dan karena sayang, aku memilih tidak mengganggu.

Ternyata niat baik tetap bisa salah.