Chapter Six
Cocok
POV: Clara
Sabtu pagi adalah bukti bahwa hidup punya selera humor.
Jam sembilan lima puluh, aku berdiri di ruang OSIS dengan kaus lengan panjang, celana jeans, dan rambut yang baru sempat kukeringkan setengah. Nadine ada di sudut ruangan. Bima datang terlambat. Devan datang pukul sembilan lima puluh delapan.
Tentu saja.
Dia memakai kaus hitam polos dan jaket abu-abu tipis.
Aku menatap dua detik lebih lama dari seharusnya.
Bukan karena apa-apa.
Hanya aneh melihat seseorang tanpa seragam setelah terbiasa bertemu di sekolah.
Devan berhenti di depan meja.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Dia menatapku.
“Kamu kalau bilang begitu biasanya ada.”
Aku mendesah. “Aku menyesal ngajarin kamu pola itu.”
“Kamu ngajarin dengan sering mengulang.”
Nadine mengangkat jempol dari kejauhan.
Aku memilih mengabaikannya.
Agenda hari itu adalah mengecek ulang perlengkapan festival. Pekerjaan membosankan, tapi Devan membuatnya jauh lebih cepat. Kami membagi daftar dan memeriksa gudang belakang aula.
Dua puluh menit kemudian aku sudah berdebu.
“Ini kenapa satu sekolah punya enam belas kabel ekstensi tapi nggak ada yang panjangnya sama?” tanyaku.
“Karena kekacauan punya banyak ukuran.”
Aku menoleh.
“Kamu barusan bercanda.”
“Nggak.”
“Itu lucu.”
“Berarti standarmu rendah.”
“Aku ketua OSIS. Standarku menyedihkan, ingat?”
Devan akhirnya tersenyum kecil.
Kemenangan.
Aku mencatatnya secara mental.
Kami pindah ke rak paling belakang. Sebuah kotak kardus besar diletakkan terlalu tinggi.
Aku berdiri berjinjit.
Masih kurang.
“Bisa bantu?”
Devan mendekat.
“Minggir.”
“Kasar.”
“Kamu hampir menjatuhkan kotaknya ke kepala sendiri.”
“Belum jatuh.”
“Itu bukan standar keamanan.”
Dia mengambil kotak itu dengan mudah.
Aku berdiri di samping, menunggu.
Saat kotak turun, debu jatuh ke rambutku.
Aku batuk.
“Bagus,” kataku. “Sekarang aku jadi fosil.”
Devan menatapku.
Lama.
Aku menyentuh rambut. “Parah?”
Dia tidak menjawab.
Aku menjadi sedikit sadar diri.
“Van?”
Tangannya terangkat.
Aku diam.
Devan berhenti beberapa sentimeter dari rambutku.
Seperti baru sadar apa yang hampir ia lakukan.
Lalu dia menarik tangan kembali dan menyerahkan tisu.
“Ada debu.”
“Oh.”
Aku menerima tisu.
Entah kenapa detik sebelumnya terasa lebih panjang daripada seharusnya.
Aku membersihkan rambut sambil pura-pura fokus pada kotak.
“Udah?” tanyaku.
Devan melihat.
“Belum.”
“Di mana?”
Aku mencoba mencari dengan tangan.
“Kanan sedikit.”
Aku bergerak salah.
“Itu kiri.”
“Kalau dari aku kanan.”
“Kalau dari kamu—”
Dia berhenti, lalu menghela napas.
“Diam.”
“Kok nyuruh diam?”
Devan mengambil tisu lain.
Kali ini tangannya benar-benar mendekat.
Ujung tisu menyentuh rambut di dekat pelipisku.
Hanya satu detik.
Aku lupa cara membuat lelucon.
Dia mengambil serpihan debu kecil, lalu mundur.
“Udah.”
“Oh.”
Satu-satunya kata yang berhasil keluar.
Devan menatapku sejenak.
“Kamu kenapa?”
Aku langsung mengambil daftar.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Tuh.”
Aku memelototinya.
Dia nyaris tersenyum.
Kami lanjut memeriksa barang.
Aku butuh sekitar lima menit untuk kembali normal.
Saat keluar dari gudang, sinar matahari masuk dari sisi aula. Aku mengikat rambut karena gerah.
Devan yang berjalan di depanku berhenti mendadak.
Aku hampir menabraknya.
“Kenapa?”
Dia menoleh.
Kemudian matanya bergerak ke wajahku dan berhenti.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak.”
“Van.”
“Apa?”
“Ada sesuatu di mukaku?”
“Nggak.”
“Terus kenapa lihat?”
Dia mengalihkan pandangan.
Telinganya mulai merah.
Aku mendapat kembali keberanianku.
Aku melangkah ke depannya.
“Nah.”
“Apa?”
“Ketahuan.”
“Apanya?”
“Gugup.”
“Nggak.”
“Kuping.”
Dia menutup mata sebentar.
Aku tertawa.
“Kenapa? Karena rambutku?”
Devan membuka mata.
Aku menunggu jawaban defensif.
Yang keluar justru sesuatu yang lain.
“Cocok.”
Aku berhenti.
“Apa?”
“Rambutnya.”
Dia menunjuk singkat. “Kalau diikat begitu. Cocok.”
Hening.
Ada banyak hal yang bisa kulakukan.
Menggodanya.
Mendekat.
Mengatakan terima kasih dengan gaya berlebihan.
Semua pilihan itu biasanya mudah.
Tidak satu pun muncul tepat waktu.
“Oh,” kataku.
Brilian.
Devan tampak bingung.
“Kamu kenapa?”
Aku memutar badan.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Clara.”
“Kita masih punya tujuh kotak.”
Aku berjalan lebih cepat.
Di belakangku, aku mendengar langkahnya menyusul.
Lalu suaranya.
“Kupingmu nggak merah.”
Aku berhenti dan menoleh.
Devan berdiri dua meter di belakang dengan ekspresi datar.
Tapi sudut bibirnya naik.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Aku menunjuknya.
“Kamu sengaja.”
“Apa?”
“Kamu mulai sengaja.”
“Nggak.”
“Pembohong.”
Dia berjalan melewatiku.
“Masih ada tujuh kotak.”
Aku menatap punggungnya.
Untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, aku mendapat perasaan mengganggu bahwa aku mungkin bukan satu-satunya pemain.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok reading
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal