← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Nineteen

Terlalu Banyak

POV: Devan

Aku mulai menyadari pola baru pada Clara.

Dia mengatakan “bisa” terlalu cepat.

“Clara, bisa cek proposal ini?”

“Bisa.”

“Kak, boleh bantu lihat rundown?”

“Bisa.”

“Clara, nanti ketemu Bu Ratih jam tiga, ya?”

“Bisa.”

Pada permintaan keempat, aku berhenti mengetik.

Clara masih berdiri di tengah ruang OSIS dengan tiga map di tangan.

“Van, kenapa?”

“Berapa banyak?”

“Apanya?”

“Yang kamu bilang bisa.”

Dia tertawa.

“Banyak.”

“Itu bukan angka.”

“Kenapa dihitung?”

“Karena kamu cuma punya satu badan.”

Bima yang sedang menempel label berhenti.

Nadine mengangkat mata dari laptop.

Clara menatapku.

“Ini intervensi?”

“Belum.”

“Belum?”

“Aku masih mengumpulkan data.”

Sudut bibirnya naik.

“Seram.”

Aku kembali ke layar.

Satu jam kemudian Clara lupa minum.

Aku tahu karena botolnya tetap penuh.

Dua jam kemudian dia menunda makan.

Aku tahu karena roti yang kubeli masih di meja.

Jam empat lewat, dia menerima satu tugas lagi dari junior acara.

“Bisa, Kak?”

Mulut Clara sudah terbuka.

Aku mendahului.

“Nggak.”

Semua orang diam.

Junior itu menatapku.

Clara menatapku lebih tajam.

Aku menghela napas.

“Maksudku, kasih ke Bima.”

Bima menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa gue?”

“Karena bagianmu.”

Bima melihat kertas.

“Oh. Iya juga.”

Junior itu menyerahkan kertas kepadanya dan pergi.

Clara menyilangkan tangan.

“Van.”

“Hm?”

“Kamu barusan jawab atas nama aku.”

“Iya.”

“Kok iya?”

“Karena kamu mau bilang bisa.”

“Memang bisa.”

“Nggak perlu.”

Dia diam.

Aku tahu aku mendekati batas.

Aku menutup laptop.

“Kalau semua kamu ambil, orang lain nggak belajar.”

Clara menatapku beberapa detik.

Nadine mengangguk pelan dari belakang layar.

Pengkhianatan diam-diam.

Clara melihatnya.

“Kamu juga?”

“Aku dari dulu bilang.”

“Kenapa semua kompak?”

“Karena ketuanya keras kepala,” kata Bima.

Clara menatap Bima.

Dia langsung fokus ke kertas.

Aku hampir tertawa.

Senyum Clara muncul, tapi aku mengenali yang satu itu.

Senyum untuk membuat suasana ringan.

“Baik, baik. Aku makan dulu.”

Dia mengambil roti.

Aku mengangguk.

Lima menit kemudian dia sudah kembali berdiri.

Aku menutup matanya dengan telapak tangan dari belakang.

Bukan benar-benar menutup.

Hanya menyentuh dahinya sebentar untuk menghentikan langkah.

Clara membeku.

Aku juga.

Aku baru sadar aku yang memulai kontak.

Semua orang di ruangan ikut diam.

Aku menarik tangan.

“Duduk.”

Clara menoleh.

Telingaku pasti merah.

Wajahnya justru terlihat sangat senang.

“Van.”

“Jangan.”

“Aku belum ngomong.”

“Mukamu ngomong.”

Dia tertawa.

Lalu duduk.

Aku mendorong botol minumnya ke arah dia.

“Minum.”

“Perintah?”

“Saran tegas.”

Dia menatapku cukup lama.

Kemudian minum.

Aku kembali membuka laptop.

Beberapa menit kemudian suara Clara terdengar lebih pelan.

“Makasih.”

Aku menoleh.

Kali ini tidak ada senyum otomatis.

Aku mengangguk.

“Sama-sama.”

Aku tetap tidak suka mengatur orang.

Aku juga tidak ingin Clara merasa harus meminta izin untuk bekerja.

Tapi ada perbedaan antara membiarkan seseorang memilih dan melihat orang itu lupa bahwa dia boleh berhenti.

Aku belum tahu cara terbaik menjaganya.

Untuk sekarang, aku hanya mulai menghitung berapa kali Clara bilang “bisa”.

Hari itu: sebelas.

Terlalu banyak.