← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Eighteen

Semua Orang Tahu

POV: Clara

Rahasia kami resmi mati pada hari Jumat.

Bukan karena aku.

Aku ingin menekankan itu.

Penyebab utamanya adalah Raka.

“Gue cuma ngomong ke dua orang,” katanya.

Aku menatapnya.

Kami berdiri di depan kantin.

Devan berdiri di sebelahku dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru mengetahui hubungan kami sudah menyebar ke hampir seluruh angkatan.

“Dua orang siapa?” tanyaku.

Raka menunjuk dua arah berbeda.

“Dita sama Fajar.”

“Kenapa mereka?”

“Karena mereka nanya.”

“Dan kamu jawab?”

“Gue nggak bohong sama rakyat.”

Aku menutup mata.

Nadine, yang berdiri di sebelahku, menghela napas.

“Ini kenapa dia tidak boleh diberi informasi sensitif.”

“Aku teman dekat,” protes Raka.

“Justru itu.”

Devan akhirnya bicara.

“Sekarang siapa yang tahu?”

Raka melihat sekeliling kantin.

“Secara teknis?”

“Raka.”

“Banyak.”

Aku menoleh ke kantin.

Beberapa orang langsung pura-pura tidak melihat.

Seorang junior yang kukenal dari divisi acara tersenyum terlalu lebar.

Baik.

Banyak.

Aku menutup wajah sebentar.

“Van.”

“Hm?”

“Kita pindah sekolah.”

“Repot.”

Aku menurunkan tangan.

“Solusimu apa?”

“Makan.”

Dia menunjuk meja kosong.

Aku menatapnya.

“Serius?”

“Lapar.”

Nadine mengangguk. “Untuk sekali ini, saya setuju.”

Kami duduk.

Masalahnya, orang-orang mulai lewat.

“Siang, Kak Clara.”

“Siang.”

Tatapan ke Devan.

Senyum.

Pergi.

Lima detik kemudian.

“Hai, Van.”

“Hai.”

Tatapan ke aku.

Senyum.

Pergi.

Aku menyandarkan kepala ke meja.

“Ini buruk.”

Devan membuka botol minum.

“Nggak terlalu.”

“Kamu nggak malu?”

“Malu.”

Aku mengangkat kepala.

Wajahnya datar.

“Kok nggak kelihatan?”

“Telinga,” kata Nadine.

Aku menoleh.

Benar.

Merah.

Aku langsung tertawa.

Devan menatap Nadine dengan ekspresi dikhianati.

Nadine mengangkat bahu.

“Data publik.”

Raka tertawa paling keras.

Setelah makan, kami berjalan ke luar kantin.

Dua anak kelas sebelah lewat.

Salah satunya berbisik terlalu keras.

“Lucu juga.”

Aku berhenti.

Devan ikut berhenti.

Aku menoleh kepadanya.

“Kamu dengar?”

“Iya.”

“Lucu apanya?”

“Nggak tahu.”

Aku menatap wajahnya.

Dia terlihat biasa saja.

Kemudian tangannya menyentuh punggung tanganku.

Pelan.

Nyaris seperti kebetulan.

Aku melihat ke bawah.

Devan tidak menatapku.

“Kalau malu, nggak usah,” kataku.

“Aku tahu.”

Tangannya tetap di sana.

Aku tersenyum.

Lalu menggenggam.

Kami berjalan lagi.

Beberapa orang melihat.

Aku memutuskan tidak peduli.

Lima menit kemudian Bima menyusul dari belakang.

“Ketua!”

Aku menoleh.

Dia melihat tangan kami.

Berhenti.

Lalu mengangkat kedua tangan.

“Bukan komentar.”

“Bagus.”

“Aku cuma mau bilang Bu Ratih nyari.”

“Di mana?”

“Ruang guru.”

Aku mengangguk.

Bima berjalan beberapa langkah, lalu menoleh lagi.

“Selamat, ya.”

“Bima.”

Dia kabur.

Aku tertawa.

Devan menghela napas.

“Semua orang tahu.”

“Iya.”

“Kamu keberatan?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu serius.

Aku menggeleng.

“Nggak.”

Dia mengangguk.

“Bagus.”

“Kamu?”

“Nggak.”

Aku mempererat genggaman.

“Padahal telinga merah.”

“Relatif.”

Aku tertawa lagi.

Hubungan kami mungkin bukan rahasia lagi.

Anehnya, setelah rasa malu lima belas menit pertama lewat, tidak ada yang berubah terlalu banyak.

Aku masih ketua OSIS.

Devan masih Devan.

Dia masih terlihat kebal.

Aku masih tahu dia bohong.

Bedanya sekarang, kalau aku menggenggam tangannya di koridor, aku tidak perlu pura-pura itu kecelakaan.

Dan ternyata itu menyenangkan.