← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Eight

Senyum yang Nggak Perlu

POV: Clara

Ada jenis capek yang bisa diselesaikan dengan tidur.

Ada juga jenis capek yang tetap duduk di bahu meskipun kita sudah minum dua gelas air, makan tepat waktu, dan bilang kepada semua orang bahwa kita baik-baik saja.

Hari Rabu, aku mendapat jenis yang kedua.

Pagi dimulai dengan guru meminta revisi proposal. Siang dilanjutkan dengan vendor panggung mengubah jadwal. Sore, dua kelas menarik diri dari pertunjukan karena bentrok latihan.

Tidak ada yang benar-benar salah.

Tidak ada yang berniat membuatku repot.

Justru itu masalahnya.

Semua datang dengan wajah bersalah dan kalimat yang masuk akal.

“Maaf, Kak, jadwalnya bentrok.”

“Clara, bisa tolong revisi bagian ini?”

“Kak, kalau stand kami pindah satu blok boleh?”

“Clara, Bu Ratih minta rekap sebelum pulang.”

Aku menjawab semuanya dengan variasi yang sama.

“Bisa.”

“Tenang.”

“Nggak masalah.”

“Aku urus.”

Menjelang pukul lima, ruang OSIS akhirnya kosong.

Nadine pulang lebih dulu setelah kupaksa karena ia ada les. Bima pergi ke aula. Junior-junior sudah selesai tugas.

Aku sendirian.

Bagus.

Aku suka sendirian sesekali.

Aku menatap layar laptop.

Angka-angka di tabel mulai terlihat seperti bahasa asing.

Aku menyandarkan kepala ke kursi.

Lima menit saja.

Pintu terbuka.

Aku langsung duduk tegak.

“Belum pulang?”

Devan.

Entah kenapa aku lega.

Itu reaksi yang tidak ingin kupikirkan terlalu dalam.

“Belum.” Aku tersenyum. “Ketua OSIS teladan.”

Dia berdiri di pintu sambil membawa tas.

“Nadine bilang kamu masih di sini.”

“Dia mengadu?”

“Dia bilang kalau aku lewat sini, suruh cek apakah kamu sudah berubah jadi bagian inventaris.”

Aku tertawa.

Sedikit terlalu keras.

Devan tidak ikut tertawa.

Dia masuk.

“Masih banyak?”

“Nggak.”

Bohong.

Ada empat file yang belum selesai.

Aku meminimalkan spreadsheet terlalu cepat.

Devan melihat gerakan itu.

Tentu saja.

“Clara.”

“Hm?”

“Berapa?”

“Berapa apa?”

“Yang belum selesai.”

Aku menyandarkan dagu ke tangan.

“Kamu sekarang suka interogasi?”

“Empat?”

Aku menatapnya.

“Nadine yang bilang?”

“Nggak.”

“Terus kok tahu?”

Dia menunjuk layar. “Ada empat tab.”

Aku melihat laptop.

Sial.

“Observatif banget.”

“Katanya.”

Aku membuka salah satu file.

“Aku tinggal menyelesaikan ini. Cepat.”

Devan menarik kursi di seberang.

“Aku bantu.”

“Nggak perlu.”

Dia sudah membuka laptop.

“File mana?”

“Van.”

“Hm?”

“Serius, nggak perlu.”

“Kenapa?”

Karena kamu sudah bantu terlalu banyak.

Karena ini tugasku.

Karena aku seharusnya bisa.

Karena kalau aku mulai menerima bantuan setiap kali capek, mungkin aku akan sadar betapa capeknya aku.

Aku memilih jawaban yang paling mudah.

“Aku bisa sendiri.”

Devan berhenti.

“Aku tahu.”

Jawaban itu membuatku menatapnya.

Tidak ada nada meremehkan.

Tidak ada desakan.

Dia benar-benar tahu.

“Kalau begitu?” tanyaku.

“Bisa sendiri bukan berarti harus sendiri.”

Aku tertawa kecil.

“Wah. Dalam banget.”

“Nggak.”

“Cocok jadi kutipan motivasi.”

“Jangan.”

Aku tersenyum lagi.

Senyum otomatis.

Senyum yang biasa kupakai saat ingin membuat situasi tetap ringan.

Devan menatapku.

Lama.

Aku mengangkat alis.

“Apa?”

“Capek?”

“Nggak.”

Dia tidak menjawab.

Aku menunjuk layar. “Ini tinggal sedikit.”

“Aku nggak tanya kerjaannya.”

Aku berhenti.

