Chapter Twelve
Hak Istimewa Pacar
POV: Clara
Hari pertama punya pacar ternyata sangat mengganggu produktivitas.
Bukan karena pacarku melakukan sesuatu. Justru masalahnya Devan duduk di ruang OSIS seperti biasa.
Terlalu biasa.
Aku menatapnya dari meja.
Nadine mengikuti arah pandanganku. “Kalau mau lihat, dekatin.”
“Aku nggak lihat.”
“Baik.”
Aku berdiri. Nadine tidak berkata apa-apa. Itu lebih menyebalkan.
Aku duduk di sebelah Devan. Dekat.
Telinganya mulai merah.
Bagus. Dunia kembali pada porosnya.
“Van.”
“Hm?”
“Kita pacaran.”
Tangannya berhenti mengetik. “Aku ingat.”
“Cuma memastikan.”
“Baru kemarin.”
“Aku punya pertanyaan. Apa hak istimewa pacar?”
Devan menatapku. “Kenapa kedengarannya seperti program keanggotaan?”
Aku tertawa. “Pegangan tangan boleh?”
Telinganya memerah lebih jelas.
Bima di seberang meja langsung berdiri. “Aku ambil kertas.”
“Kertasnya di situ,” kata Devan.
“Yang lain.”
Dia pergi.
Aku mengulurkan tangan di bawah meja.
Devan melihat. “Sekarang?”
“Kenapa nggak?”
“Kita lagi kerja.”
“Tanganku nggak dibutuhkan buat lihat spreadsheet kamu.”
Dia menghela napas seperti orang yang sangat menderita. Lalu tangannya turun.
Jari kami bertemu.
Aku menggenggam.
Devan langsung salah mengetik angka.
“Efek samping program keanggotaan?” tanyaku.
“Diam.”
Lima menit kemudian Nadine lewat dan berhenti. Matanya turun ke bawah meja.
“Profesional sekali,” katanya.
“Kami sedang bekerja.”
“Tentu.”
Setelah Nadine pergi, Devan mencoba melepas tangan.
“Mau ke mana?”
“Mouse.”
“Pakai tangan satunya.”
“Aku bukan kidal.”
“Belajar.”
Dia menatapku. Aku tertawa dan akhirnya melepas.
Sore itu kami berjalan ke halte bersama. Aku langsung menggandeng lengannya.
Devan berhenti setengah langkah.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak.”
“Hak istimewa pacar.”
“Kamu bikin aturan sendiri.”
“Kamu keberatan?”
Dia diam.
“Nggak,” katanya akhirnya.
Jawaban itu menghapus keinginanku untuk menggoda selama kira-kira tiga detik.
Aku menyandarkan kepala sebentar ke lengannya. Devan menegang.
“Nah, kalau ini?” tanyanya.
“Paket premium.”
“Ada biaya tambahan?”
Aku mengangkat kepala. “Kamu barusan bercanda?”
“Nggak.”
Sudut bibirnya naik.
“Kamu makin berbahaya.”
“Katanya aku kebal.”
“Itu dulu.”
Tanganku turun dari lengannya dan mencari tangannya.
Kali ini Devan tidak menunggu aku menggenggam penuh. Jarinya bergerak sedikit membalas.
Kecil. Nyaris tidak terlihat.
Tetap saja aku merasakannya.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Ada kemenangan yang lebih enak kalau tidak diumumkan.
- 1 Katanya Aku Kebal
- 2 Reaksi yang Pelit
- 3 Lima Belas Menit
- 4 Indikator Gugup
- 5 Kebetulan yang Konsisten
- 6 Cocok
- 7 Selalu Punya Alasan
- 8 Senyum yang Nggak Perlu
- 9 Kalau Nggak Diganggu
- 10 Aku yang Nyari
- 11 Kalau Begitu, Pacaran
- 12 Hak Istimewa Pacar reading
- 13 Rahasia yang Buruk
- 14 Kencan yang Katanya Bukan Kencan
- 15 Serangan Balik
- 16 Aku Memang Nunggu
- 17 Kursi Devan
- 18 Semua Orang Tahu
- 19 Terlalu Banyak
- 20 Rumah yang Berisik
- 21 Pegang Tanganku
- 22 Kita Sudah Hafal
- 23 Giliran Aku
- 24 Semua Datang Sekaligus
- 25 Jangan Tambah Beban
- 26 Ruang yang Kuberi
- 27 Kalau Kamu Tahu
- 28 Percakapan yang Gagal
- 29 Jangan Menebak Lagi
- 30 Minta Tolong
- 31 Aku yang Mulai
- 32 Tidak Pernah Kebal