← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Twenty Nine

Jangan Menebak Lagi

POV: Clara

Aku benci halte ketika kosong.

Biasanya tempat itu terasa seperti milik kami.

Tempat Devan menunggu.

Tempat kami pulang bersama.

Tempat pengakuan pertama.

Hari Senin, halte itu terasa terlalu luas.

Aku berdiri sendiri.

Rapat selesai lebih cepat.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku tidak mengambil pekerjaan tambahan.

Bukan karena aku sudah lebih pintar.

Aku cuma lelah.

Aku melihat jalan.

Bus belum datang.

Ponselku diam.

Aku membuka chat Devan.

Pesan terakhir dari tadi pagi:

Semangat.

Aku membalas:

Kamu juga.

Pendek.

Aman.

Menyedihkan.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Aku tidak langsung menoleh.

Entah kenapa aku tahu.

Devan berhenti di sampingku.

“Belum naik?”

“Belum.”

“Bagus.”

Aku menoleh.

“Bagus?”

“Aku takut telat.”

Dadaku menegang.

“Kamu nyari aku?”

“Iya.”

Jawaban sederhana itu hampir membuat semua pertahananku runtuh.

Aku melihat jalan lagi.

“Van.”

“Hm?”

“Aku nggak tahu harus ngomong apa.”

“Aku juga.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Berarti bukan cuma aku.”

Aku tertawa kecil.

Sedikit.

Devan berdiri lebih dekat.

Tidak menyentuh.

Belum.

“Aku kepikiran soal Sabtu,” katanya.

“Aku juga.”

“Aku salah.”

Aku menoleh cepat.

“Bukan cuma kamu.”

“Aku tahu.”

“Terus jangan ambil semua salahnya.”

“Oke.”

Dia diam sebentar.

“Aku salah karena terus menebak.”

Aku menatapnya.

Devan melanjutkan.

“Aku lihat kamu capek. Aku tahu jawabanmu terlalu cepat. Aku tahu kamu makan telat.”

“Terus kamu pergi.”

“Iya.”

“Sakit.”

“Aku tahu.”

Aku menelan ludah.

“Aku juga salah karena nyuruh kamu pergi sambil berharap kamu nggak pergi.”

“Iya.”

“Sakit?”

“Iya.”

Kami diam.

Aneh sekali betapa melegakannya mendengar jawaban jujur meskipun jawabannya menyakitkan.

Devan mengusap telapak tangan ke celana.

Tanda gugup.

Aku hampir tersenyum.

Kebiasaan lama.

Kemudian dia mengangkat kepala.

“Kamu nggak harus kelihatan baik-baik saja di depanku.”

Napas ku berhenti sebentar.

Ketiga kalinya.

Aku mengenali kalimat itu.

Dulu dia memberiku izin untuk capek.

Lalu aku mengembalikannya saat dia mencoba kuat sendiri.

Sekarang kalimat itu terasa berbeda.

Bukan izin.

Permintaan.

Jangan sembunyi.

Jangan buat aku menebak.

Aku mengangguk.

“Kalau aku nggak baik-baik aja?”

“Bilang.”

“Kalau aku butuh kamu?”

“Bilang.”

“Kalau aku bilang jangan datang padahal sebenarnya mau kamu datang?”

Devan menatapku datar.

“Itu bagian yang harus kamu berhenti lakukan.”

Aku tertawa.

Air mataku akhirnya jatuh satu.

Sial.

Aku mengusap cepat.

Devan terlihat panik.

Benar-benar panik.

Tangannya naik.

Turun.

Naik lagi.

Aku tertawa sambil menangis.

“Van.”

“Apa?”

“Kok sekarang bingung?”

“Aku nggak tahu harus ngapain.”

“Peluk.”

Dia membeku.

Aku melihat telinganya merah.

“Serius?”

“Iya.”

Devan bergerak mendekat.

Pelukannya canggung di satu detik pertama.

Tangannya seperti tidak tahu harus diletakkan di mana.

Lalu satu lengan melingkari bahuku.

Yang lain di punggung.

Aku menempelkan wajah ke dadanya.

Dia hangat.

Aku menarik napas.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, tubuhku berhenti menahan sesuatu.

“Aku butuh kamu,” kataku pelan.

Pelukannya menguat sedikit.

“Oke.”

“Jangan cuma oke.”

“Aku di sini.”

Lebih baik.

Jauh lebih baik.

Aku tertawa kecil di dadanya.

“Van.”

“Hm?”

“Aku juga nggak mau kamu nunggu sampai aku bisa baca pikiran.”

Dia diam.

“Aku kalau lagi nggak baik, bakal bilang,” katanya.

“Bener?”

“Iya.”

“Kalau rumah sepi?”

“Bilang.”

“Kalau kangen?”

Dia berhenti.

Aku mengangkat kepala.

Telinganya makin merah.

Aku tersenyum.

“Nah.”

“Ini bukan waktunya.”

“Justru.”

Devan menghela napas.

Lalu berkata, “Kalau kangen, bilang.”

“Bagus.”

“Sekarang lepas dulu.”

“Kenapa?”

“Bus datang.”

Aku menoleh.

Benar.

Bus berhenti di depan kami.

Aku masih memeluknya.

Pintu terbuka.

Sopir melihat.

Aku melepas sambil tertawa.

Kami naik.

Di dalam bus, kami duduk berdampingan.

Aku menggenggam tangannya.

Kali ini tidak untuk menguji.

Tidak untuk menggoda.

Hanya karena mau.

Devan membalas genggaman.

“Van.”

“Hm?”

“Aku capek.”

“Oke.”

“Aku lapar.”

“Kita makan.”

“Aku kangen.”

Dia diam tiga detik.

Lalu menatapku.

“Aku juga.”

Sederhana.

Tidak ada tebakan.

Tidak ada tes.

Tidak ada senyum palsu.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Hubungan kami tidak tiba-tiba sempurna.

Besok aku mungkin masih terlalu cepat bilang bisa.

Devan mungkin masih terlalu lama diam.

Tapi sekarang kami punya aturan baru.

Bukan hak istimewa pacar.

Bukan permainan siapa yang paling bisa membaca.

Kalau penting, bilang.

Kalau butuh, minta.

Kalau sayang, jangan membuat pasangan menebak.