← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Thirty One

Aku yang Mulai

POV: Devan

Festival selesai pukul delapan malam.

Secara resmi.

Secara tidak resmi, masih ada kursi yang harus dikembalikan, kabel yang harus digulung, sampah yang harus dikumpulkan, dan Bima yang harus diyakinkan bahwa tidur di aula bukan bagian dari evaluasi acara.

Aku membantu sampai hampir pukul sembilan.

Clara masih di sana.

Tentu saja.

Bedanya, dia tidak mengerjakan semuanya.

Dia berdiri dekat pintu aula sambil membagi tugas.

“Bima, besok aja laporan inventaris.”

“Siap.”

“Nadine, pulang.”

“Kamu?”

“Aku juga.”

Nadine menatapnya curiga.

Clara menunjukku.

“Ada pengawas.”

Aku hampir tersedak minuman.

Nadine mengangguk puas.

“Bagus.”

Setelah semua orang pergi, kami berjalan ke gerbang.

Sekolah yang sepanjang hari berisik mendadak sunyi.

Lampu aula masih menyala.

Spanduk festival bergerak sedikit terkena angin.

Clara berjalan di sampingku dengan langkah lambat.

“Capek?” tanyaku.

“Banget.”

“Mau duduk?”

“Kalau duduk aku mungkin nggak bangun.”

“Masuk akal.”

Kami sampai di halte.

Bus malam lebih jarang.

Clara duduk.

Aku ikut.

Beberapa detik dia hanya menatap jalan.

Lalu kepalanya jatuh ke bahuku.

“Aku sukses,” katanya.

“Iya.”

“Festivalnya nggak hancur.”

“Iya.”

“Aku minta tolong.”

“Iya.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu cuma bisa iya?”

Aku menatapnya.

“Kamu hebat.”

Clara diam.

Aku langsung tahu serangan berhasil tanpa sengaja.

Dia melihat ke depan.

“Jangan mendadak.”

“Katanya aku cuma bisa iya.”

“Itu bukan berarti kamu boleh begitu.”

Aku hampir tersenyum.

Beberapa minggu lalu, aku akan berhenti di situ.

Menunggu Clara yang bergerak lebih dulu.

Menunggu dia menggenggam tangan.

Menunggu dia menyandarkan kepala.

Menunggu dia mempersempit jarak.

Aku sudah terlalu sering menunggu.

Hari itu aku tidak mau.

Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya lebih dulu.

Clara melihat ke bawah.

Lalu aku.

“Van.”

“Hm?”

“Kamu mulai.”

“Iya.”

Senyumnya perlahan muncul.

“Berani.”

“Terlambat.”

“Apa?”

Aku tidak menjawab.

Jantungku sudah terlalu cepat.

Ada satu hal yang kupikirkan sejak beberapa hari lalu.

Bukan sesuatu yang perlu.

Bukan sesuatu yang harus terjadi malam itu.

Aku hanya ingin.

Dan untuk pertama kalinya, alasan itu terasa cukup.

“Clara.”

“Hm?”

Aku menatapnya.

Dia masih tersenyum.

“Aku mau…”

Kalimat berhenti.

Sial.

Clara menunggu.

Matanya turun sebentar ke bibirku.

Lalu kembali ke mata.

Itu tidak membantu.

Telingaku panas.

“Van.”

“Apa?”

“Kamu kalau gugup makin diam.”

“Aku tahu.”

“Mau bilang apa?”

Aku menarik napas.

Jangan menebak.

Bilang.

“Aku mau cium kamu.”

Sekarang Clara yang diam.

Benar-benar diam.

Aku mulai mempertimbangkan kemungkinan pindah negara.

Lalu pipinya memerah.

“Wow.”

“Kalau nggak—”

“Mau.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Aku mau.”

Sederhana.

Jelas.

Tidak perlu ditebak.

Aku bergeser sedikit lebih dekat.

Clara juga.

Jarak kami berkurang pelan.

Aku masih punya cukup waktu untuk panik.

Dan aku memang panik.

Tapi kali ini aku tidak mundur.

Ciuman pertama kami singkat.

Sangat singkat.

Mungkin dua detik.

Mungkin satu.

Aku tidak tahu.

Otakku berhenti mencatat data.

Ketika kami menjauh, Clara menatapku.

Aku menatapnya.

Hening.

Lalu dia menutup wajah.

Aku langsung tertawa.

“Jangan ketawa!”

“Kamu?”

“Diam.”

“Katanya aku yang gampang gugup.”

“Van.”

Aku masih tertawa.

Clara menurunkan tangan.

Wajahnya merah.

“Jangan senang dulu.”

“Kenapa?”

Dia mendekat lagi.

Kali ini aku yang membeku.

Clara berhenti sangat dekat.

Senyumnya kembali.

“Sekarang adil.”

Dia menciumku sekali lagi.

Sama singkatnya.

Tetap berhasil membuat otakku berhenti.

Ketika dia mundur, senyumnya penuh kemenangan.

“Nah.”

Aku menutup mata.

“Curang.”

“Hak istimewa pacar.”

“Itu masih berlaku?”

“Selamanya.”

Aku menghela napas.

Bus muncul di ujung jalan.

Clara kembali menyandarkan kepala ke bahuku.

Tanganku masih menggenggam tangannya.

Aku melihat jalan.

Telingaku pasti masih merah.

Aku tidak peduli.

Ada banyak hal yang dulu kutunggu karena takut salah.

Malam itu aku belajar sesuatu yang seharusnya sederhana.

Memulai tidak berarti memaksa.

Meminta tidak berarti merepotkan.

Dan mengatakan apa yang kuinginkan ternyata jauh lebih baik daripada berharap Clara bisa membaca pikiranku.