← Ketua OSIS vs Cowok Perpus

Chapter Ten

Aku yang Nyari

POV: Clara

Devan mulai mencariku pada hari Senin.

Aku tahu karena Nadine memberi tahu.

“Dia lewat depan ruang OSIS dua kali.”

“Siapa?”

Nadine menatapku datar. “Tukang galon.”

“Nadine.”

“Devan.”

Aku menunduk supaya senyumku tidak terlalu terlihat.

Sepuluh menit kemudian aku keluar mengantar surat ke ruang guru.

Bahwa aku memilih jalur memutar melewati XI-B adalah keputusan logistik.

Keputusan logistik itu membuahkan hasil.

Devan berdiri di depan kelas bersama Raka. Matanya langsung melihatku.

Raka tersenyum. “Kak Clara! Ada yang nyari.”

“Nggak ada,” kata Devan.

“Tadi lu bilang—”

“Raka.”

“Gue ke kantin.”

Dia pergi.

Aku menatap Devan. “Kamu nyari aku?”

“Sedikit.”

Aku tidak siap dengan kejujuran itu.

“Ada waktu nanti?”

“Buat?”

“Nggak tahu.”

Dia juga tampak menyadari betapa buruk jawabannya. Ujung telinganya mulai merah.

“Mau pulang bareng?” tanyanya akhirnya.

Jantungku melakukan sesuatu yang sangat tidak membantu kewibawaan ketua OSIS.

“Mau.”

“Jam berapa selesai?”

“Empat, mungkin.”

“Aku tunggu.”

Dia mengucapkannya begitu saja.

Sore itu rapat molor dua puluh menit. Aku keluar sambil setengah berlari.

Devan duduk di bangku dekat tangga dengan buku terbuka.

“Maaf.”

“Kenapa?”

“Molor.”

“Aku tahu.”

“Kamu beneran nunggu.”

“Katanya aku tunggu.”

Dia berdiri. “Ayo.”

Kami berjalan ke halte.

Tidak ada OSIS, spreadsheet, atau alasan praktis.

Untuk pertama kalinya kami sengaja menghabiskan waktu bersama hanya karena mau.

“Van. Kenapa ngajak pulang bareng?”

Dia menatap jalan. “Pengen.”

Aku berhenti.

“Kamu jangan gampang ngomong begitu.”

“Ngomong apa?”

“Pengen.”

“Kenapa?”

“Bisa disalahartikan.”

Devan diam. Telinganya merah.

Aku mendekat satu langkah. “Disalahartikan jadi apa?”

Dia menatapku.

Permainan lama, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

“Mungkin nggak salah,” katanya.

Senyumku hilang.

Dia tampak sama terkejutnya dengan aku.

“Van…”

Bus datang.

Tentu saja.

Sepanjang perjalanan kami duduk berdampingan. Tangan kami sesekali hampir bersentuhan saat bus berbelok.

Tidak ada yang melanjutkan kalimat tadi.

Ketika aku turun, Devan memanggil.

“Clara.”

Aku menoleh.

“Besok aku cari lagi.”

Pintu bus menutup.

Aku berdiri di trotoar seperti orang bodoh.

Aku baru sadar aku tersenyum ketika pipiku mulai pegal.