Devan menutup laptopnya sendiri.

“Aku tanya kamu.”

Ruangan terasa terlalu sunyi.

Aku tidak suka itu.

Atau mungkin aku suka, dan itu lebih buruk.

“Aku baik-baik aja,” kataku.

Devan masih menatap.

Aku tersenyum sedikit lebih lebar.

“Serius.”

Dia menghela napas.

Kemudian berkata pelan, “Kamu nggak harus kelihatan baik-baik saja di depanku.”

Aku lupa menjaga senyum.

Kalimat itu sederhana.

Tidak ada musik.

Tidak ada adegan dramatis.

Hanya ruang OSIS yang berantakan, cahaya sore dari jendela, dan seorang cowok yang selama ini kukira sulit dibaca sedang melihatku terlalu jelas.

Aku menunduk ke meja.

“Kamu ngomong kayak udah kenal aku lama.”

“Belum.”

“Baru beberapa hari.”

“Iya.”

“Terus sok tahu.”

“Mungkin.”

Aku tertawa kecil.

Kali ini tidak otomatis.

“Menyebalkan.”

“Katanya.”

Aku mengambil pena, memutarnya di antara jari.

“Kalau aku bilang capek?”

“Ya capek.”

Aku menatapnya.

“Itu aja?”

“Harus ada hukuman?”

Aku menggeleng.

“Nggak.”

“Berarti selesai.”

Aku tidak tahu kenapa kalimat sesederhana itu terasa seperti izin.

Aku menarik napas.

Panjang.

Lalu untuk pertama kalinya hari itu, aku berhenti memegang bahu tegak.

“Aku capek.”

Devan mengangguk.

Tidak bilang aku hebat.

Tidak bilang sedikit lagi.

Tidak bilang semangat.

Hanya mengangguk.

Aneh sekali betapa nyamannya itu.

“Mau pulang?” tanyanya.

Aku melihat empat tab di layar.

“Harus selesai.”

“Bisa besok?”

Aku berpikir.

Dua di antaranya bisa.

Satu bisa dikerjakan Bima.

Satu perlu kukirim malam ini.

Aku selalu tahu cara membagi pekerjaan.

Aku hanya jarang menerapkannya ke diriku sendiri.

“Satu file,” kataku.

“Oke.”

“Yang lain besok.”

“Oke.”

Aku mulai mengerjakan.

Devan membuka laptop lagi.

“Kamu ngapain?”

“Nunggu.”

“Kenapa?”

“Biar kamu nggak berubah pikiran dan buka tiga file lain.”

Aku tertawa.

“Kamu curiga banget.”

“Aku observatif.”

“Katanya.”

Kami bekerja dalam diam.

Sepuluh menit kemudian file terakhir terkirim.

Aku menutup laptop.

“Selesai.”

Devan juga menutup laptop.

“Pulang.”

“Perintah?”

“Saran tegas.”

Aku memasukkan barang ke tas.

Saat berdiri, kepalaku sedikit ringan.

Tanganku spontan menyentuh meja.

Devan langsung berdiri.

“Clara?”

“Cuma berdiri terlalu cepat.”

Dia tidak langsung percaya.

Tapi kali ini aku tidak tersenyum untuk meyakinkannya.

“Beneran,” kataku. “Cuma pusing sedikit.”

“Makan?”

“Tadi siang.”

“Sekarang jam lima lewat.”

“Oh.”

Dia menatapku seperti Bima ketika angka inventaris salah.

“Jangan pakai tatapan itu.”

“Tatapan apa?”

“Tatapan audit.”

“Aku nggak punya tatapan audit.”

“Punya.”

Kami keluar dari ruang OSIS.

Di tangga, Devan berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya.

Aku sadar dia menyesuaikan langkah.

Aku tidak bilang apa-apa.

Di depan sekolah, dia berhenti di minimarket.

“Aku traktir,” katanya.

Aku mengangkat alis.

“Bukannya aku yang punya utang traktir?”

“Sekarang gantian.”

“Alasannya?”

“Kamu belum makan.”

“Itu bukan alasan traktir.”

“Aku lapar juga.”

Aku menatapnya.

Devan menatap balik dengan wajah datar.

Selalu punya alasan.

Aku tersenyum.

Kali ini kecil dan jujur.

“Oke.”

Kami masuk ke minimarket.

Aku tidak mencoba membuat telinganya merah.

Tidak sore itu.

Aneh sekali, tapi untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, aku tidak terlalu peduli apakah aku bisa membuat Devan gugup.

Aku hanya senang dia datang.