← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Fourteen

Kencan yang Katanya Bukan Kencan

POV: Clara

Setelah hubungan kami diketahui empat orang, aku memutuskan kami membutuhkan kencan pertama.

Devan punya pendapat berbeda.

“Kita kemarin ke minimarket.”

“Itu beli makan.”

“Kita pulang bareng.”

“Itu transportasi.”

“Kita makan siang berdua.”

“Itu sebelum Raka datang.”

Aku menyilangkan tangan.

“Van. Kamu tahu definisi kencan?”

“Dua orang pergi bersama?”

“Nah.”

“Berarti kita sudah sering.”

Aku menatapnya.

Dia benar-benar serius.

“Sabtu. Jam tiga. Kita keluar.”

“Ke mana?”

“Belum tahu.”

“Itu rencana yang buruk.”

“Romantis banget.”

Akhirnya kami bertemu di depan toko buku dekat sekolah.

Aku datang lima menit lebih awal.

Devan sudah ada di sana.

“Tentu saja,” kataku.

“Apa?”

“Kamu lebih awal.”

“Kamu juga.”

“Aku sengaja supaya bisa nunggu.”

“Aku juga.”

Aku berhenti.

Devan tampak bingung kenapa aku diam.

Cowok ini benar-benar berbahaya kalau tidak sengaja.

Kami masuk toko buku, berkeliling, lalu berdebat sepuluh menit soal sampul novel yang menurutku bagus dan menurut Devan “terlalu banyak bunga untuk cerita pembunuhan”.

Setelah itu kami membeli minuman dan berjalan tanpa tujuan jelas.

Tidak ada momen besar.

Aneh sekali, tapi aku suka.

Devan berhenti di depan mesin permainan capit di sebuah minimarket besar.

“Kamu mau?” tanyaku.

“Nggak.”

“Kamu lihat dari tadi.”

“Aku cuma lihat.”

“Kamu kalau bilang begitu biasanya ada.”

Dia menatapku.

Aku tersenyum.

Lima menit kemudian kami berdiri di depan mesin.

Hadiah yang kuincar gantungan kecil berbentuk kucing.

Percobaan pertama gagal.

Kedua gagal.

Ketiga hampir.

“Mesinnya curang,” kataku.

“Alasan orang kalah.”

Aku menoleh tajam.

“Kamu coba.”

Devan memasukkan koin.

Sekali.

Capit turun.

Kucing itu terangkat.

Jatuh tepat di lubang hadiah.

Aku menatapnya.

Dia mengambil gantungan itu dan menyerahkannya kepadaku.

“Nih.”

“Sebentar.”

“Apa?”

“Kamu jago?”

“Nggak.”

“Baru sekali.”

“Beruntung.”

Aku menerima gantungan itu.

“Ini hadiah kencan pertama?”

“Katanya tadi bukan kencan pertama.”

Aku menunjuknya. “Jangan pakai logikaku buat lawan aku.”

“Logikamu berubah cepat.”

Aku menggantung kucing itu di tas.

Devan melihatnya beberapa detik.

“Kamu suka?”

“Suka.”

“Bagus.”

Satu kata itu membuat hadiah kecil tersebut terasa jauh lebih penting daripada seharusnya.

Kami lanjut berjalan sampai sore.

Di halte, aku duduk di sampingnya.

“Van.”

“Hm?”

“Kalau tadi bukan kencan pertama, sekarang kencan keberapa?”

Dia berpikir serius.

Aku tertawa. “Nggak perlu dihitung.”

“Kamu yang tanya.”

“Oke. Yang ini kencan pertama resmi.”

“Bedanya?”

“Sekarang aku boleh begini.”

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Devan menegang sebentar.

Lalu santai.

Tidak banyak.

Cukup.

Aku menatap gantungan kucing di tasku.

“Kencan pertama lumayan.”

“Nilai berapa?”

Aku mengangkat kepala.

“Delapan.”

“Kenapa bukan sepuluh?”

“Biar kamu ngajak lagi.”

Devan diam.

Lalu berkata, “Sabtu depan?”

Sekarang giliranku yang diam.

Dia menatapku.

“Kamu kenapa?”

Aku kembali menyandarkan kepala.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Aku bisa merasakan dia hampir tertawa.

Menyebalkan.

Aku suka.